Chapter 05
Wajah Cui Hong berubah merah sekali dan hampir saja dia lari karena malu. Ayahnya membicarakan pernikahan begitu saja, apalagi di depan suhengnya. Akan tetapi, dia seorang gadis yang lincah dan tabah, maka dia menekan perasaan malunya dan membantah sesuai dengan suara hatinya.
"Akan tetapi, Ayah, usiaku baru hampir enam belas tahun! Aku belum ingin menikah, masih ingin melayani Ayah. Dan dengan adanya Ayah di sampingku, ditambah lagi dengan kekuatanku sendiri, apa yang Ayah khawatirkan? Aku mampu menjaga diri sendiri."
"Aku memang tadinya berpikir demikian, tidak akan tergesa-gesa, setidaknya menanti sampai engkau berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. Akan tetapi kedatangan tamu tadi mengubah pikiranku," jawab ayahnya.
"Tamu siapakah, Ayah? Orang yang tinggi kurus berkepala botak tadi? Siapakah dia dan apa hubungan kedatangannya dengan aku? Dengan maksud Ayah?" tanya Cui Hong.
"Dia adalah comblang Gu Mo Sim dari Thian-cin dan kedatangannya tadi adalah untuk meminangmu, Hong-ji," jawab ayahnya.
Cui Hong berseru kaget dan khawatir. "Ahh...! Dan Ayah... Ayah menerima pinangannya!" Ayahnya menggelengkan kepala dengan cepat. "Dia datang sebagai utusan Kepala Jaksa Pui Taijin, melamar engkau untuk puteranya yang bernama Pui Ki Cong."
"Ahhh...!" Cui Hong berseru kaget.
"Untuk menjadi... selirnya. Aku menolaknya dengan keras," kata ayahnya.
"Ahhh...! Si keparat! Berani benar dia!" teriak Cui Hong, membuat ayahnya menjadi heran mendengar ini. Lu San, yang sejak tadi hanya duduk diam mendengarkan percakapan yang menegangkan hatinya, kini mengangkat muka memandang wajah sumoinya.
"Kau sudah mengenal dia?" tanya ayahnya.
"Tentu saja! Aku belum bercerita kepada Ayah, juga kepada suheng aku tidak bicara apa-apa. Terjadinya pada hari ulang tahun Ayah itu. Aku pergi ke pasar Thian-cin untuk berbelanja sayur dan ayam untuk membuatkan masakan istimewa untuk Ayah. Ketika pulang dari pasar, seorang pemuda jangkung bersama dua orang kaki tangannya menghadang perjalananku dan bersikap kurang ajar kepadaku. Karena dia menggangguku, maka aku telah menampar mukanya. Dua orang kaki tangannya menyerangku dan kuhajar mereka, lalu aku pulang dengan cepat."
"Ah, ketika itu engkau naik marah-marah dan mukamu merah pada suhu, sumoi. Kiranya terjadi hal itu?" kata Lu San, yang teringat akan keadaan sumoinya pada beberapa hari yang lalu itu.
"Benar, dan sekarang, dia berani menyuruh seorang untuk meminangku. Keparat benar orang itu! Kalau tahu begini, tentu aku akan menghajarnya lebih keras lagi!" kata Cui Hong.
Guru silat Kim Siok mengerutkan alisnya dan berpikir keras. "Dia tertarik pada mu, mengganggumu dan kautampar dia. Akan tetapi dia malah menyuruh ayahnya mengirim utusan melamar, dan melamar mu untuk menjadi selirnya. Sungguh terlalu!" Guru silat itu mengepal tinju. "Memang hatiku sudah merasa tidak enak sejak munculnya comblang keparat itu. Dan kini ceritamu lebih meyakinkan lagi hatiku. Engkau harus segera menikah, Hong-ji!"
"Tapi, Ayah! Engkau sudah menolak lamarannya, dan akupun tidak sudi," kata Cui Hong.
"Jangan bodoh, Hong-ji. Tentu saja akupun tidak rela membiarkan engkau menjadi selir keparat itu. Tidak, engkau bukan menjadi selir anak jaksa itu, melainkan menjadi istri dari suhengmu ini, Can Lu San," kata ayahnya.
Cui Hong berseru dan menahan suaranya, menunduk dan tidak berani berkutik lagi karena malu. Ingin dia lari, akan tetapi mengingat akan pentingnya persoalan yang dibicarakan, dia