Chapter 08
"Tentu saja kami akan melakukan pengejaran. Mereka takkan dapat lari jauh," jawab Gan Tek Un.
"Akan tetapi, saya mohon dengan sangat kepada Sam-wi agar Nona Kim jangan dilukai, dan jangan... diganggu. Ingat, ia itu milikku, calon selirku," kata Pui Ki Cong sambil memandang tajam wajah bulat Koo Cai Sun. Dia sudah mendengar tentang jagoan ini, seorang mata keranjang yang tidak melewatkan wanita cantik begitu saja.
Koo Cai Sun terkekeh dan matanya makin menyipit. "Ha-ha-ha, Kongcu, aku masih tahu perempuan mana yang boleh kujamah dan mana yang tidak. Tentu saja aku tidak akan mengganggu dara cantik yang membuat Kongcu tergila-gila itu, ha-ha!"
Kim Kauwsu bersama puterinya dan muridnya meninggalkan Ang-ke-bun dan melarikan diri menuju ke selatan, kemudian membelok ke barat. Setelah melakukan perjalanan cepat selama tiga hari, sampailah mereka ke kaki Pegunungan Tai-hang-san, dan mereka pada pagi hari keempat berhenti di tepi sebuah sungai yang melintang dan menghadang perjalanan mereka. Banyak sudah bukit dan hutan mereka lalui, dusun-dusun kecil mereka lewati. Setelah berada di lembah sungai di kaki Pegunungan Tai-hang-san yang indah itu, cuaca yang cerah dan suasana yang sunyi dan tenang membuat hati mereka merasa tenang pula.
"Ayah, kita akan menuju ke manakah?" Cui Hong bertanya kepada ayahnya selagi mereka makan bekal makanan mereka yang kemarin mereka beli dari sebuah dusun. Mereka duduk di bawah sebatang pohon besar, dan sinar matahari pagi menerobos di antara celah-celah daun pohon itu, menimpa tempat mereka beristirahat dengan sentuhan-sentuhan hangat dan halus.
"Sebaiknya kita pergi ke kota Tai-goan. Di mana aku mempunyai seorang sahabat baik. Tentu untuk sementara waktu dia akan suka menampung kita, sementara kita berusaha mencari sumber penghasilan baru. Kita harus hidup baru di tempat itu, dan sebaliknya kalau kita berganti nama."
Dara itu mengerutkan alisnya, juga Lu San merasa tidak setuju. Dua orang muda itu merasa betapa sikap orang tua itu terlalu ketakutan. Kalau menuruti hati mereka, lebih baik mereka tetap tinggal di dusun dan melawan mati-matian terhadap setiap pengganggu yang berani datang mengusik mereka.
Agaknya guru silat itupun dapat menduga akan isi hati puterinya dan muridnya, maka diapun menarik napas panjang. "Cui Hong, dan Lu San, aku tahu bahwa kalian merasa tidak puas dengan sikapku yang melarikan diri seolah-olah takut menghadapi bahaya. Memang terus terang saja, aku merasa takut."
"Ayah.....!" Ucapan ayahnya itu hebat sekali bagi Cui Hong yang sejak kecil menganggap ayahnya orang yang paling hebat, paling gagah, dan tidak mengenal takut. Dan sekarang ayahnya begitu saja mengaku bahwa dia takut!
Orang tua itu memegang tangan anaknya. "Aku memang takut sekali, bukan takut kalau aku sampai terkena celaka. Akan tetapi, aku takut kalau-kalau engkau, Cui Hong, kalau-kalau kalian berdua tertimpa malapetaka. Kalian tidak tahu betapa kejam dan jahatnya manusia-manusia di dunia ini. Aku ingin melihat kalian terhindar dari bencana. Kalau aku sudah berhasil menyelamatkan kalian, kalau kalian sudah menjadi suami istri, aku sendiri akan menggabungkan diri dengan para pemberontak."
"Suhu, apa maksud ucapan suhu ini?" Lu San terkejut mendengar ini. Belum pernah suhunya bicara seperti itu, apalagi menyatakan hendak bergabung dengan pemberontak.
"Ketahuilah kalian. Pada waktu ini, pemerintah amat lemah, Kaisar telah menjadi seperti boneka saja. Yang berkuasa adalah pejabat-pejabat setempat dan mereka yang memiliki kekuasaan. Kabarnya, di kota raja sekalipun yang berkuasa adalah pejabat-pejabat, dan di istana yang berkuasa adalah pejabat-pejabat thai-kam. Kejahatan merajalela, perbuatan-perbuatan tak patut dan tidak adil terjadi di mana-mana. Karena itu, orang-orang gagah yang berjiwa patriot memberontak terhadap pemerintah yang dianggap tidak becus. Mereka memberontak untuk membentuk pemerintahan baru yang bijaksana dan adil. Sudah lama aku memikirkan hal itu, dan siapa kira hari ini kita sendiri malah menjadi korban keganasan seorang pejabat yang sewenang-wenang. Hal ini mendorong semangatku untuk membantu para pemberontak, yaitu menggulingkan pemerintah lalim dan mendirikan pemerintah baru yang sehat. Dengan demikian, maka tidak akan sia-sialah aku menghabiskan sisa hidupku. Aku mendengar bahwa banyak sekali para pendekar gagah perkasa yang masuk menjadi pembantu sukarela dari pasukan pemberontak yang disebut pejuang-pejuang rakyat."
"Kalau begitu, Teecu ikut, Suhu!" kata Lu San penuh semangat.
"Aku juga ikut, Ayah!" sambung Cui Hong.
Tiga orang itu terseret oleh semangat perjuangan yang timbul karena perhatian yang mereka alami akibat gangguan seorang pejabat. Demikian tersentuh rasa hati mereka oleh kegembiraan semangat itu sehingga mereka tidak begitu memperhatikan bunyi derap kaki kuda yang datang dari jauh. Setelah tiga orang penunggang kuda itu tiba di situ dan berloncatan turun, barulah Kim Kauwsu, puteri, dan muridnya terkejut, dan mereka pun mengenal tiga orang itu. Jagoan-jagoan sombong yang menyebut diri Thian-cin Bu-tek Sam-eng!
Tiga orang itu dengan sikap tenang menambatkan kuda mereka pada batang pohon, dan mereka lalu melangkah maju menghampiri Kim Siok dan dua orang muda itu. Koo Cai Sun memperhatikan dara remaja yang nampak berdiri dengan gagahnya itu, dan tiba-tiba dia tertawa bergelak.
"Orang juga," kata Koo Cai Sun, masih tersenyum mengejek, dan pandang matanya seperti menggerayangi seluruh bagian tubuh yang ranum dari remaja itu.
Karena tidak melihat cara lain untuk menghindarkan bentrokan, Kim Kauw-su membentak dengan marah, "Ah, kalau begitu, benar ucapan anakku tadi bahwa kalian adalah tiga ekor anjing penjilat dan pemburu dari Jaksa Pui?"
"Ha-ha-ha, benar! Benar! Kami adalah tiga ekor anjing pemburu yang mengejar-ngejar tiga ekor tikus yang melarikan diri, ha-ha!" kata Koo Cai Sun yang pandai bicara itu.
"Ayah, menghadapi anjing perlu bertindak, bukan bicara!" Tiba-tiba Cui Hong sudah menerjang ke depan, mengirim tendangan yang amat keras dan cepat ke arah perut Koo Cai Sun yang gendut. Akan tetapi, orang ini sambil terkekeh sudah mengelak dengan menarik tubuh ke belakang, bahkan dia berusaha menyambar dengan tangannya untuk menangkap kaki Cui Hong yang menendang. Dara itu terkejut dan cepat menarik kembali kakinya, kemudian menyerang lagi dengan kedua tangannya, mengirim pukulan-pukulan beruntun.
"Aha, kuda betina liar ini sungguh menarik!" kata Koo Cai Sun, dan dengan mudah dia menghindarkan diri dari semua serangan itu dengan elakan dan tangkisan. Jelas bahwa dia hendak mempermainkan gadis itu karena dia tidak membalas serangan-serangan itu, hanya membiarkan gadis itu menyerang terus yang semua dapat dihindarkannya dengan mudah, bahkan dalam serangan jurus kelima, sambil mengelak dia berhasil mengusap dagu runcing itu.
"Aih, manisnya!"
"Manusia busuk!" bentaknya, dan dia-pun terjun ke dalam perkelahian itu, hendak membantu sumo inya atau tunangannya. Akan tetapi, dari kanan menyambar tubuh Gan Tek Un yang sudah menghadangnya, sehingga merekapun segera berkelahi dengan seru.
Hati guru silat Kim Siok terkejut dan khawatir sekali ketika dia melihat gerakan dua orang yang sudah berkelahi dengan anak perempuan dan muridnya. Tahulah dia bahwa tiga orang lawan ini bukan hanya bernama kosong saja, dan biarpun mereka menggunakan julukan yang terlalu sombong, namun Tiga Jagoan Tanpa Tanding dari Thian-cin ini ternyata memang lihai sekali. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menyertai anak dari calon mantunya untuk membela diri dan melawan mati-matian. Hanya Louw Ti seorang yang masih belum memperoleh tanding, maka diapun tak mengeluarkan kata-kata lagi, langsung saja menyerang Louw Ti yang pendek tegap itu dengan pukulannya yang ampuh.
Louw Ti menghadapi serangan itu dengan tenang. Pukulan itu bukan pukulan biasa, melainkan pukulan dari jurus Ilmu Silat Sin-ho-kun (Silat Bangau Sakti), dilakukan dengan sempurna dan didorong oleh tenaga sinkang yang amat kuat. Namun Louw Ti tidak mengelak, sengaja tidak mengelak melainkan menyambutnya dengan tangkisan sambil mengerahkan tenaganya pula karena dia ingin menguji kekuatan pihak lawan.
"Dukkk......!" Dua tenaga yang amat kuat bertemu melalui dua lengan itu, dan akibatnya, tubuh Kim Siok terdorong ke belakang sampai dia terhuyung, sebaliknya, Louw Ti masih berdiri tegak, matanya melotot lebar, dan mulutnya bergerak ke arah senyum mengejek. Dalam pertemuan adu tenaga gebrak pertama ini, mereka berdua sudah maklum akan kekuatan masing-masing, dan diam-diam guru silat Kim terkejut bukan main karena dia tahu bahwa tenaganya masih kalah jauh dibandingkan dengan lawan yang bertubuh pendek tegap bermuka hitam ini. Dengan sudut matanya diapun melihat betapa keadaan anak perempuan dan muridnya sudah payah, terdesak terus oleh pihak lawan, dan mudah diduga bahwa mereka berdua itu pasti akan kalah. Maka, dengan menebalkan muka, demi kepentingan puterinya, dia segera berkata dengan lantang.
"Tahan dulu!!"