Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 11

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 11

Cui Hong memutar otaknya. Jika dibiarkan berlarut-larut dan ayah serta kakaknya tidak cepat dibebaskan, pihak musuh akan dapat mengatur siasat. Memang lebih baik kalau pemuda ini yang membebaskan sendiri dua tawanan itu. Kalau ia terus menodongnya, pihak lawan tidak akan mampu mengganggunya dan terpaksa harus memenuhi tuntutannya.

"Baik, mari kita bebaskan mereka!" katanya dan dengan pedangnya ia membabat tali pengikat kedua kaki Ki Cong, lalu ia membebaskan totokannya dari tubuh pemuda itu. Pemuda itu dapat bergerak lagi dan dengan susah payah karena kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu, dia bangkit berdiri, dibantu dengan sepakan kaki oleh Cui Hong. Dengan tangan kiri mencengkeram rambut kepala, tangan kanan menodongkan pedang yang ditempelkan di leher pemuda itu, Cui Hong lalu menuntunnya keluar dari kamar, didahului oleh dua orang pengawal, yang bersikap ketakutan dan menjadi petunjuk jalan menuju ke kamar tahanan yang berada di belakang gedung.

Hati Cui Hong diliputi penuh kecurigaan dan ia bersikap hati-hati sekali, tak pernah melepaskan kewaspadaan dan dengan keras mencengkeram rambut kepada Ki Cong dan terus menempelkan pedangnya di leher orang itu. Ia merasa lega ketika tiba di ruang tahanan, melihat bahwa di situ tidak tampak penjaga-penjaga yang siap mengeroyoknya, bahkan para penjaga tampak menyingkir dan berdiri di tepi yang aman. Dan hatinya girang sekali ketika tiba di sebuah tikungan sempit, dari jauh ia melihat ayah dan kakaknya di dalam sebuah kamar kerangkeng, terbelenggu dan duduk di atas lantai dalam keadaan selamat.

"Ayah....!" Tak tertahankan lagi keharuan hatinya dan ia berteriak memanggil.

Tiba-tiba ayahnya berseru, "Hong-ji, hati-hati!"

Akan tetapi terlambat. Karena pada saat itu, perhatian Cui Hong tertarik kepada ayah dan kakaknya sehingga ia tidak melihat betapa tiba-tiba ada sebuah tubuh menubruknya dari kanan. Tentu saja ia cepat menggerakkan pedangnya menyambut tubrukan orang itu tanpa melepaskan jambakan tangan kirinya dari rambut kepala Ki Cong.

"Crokkkk........!" Perut orang yang menubruknya itu terbacok dan darah muncrat-muncrat ke Cui Hong. Tentu saja gadis ini merasa terkejut dan ngeri. Biarpun sejak kecil ia belajar ilmu silat, akan tetapi belum pernah ia membunuh orang, apalagi membacok perut sampai muncrat-muncrat darahnya seperti itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa orang yang menubruknya itu ternyata tidak menubruk, melainkan dilontarkan orang dan orang itu sama sekali tidak mampu mengelak atau menangkap ketika dibacoknya. Karena kaget dan ngeri, otomatis melepaskan jambakan rambut Ki Cong dan melompat ke belakang agar tidak terkena darah. Dan pada saat itu, muncullah Koo Cai Sun dan Gan Tek Un. Gan Tek Un menyambar tubuh Ki Cong dan Koo Cai Sun sudah menyerang Cui Hong dengan kedua tangannya. Gadis ini berusaha membela diri, akan tetapi ia memang kalah jauh, dan juga sudah lelah sehingga sebuah tendangan yang mengenai lututnya membuatnya terpelanting dan sebelum ia dapat bangkit berdiri, Kuo Cai Sun sudah menubruknya dan beberapa orang pengawal maju dan membelenggu kaki tangannya!

Cui Hong meronta-ronta dan memaki-maki, akan tetapi sia-sia saja dan di lain saat ia sudah tidak mampu bergerak, kaki tangannya ditelikung dengan amat kuat. Tiba-tiba Pui Ki Cong tertawa.

"Haha, bocah liar. Engkau memang tidak boleh disayang! Engkau memang ingin disiksa, diperkosa, dan dihina. Aku akan mempermainkan engkau sampai meratap-ratap minta ampun, sampai engkau menyesal pernah dilahirkan oleh ibumu!" Setelah berkata demikian, dalam kemarahannya Ki Cong mengayun tangannya menampar muka gadis yang sudah tak berdaya rebah di atas lantai itu.

"Plak! Plak!" Dua kali tangannya menampar, sampai panas rasanya mengenai kedua pipi gadis itu saking kerasnya. Kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali, akan tetapi sepasang matanya tetap melotot penuh kebencian. Melihat ini, kembali Pui Ki Cong tertawa mengejek. Dia merasa amat penasaran dan marah. Beberapa kali dia mengalami penghinaan gadis ini dan kemarahannya membuatnya lupa diri bahwa di situ terdapat tiga orang jagoan itu, dua orang tawanan dan beberapa orang pengawal yang menjadi penonton.

"Ha-ha-ha, setelah ditampar engkau bertambah cantik!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba dia merangkul leher Cui Hong dan mencium mulut yang dikaguminya itu. Dia mencium dengan rakus, seperti orang kehausan memperoleh minuman segar yang diteguknya dengan lahap.

"Aaughhhh.......!!" Tiba-tiba Ki Cong menjerit dan meronta-ronta, akan tetapi deretan gigi putih kecil-kecil yang amat kuat itu tidak mau melepaskannya, karena seperti seekor singa menggigit korbannya. Ki Cong meronta-ronta dan mengaduh-aduh, darah bercucuran dari mulutnya. Melihat ini, Koo Cai Sun cepat menotok jalan darah di leher Cui Hong dan gadis itu terkulai, gigitannya terlepas.

"Aduhhhh..... iblis betina..... aduhhhh!” Ki Cong bangkit dan menutup mulutnya yang bercucuran darah. Bibirnya yang bawah hampir putus oleh gigitan Cui Hong, gigitan yang dilakukan penuh kebencian tadi. Mulut gadis itu pun juga berlepotan darah yang keluar dari luka di bibir Ki Cong dan gadis itu, biarpun sudah tertotok lemas, masih mampu meludahkan darah yang menodai mulutnya.

Koo Cai Sun tertawa. "Ain, kongcu, tidak perlu tergesa-gesa. Sudah kukatakan bahwa dia ini seekor kuda betina liar, ganas dan panas. Kalau engkau mampu menjinakkannya, wah, dia akan hebat sekali. Akan tetapi sebaliknya, ia dapat membawamu terjun ke jurang, ha-ha!"

Pui Ki Cong menjadi semakin penasaran dan marah. Dengan kasar dia lalu menggunakan sehelai saputangan untuk diikatkan di depan mulut Cui Hong, kemudian ia menggendong tubuh gadis itu dan membawanya kembali ke dalam kamarnya, diikuti suara tertawa ketiga orang jagoan itu.

Dapat dibayangkan betapa hancur rasa hati Kim Siok dan Lu San menyaksikan semua. Mereka tidak berdaya, dibelenggu dengan kuat. Timbul tekad dalam hati mereka untuk mencari kesempatan, memberontak dan kalau perlu mempertaruhkan nyawa untuk mencoba menyelamatkan Cui Hong.

"Tar! Tar! Tar!!"

Berulang kali cambuk itu melecut dan menimpa tubuh Cui Hong. Gadis itu terlentang di atas pembaringan dengan tangan dan kaki terentang dan terikat pada kaki pembaringan. Cambuk itu diayun oleh Ki Cong dan melecut tubuhnya, menggigiti kulitnya melalui robekan baju. Pakaian gadis itu koyak-koyak oleh lecutan cambuk dan bahkan kulitnya yang putih mulus itu mulai penuh dengan garis-garis merah, ada pula yang mengeluarkan darah. Namun tidak satu kalipun terdengar keluhan dari mulut Cui Hong. Ia merapatkan bibirnya, bahkan kalau terlalu nyeri, digigitnya bibir sendiri dan matanya tetap melotot menatap wajah penyiksanya. Habis koyak-koyak seluruh pakaiannya dan yang tinggal hanyalah belenggu pada masing-masing tangan dan kakinya.

Kadang-kadang datang pula perasaan takut dan ngeri yang bergelombang dan hampir menenggelamkan kesadarannya, rasa takut yang jauh lebih hebat dan lebih besar daripada rasa nyeri karena siksaan cambuk itu. Ia berharap agar orang itu mencambuknya terus sampai ia mati. Tidak, ia tidak takut mati. Kalau ia mati, ia akan terbebas dari siksaan ini, terutama sekali siksaan rasa takut yang mengerikan. Hanya satu hal yang membuatnya penasaran kalau ia mati, yaitu ia tidak akan lagi mampu membalas dendam kepada keparat ini.

"Bunuhlah aku, bunuhlah, hanya demikian bisik suara hatinya ketika akhirnya Ki Cong menghentikan siksaannya. Dia melemparkan cambuk yang berlepotan darah itu, dan mengusap peluh yang membasahi tubuhnya. Matanya liar menatap seluruh tubuh yang ditinggalkan pakaian yang sudah koyak-koyak dan kulit putih mulus yang dihiasi garis-garis merah. Memandang dengan penuh gairah nafsu dan Ki Cong lalu duduk di tepi pembaringan, kedua tangannya mengusap-usap seperti hendak mengobati atau mengusir semua rasa nyeri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment