Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 17

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 17

Demikianlah, mulai hari itu Cui Hong menjadi murid kakek yang berjuluk Toat-beng Hek-mo, seorang kakek yang sudah puluhan tahun lamanya tidak pernah lagi muncul di dunia kang-ouw. Ia mengasingkan diri, berperang dengan batin sendiri mencari kebebasan; seorang kakek yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, akan tetapi memiliki pengetahuan tentang filsafat hidup melalui ayat-ayat kitab suci yang hanya diketahui kulitnya saja, dengan penafsiran isi yang kacau-balau.

Kebebasan, dalam arti kata bebas lahir batin, tidak mungkin bisa didapatkan dengan jalan mencari dan mengejar. Kebebasan, seperti juga kebahagiaan, adalah satu keadaan, bukan merupakan suatu hasil dari pengejaran atau usaha. Kebebasan yang sudah didapatkan melalui usaha bukan merupakan kebebasan lagi, melainkan merupakan kebebasan semu yang terbelenggu oleh keinginan untuk bebas. Di mana ada keinginan, dalam bentuk apa pun juga, maka takkan mungkin ada kebebasan. Kebebasan adalah suatu keadaan di mana tidak ada lagi "aku" yang ingin ini dan itu, tidak ada lagi "aku" yang sarat dengan nafsu-nafsu yang membelenggu.

Kebebasan bukan sekadar bebas dari ikatan dengan manusia lain atau dengan benda, sehingga tidak mungkin didapatkan melalui pengasingan diri jauh dari manusia dan harta benda. Sebaliknya, orang dapat berada dalam keadaan bebas walaupun hidup di tengah-tengah masyarakat ramai. Batin yang tidak memiliki apa-apa walaupun lahirnya mempunyai banyak benda, batin yang sama sekali tidak terbelenggu walaupun badannya mempunyai ikatan dengan pekerjaan, keluarga, kewajiban-kewajiban, dan sebagainya.

Memang lebih mudah membicarakan tentang kebebasan, namun semua pembicaraan itu hanya teori belaka. Kebebasan bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dihayati dalam kehidupan ini karena tanpa adanya kebebasan, takkan mungkin ada cinta kasih, takkan mungkin ada kebahagiaan. Hidup kita ini sudah demikian sarat dengan beban, demikian ruwet penuh ikatan-ikatan sehingga isinya hanyalah permainan emosi belaka karena sang aku sudah terlanjur merajalela dipermainkan oleh Im dan Yang (Positif dan Negatif).

Semenjak mengikuti gurunya ke puncak yang amat sunyi, sebuah di antara puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan Lu-liang-san di sebelah barat kota raja, Cui Hong mulai suka akan warna pilihan gurunya, yaitu warna hitam. Ia menyukai warna hitam karena untuk menyusup ke dalam hutan dan semak-semak belukar, warna ini paling aman dan tidak cepat kotor. Setelah beberapa bulan lamanya ikut gurunya, berlatih ilmu silat setiap hari sambil mengurus kepentingan gurunya dan diri sendiri, mencuci, mencari air, memasak, dan sebagainya, mulailah pulih kembali keadaan badan Cui Hong. Kedua pipinya menjadi kemerahan lagi, wajahnya nampak segar berseri, dan sepasang matanya menjadi hidup serta lincah.

Agaknya sisa-sisa peristiwa hebat itu, bekas-bekas malapetaka yang menimpanya, tidak lagi meninggalkan bekas di tubuhnya, walaupun jauh di dalam hatinya bekas-bekas itu tak mungkin dapat dihapus begitu saja biarpun Cui Hong tidak pernah membicarakannya dengan suhunya. Dendam yang amat hebat itu disimpannya di dalam hati sebagai suatu rahasia pribadi yang takkan diungkapkan kepada siapa pun juga, kepada gurunya pun tidak. Apalagi karena ia melihat sikap gurunya yang tidak setuju dengan pemeliharaan dendam itu.

Kakek yang berjuluk Toat-beng Hek-mo itu ternyata memang seorang yang sakti. Ilmu kepandaiannya tinggi sekali dan hal ini dirasakan benar oleh Cui Hong. Dari hari pertama saja ia sudah menerima latihan sinkang yang luar biasa. Kakek itu bahkan membantunya dengan kedua tangan diletakkan di punggung dara itu, membantunya agar dapat dengan cepat menghimpun tenaga sakti, mempergunakannya di seluruh tubuh, dan berlatih samadi untuk memperkuat sinkang di dalam tubuhnya.

Setelah berlatih selama hampir dua tahun, barulah ia dianggap mulai memiliki sinkang yang cukup kuat untuk mempelajari ilmu silat kakek itu. Toat-beng Hek-mo juga tidak mengajarkan banyak ilmu silat, hanya satu macam saja! Akan tetapi, ilmu silat ini dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata tongkat. Nama ilmu silat ini menyeramkan, sama dengan nama julukannya, yaitu Toat-beng-kun (Ilmu Silat Mencabut Nyawa). Kalau dimainkan dengan tongkat, maka nama ilmu itu menjadi Toat-beng Koai-tung (Tongkat Aneh Mencabut Nyawa).

Biarpun hanya satu macam, ternyata ilmu silat ini sedemikian sukar, aneh, dan dahsyat sehingga untuk melatihnya sampai sempurna dibutuhkan waktu hampir lima tahun. Dapat dibayangkan betapa kesepian rasanya harus hidup sampai bertahun-tahun di tempat sunyi dan dingin itu. Hanya berteman seorang kakek tua renta yang buruk, yang jarang sekali bicara karena lebih banyak bersamadi dan hanya bicara kalau sedang memberi petunjuk dalam pelajaran ilmu silat. Bahkan di waktu makan pun Toat-beng Hek-mo jarang mengajak bicara muridnya.

Waktu yang seolah-olah merayap itu merupakan latihan yang paling berat bagi Cui Hong. Hampir ia kehilangan kesabaran dan beberapa kali ada dorongan kuat dalam hatinya untuk melarikan diri, turun gunung, dan mencari musuh-musuhnya. Apalagi setelah ia merasa bahwa kepandaiannya telah meningkat dengan cepat. Namun, dendam yang amat mendalam itu membuat ia cerdik dan tidak mau bertindak lancang tanpa perhitungan. Ia teringat akan kelihaian Thian-cin Bu-tek Sam-eng. Kalau ia sekali turun tangan membalas dendam, ia tidak boleh gagal! Kegagalan berarti membuat musuh-musuhnya menjadi kuat, berjaga, dan akan semakin sukarlah kelak baginya untuk mengulangi usahanya membalas dendam. Ia harus berhasil dengan sekali pukul, dan untuk dapat memperoleh keyakinan dalam hal ini, ia harus tekun belajar sampai gurunya menyatakan bahwa pelajarannya sudah tamat.

Cui Hong adalah seorang gadis yang masih muda dan memiliki pembawaan lincah gembira. Biarpun ia pernah menderita malapetaka hebat yang hampir saja membuatnya putus asa dan membunuh diri, namun setelah tinggal di puncak gunung itu dan menyibukkan diri dengan pekerjaan sehari-hari serta latihan-latihan, kesegarannya pulih kembali bagaikan setangkai bunga yang pernah layu kini hidup segar kembali mendapatkan air dan embun.

Bahkan kini, setelah lewat kurang lebih enam tahun, Cui Hong telah berubah dari seorang dara remaja yang masih memiliki sifat kekanak-kanakan menjadi seorang gadis yang bagaikan bunga sedang mekar semerbak. Tubuhnya ramping dan padat; keindahan bentuk tubuhnya tidak dapat disembunyikan oleh pakaian sederhana berwarna hitam itu. Bahkan pakaian serba hitam itu membuat kulitnya yang putih kuning dan halus nampak semakin menyolok. Cui Hong telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik, seorang perempuan yang penuh daya tarik.

Pada suatu pagi, seperti biasa dilakukannya satu-dua kali setiap bulan, ia berpamit kepada suhunya untuk membeli bumbu dan sedikit kain untuk membuat pakaian baru di sebuah dusun di kaki gunung. Untuk memperoleh uang guna berbelanja, Cui Hong membawa sekarung dendeng yang dibuatnya sendiri. Di hutan yang terletak di balik puncak terdapat banyak binatang hutan. Cui Hong banyak berburu binatang ini, dagingnya didendeng dan kulitnya dijemur. Kemudian kulit dan dendeng ini dibawanya ke dusun untuk dijual atau ditukarnya dengan bumbu-bumbu dapur, pakaian, dan keperluan lain.

Karena selama enam tahun lebih ini ia sudah sering kali berkunjung ke dusun itu, maka semua orang dusun mengenalnya sebagai nona penghuni puncak yang cantik manis. Melihat betapa nona berpakaian serba hitam itu membawa beban berat dan turun dari puncak, semua orang dapat menduga bahwa tentu nona cantik ini seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga tak seorang pun berani mengganggunya.

Akan tetapi pada pagi hari itu, setelah menjual dendeng sekarung dan membeli bumbu masakan, kain hitam, serta keperluan lain seperti minyak dan lilin, terjadi keributan yang sama sekali tidak dikehendakinya. Sejak terjadi malapetaka yang menimpa dirinya, Cui Hong merasa tidak senang kalau melihat mata laki-laki memandangnya penuh gairah. Ingin ia marah-marah dan menghajar laki-laki yang berani memandangnya seperti itu, namun ia masih harus menahan kesabaran. Ia teringat akan pesan suhunya bahwa ia tidak boleh mencari keributan, permusuhan, dan tidak boleh mencampuri urusan orang lain.

Maka, karena pandangan mata itu tak mungkin dianggap sebagai gangguan, ia pun pura-pura tidak melihatnya saja walaupun hatinya merasa mendongkol. Agaknya, perbuatan empat orang musuh besarnya menumbuhkan semacam perasaan benci di dalam hatinya terhadap pria pada umumnya, apalagi kalau pria itu memandangnya dengan sinar mata kagum yang membayangkan gairah birahi. Hal itu dianggapnya kurang ajar; ia menganggap pria yang memandangnya itu tiada bedanya dengan empat orang musuh besarnya, dan jika mempunyai kesempatan, tentu akan melakukan kekejian yang sama terhadap dirinya.

Ketika Cui Hong selesai berbelanja dan berjalan perlahan-lahan hendak meninggalkan dusun itu membawa buntalan berisi barang-barang belanjaannya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki di belakangnya, "Nona, bolehkah aku menemanimu?"

Cui Hong terkejut dan seketika mukanya berubah merah. Ia melirik sambil menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya itu seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang bertubuh besar dan perutnya agak gendut. Matanya sipit dan sinar matanya penuh gairah, mulutnya menyeringai, dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa orang ini ingin menggodanya. Cui Hong membuang muka dan tidak melayaninya, tidak menjawab, melainkan berjalan terus tanpa memperdulikan orang itu.

"Aih, nona, mengapa diam saja? Aku sudah tahu bahwa nona tinggal di puncak gunung. Siapakah nama nona dan dengan siapakah nona tinggal di puncak? Kasihan sekali, seorang perempuan cantik jelita tinggal di tempat yang begitu tinggi, dingin, dan sunyi."

Cui Hong hampir tak dapat menahan lagi kemarahannya. Tanpa menoleh ia membentak lirih dan ketus, "Pergilah kau dan jangan ganggu aku!"

Akan tetapi, orang itu bahkan memperlebar langkahnya sehingga kini dia berjalan di samping Cui Hong. Ketika Cui Hong melirik, dilihatnya orang itu menyeringai dan muka yang agak bulat putih itu mengingatkannya pada wajah salah seorang musuh besarnya yang paling dibenci, yaitu Koo Cai Sun. Akan tetapi jelas bukan dia, karena orang ini masih muda, baru tiga puluh tahun usianya, sedangkan musuh besarnya itu sekarang tentu sudah lebih dari empat puluh tahun.

"Wahai, nona, kenapa marah? Aku bermaksud baik, ingin berkenalan denganmu. Marilah kutemani kau naik ke puncak dan biarlah barang-barangmu yang berat itu kubantu bawakan," laki-laki itu kembali berkata dengan suara mengandung rayuan.

Dia bukan penduduk dusun itu, melainkan pendatang dari kota lain yang datang untuk berdagang kain. Ketika tadi melihat Cui Hong, hatinya segera tertarik sekali. Dia memang seorang mata keranjang dan melihat ada seorang wanita dusun demikian cantik manisnya, dia merasa gembira dan ingin sekali memetik bunga dusun itu. Apalagi ketika dia bertanya dan mendapat keterangan bahwa wanita serba hitam yang manis itu tinggal di puncak gunung dan tak seorang pun mengenal namanya, ia menganggapnya sebagai wanita penuh rahasia yang membuatnya semakin kagum. Dibereskannya dagangannya, dititipkan kepada seorang kenalannya, dan dia pun cepat mengikuti Cui Hong untuk menegurnya di tengah jalan.

"Aku tidak mau berkenalan dan tidak mau dibantu. Pergilah kau!" kata Cui Hong pula.

Laki-laki itu terkekeh. Mereka tiba di pinggir dusun di mana keadaan sepi, sehingga laki-laki itu menjadi semakin berani. Dia tahu, menurut pengalamannya, bahwa jika seorang wanita berkata tidak dengan mulutnya, hal itu kemungkinan besar berarti "ya" di dalam hatinya. Pengetahuan ini membuatnya semakin berani melihat betapa wanita cantik yang menarik hatinya ini "pura-pura" tidak mau.

"Nona manis, tidak usah malu-malu. Aku adalah pedagang kain. Nanti kuberi segulung kain yang paling baik, sutra halus yang mahal. Mari kutemani, mau bukan?"

Dan tiba-tiba saja, sungguh di luar dugaan Cui Hong, laki-laki itu menggunakan tangan kirinya untuk meraba dan mencubit pinggulnya! Meledak kemarahan di hati Cui Hong. Sekali membalikkan tubuh dan mencengkeram, punggung baju orang itu sudah berada dalam genggamannya. Sekali ia berseru, tubuh laki-laki itu sudah diangkatnya ke atas. Buntalannya dilepaskan begitu saja dan kini tangan kirinya sudah diangkat hendak memukul remuk kepala orang yang berani kurang ajar kepadanya itu! Laki-laki itu terkejut, meronta, namun tidak mampu melepaskan diri.

Tangan kiri Cui Hong sudah diangkat dan sudah berisi tenaga sinkang sepenuhnya, akan tetapi mendadak ia teringat akan sumpahnya kepada suhunya: dilarang membunuh! Maka, ketika tangannya meluncur turun, ia mengubah serangannya. Bukan kepala orang itu, melainkan tangan kirinya yang menjadi sasaran serangan Cui Hong.

"Krekkk...!" Pergelangan tangan laki-laki itu remuk tulang-tulangnya dan dia pun menjerit-jerit kesakitan. Cui Hong melontarkan tubuh itu jauh ke depan.

"Brukkkk...!" Tubuh itu terbanting ke atas tanah dan tidak mampu bergerak lagi karena saking nyerinya. Laki-laki ceriwis itu jatuh pingsan ketika tubuhnya terbanting.

Cui Hong tidak menengok lagi kepada laki-laki itu. Ia mengambil buntalannya kemudian pergi dari situ dengan cepat. Setelah tidak ada orang melihatnya, ia lalu mengerahkan tenaganya dan menggunakan ilmu berlari cepat mendaki puncak. Wajahnya masih merah sekali, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi. Ia marah sekali. Kalau menuruti hatinya, ingin ia menghancurkan kepala orang tadi, menginjak-injak dadanya sampai patah semua tulang iganya! Orang itu baginya tadi seolah-olah menjadi pengganti empat orang musuh besarnya, dan semua dendam serta kebencian ia tumpahkan kepada orang itu. Akan tetapi ia sudah bersumpah tidak akan membunuh dan bagaimanapun juga, ia tidak boleh melanggar sumpahnya sendiri.

Ketika tiba di depan pondok kayu kasar yang menjadi tempat tinggal mereka, Cui Hong melihat suhunya sudah duduk bersila di depan rumah. Hal ini tidak seperti biasanya, karena pada saat seperti itu gurunya masih bersamadi di depan kamarnya dan baru akan keluar kalau ia sudah memberitahukan bahwa makanan siang telah tersedia. Gurunya memandang kepadanya dengan mata yang kecil mencorong dengan sinar aneh. Agaknya gurunya melihat perubahan pada wajahnya yang kemerahan dan sinar matanya yang berapi itu.

"Cui Hong, apakah yang telah terjadi?"

"Suhu, Teecu seperti yang telah Teecu katakan ketika berpamit pagi tadi, pergi menjual dendeng kering dan membeli bumbu-bumbu serta kain hitam untuk pakaian kita. Sayang benang hitamnya habis dan tidak ada yang menjual, Suhu. Terpaksa nanti Teecu menjahit dengan benang merah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment