Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 12

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 12

Jantung Cui Hong berdebar kencang, dan seluruh tubuhnya menggigil. Rasa takut dan ngeri menyerangnya, dan ketika Ki Cong mendekapnya dan menciuminya, dia terkulai dan roboh pingsan. Dia tidak tahu apa-apa lagi, tidak merasakan apa-apa lagi, seperti orang yang pingsan atau mati.

Nafsu birahi timbul karena gambaran pikiran. Tanpa adanya pikiran yang menggambarkan hal-hal yang ada hubungannya dengan nafsu berahi, maka nafsu itu tidak akan timbul begitu saja. Dan menurutkan nafsu birahi, tanpa dikendalikan oleh kebijaksanaan dan kesadaran, akan membuat seseorang menjadi hamba nafsu berahi. Dan celakalah badan dan batin jika orang sudah menjadi hamba nafsu. Nafsu apa saja, termasuk nafsu berahi. Dalam cengkeraman nafsu, orang akan lupa diri dan sanggup melakukan apa saja, bahkan kadang-kadang melakukan hal-hal yang melanggar segala hukum kemanusiaan atau kesusilaan, kadang-kadang malah mengarah kepada perbuatan keji dan kejam sekali, tanpa memperdulikan keadaan orang lain, yang terpenting adalah memenuhi dorongan hasrat untuk memuaskan nafsu sendiri yang mendesak-desak.

Dendam membuat seseorang dapat melakukan kekejaman yang luar biasa. Dendam adalah nafsu kebencian, dan seperti juga nafsu berahi, sekali orang dicengkeram, maka orang itu akan menjadi boneka, menjadi hamba daripada nafsunya sendiri. Pui Ki Cong menaruh dendam kebencian yang cukup mendalam terhadap Cui Hong. Mula-mula karena dia kecewa bahwa hasrat hatinya tidak mendapat sambutan. Kemudian dia merasa dihina oleh gadis itu, dan terutama sekali merasa tersinggung rasa harga dirinya oleh semua penolakan dan penghinaan itu. Apalagi setelah berkali-kali dia gagal, bahkan hampir celaka di tangan Cui Hong. Rasa suka karena dorongan birahi berubah menjadi kebencian, dendam kebencian yang amat besar. Kebencian menimbulkan hasrat melihat orang yang dibencinya itu menderita sehebat-hebatnya. Dendam kebencian hanya dapat dipuaskan jika melihat orang yang dibencinya itu menderita hebat. Karena dirinya dicengkeram oleh dua macam nafsu yang amat berbahaya itu, nafsu birahi dan nafsu kebencian, maka perbuatan Ki Cong terhadap diri Cui Hong sungguh di luar batas perikemanusiaan. Segalanya tidak dipantangnya untuk dilakukan terhadap Cui Hong, untuk dapat menghina sehebat-hebatnya, untuk dapat memuaskan hasrat hatinya sedalam-dalamnya.

Begitu siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya ternoda, tanpa mengeluh atau menangis, Cui Hong pingsan lagi. Berulang kali dia sadar dan pingsan lagi, dan akhirnya dia hanya rebah terlentang seperti mayat, pandang matanya kosong ditujukan ke langit-langit kamar itu, dan dia sama sekali tidak perduli lagi akan dirinya, sama sekali tidak menghiraukan lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya. Bahkan dia hanya memandang kosong ketika Ki Cong menggodanya dengan kata-kata, dengan perbuatan, seolah-olah semua itu hanya terjadi dalam mimpi buruk. Dia hanya menanti datangnya saat terbangun dari tidur agar mimpi buruk itu dapat terhenti. Akan tetapi mimpi buruk itu berkelanjutan dan tak pernah terhenti, baru berhenti jika dia tenggelam kembali ke dalam ketidaksadaran! Wajah Ki Cong terukir di dalam lubuk hatinya, tanpa disadarinya. Wajah seorang laki-laki yang kemerahan, penuh peluh, yang matanya kemerahan, hidungnya kembang-kempis, mulutnya dengan bibir pecah menjendol itu terengah-engah. Dia takkan pernah melupakan wajah itu!

Cui Hong lupa segala. Lupa akan waktu. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tersiksa di dalam kamar itu. Dia tidak ingat apa-apa lagi, tidak tahu bahwa sudah sehari semalam dia tersiksa secara melampaui batas itu. Ki Cong juga lupa diri. Hanya berhenti menyiksa gadis itu untuk makan dan minum, yang diantarkan oleh seorang pengawal. Kini hatinya tenteram, dan dia boleh melakukan apa saja tanpa gangguan karena tiga orang jagoan itu berada tak jauh dari kamarnya. Di kamar sebelah, selalu siap melindunginya.

Ki Cong agak mabok, terlalu banyak minum arak. Di dekatnya gadis itu, dan dituangkannya arak dari cawan ke mulut Cui Hong yang setengah terbuka. Gadis itu menelannya dan tersedak. "Heh-heh-heh, Cui Hong, manisku. Bagaimana, apakah sekarang engkau sudah tunduk dan takluk kepadaku? Ha-ha-ha.....!" Dia menunduk untuk mencium dengan buas.

"Brakkk......!!" Tiba-tiba daun pintu jebol, dan dua laki-laki berloncatan masuk. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Ki Cong ketika dia melihat bahwa yang menjebo l daun pintu itu adalah guru silat Kim Siok dan Lu San!

"Tolooonggg......! Toloooongggg....!!" Dia berteriak-teriak ketakutan.

Pada saat itu, tiga bayangan orang berloncatan masuk sebelum Kim Siok dan muridnya terbelalak memandang ke arah dipan di mana Cui Hong rebah seperti mayat itu dapat melakukan sesuatu, tiga orang jagoan itu telah menerjang mereka. Kim Siok dan Lu San tadi berhasil melepaskan diri dari ikatan kaki tangan mereka dengan susah payah, merobohkan enam orang penjaga, dan lari ke kamar itu. Sekarang, melihat tiga orang tangguh itu menerjang, mereka mengamuk dan sekali ini mereka berkelahi seperti dua ekor harimau terluka. Mereka marah, benci, dan sakit hati melihat keadaan Cui Hong, sehingga mereka menjadi nekat, tidak memperdulikan nyawa sendiri, dan menerjang dengan ganas dan dahsyat.

Biarpun tingkat kepandaian tiga orang jagoan itu lebih tinggi, akan tetapi menghadapi amukan dua orang yang sudah nekad tanpa memperdulikan keselamatan nyawa sendiri, Nitu Bu-tek Sa m-eng menjadi kewalahan dan terpaksa mereka lalu menge luarkan senjata masing-masing, dan akhirnya senjata-senjata mereka dapat merobohkan Kim Siok dan Lu San. Guru silat dan murid itu roboh dengan luka-luka parah, dan pada saat itu Cui Hong, yang selalu berada dalam keadaan setengah pingsan itu, siuman dan melihat ayah dan suhengnya roboh mandi darah, dia menjerit.

"Ayaaaahhhh......! Suhengggg......!" Dan gadis itu pun menangis. Baru sekarang dia menangis, menangis karena melihat ayahnya, bukan menangis dirinya sendiri. Guncangan batin yang menimpa dirinya lebih mendalam daripada tangis. Dia tidak lagi dapat menangisi diri sendiri, karena di dalam batinnya, sebagai akibat malapetaka yang menimpa dirinya, hanya terdapat dendam dan sekali lagi dendam!

Ki Cong, yang kembali terlepas dari ancaman maut itu, berdiri dengan muka pucat, dan dia memandang kepada Cui Hong, kepada Kim Siok dan Lu San dengan mata mengandung kemarahan besar. Dia memang berhasil membalas dendam kepada gadis itu, berhasil mempermainkannya, dan memperkosanya sesuka hatinya. Akan tetapi dia sama sekali tidak menikmati kepuasan dari pengalaman itu, bahkan semakin dia memaksakan kehendaknya, semakin terasa olehnya betapa gadis itu menolaknya, sehingga dia terpaksa harus memperkosanya. Dia merasa bosan harus memperkosa terus, sedangkan keadaan gadis itu lebih banyak mati daripada hidup, lebih sering pingsan daripada sadar.

"Phuhh! Keluarga setan!" Dia mengomel. "Sa m-wi eng- hiong, kuserahkan gadis itu kepada kalian. Ambillah, aku tidak sudi lagi!" katanya, dan dia pun meninggalkan kamar itu untuk pergi ke kamarnya sendiri di gedung besar. Koo Cai Sun tertawa girang. "Ha-ha-ha, sungguh beruntung. Aku memang kagum sekali kepada gadis ini!"

"Pui-kongcu menyerahkan kepada kita bertiga bukan, bukan kepada seorang!" tiba-tiba Gan Tek Un berkata, dan matanya yang tajam itu menyarbang dingin.

Koo Cai Sun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, jangan khawatir, kawan. Gadis ini memang menarik sekali dan amat tabah. Baiklah, kita bagi rasa. Engkau dan Louw toako boleh mendapat giliran lebih dulu, biar aku yang terakhir, ha-ha-ha!"

Gan Tek Un dan Louw Ti memang tidak se mata keranjang Koo Cai Sun, akan tetapi mereka pun bukan laki-laki yang alim. Melihat Cui Hong yang demikian muda dan demikian cantik manis, juga melihat sikap gadis itu yang amat tabah dan keras hati, mereka berdua pun merasa tertarik sekali. Dan tiga orang jagoan ini memang sudah biasa bersenang-senang bertiga, maka kini tanpa malu-malu lagi, tanpa banyak cakap lagi, Gan Tek Un lalu menghampiri pembaringan di mana Cui Hong masih terbelenggu kaki tangannya. Dengan jari-jari tangannya yang kuat, Gan Tek Un membikin putus belenggu-belenggu itu, dan dia pun merangkul dengan penuh nafsu.

Ketika merasa betapa kaki tangannya terbebas dari belenggu, Cui Hong lalu bergerak memukul. Akan tetapi dengan mudah Gan Tek Un menangkap pergelangan kedua tangan gadis yang sudah lemas karena menderita lahir batin, juga sudah tiga hari tidak pernah makan. Dan kemudian Cui Hong tidak ingat apa-apa lagi ketika Gan Tek Un mulai mende kapnya.

Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hati Kim Siok dan Lu San menyaksikan betapa Cui Hong diperkosa orang di depan mata mereka. Biarpun mereka berdua sudah terluka parah, akan tetapi kemarahan dan sakit hati membuat mereka mampu bergerak lagi, dan mereka lalu meloncat ke atas, bangkit berdiri, dan dengan tubuh berlumuran darah, dengan mata terbelalak penuh kebencian, mereka pun menerjang ke arah manusia berhati binatang yang sedang mempermainkan tubuh Cui Hong di atas pembaringan itu.

Akan tetapi sambil tertawa, Koo Cai Sun dan Louw Ti menyambut mereka, dan dengan tendangan-tendangan, tubuh Kim Siok dan Lu San terjengkang dan terbanting jatuh kembali ke atas lantai. Mereka berusaha bangkit, akan tetapi kemudian dua orang jagoan itu menyusulkan tendangan-tendangan yang membuat mereka jatuh kembali. Koo Cai Sun, Louw Ti tertawa-tawa, berdiri, dan setiap kali dua orang yang sudah luka-luka itu hendak bangkit berdiri, mereka merobohkannya kembali dengan tendangan-tendangan.

Gan Tek Un meloncat turun kembali dari pembaringan. Wajahnya keruh karena dia merasa terganggu oleh dua orang yang sudah luka-luka itu. "Mereka lebih baik dibunuh saja agar kelak tidak mendatangkan banyak urusan," katanya, dan kedua tangannya bergerak menyambar sepasang pedangnya. Nampak sinar pedang berkelebat. Pada saat itu Cui Hong sudah siuman dan dia sempat melihat betapa sepasang pedang itu menyambar dan menembus dada ayahnya dan suhengnya.

"Ayaaahhh......! Suhengggg......!" Dan dia pun jatuh pingsan lagi.

Cui Hong tidak ingat apa-apa lagi, tidak tahu betapa tiga orang itu mempermainkannya secara bergantian. Setiap kali sadar dari pingsannya, yang tampak hanyalah bayangan ayahnya dan Lu San yang mandi darah.

Jaksa Pui mendengar akan semua peristiwa itu. Setelah dua jenazah Kim Siok dan Lu San disingkirkan, jaksa Pui lalu membujuk tiga orang jagoan itu agar segera berangkat ke kota raja, membawa suratnya yang memperkenalkan mereka ke kota raja kepada seorang rekannya yang berpengaruh di sana.

"Sebaiknya kalau sam-wi segera berangkat. Kini keadaan kota raja sedang kalut, dan membutuhkan bantuan tenaga-tenaga yang boleh dipercaya seperti sam-wi. Dan jangan lupa, kalau sam-wi pergi, bawa perempuan itu bersama sam-wi. Kalau ia ditinggalkan di sini, ia hanya akan membuat pusing saja."

Tiga orang jagoan itu menerima hadiah-hadiah berupa masing-masing sekantung emas, dan mereka pun menerima masing-masing seekor kuda terbaik. Setelah menyimpan surat dari jaksa Pui itu, Koo Cai Sun membawa Cui Hong yang lemas itu ke atas kudanya, dan diikuti oleh dua orang temannya, dia pun berangkat pada pagi hari sekali menuju ke kota raja di utara.

Koo Cai Sun ternyata jatuh cinta atau mempunyai rasa sayang kepada Cui Hong, maka dia tidak keberatan membawa gadis itu ke kota raja. Akan tetapi ketika mereka tiba di sebuah hutan, dan berhenti beristirahat di bawah pohon dalam hutan, Gan Tek Un mencelanya. "Koo-toako, sungguh tidak baik sekali kalau membawa perempuan ini ke kota raja. Ia hanya akan menimbulkan kesukaran saja. Lihat, pandang matanya penuh dendam. Ia takkan pernah mau menyerah kepada kita dan di sana hanya akan menimbulkan kecurigaan orang banyak saja."

"Benar, ia kelak hanya akan menjadi musuh bagi kita. Di kota raja tentu banyak perempuan yang lebih cantik dan lebih baik daripadanya. Mengapa susah-susah membawa calon mayat ini ke kota raja saja?"

Dibujuk oleh dua orang rekannya, Koo Cai Sun menjadi bimbang. Dia menoleh dan memandang kepada gadis yang duduk bersandarkan pada pohon itu. Dia telah menotok gadis itu dan mendudukkannya di sana. Gadis itu merupakan pandangan yang tidak menarik sama sekali. Seorang wanita muda yang kotor. Rambutnya kusut masai. Mukanya pucat, bibirnya yang masih nampak indah bentuknya itu pun kehilangan warna merahnya, bahkan nampak pucat. Sepasang matanya mengerikan, seperti mata mayat, sama sekali tidak bercahaya lagi, akan tetapi ketika pandang mata itu ditujukan kepada mereka bertiga, seperti ada api membara di manik matanya. Pakaiannya awut-awutan.

Koo Cai Sun menghela napas panjang. Seorang gadis yang keras hati dan tak pernah mau tunduk walaupun segala-galanya telah dipatahkan dengan paksa. Betapa akan mengge mbirakan kalau saja seorang wanita seperti ini mampu mencurahkan kasih sayang. Seorang wanita yang panas membara, penuh semangat. Akan tetapi sayang, penuh pula dengan dendam kebencian. Diapun hanya akan dapat menguasai gadis itu dengan cara memperkosanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment