Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 15

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 15

Tiba-tiba Cui Hong teringat akan sesuatu ketika kemarahannya lenyap. "Kakek, engkaukah yang bernyanyi tadi? Bernyanyi lagu Bebas?"

"Heh-heh-heh, kalau benar begitu, mengapa? Kau marah-marah karena nyanyianku tadi?" Kakek itu balas bertanya sambil mengamang-amangkan tongkatnya. "Kalau marah-marah, boleh maju, akan kuhajar lagi. Anak nakal perlu dihajar sampai jera!"

Cui Hong menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin digebuk lagi. Akan tetapi, engkau adalah seorang yang berhati palsu, Kek."

"Lho! Palsu? Eh, bocah bengal. Kapan engkau menjenguk hatiku? Bagaimana engkau bisa mengatakan hatiku palsu?"

"Orang yang tindakannya berbeda dari ucapannya, dia berhati palsu. Nyanyianmu tadi menyatakan satu hal, akan tetapi perbuatanmu terhadap diriku merupakan hal lain yang sama sekali bertentangan."

"Eh, kok begitu? Apanya yang berlainan? Kau bocah tolol, tiada hujan tiada angin mau gantung diri. Apa kau bermimpi telah menjadi Giam Lo Ong, Si Raja Akhirat? Hal itu sama sekali tidak boleh, maka aku terpaksa menggunakan tongkat saktiku untuk menggagalkan perbuatanmu yang tolol dan pengecut."

"Nah, perbuatanmu itulah yang palsu! Engkau tadi bernyanyi tentang kebebasan, dan nyanyianmu menggugah hatiku. Aku ingin bebas dari kehidupan yang penuh derita ini. Aku ingin bebas dari kesengsaraan lahir batin, dari duka, dari dendam yang tak mungkin dapat dibalas, dari keputusasaan. Aku ingin bebas dan mengakhiri ini semua. Akan tetapi, engkau begitu jahil untuk menggagalkan keinginanku untuk bebas. Bukankah perbuatanmu itu berlawanan dengan nyanyianmu di mana engkau mengatakan bahwa engkau ingin bebas pula?"

"Hoha, wah ngawur! Bebas bukan berarti lalu membunuh diri agar terlepas dari semua kesengsaraan lahir batin. Siapa bilang kalau sudah mati itu lalu dapat bebas dari kesengsaraan lahir batin? Heh-heh, anak bengal, mari kita duduk dan bicara. Tubuhku yang tua ini tidak enak kalau harus bicara sambil berdiri lama-lama." Dan kakek itu dengan santainya menjatuhkan diri begitu saja di atas tanah berumput tebal. Sampai kaget hati Cui Hong dan hampir ia turun tangan menyambut tubuh kakek yang agaknya terpelanting jatuh itu. Akan tetapi, ia teringat bahwa kakek itu bukan orang sembarangan, maka ia menahan diri dan benar saja. Biarpun tadi kelihatan terguling, kakek itu ternyata dapat mendarat dengan lunak, duduk bersila di atas tanah. Cui Hong menarik napas panjang. Orang ini aneh dan sakti seperti setan. Ada-ada saja peristiwa yang dihadapinya dalam hidup ini. Entah perkembangan apa yang akan menimpa dirinya setelah bertemu dengan manusia luar biasa ini. Ia pun tidak peduli lagi. Mati pun bukan apa-apa lagi baginya, apalagi menghadapi malapetaka lain. Tidak akan ada malapetaka yang lebih hebat daripada yang pernah dialaminya. Ia pun duduk di depan kakek itu, memandang penuh perhatian dan kembali merasa seram. Wajah kakek itu memang menyeramkan sekali.

Tiba-tiba kakek serba hitam itu lalu menggerakkan bibirnya membaca sajak sambil memukul-mukulkan tongkatnya ke atas sebuah batu sehingga terdengar suara "taktok" berirama. Mula-mula hanya suara taktok berirama itulah yang terdengar, kemudian disusul suara kakek itu yang terdengar lembut dan lirih namun amat jelas memasuki telinga Cui Hong, seolah-olah kakek itu berbisik di dekat telinganya. Dan Cui Hong yang sejak kecil pernah menerima pelajaran sastra dari mendiang ayahnya, kini mendengar kata-kata dalam nyanyian itu yang tidak asing baginya.

"Tidak condong itulah Tiong (tegak lurus), tidak berubah itulah Yong (seimbang). Tiong adalah Jalan Kebenaran, Yong adalah hukum alam."

Mendengar kata-kata itu, Cui Hong lalu berkata, "Kakek yang aneh, apa maksudmu mengutip kata-kata dari Sang Budiman Beng Cu itu? Bukankah itu merupakan penjelasan tentang kitab Tiong Yong?"

Kini kakek itu mencoba untuk melebarkan sepasang matanya yang sipit dan dia kelihatan lucu, seperti orang mengantuk yang berusaha membuka mata lebar-lebar memandang dara itu. "Eh, eh! Kau tahu tentang Tiong Yong?" Tiong Yong adalah satu di antara kitab-kitab suci pelajaran agama Khong Kauw.

"Aku pernah membaca kitab suci itu walaupun sukar untuk mengerti maksudnya," jawab Cui Hong dengan jujur.

Kakek itu nampak girang sekali, terkekeh senang mendengar bahwa dara itu pernah membaca kitab Tiong Yong. Dia tidak tahu bahwa mendiang ayah dara ini adalah seorang penggemar pelajaran Khong Kauw, bahkan banyak pula membaca kitab-kitab Too Kauw sehingga ketika memberi pelajaran membaca kepada puterinya, dia menyuruh puterinya membaca kitab-kitab itu. Memang pada zaman itu, belajar membaca didasarkan kepada pembacaan kitab-kitab agama atau filsafat yang tinggi-tinggi sehingga anak-anak itu hanya mampu menghafal huruf-huruf itu tanpa mengerti artinya secara mendalam.

"Kalau begitu dengarkan ini: Hi Nouw Ai Lok Ci Bi Hoat, Wi Ci Tiong!"

"Ah, aku ingat!" seru Cui Hong, terseret oleh kegembiraan kakek itu yang mengingatkan dia akan masa kecilnya ketika mempelajari semua ujar-ujar itu. "Itulah bagian keempat dari kitab Tiong Yong dan artinya: Sebelum timbul perasaan Senang, Marah, Duka, dan Girang, keadaan itu disebut Tiong (tegak lurus tidak miring)!"

"Heh-heh, bagus, bagus! Atau dengan lain kata, keadaan itulah yang dinamakan Kosong atau Bebas! Aku selalu rindu akan keadaan itu," seru kakek serba hitam dengan girang. "Tapi kau tadi bernyanyi bahwa kau rindu akan kebebasan. Aku yang terhimpit kekecewaan ingin bebas dari semua kesenangan dengan jalan mengakhiri hidup, akan tetapi engkau menghalangiku. Bebas yang bagaimana yang kaumaksudkan, Kek?"

"Dengarkan ini: Lima warna membutakan mata, Lima nada menulikan telinga, Lima kelezatan menumpulkan rasa."

"Wah, itu kitab Tao Tek King!" seru Cui Hong.

Kakek itu menjadi semakin girang. "Bagus! Engkau seorang anak perempuan aneh. Hafal akan ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong dan Tao Tek King, akan tetapi hendak membunuh diri. Bebas yang kaumaksudkan bukan melarikan diri dari kenyataan, betapapun pahit kenyataan itu terasa oleh kita, melainkan bebas dari semua pengaruh pancaindranya, bebas dari pengaruh perasaan dan pikiran. Eh, anak baik, siapakah engkau dan mengapa engkau seorang diri berada di tempat ini dan ingin membunuh diri?" Dia berhenti sebentar, memukul-mukulkan tongkatnya ke atas tanah lalu berkata lagi, "Sungguh pun engkau pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi kepandaianmu itu masih terlampau rendah untuk dapat kaupakai membela diri, padahal di dunia ini penuh dengan kekerasan."

Setelah semua perasaan kecewa, dendam, dan keputusasaan meninggalkan batinnya untuk saat itu karena pikirannya dipenuhi dengan pertemuan aneh itu, maka kecerdikan Cui Hong pun timbul kembali. Ia memang seorang gadis yang cerdik dan kini ia melihat jelas terbukanya suatu kesempatan yang amat baik baginya. Kakek inilah yang akan dapat menolongnya! Kakek ini adalah seorang sakti, hal itu tak dapat diragukannya lagi, dan kalau ia bisa mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari kakek ini, tentu bukan hal mustahil lagi baginya untuk kelak membalas dendam terhadap empat orang musuh besarnya! Cui Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Locianpwe, saya adalah seorang yang menderita malapetaka. Ayah dan suheng saya dibunuh orang, sehingga sekarang saya hidup sebatang kara di dunia ini. Karena putus asa, tadi saya bermaksud mengakhiri penderitaan ini dengan bunuh diri. Akan tetapi, setelah bertemu dengan Locianpwe, baru saya sadari betapa kelirunya niat saya tadi. Saya akan merasa beruntung sekali kalau Locianpwe sudi menerima saya sebagai murid Locianpwe."

"Heh-heh-heh, aku harus tertawa agar tidak menangis. Di pelosok mana pun di dunia ini selalu kutemui kebencian, kekerasan, permusuhan, bunuh-membunuh di antara manusia. Tidak mudah untuk menjadi muridku, karena selamanya aku tak pernah menerima murid. Akan tetapi... engkau ini anak perempuan yang aneh, hafal akan kitab-kitab suci akan tetapi mau bunuh diri. Hmm, siapakah namamu?"

"Nama saya Kim Cui Hong."

"Kenapa ayahmu dan suhengmu dibunuh orang?"

"Mula-mula putra jaksa di Thian-cin meminang saya. Karena saya sudah ditunangkan dengan suheng, maka pinangan itu ditolak oleh ayah. Hal ini membuat marah putra jaksa itu dan dia hendak menggunakan kekerasan. Kami melawan dan akhirnya kami ditangkap, ayah dan suheng dibunuh dan saya... saya mengalami penghinaan-penghinaan, akan tetapi tidak dibunuh dan dibuang di dalam hutan ini."

"Aih... sungguh benar sekali para bijaksana mengatakan bahwa kecantikan, kekayaan, kedudukan, kepandaian lebih banyak mendatangkan sengketa dan permusuhan daripada kedamaian dan persahabatan. Kim Cui Hong, jadi sekarang engkau hidup sebatang kara, tanpa sanak kadang, tanpa rumah tinggal?"

"Benar, Locianpwe, saya tidak memiliki apa-apa lagi dan karena itu mohon sudilah Locianpwe menerima saya sebagai murid."

"Hmm, selamanya aku belum pernah menerima murid, dalam usia setua ini muncul engkau. Inikah yang dinamakan nasib, jodoh, atau kebetulan saja? Agaknya aku harus meninggalkan semua yang pernah kupelajari kepada seseorang, akan tetapi bagaimana kalau kelak kepandaian itu dipergunakan untuk kejahatan?"

Cui Hong yang mendengarkan kakek itu bicara seperti bicara kepada diri sendiri, cepat menjawab, "Saya bersumpah tidak akan mempergunakan ilmu yang saya terima dari Suhu untuk kejahatan. Saya akan menaati semua pesan dan perintah Suhu!" Dengan cerdiknya ia langsung menyebut "Suhu" kepada kakek itu untuk melenyapkan sama sekali keraguan yang masih membayang pada suara kakek itu.

"Suhu... aih, sungguh enak sebutan itu, agaknya sama dengan sebutan ayah yang belum pernah kurasakan. Suhu... heh-heh-heh, anak baik, aku suka menjadi suhumu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment