Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 03

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 03

"Aku cinta padanya."

Tiba-tiba wajah yang bengis itu berubah, lalu tertawa Jaksa Pui. "Ha-ha-ha! Begitukah kiranya? Ha-ha-ha, perempuan panas seperti itu memang menarik sekali. Nah, apa sukarnya kalau kau tarik ia dan jadikan selirmu? Ataukah engkau sudah ingin beristri?"

"Tidak, ayah. Akan tetapi aku ingin mendapatkannya. Hanya..... aku khawatir kalau ditolak, maka kuharap ayah "

"Ha-ha-ha, sungguh memalukan! Biasanya dengan menggapai saja, setiap wanita katanya akan bertekuk lutut dan merangkak menghampirimu. Baru sekarang kau minta bantuanku. Seperti apa sih perempuan ini?"

"Namanya Kim Cui Hong, putri tunggal guru silat Kim Siok di dusun Ang-kebun."

"Baik, sekarang juga akan kukirim utusan untuk meminangnya menjadi selirmu. Jangan khawatir, pinanganku pasti diterimanya. Apalagi dia kan hanya guru silat, tentu dengan bangga dia akan menyerahkan putrinya kepadamu." Setelah berkata demikian, dengan mulut tersenyum dan hati penuh kepercayaan diri sendiri, pembesar itu meninggalkan kamar putranya yang juga menjadi gembira dan penuh harapan.

"Dapat kau sekarang.....!" Dia mengepal tinju, membayangkan betapa dia akan mempermainkan dan menikmati perempuan yang berani menamparnya itu sepuas hatinya.

Sudah dapat dipastikan bahwa orang yang mengandalkan kekuasaannya, dalam bentuk apa pun juga kekuasaan itu, tentu berwatak sombong dan tinggi hati, suka memandang rendah orang lain dan menganggap bahwa dirinya sendiri yang paling berharga, paling penting dan paling tinggi kedudukannya di dunia ini. Orang seperti ini, kalau bertemu dengan orang lain yang lebih tinggi kedudukannya, yang tak dapat dibantah lagi kenyataan itu, misalnya bertemu dengan atasannya, maka tentu wataknya akan berubah lagi, menjadi seorang penjilat yang sudah tidak ketulungan lagi. Menjilat ke atas menginjak ke bawah, dua watak ini serangkai dan tak terpisahkan lagi.

Dengan penuh kepercayaan, pembesar gendut Pui lalu mengirim utusan ke rumah guru silat Kim Siok di dusun Ang-kebun, untuk melamar putrinya yang bernama Kim Cui Hong menjadi selir putra tunggalnya. Dan dengan penuh kepercayaan akan hasil tugasnya dan membayangkan hadiah yang besar dari kanan kiri, comblang itupun berangkat dengan wajah gembira.

Cui Hong bukan hanya tidak bercerita kepada suhengnya tentang peristiwa gangguan yang dilakukan Pui Ki Cong kepadanya, bahkan kepada ayahnya pun ia tidak menceritakan. Oleh karena itu, hati guru silat Kim Siok tidak menduga sesuatu ketika pada pagi hari itu dia kedatangan seorang tamu yang dikenalnya sebagai seorang comblang kenamaan di kota Thian-cin. Comblang itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus dan berkepala botak, berkumis kecil panjang turun berjuntai ke bawah melalui tepi mulutnya dan bersambung dengan jenggotnya yang jarang. Matanya sipit dan tajam, mulutnya mudah tersenyum. Comblang ini bernama Gu Mo Sim dan terkenal sebagai perantara perjodohan yang pandai bicara sehingga banyak orang suka mengutusnya untuk meminang atau membicarakan tentang urusan perjodohan.

Begitu disambut oleh tuan rumah, Gu Mo Sim segera memberi hormat dengan tergopoh-gopoh dan mukanya diramaikan senyum gembira, sepasang mata yang sipit itu bersinar-sinar.

"Kim-kauwsu, kionghi..... kionghi.....! Belum tahu apakah semalam kauwsu bermimpi kejatuhan bulan? Heh-heh, sekali lagi kionghi (selamat)!"

Kim Siok adalah seorang guru silat dan semenjak kecil dia berkecimpung dengan seni olahraga bela diri. Wataknya tidak suka akan hal yang bertele-tele. Dia menyukai sikap yang singkat padat, tegas dan jujur. Maka, sikap dan pembawaan comblang ini membuatnya muak, akan tetapi sebagai tuan rumah yang bijaksana, diapun menyambut dengan senyum dan membalas penghormatan tamu itu.

"Saudara Gu, tiada hujan tiada angin mengapa kau memberi selamat kepadaku? Aku tidak mengerti dan tidak dapat menerimanya." "Ha-ha-ha, sebentar lagi kau akan mengerti, Kim-kauwsu. Aku yang sudah tahu lebih dulu, saking gembiraku maka aku memberi selamat. Biarkan aku duduk melepas lelah, dan aku akan menceritakan mengapa aku memberi selamat. Tentu kauwsu semalam bermimpi indah sekali."

Kim Siok tidak mau menanggapi lagi ocehan tamunya. Dengan singkat dia mempersilakan tamunya duduk lalu bertanya, "Sebetulnya, keperluan apakah yang membawa saudara datang berkunjung?"

Comblang itu menarik napas panjang. "Aihhh. apakah

engkau tidak kasihan kepadaku, kauwsu? Tulang-tulangku yang sudah tua ini tidak sekuat tulang-tulangmu yang terlatih. Berilah aku minum dulu sebelum aku menceritakan berita yang tentu akan amat mengejutkan dan juga amat menggembirakan hatimu. Tuhan akan selalu memberkati orang yang baik hati, dan tentu engkau suka berbaik hati kepada seorang tamu yang kelelahan dan kehausan."

Gemas sekali rasa hati Kim-kauwsu. Mau rasanya dia menangkap leher baju orang ini dan melemparnya keluar lagi. Akan tetapi dia menahan kemarahannya, lalu mengambil sendiri sebotol arak dan cawannya, menyuguhkannya kepada tamu yang cerewet itu. Tanpa sungkan-sungkan lagi, Gu Mo Sim lalu menuangkan arak ke dalam cawannya dan minum sampai tiga cawan arak.

"Hemmm..... segar rasanya. Arakmu enak sekali, kauwsu. Nah, sekarang barulah aku dapat bicara dengan leluasa. Kalau engkau tahu keperluan apa yang kubawa, tentu engkau akan menyambutku dengan hidangan dua belas macam! Ketahuilah, aku datang ini sebagai utusan kepala jaksa Thian-cin, yaitu Pui Taijin."

Diam-diam guru silat itu merasa terkejut dan juga heran sekali, akan tetapi dia menghibur hatinya bahwa tentu keperluan itu sama dengan keperluan para bangsawan dan hartawan di Thian-cin yang pernah menghubunginya. Tentu jaksa inipun ingin dia melatih silat kepada putranya. Hal ini banyak diminta para pembesar darinya dan tentu saja dia tidak dapat menolaknya walaupun dengan hati tidak begitu suka. Akan tetapi, dia sengaja memberi latihan berat sehingga baru satu dua bulan saja anak-anak bangsawan itu sudah mundur dengan sendirinya, tidak tahan gemblengan keras dan sukar.

"Keperluannya?" tanyanya dengan singkat, dengan wajah yang tidak berkerut.

Comblang itu mengangkat telunjuk kanannya sambil tersenyum. "Ha-ha, sampai bagaimanapun engkau takkan pernah dapat menerkanya, kauwsu. Engkau tentu bermimpi kejatuhan bulan semalam."

"Saudara Gu, harap segera katakan apa keperluan itu dan tidak memutar-mutar pembicaraan!" tegurnya.

"Aha, kiranya Kim-kauwsu seorang yang tidak sabaran menanti berita baik. Baiklah. Engkau mempunyai seorang cian-kim siocia (anak gadis terhormat), bukan? Berapa usianya sekarang, kauwsu?"

Tiba-tiba saja Kim Siok merasa jantungnya berdebar kencang. Baru dia menduga ke arah mana percakapan itu dan mengapa pula yang diutus seorang pembesar adalah seorang comblang. Kiranya menaksir putrinya!

"Apa hubungannya usia putriku dengan tugasmu, saudara Gu?"

"Hubungannya erat sekali. Ketahuilah bahwa aku diutus oleh Kepala Jaksa Pui untuk meminang putrimu untuk dijodohkan dengan putra tunggalnya, tuan muda Pui Ki Cong yang tampan, yang kaya raya, yang pandai dan terpelajar, yang bangsawan itu. Ha-ha, engkau terkejut, bukan? Aku sendiri terkejut ketika menerima tugas. Tak kusangka engkau memiliki nasib yang begini baik, saudaraku! Kionghi, kionghi!" "Nanti dulu, saudara Gu! Maksudmu, anakku dilamar untuk jadi istri"

"Bukan..... eh, menjadi selir tuan muda Pui Ki Cong."

Berubah wajah Kim Siok, menjadi merah karena dia marah sekali. "Selir? Bahkan istri pun bukan? Anakku dilamar untuk dijadikan selir."

Melihat perubahan muka itu, comblang Gu Mo Sim menjadi terkejut dan gugup. Dia lalu cepat berkata, "Ah, istri juga... hanya istri muda, begitulah istilahnya."

Kim Siok menahan kemarahannya. Putrinya, anak tunggalnya, dilamar menjadi selir dan comblang ini tampak demikian gembira, seolah-olah yakin bahwa lamaran itu tentu akan diterimanya. Kalau menurutkan keinginannya, lamaran yang dianggapnya sebagai penghinaan itu akan langsung ditolaknya dan utusan itu akan dihajarnya. Akan tetapi guru silat ini bukan seorang bodoh yang sembrono. Dia menahan dirinya, lalu bangkit dan memberi hormat kepada tamu itu.

"Saudara Gu Mo Sim, harap sampaikan jawabanku kepada Pui Taijin, bahwa menyesal sekali aku terpaksa menolak pinangan ini. Aku merasa terhormat sekali, akan tetapi pinangan ini tidak mungkin dapat kuterima."

Suara kekeh itu terhenti dan sepasang mata yang sipit itu mencoba untuk melebar, namun tak berhasil sehingga tampak lucu. Hampir Gu Mo Sim tidak mempercayai telinganya sendiri. "Apa....? Mimpi burukkah aku atau.... kau yang sedang bermimpi buruk atau berubah ingatan? Kau tadi bilang bahwa kau..... kau menolak pinangan Pui Taijin yang berkuasa dan kaya raya?"

"Tidak salah. Aku terpaksa menolak pinangan itu."

"Tapi..... tapi, bagaimana ini? Kenapa ....? Aku tidak melihat suatu alasan mengapa kau sampai berani menolak." Kim Siok maklum bahwa penolakannya tentu mengejutkan dan tanpa alasan yang kuat bahkan mungkin akan menimbulkan kemarahan di pihak pelamar. Maka dia-pun sejak tadi sudah mengambil keputusan untuk mengajukan alasan yang memang sudah lama menjadi keinginan hatinya. "Harap saudara Gu sampaikan ucapan terima kasih kami kepada Pui Taijin atas kehormatan yang dilimpahkan kepada keluarga kami. Akan tetapi terpaksa pinangan itu kami tolak karena anakku itu sudah terikat dalam pertunangan dengan Can Lu San, seorang muridku sendiri. Anakku tidak bebas lagi, melainkan sudah mempunyai seorang calon suami."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment