Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 14

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 14

Sekarang insaf, sekarang bebas, aku bahagia karena bebas! Tak sudi aku terkurung, terbelenggu. Biar kurung emas, biar belenggu intan, lebih baik bebas, lepas di udara, terbang melayang ke arah tertentu. Sabar, yakin, waspada, takkan tersesat. Karena bebas!

Mendengar kata-kata dalam nyanyian yang lantang dan jelas itu, Cui Hong tersenyum. Lama sudah suara itu terhenti, namun ia masih tertegun. Suara nyanyian itu seolah-olah ditujukan kepadanya. Bebas! Terlepas dari segala sesuatu! Terlepas dari perasaan duka ini, dari kehancuran hati, dan dari keputusasaan. Kenapa hidup seperti ini harus dipertahankan lagi? Hanya akan menderita siksa batin setiap hari saja. "Aku ingin bebas..." bibirnya menggumam, dan tangannya menanggalkan kain ikat pinggang yang panjang. Seperti dalam mimpi saja, Cui Hong lalu meloncat ke atas dahan terendah, mengikatkan ujung kain itu pada dahan pohon, kemudian mengikatkan ujung yang lain ke lehernya. Tanpa ragu sedikit pun, setelah ujung kain kedua mengikat lehernya, ia berbisik, "Aku ingin bebas..." dan ia pun meloncat turun dari atas dahan.

"Brukkk....!" Tubuhnya jatuh menimpa tanah. Cui Hong terkejut dan merasa heran, cepat ia bangkit dan memandang ke atas. Kiranya ujung tali yang mengikat dahan tadi terlepas! "Tolol.....!" Ia memaki diri sendiri dengan lantang. Betapa bodohnya, mengikatkan ujung kain itu saja ke dahan sampai begitu ceroboh dan kurang kuat. Kalau ada orang melihat, tentu akan mentertawakannya, mengira ia memang takut membunuh diri, maka mengikatkan ujung kain pinggang itu dengan kendur. Dengan gemas ia meloncat lagi ke atas dahan, membawa ikat pinggangnya, dan sekali ini ia mengikatkan ujungnya dengan kuat sampai dua kali. Barulah ia mengalungkan ikatan pada ujung lain pada lehernya dan kembali ia berbisik, "Aku ingin bebas...." dan ia pun meloncat ke bawah.

"Brukkk.....!" Kembali tubuhnya meluncur dan jatuh ke bawah. Cui Hong membelalakkan matanya dan cepat bangkit, akan tetapi pinggulnya agak sakit ketika terbanting yang kedua kalinya itu, pinggulnya terbanting agak keras juga. Dan ternyata tali ikat pinggang yang tadi diikatnya dengan amat kuat itu telah terlepas pula! Cui Hong menoleh ke kanan kiri dan ia merasa betapa bulu tengkuknya meremang ketika pikirannya membayangkan bahwa yang melakukan perbuatan jahil seperti ini tentulah sebangsa setan penunggu hutan itu. Celaka, pikirnya, sungguh sial nasibnya. Baru ingin bebas saja sudah dihalangi oleh setan! Akan tetapi bagaimana ia dapat melawan setan yang tidak nampak? Seratus kali berusaha menggantung diri, tentu seratus kali pula setan itu dapat melepaskan tali ikat pinggangnya dari dahan pohon dan ia akan terbanting-banting seperti tadi.

"Ah, tolol memang, sungguh tolol sekali!" Cui Hong cepat menengok ke belakangnya dan telah berdiri seorang kakek bongkok yang entah dari mana datangnya. Kakek itu sudah amat tua, sukar ditaksir berapa banyak usianya, tentu sudah tujuh puluh tahun lebih. Mukanya hitam keriputan dan amat kurus. Kulit muka itu berlipatan pada pipi dan kedua matanya, menyembunyikan sepasang mata yang kecil dan amat hitam mencorong. Mulutnya menyeringai dan nampak di balik bibir itu tidak ada sebuah pun giginya lagi. Pakaiannya serba hitam dan kepalanya botak, hanya ada sisa rambut putih di sekeliling kepala bagian bawah. Tubuh yang kurus itu berdiri bengkok karena di punggungnya, di bawah tengkuk, terdapat tonjolan daging sebesar kepala anak kecil. Pakaiannya yang serba hitam itu kedodoran, seperti kain dibelit-belitkan begitu saja pada tubuhnya, juga sepatunya berwarna hitam. Melihat kakek buruk dan serba hitam ini, Cui Hong merasa jantungnya berdebar keras dan bulu tengkuknya makin tegak berdiri. Setan, pikirnya! Akan tetapi ia melirik ke arah kedua kaki kakek itu dan melihat bahwa sepasang sepatu itu menginjak tanah. Padahal, menurut dongeng, setan-setan itu kakinya tidak menyentuh tanah, kira-kira sejengkal di atas tanah.

"Kau... siapa... kau?" Dengan suara gemetar karena merasa serem, dara itu bertanya, telunjuknya menuding ke arah muka keriputan itu.

"Hehheh!" Bibir yang hitam itu bergerak-gerak dan mulut itu terbuka seperti sebuah guha kecil yang gelap. "Engkaulah yang hampir menjadi setan penasaran, nona. Setan perempuan yang tolol sekali! Aku seorang manus

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment