Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 09

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 09

Ketiga orang itu menahan serangan mereka dan melangkah mundur sambil memandang dengan sikap merendahkan. Bagaimanapun juga, tentu akan lebih menyenangkan dan lebih mudah bagi mereka jika ketiga orang buruan ini menyerahkan diri dengan sukarela agar tidak bersusah payah lagi mereka menggiring tawanan itu ke Thian-cin. Inilah sebabnya mengapa mereka menahan serangan mereka ketika mendengar suara Kim Siok.

"Butek Sam-eng, kalian bertiga adalah orang-orang gagah. Kalau memang kami dianggap bersalah, biarlah semua kesalahan itu aku sendiri yang akan menanggungnya. Kalian kasihanilah putriku dan muridku yang tidak berdosa ini. Biarkan mereka berdua pergi dan aku yang akan menerima segala macam hukuman yang akan dijatuhkan kepada kami."

"Ayah!" "Suhu!"

Kedua orang muda itu memandang kepada Kim Siok dengan mata terbelalak dan alis berkerut. Tentu saja mereka merasa tidak setuju sama sekali dengan sikap Kim Kauwsu itu. "Haha! Kim Siok, untuk apa kami hanya membawa pulang seorang seperti engkau? Yang dibutuhkan adalah putrimu, dan engkau bersama muridmu ini harus ikut pula untuk menerima hukuman!" kata Koo Cai Sun sambil tertawa mengejek. "Daripada kami harus menggunakan kekerasan dan bagaimanapun juga kalian takkan dapat menandingi kami, lebih baik kalian bertiga lekas berlutut dan menyerah saja."

"Singgg...!" Tampak sinar berkilat ketika Cui Hong sudah mencabut pedangnya. Karena mereka bertiga melarikan diri dari bahaya, maka dari rumah mereka telah mempersiapkan senjata dan kini dara itu yang menjadi marah sekali mendengar ucapan Koo Cai Sun, sudah mencabut pedangnya. "Manusia sombong, lihat pedang!" bentaknya dan ia pun sudah menggerakkan pedangnya menyerang Koo Cai Sun dengan tusukan ke arah dada.

"Heh-heh, liar dan panas!" Si perut gendut itu mengelak dengan cepatnya.

Akan tetapi Cui Hong menyerang terus dengan tusukan-tusukan dan bacokan-bacokan bertubi-tubi dan berbahaya sekali.

Melihat sua minya sudah maju lagi, Lu San juga mencabut pedangnya dan tanpa banyak cakap ia pun sudah menggerakkan pedang menyerang Gan Tek Un yang juga cepat mengelak dari serangan-serangan pedang yang cukup berbahaya itu.

Kim Siok menghela napas panjang. Usahanya gagal! Tidak ada jalan lain kecuali melawan mati-matian. Maka ia pun melolos sabuknya yang merupakan senjatanya yang ampuh dan dengan sabuk ini ia pun menyerang Louw Ti. Louw Ti mengeluarkan dengus mengejek dan tahu-tahu cambuk hitamnya yang disebut Toat beng-joan-pian (Cambuk Pencabut Nyawa) sudah berada pula di tangannya. "Tar-tar-tarrr.....!" Cambuknya meledak-ledak menyambut sambaran sabuk Kim Siok dan kedua orang ini segera berkelahi dengan seru. Tampak gulungan sinar putih dan hitam dari senjata mereka sambar-menyambar.

Perkelahian antara Cui Hong dan Koo Cai Sun terulang kembali, akan tetapi biarpun kini Cui Hong menggunakan pedang, tetap saja keadaan mereka tidak seimbang. Koo Cai Sun juga mempergunakan senjatanya, yaitu sepasang tombak pendek, akan tetapi sepasang senjata ini hanya dia pergunakan untuk menangkis dan mengancam saja. Dia tidak bermaksud melukai gadis itu seperti yang telah dipesankan dengan sungguh-sungguh oleh Pui Ki Cong. Kalau dia menghendaki, dengan ilmu kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, akan mudah bagi Koo Cai Sun untuk merobohkan gadis itu. Dia mempermainkan sambil tertawa-tawa, dan hanya menambah tenaganya setiap kali menangkis sehingga beberapa kali hampir saja pedang di tangan Cui Hong terlempar lepas.

Tidak banyak perbedaannya dengan keadaan Lu San. Pemuda ini mengamuk dengan pedangnya, akan tetapi semua gerakan pedangnya itu menemui jalan buntu dan kandas dalam gerakan sepasang pedang Gan Tek Un. Jagoan ini menggunakan sepasang pedang dan dengan pedang pasangan yang digerakkan secara hebat, sepasang pedang itu demikian ganasnya seperti sepasang naga terbang dan bermain-main di angkasa, sesuai dengan ilmu pedangnya, yaitu Siang-liong Kia-sut (Ilmu Pedang Sepasang Naga). Lu San sungguh bukan lawan seimbang dari Gan Tek Un dan setelah mempermainkan pemuda ini selama tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba Gan Tek Un mengeluarkan bentakan keras dan tahu-tahu pedang di tangan Lu San terlepas dan pemuda itupun terpelanting roboh karena pundak kanannya terkena ujung pedang dan ada otot di pundaknya yang putus! Robohnya Lu San disusul dengan robohnya Cui Hong. Dara ini dirobohkan oleh Koo Cai Sun yang merasa sudah cukup mempermainkannya. Tiba-tiba pedang di tangan dara itu tertangkap oleh kaitan senjata siang-kek di tangannya dan sekali membuat gerakan memutar, pedang itupun patah dan karena tangannya terasa nyeri, terpaksa Cui Hong melepaskan gagang pedang. Sebelum dara ini mampu menjaga diri, tahu-tahu lawannya yang amat lihai telah menotoknya dan robohlah ia tanpa terluka, terkulai dalam keadaan lumpuh dan tak mampu bergerak lagi.

Melihat betapa dua orang kawannya sudah merobohkan lawan, Louw Ti mengeluarkan suara melengking nyaring sekali dan kini gerakan cambuknya berubah ganas bukan main. Guru silat Kim Siok terkejut. Dia sendiri adalah seorang ahli bermain senjata lemas seperti cambuk atau sabuknya, akan tetapi kini dia tahu bahwa dia telah bertemu dengan seorang yang tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi. Dia mencoba untuk mengerahkan seluruh tenaga dan memutar senjata sabuknya itu dengan sebaik mungkin, memainkan ilmu silat yang mendarah daging kepadanya. Sabuknya membuat gerakan menyambar-nyambar dan membentuk lingkaran cahaya putih. Akan tetapi, cambuk di tangan Louw Ti mengeluarkan suara meledak-ledak, membuat gerakan melecuk-lecut secara aneh, kadang-kadang menyambar-nyambar dari atas, bawah, kanan kiri dan depan belakang, sukar sekali untuk dibendung. Apalagi setiap lecutan itu mengandung tenaga yang amat kuat sehingga sabuk di tangan Kim Kauwsu kadang-kadang membalik ketika terbentur senjata lawan. Dia tidak tahu bahwa lawannya telah memainkan Ilmu Cambuk Pencabut Nyawa yang dahsyat sekali.

Kim Siok terlalu lama meninggalkan dunia persilatan. Semenjak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, dia tidak pernah lagi menjelajah dunia persilatan dan tidak tahu bahwa di dunia kang-ouw, telah terjadi banyak perubahan dan banyak bermunculan tokoh-tokoh yang lihai. Juga telah terjadi perkembangan yang luas dalam ilmu silat sendiri. Karena ini, biarpun dia setiap hari melatih diri dengan mengajarkan ilmu silat kepada murid-muridnya, namun selama dua puluh tahun dia tidak menambah pengetahuannya dalam ilmu silat. Maka, begitu bertemu tanding tangguh, yang memainkan ilmu silat baru yang sama sekali tidak dikenalnya, dia menjadi bingung.

"Tar-tar-tarrr..... robohlah kamu!" terdengar Louw Ti membentak dan ujung cambuknya yang dipasangi mata pisau tajam itu menyambar turun secara bertubi-tubi. Kim Siok terkejut mengelak dan memutar sabuknya melindungi dirinya, namun terlambat.

"Crokkk.. aughhhh...." Dan robohlah guru silat itu, dari kaki kanannya di bagian lutut bercucuran darah karena sambungan lututnya hampir putus disambar mata pisau di ujung cambuk lawan tadi. Juga di pergelangan tangannya mengucurkan darah dan terpaksa dia melepaskan sabuknya. Karena luka di lutut dan pergelangan tangan, guru silat itu tidak mampu melakukan perlawanan lagi dan diapun roboh terguling tanpa dapat mengelak ketika Louw Ti menambahakan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh.

"Ha-ha-ha, Kim Siok. Kiranya engkau dan putrimu beserta muridmu ini tidak seberapa hebat. Engkau memang orang keras kepala dan tolol. Kalau saja kau-berikan putrimu kepada Pui-kongcu, tentu tidak akan begini jadinya dan engkau akan hidup terhormat dan makmur."

"Bunuhlah aku, tapi bebaskan anakku berdua itu." Kim Siok masih mencoba untuk membujuk karena ia amat meng khawatirkan nasib puterinya. Akan tetapi tiga orang itu hanya tertawa-tawa dan Koo Cai Sun lalu mengangkat tubuh Cui Hong yang sudah tak mampu bergerak, meletakkan tubuh itu melintang di atas punggung kudanya. Lalu dia sendiri meloncat naik dan tubuh dara itu melintang menelungkup di depannya. "Mari kita cepat bawa mereka!" katanya dan dua orang temannya juga segera membawa tawanan masing-masing. Kim Siok dan Lu San yang juga sudah tidak mampu bergerak karena ditotok, juga mereka dibelenggu kaki tangannya, diikat di atas punggung kuda. Lalu tiga orang jagoan itu melarikan kuda masing-masing membawa tawanan itu menuju ke Thian-cin, membayangkan kedudukan terhormat yang akan mereka terima sebagai hadiah Pui Taijin.

"Ha, nona manis, akhirnya engkau terjatuh ke dalam tanganku!"

Cui Hong rebah di atas pembaringan dengan kaki tangan terikat. Tadi ia dilemparkan oleh Koo Cai Sun ke atas pembaringan di dalam kamar itu, dan sambil terkekeh Koo Cai Sun menyerahkannya kepada Pui Ki Cong.

"He-heh-heh, Pui-kongcu. Nih, kuda betina liar itu. Ia panas dan liar, akan tetapi aku menepati janji, ia tidak kusentuh! Ha- ha, memang ia menarik sekali, tapi aku tidak menyentuhnya." Jagoan itu tertawa bergelak.

"Terima kasih, Koo-enghiong, terima kasih." kata Pui Ki Cong dan setelah jagoan itu keluar dari kamar, dia cepat menutupkan daun pintu dan menghampiri pembaringan dengan mulut menyeringai.

"Kim Cui Hong, kalau engkau dahulu menerima pinanganku, tentu tidak perlu dilakukan kekerasan seperti ini. Akan tetapi sekarang masih belum terlambat, manis, aku sungguh cinta pada mu dan kalau engkau mau dengan suka rela menjadi isteriku, aku akan membujuk ayahku agar ayahmu tidak menerima hukuman berat." Pui Ki Cong duduk di tepi pembaringan dan mengulur tangan untuk membelai dagu yang meruncing manis itu.

Cui Hong menggerakkan kepalanya mengelak dari belaian itu. Totokan pada tubuhnya telah punah akan tetapi ikatan pada kaki tangannya kuat sekali, membuatnya tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. "Tidak sudi aku! Lebih baik mati!" ia membentak dan melotot kepada pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment