Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 19

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 19

Selamat jalan, muridku. Engkaulah yang harus menjaga diri baik-baik dan ingatlah bahwa ilmu silat ada batasnya dan betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, masih ada orang-orang lain yang lebih lihai lagi. Karena itu, jangan terlalu mengandalkan ilmu silat. Kecerdikan dan kewaspadaan selalu lebih berguna daripada sekedar kekerasan ilmu silat.

Cui Hong lalu turun dari puncak, membawa buntalan terisi dua stel pakaian hitamnya, dan juga membawa bekal daging kering dan roti yang tadi dibelinya di dusun. Sebagian belanjaannya ditinggalkan untuk suhunya.

Hanya sebentar saja rasa keharuan karena berpisah dari gurunya itu menyelubungi hatinya. Setelah ia tiba di lereng gunung, melihat ke bawah, melihat dunia yang luas terbentang di bawah kakinya membayangkan betapa ia mulai sekarang hidup seorang diri, bebas lepas seperti seekor burung di udara, hatinya berdebar penuh ketegangan dan kegembiraan, ia sudah bebas, berarti boleh berbuat apa saja sesuka hatinya sendiri. Dan tentu saja ia harus pergi mencari musuh-musuhnya. Itulah tujuannya mempelajari ilmu silat! Bahkan itu lah tujuan hidupnya, karena kalau bukan untuk membalas dendam, tentu ia sudah mati membunuh diri. Untuk apa hidup menanggung aib, malu dan penghinaan yang sedemikian hebatnya, menderita kesengsaraan yang demikian menda lam? Ia harus membalas dendam! Tanpa disadarinya, ia berjalan sambil mengepal kedua tangannya dan bibirnya bergerak-gerak, akan tetapi suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, karena hanya hatinya yang berbisik melalui gerak bibirnya,

"Jahanam keparat Pui Ki Cong, Gan Tek Un, Koo Cai Sun, dan Louw Ti, tunggulah pembalasanku!"

Kemudian gadis ini pun mempercepat langkahnya, dengan penuh semangat ia lalu turun gunung menuju ke kota Thian-cin. Kalau dibandingkan dengan tujuh tahun yang lalu, sukarlah mengenal dara remaja puteri guru silat Kim Siok itu. Kim Cui Hong kini bukan seorang gadis remaja lagi, bukan setangkai bunga yang sedang mulai mekar kuncupnya. Ia kini seorang gadis yang dewasa, berusia dua puluh dua tahun lebih seorang gadis bertubuh ramping dan padat, makin menonjol lekuk lengkung tubuhnya oleh pakaian serba hitam yang ketat dan ringkas itu. Di dagunya masih nampak tahi lalat kecil yang membuat dagu itu nampak manis sekali. Sepasang matanya lebar dan jeli, bahkan kini memancarkan sinar yang mencorong tajam. Mulutnya bahkan lebih indah daripada dahulu, kini mulut itu nampak selalu segar basah kemerahan, dengan bibir yang dapat bergerak secara hidup dan menggemaskan, seakan-akan menantang dan menjanjikan kegairahan yang penuh nikmat. Mulutnya itu merupakan bagian yang paling manis dan indah dari wajah gadis ini. Selain buntalan digendong di punggungnya, ia tidak membawa apa-apa lagi. Tidak ada apa pun padanya yang membayangkan bahwa ia adalah seorang gadis yang memilki ilmu silat tinggi!

Ia tidak akan menarik perhatian orang sebagai seorang ahli silat, akan tetapi jelas bahwa seorang gadis seperti Cui Hong akan selalu menarik perhatian kaum pria karena gadis itu cantik jelita dan manis sekali. Justru pakaiannya yang serba hitam dan amat sederhana itulah yang membuat kecantikannya menonjol, kemulusan kulit yang putih kuning itu nampak jelas dan membuat ia berbeda daripada wanita lain. Akan tetapi tentu saja Cui Hong tidak menyadari hal ini sebelum ia terjun dalam dunia ramai.

Perubahan besar terjadi di mana-mana, juga di Thian-cin semenjak ditinggalkan selama tujuh tahun oleh Cui Hong. Dalam waktu tujuh tahun itu telah terjadi banyak sekali peristiwa penting. Bukan hanya diri Cui Hong yang berubah banyak sekali, akan tetapi juga keadaan dalam negeri telah mengalami perubahan.

Karena lemahnya kaisar Beng-tiauw terakhir, yaitu Kaisar Cung Cen, yang menjadi seperti boneka di tangan para pembesar thai-kam, pemerintahan yang penuh dengan para pejabat korup itu menimbulkan kekacauan dan pemberontakan di mana-mana. Mereka yang merasa kecewa dengan pemerintah yang lemah dan korup itu memberontak dan yang paling terkenal adalah pemberontakan-pemberontakan yang dipimpin oleh Lee Cu Seng dan Bu Sam Kwi.

Sementara itu, kekuasaan bangsa Mancu semakin berkembang dan pasukan-p

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment