Chapter 06
Sementara itu, melihat betapa ayahnya dan suhengnya berkelahi, Cui Hong yang marah besar kepada Pui Ki Cong menerjang untuk menyerang pemuda yang menjadi biang keladi semua keributan itu. Akan tetapi, beberapa orang prajurit pengawal menyambutnya dengan senjata mereka dan sebentar saja Cui Hong dikeroyok oleh belasan orang prajurit itu, yang sebagian membantu Bhong Gun yang nampak kewalahan menghadapi guru silat Kim Siok.
Bhong Gun yang gemuk pendek itu, biarpun memiliki gerakan lincah dan cepat, ternyata bukan lawan seimbang dari guru silat Kim. Mula-mula dia memang menyerang dengan ganas, menggunakan kaki tangannya yang serba pendek namun cepat dan kuat itu, hendak mendesak lawan. Namun, Kim Siok adalah seorang ahli silat murid Siauw-lim-pai yang sudah memiliki ilmu silat matang. Ilmu itu sudah mendarah daging dalam gerakannya dan sebagai guru silat, tentu saja ia sering mengajar murid-muridnya dan hal ini sama saja dengan berlatih diri, maka gerakannya cekatan dan tepat. Mula-mula dia hanya membela diri, akan tetapi agaknya pihak lawan tidak tahu diri, tidak mau tahu bahwa dia banyak mengalah. Maka setelah lawan terus mendesaknya sampai dua puluh jurus lebih, Kim Siok mulai membalas dan baru beberapa jurus saja dia membalas, sebuah kakinya berhasil mendarat dengan tendangan kilat ke arah perut Bhong Gun yang bundar dan gendut.
"Bukkkk!" Bagaikan sebuah bola yang ditendang, tubuh Bhong Gun terlempar dan terbanting roboh sampai terguling-guling. Akan tetapi ternyata dia cukup lihai karena begitu terlempar, dia sengaja menggulingkan dirinya sehingga dia mampu cepat melompat bangkit lagi. Kini dia mencabut goloknya dan menyerang lagi, dibantu oleh empat orang prajurit yang melihat betapa komandan ini kewalahan menghadapi guru silat Kim. Karena Bhong Gun dan empat orang prajurit itu mempergunakan senjata, Kim Siok juga segera melolos ikat pinggangnya yang merupakan senjata ampuh. Ikat pinggang ini terbuat daripada kain ulet, akan tetapi di kedua ujungnya diikatkan mata pisau bercabang tiga yang kecil namun cukup berat. Segera terjadi pengeroyokan yang lebih seru lagi.
Perkelahian antara Lu San dan Teng Kui amat ramai. Walaupun Teng Kui juga mempergunakan goloknya dan Lu San hanya bertangan kosong, namun komandan pengawal itu tidak mampu mengimbangi kecepatan gerakan Lu San dan sudah beberapa kali dia terkena pukulan dan tendangan. Kalau saja tidak ada dua orang anak buahnya yang cepat membantunya tentu dia sudah roboh dalam waktu kurang dari dua puluh jurus saja. Dikeroyok tiga, Lu San yang gagah perkasa itu masih mengamuk dan sama sekali tidak terdesak walaupun tiga orang pengeroyoknya mempergunakan senjata golok.
Sisa enam orang anak buah pasukan pengawal mengeroyok Cui Hong. Namun, mereka yang bertangan kosong dan tidak berani mempergunakan senjata karena Pui Ki Cong melarang mereka melukai gadis itu, sama sekali bukan lawan tangguh bagi Cui Hong. Dara remaja ini berloncatan dengan lincah seperti seekor burung walet menghindari tangan-tangan yang hendak menangkapnya, dan membagi-bagikan tamparan dan tendangan yang cukup keras sehingga enam orang itu jatuh bangun dan tiap kali terkena tamparan atau tendangan tentu terpelanting dan mengaduh. Dara itu sungguh lincah dan kecepatan gerakannya sama sekali tidak dapat diimbangi oleh enam orang pengeroyok yang hanya memiliki tenaga otot besar dan keberanian karena mengeroyok.
Perkelahian itu, walaupun tidak seimbang dalam jumlah, ternyata keadaannya sama sekali berlawanan dengan jumlahnya karena keluarga guru silat yang hanya terdiri dari tiga orang itu ternyata mampu mendesak para pengeroyok yang jumlahnya empat belas orang! Bahkan di antara para pengeroyok, terutama yang mengeroyok guru silat Kim, banyak yang sudah roboh dan tidak mampu melanjutkan pengeroyokan lagi. Melihat keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya ini, Gu Mo Sim menjadi ketakutan.
"Kongcu.....! Kongcu.....! Mari kita pergi. Cepat-cepat!"
Comblang yang berwatak pengecut ini dengan ketakutan lalu lari menghampiri kudanya dan berusaha meloncat ke atas punggung kuda. Akan tetapi karena dia memang bukan ahli menunggang kuda dan berada dalam keadaan panik, loncatannya tidak mencapai sasaran dan kakinya yang menginjak sanggurdi terpeleset sehingga diapun terjatuh. Ketika dia hendak bangun dia terkejut setengah mati melihat bahwa Kim Siok telah berdiri di dekatnya. "Celaka!" serunya.
"Manusia busuk!" Kim-kauwsu memakinya dan sekali tangannya menampar, terdengar suara "krekk!" dan tulang pundak comblang itupun patah-patah. Manusia itu menjerit-jerit, lebih karena takut dan ngeri daripada karena nyeri dan belum apa-apa diapun sudah terkulai lemas dan pingsan.
Sementara itu, ketika mendengar teriakan Gu Mo Sim, Pui Ki Cong juga tahu akan bahaya. Tak disangkanya bahwa keluarga guru silat itu sedemikian lihainya. Maka diapun berpikir bahwa melarikan diri lebih aman dan diapun cepat lari dan meloncat ke atas punggung kudanya. Akan tetapi, baru saja tubuhnya tiba di atas sela di punggung kudanya, tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan Cui Hong sudah berada di sampingnya.
"Turun kau, pengacau busuk!" Dara remaja itu mendorongkan kedua tangannya dan tanpa dapat dihindarkan lagi, tubuh pemuda bangsawan itu terpelanting dari atas punggung kuda dan terbanting ke atas tanah sampai mengeluarkan suara berdebuk. Pemuda bangsawan itu mengaduh, akan tetapi dia ketakutan dan memandang dengan muka pucat kepada dara remaja yang sudah melangkah menghampirinya dengan sikap mengancam. Saking takutnya, Pui Ki Cong sampai tidak mampu bangun dan celananya menjadi basah tanpa disadarinya!
"Hong-ji, jangan.....!" Tiba-tiba Kim Siok berseru keras dan puterinya yang sudah siap memberi hajaran keras kepada Pui Ci Kong mengurungkan niatnya dan meninggalkan pemuda yang masih rebah di atas tanah itu.
Ternyata perkelahian itu sudah selesai. Bhong Gun sudah roboh, demikian pula Teng Kui. Dari dua belas orang pengawal, yang delapan orang luka-luka dan kini yang empat orang tidak berani lagi melawan.
"Kalian pergilah dan jangan mengganggu kami lagi!" kata guru silat Kim Siok. Dengan susah payah, dan saling bantu, enam belas orang itu lalu meninggalkan dusun Ang-ke-bun, menunggangi kuda mereka perlahan-lahan karena sebagian besar dari mereka luka-luka.
Setelah mereka pergi, Kim Siok berkata kepada puterinya dan muridnya, "Kalian berkemas. Kita harus pergi sekarang juga!"
"Ke mana, ayah?" Cui Hong bertanya heran. "Ke selatan, makin jauh makin baik."
"Ah, perlu apa kita melarikan diri, ayah? Maksud ayah, kita harus melarikan diri, bukan?"
Guru silat itu menatap wajah puterinya dan juga wajah Lu San yang agaknya juga merasa penasaran mendengar bahwa mereka diharuskan melarikan diri dari dusun tempat tinggal mereka.
“Agaknya kalian belum dapat membayangkan bahaya besar yang mengancam kita. Apakah kalian tidak menyadari bahwa Pui Ki Cong itu adalah putra kepala jaksa di Thian-cin? Lihat saja sepak terjangnya. Ditolak lamarannya, dia malah membawa pasukan pengawal untuk menghukum kita. Untung bagi kita bahwa perhitungannya keliru. Kalau dia datang bersama pasukan besar yang jumlahnya puluhan atau ratusan orang, tentu kita tadi tidak akan mampu menyelamatkan diri dan entah bagaimana nasib kita. Oleh karena itu, sekarang juga kita harus pergi dari sini sebelum pasukan yang lebih besar datang untuk menangkap atau membunuh kita."
"Aku tidak takut!" Cui Hong berteriak. "Mereka itu jahat dan aku akan melawan mereka, akan kuhajar mereka!"
"Cui Hong, jangan bicara seperti anak kecil," ayahnya menegur. "Keberanian tanpa perhitungan bukan merupakan kegagahan, melainkan suatu kebodohan. Hanya mengandalkan keberanian melawan pasukan besar pemerintah dengan nekat, hal itu berarti bunuh diri. Ucapanmu itu menimbulkan keraguan apakah engkau ini memang gagah atau bodoh."
Cui Hong dapat melihat kebodohannya dan iapun tidak membantah lagi hanya mengepal tinju karena marah sekali kepada Pui Ki Cong yang menjadi biang keladi semua ini.
"Akan tetapi, suhu. Sudah jelas bahwa sumoi tidak bersalah, kita tadi hanyalah membela diri. Kalau kita tidak bersalah, kenapa kita harus pergi? Bukankah melarikan diri seperti juga mengaku bersalah? Kita tidak bersalah, dan pemerintah tentu dapat menilainya." Lu San juga membantah karena diapun merasa penasaran mengapa mereka yang diganggu, malah kini mereka yang harus melarikan diri. Gurunya menarik napas panjang. "Memang mendatangkan rasa penasaran sekali, Lu San. Akan tetapi engkau harus menyadari bahwa dalam keadaan pemerintah lemah seperti ini, kaisar tidak berwibawa sama sekali sehingga kita sendiri bingung siapa sebenarnya yang berkuasa. Oknum-oknum yang memegang jabatan itu ataukah hukum pemerintah. Dalam keadaan seperti sekarang ini, bisa saja kita dituduh sebagai pemberontak dan dihadapkan kepada pasukan keamanan pemerintah. Karena itu, satu-satunya jalan adalah menghindarkan bentrokan lebih lanjut dan melarikan diri sejauh mungkin dari sini."
Dengan hati penuh duka dan penasaran, terpaksa Cui Hong mentaati ayahnya dan mereka bertiga lalu berkemas. Kepada beberapa orang murid yang rumahnya berdekatan dan sudah berdatangan mendengar keributan yang terjadi di rumah guru mereka, Kim Siok meninggalkan pesan agar mereka tidak mencampuri urusan itu dan sebaiknya menjauhkan diri jangan sampai terlibat kalau pihak pembesar she Pui itu mencari gara-gara di antara murid-muridnya. Mereka bertiga hanya dapat membawa barang-barang kecil dan berangkatlah mereka meninggalkan Ang-ke-bun pada hari itu juga.
Apa yang dikhawatirkan guru silat Kim Siok memang tidak berselisih jauh dengan kenyataannya. Jaksa Pui menjadi marah bukan main ketika dia melihat puteranya babak belur dan kepalanya tumbuh benjolan besar ketika terjatuh dari atas kuda. Ada dua hal yang membuat pembesar itu marah. Pertama karena kelancangan puteranya yang membawa pasukan untuk bertindak sendiri. Kedua karena puteranya telah dipukul dan dihina orang.
"Ayah, kita akan kirim pasukan besar untuk menangkap dan menghukum mereka!" kata Pui Ki Cong yang merasa malu dan marah sekali.
"Bodoh! Kau hendak menarik perhatian orang seluruh Thian-cin? Memukul anjing tidak perlu menggunakan tongkat terlalu besar. Akan memalukan saja kalau kita harus menggunakan pasukan. Apalagi, urusan ini adalah urusan pribadi, bukan urusan pemerintah."
"Akan tetapi, apa sukarnya mengalihkannya menjadi urusan pemerintah, ayah? Bukankah mereka telah melabrak pasukan pengawal dan berarti mereka itu telah memberontak? Anggap saja mereka pemberontak-pemberontak dan ayah berhak untuk membasminya dengan pasukan, bukankah begitu?"
"Bodoh! Mana ada pemberontak hanya tiga orang dan alangkah memalukan kalau harus menundukkan tiga orang saja mempergunakan pasukan besar. Tidak, suruh orang panggil ke sini Thian-cin Bu tek Sa m-eng!"
Pui Ki Cong terbelalak. "Bu-tek Sa m-eng? Tapi mana mereka mau membantu kita dan..... mereka bukan pembunuh-pembunuh bayaran."
"Hemm, kau tahu apa? Mereka itu haus akan kedudukan dan kini aku akan memberi kesempatan kepada mereka untuk meraih kedudukan. Kalau aku menjanjikan kedudukan dan memperkenalkan mereka ke kota raja, tentu mereka mau membekuk tiga orang itu."