Chapter 07
"Bagus, kalau mereka yang maju, tentu tiga orang itu dapat dibekuk. Akan tetapi, jangan boleh membunuh mereka, ayah. Aku ingin mendapatkan mereka hidup-hidup di tanganku!"
Sang ayah yang sangat sayang kepada puteranya itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Hayo cepat kirim utusan kepada mereka!"
Pui Ki Cong lalu cepat mengutus pengawal mengundang tiga orang jagoan itu, dan pengawal itu tentu saja tahu ke mana harus mencari mereka. Nama besar tiga orang jagoan itu amat terkenal. Baru julukannya saja Thian-cin Bu-tek Sam-eng (Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin!). Tak lama kemudian, tiga orang penunggang kuda memasuki pekarangan yang luas dari rumah gedung pembesar Pui. Melihat lagak dan pakaian saja, mudah diduga bahwa tiga orang penunggang kuda ini adalah jago-jago silat. Mereka menunggang kuda dengan cara yang gagah, duduk dengan tegak di atas kuda mereka yang tinggi besar. Siapakah tiga orang gagah ini dan mengapa mereka berani mempergunakan julukan yang demikian tekebur, yaitu Tiga Orang Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin?
Seorang di antara mereka bernama Gan Tek Un, berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun. Berperawakan sedang, mukanya bersih dan termasuk tampan juga, akan tetapi wajah yang tampan bersih itu dingin sekali, jarang tersenyum, dan matanya amat tajam menusuk. Pakaiannya indah, model pakaian pendekar yang serba ringkas. Sepasang pedang tergantung di punggungnya, bersilang dengan ronce-ronce merah dan kuning.
Orang kedua bernama Koo Cai Sun, usianya juga kurang lebih tiga puluh lima tahun. Tubuh orang ini agak gemuk, terutama di bagian perutnya yang gendut. Mukanya juga bersih karena dia berkulit putih kuning, muka yang bulat karena gemuk. Sepasang matanya yang lincah mengerling ke kanan-kiri itu, mulutnya yang bibirnya agak tebal dan selalu tersenyum-senyum gembira, menunjukkan dengan jelas bahwa dia seorang mata keranjang dan sombong. Pakaiannya pesolek, bahkan dari pakaian itu berhamburan bau minyak wangi melebihi wanginya pakaian pelacur di waktu malam. Rambutnya disisir licin bekas minyak. Di pinggangnya, secara menyolok sekali, tampak terselip sepasang tombak pendek, yaitu senjata siang-kek, tombak cagak yang pendek, yang di kedua gagangnya dipasangi tali merah.
Adapun orang ketiga bernama Louw Ti, usianya juga sebaya, kurang lebih tiga puluh lima tahun. Ia dapat dibilang buruk rupa di antara ketiganya. Hidungnya pesek dan tubuhnya pendek tegap tampak kuat sekali. Mukanya hitam dan matanya menyeramkan. Dia tidak membawa senjata, akan tetapi di pinggangnya melingkar sebuah benda yang menarik. Itulah sebatang cambuk hitam yang ujungnya dipasangi kaitan baja!
Tiga orang ini sebenarnya berasal dari aliran yang berbeda. Akan tetapi, secara kebetulan, tiga orang ini sama-sama menjadi murid seorang pertapa tersesat, seorang tokoh sakti dari dunia hitam.
Karena mereka seguru, maka mereka lalu bersatu, dan memang tingkat kepandaian mereka sama. Mereka bertiga, dengan kepandaian masing-masing, sudah menjadi seorang jagoan yang sukar dilawan. Apalagi mereka bersatu dan saling bela, tentu saja kekuatan mereka menjadi berlipat ganda. Inilah sebabnya, mereka menjadi jumawa dan merasa tidak ada lagi yang mampu menandingi mereka, dan mereka berani mempergunakan julukan Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin. Bukan hanya karena kepandaian mereka yang tinggi yang membuat mereka berani memakai julukan ini, juga terutama sekali karena mereka mempunyai hubungan yang amat baik dan erat dengan kalangan atas, dengan pejabat-pejabat tinggi yang berkuasa di Thian-cin. Inilah sebabnya maka para pendekar, walaupun merasa penasaran mendengar tentang julukan mereka yang amat tekebur itu, mereka segan untuk menentang mereka yang berlindung di balik kekuasaan para pejabat dan membiarkan mereka mabuk dalam kejumawaan mereka.
Tiga orang itu memakai julukan Sam-eng (Tiga Jagoan atau Tiga Pendekar) karena memang mereka merasa diri mereka sebagai pendekar-pendekar silat yang tangguh. Mereka memang bukan penjahat, dalam arti kata tidak melakukan pekerjaan sebagai penjahat. Hal ini sama sekali bukan berarti bahwa mereka adalah pendekar-pendekar budiman yang suka menolong sesama hidup, menentang yang kuat menindas dan membela kaum lemah tertindas. Sama sekali tidak. Bahkan kadang-kadang, di luar kesadaran mereka sendiri, tiga orang ini, dalam kepongahan dan kemabukan masing-masing, suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sikap seorang pendekar. Kadang-kadang mereka itu dipergunakan oleh para pejabat tinggi untuk membela kepentingan sang pejabat. Akan tetapi, mereka bertiga ini terkenal sebagai jagoan-jagoan bayaran yang menuntut bayaran tinggi.
Demikianlah sedikit tentang keadaan tiga orang jagoan yang kini diundang oleh Pui Taijin itu. Mendengar undangan dari pejabat yang penting ini, tentu saja tiga orang jagoan yang tempat tinggalnya berpisah, akan tetapi ketiganya sama-sama tinggal di kota Thian-cin, cepat-cepat berkumpul dan segera datang berkunjung ke rumah gedung Pui Taijin.
Pembesar gendut itu menyambut mereka di dalam ruangan khusus yang biasa dia pergunakan untuk membicarakan urusan rahasia. Setelah pelayan mengeluarkan hidangan, mereka mulai dengan perundingan mereka, dan daun pintu serta jendela ditutup rapat, para pelayan tidak diperkenankan mendekat. Yang berada di dalam kamar itu hanyalah tiga orang jagoan itu bersama Pui Taijin dan Pui Ki Cong. Pertama-tama, Pui Taijin sendiri mengucapkan selamat datang dengan secawan arak, mempersilakan mereka makan minum, dan diapun menyampaikan kehendaknya minta bantuan dari tiga orang pendekar itu.
"Keluarga Kim itu jelas menghina kami sekeluarga, berani menghina kami dan melawan pasukan pengawal. Mereka itu jelas memberontak, atau setidaknya memperlihatkan sikap melawan alat negara dan memberontak. Akan tetapi karena jumlah mereka hanya bertiga, kami merasa malu kalau harus mengerahkan pasukan untuk menangkap mereka. Oleh karena itu, kami mengharap bantuan sam-wi untuk menangkap mereka."
"Tapi harap sam-wi jangan sekali-kali membunuh mereka, bahkan jangan melukai nona Kim. Tangkap mereka hidup-hidup dan seret mereka ke sini," Pui Ki Cong menambahkan perintah ayahnya.
Koo Cai Sun yang bermuka bulat dan selalu tersenyum itu memainkan biji matanya yang berminyak itu, menyumpit sepotong daging dan memasukkan daging itu ke mulutnya. Sambil mengunyah daging babi berminyak itu, dia berkata, "Aha, agaknya kongcu tertarik kepada nona Kim itu, sudah dapat dipastikan bahwa ia tentu amat cantik jelita!"
"Aihh, nona itulah yang menjadi gara-gara semua ini," Pui Taijin berkata gemas. "Dan anak yang kurang hati-hati ini bernasib sial. Mula-mula dia bertemu dengan nona itu dan tertarik. Kami mengajukan pinangan. Pinangan ditolak, bahkan keluarga itu menghina kami. Dia membawa selosin pengawal untuk memberi hajaran, akan tetapi malah dilabrak oleh guru silat Kim, puterinya, dan calon mantunya."
"Apakah yang taijin maksudkan dengan guru silat Kim itu adalah Kim Siok, guru silat dari Ang-ke-bun itu?" tiba-tiba Gan Tek Un yang sejak tadi diam saja bertanya.
"Benar, dialah orangnya, guru silat kampungan itu," kata Pui Ki Cong.
Tiga orang jagoan itu saling pandang. "Hemm," kata Louw Ti yang berwajah hitam itu sambil memandang wajah Pui Kongcu. "Guru silat kampungan? Dia adalah murid Siauw-lim-pai yang cukup lihai ilmu silatnya."
"Akan tetapi bagaimanapun juga aku tidak percaya kalau sam-wi takut melawan dia," kata Pui Ki Cong. Pemuda ini memang cerdik dan licik sekali. Ucapannya ini merupakan kesengajaan untuk membangkitkan kemarahan mereka karena harga diri mereka disinggung dan kegagahan mereka diragukan.
"Takut? Huh, setan pun kami tidak takut melawannya!" kata Louw Ti setengah membentak, dan diam-diam Ki Cong merasa girang karena pancingannya mengena.
"Kami pun sudah tahu bahwa keluarga Kim itu memiliki kepandaian silat yang lihai sehingga pasukan pengawal kami pun dihajar oleh mereka. Karena itulah, maka kami sengaja mengundang sam-wi untuk minta bantuan sam-wi, karena siapa lagi kalau bukan sam-wi yang akan mampu menyeret mereka bertiga ke sini," kata Pui Taijin, dan ucapan ini cocok sekali dengan pancingan puteranya.
Koo Cai Sun yang merupakan orang paling pandai dan paling suka bicara di antara mereka bertiga, kini mewakili saudara-saudaranya berkata kepada Pui Taijin, "Harap taijin jangan khawatir. Memang Kim Kauwsu itu murid Siauw-lim-pai yang lihai, akan tetapi bagi kami dia itu bukan apa-apa. Kami tanggung dalam waktu singkat kami akan dapat menyeret mereka bertiga itu sebagai tawanan ke sini. Akan tetapi, kami mengharap agar taijin suka mempertimbangkan permintaan kami bertiga tempo hari yang sampai kini belum juga taijin penuhi."
"Ahh, tentang kedudukan itu? Jangan khawatir. Kami sudah mencarikan di kota raja dan kami sudah mengadakan hubungan di sana. Kalau sam-wi berhasil membantu kami, kami akan menyerahkan surat perkenalan dan tanggungan agar sam-wi dapat diterima menjadi calon-calon perwira di kota raja. Kalau mungkin di istana, kalau tidak tentu di dalam pasukan pengawal para pejabat tinggi di sana."
"Baiklah, taijin," kata Koo Cai Sun.
"Sekarang juga kami akan menangkap keluarga Kim itu."
"Mungkin mereka melarikan diri dari Ang-ke-bun. Harap sam-wi mencarinya sampai dapat kalau mereka telah melarikan diri," kata sang pembesar.