Chapter 23
"Akan tetapi, engkau tentu tidak akan meninggalkan begitu saja barang-barang yang amat berharga itu di dalam kamar ini, Taijin!" Ji Ciangkun berseru ketika mereka hendak meninggalkan kamar. Pui Taijin tersenyum lebar dan membuka pintu kamar. "Kau lihat, aku tidaklah sebodoh itu, Ciangkun. Kamar itu kusuruh jaga siang malam. Aku selalu berhati-hati menjaga diriku, dan setiap hari, kamar ini dijaga oleh enam orang penjaga secara bergilir. Mereka berada di luar kamar dan siapa pun, kecuali aku dan keluargaku, tidak mungkin dapat memasuki kamar ini. Belum lagi diingat bahwa di sekeliling gedung kami ini selalu dijaga pengawal-pengawal siang malam. Penjahat yang berani mencoba memasuki gedung kami sama saja dengan bosan hidup dan mau bunuh diri. Ha-ha-ha!" Ji Ciangkun juga tertawa dan mengangguk kagum ketika dia melihat enam orang penjaga yang bersenjata lengkap memang nampak berjaga di depan kamar itu. Mereka lalu meninggalkan kamar yang hanya ditutupkan begitu saja daun pintunya oleh Pui Taijin, dan menuju ke ruangan makan di mana telah menanti pelayan-pelayan wanita yang siap melayani mereka berdua makan minum dengan hidangan-hidangan yang masih panas dan mewah.
Para penjaga di luar kamar itu, maupun yang berjaga di sekeliling gedung Pui Taijin, adalah penjaga-penjaga biasa yang menjaga keamanan keluarga pembesar itu dari gangguan orang-orang biasa yang hendak memusuhi keluarga itu. Tentu saja mereka itu tidak ada artinya bagi seorang pengunjung seperti Kim Cui Hong yang sejak tadi sudah mengintai di antara wuwungan rumah dan mendengarkan, bahkan melihat ke dalam kamar ketika Jaksa Pui dan Ji Ciangkun bercakap-cakap dan melihat kumpulan batu permata yang hendak diserahkan sebagai sogokan kepada pembesar Kwa Taijin yang akan datang besok. Selagi dua orang pembesar itu bersenang-senang makan minum di ruangan makan dilayani oleh pelayan-pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik, Cui Hong yang memang sejak tadi sudah mempersiapkan rencana siasatnya, melayang turun ke dalam kamar tidur pembesar itu. Ia membuka genteng dan membongkar langit-langit, melayang turun bagaikan seekor burung walet ke dalam kamar itu sehingga sama sekali tidak terlihat atau terdengar oleh para penjaga.
Cui Hong menggendong sebuah buntalan yang kini diturunkannya dari atas punggung dan diletakkannya di atas meja. Ia pun lalu membuka almari di belakang tempat tidur, mengambil buntalan kain merah yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melakukan pengintaian. Dengan tenang namun cepat dibukanya buntalan itu dan dengan hati-hati agar tidak mengeluarkan suara, dibukanya peti hitam yang penuh dengan barang-barang indah dari batu giok dan mutiara. Semua benda itu dikeluarkan ke atas meja, kemudian peti itu ia isi dengan isi buntalannya sendiri yang terisi batu-batu biasa. Setelah penuh dan beratnya sama dengan berat barang-barang berharga tadi, ditutupnya kembali peti itu dan dibuntalnya kembali dengan kain merah, kemudian dikembalikan benda itu ke dalam almari. Barang-barang berharga itu kini dibuntalnya dan digendongnya di atas punggung. Setelah memeriksa dengan teliti dan merasa yakin bahwa ia tidak meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan, Cui Hong lalu meloncat ke atas, tangannya menyambar tiang melintang dan menerobos melalui langit-langit yang sudah dibongkarnya dan melalui genteng-genteng yang sudah dibukanya. Ia membetulkan kembali langit-langit dan genteng dari luar, kemudian tersenyum puas melihat hasil perbuatannya. Ia telah melakukan siasat yang telah direncanakannya dengan sempurna. Seperti sebatang pedang yang tajam kedua sisinya, sekali bergerak ia telah mendatangkan dua hasil yang baik. Pertama, ia memperoleh barang-barang berharga yang akan dapat menjamin biaya semua usahanya membalas dendam, memperolehnya dari keluarga Pui Ki Cong musuh besarnya nomor satu, dan kedua, ia pun dapat menjerumuskan Jaksa Pui ke dalam kesulitan kalau peti yang sudah diganti isinya dengan batu-batu kali itu besok diserahkan kepada pembesar tinggi dari kota raja!
Memang tadinya tidak sedikit pun terkandung dalam hati Cui Hong untuk mencelakakan Kepala Jaksa Pui ini, kecuali mengambil harta untuk dipakai sebagai biaya mencari dan membalas dendam kepada empat orang musuhnya. Akan tetapi, ketika ia mendengar bahwa putra jaksa itu tidak berada lagi di situ, dan ketika secara kebetulan selagi melakukan penyelidikan hendak mencuri harta ia mendengar percakapan antara Jaksa Pui itu dengan Perwira Ji, timbullah rencananya untuk mencelakakan Pui Taijin. Bagaimanapun juga, kepala jaksa ini adalah ayah Pui Ki Cong dan telah membantu perbuatan putranya tujuh tahun yang lalu! Ia maklum bahwa belum tentu usahanya mendatangkan kesulitan kepada keluarga Pui ini berhasil. Bisa saja gagal, misalnya, kepala jaksa itu kebetulan memeriksa peti atau melihat kembali isi peti sebelum diserahkan kepada pembesar tinggi dari kota raja itu. Andaikata benar demikian, ia pun tidak akan terlalu kecewa karena tujuan utamanya adalah mencari dana untuk biaya usahanya membalas dendam dan dalam hal itu ia telah berhasil dengan baik. Ia akan menanti saja sampai besok dan menyelidiki hasil perbuatannya malam ini.
Agaknya memang nasib Cui Hong sedang baik atau nasib Kepala Jaksa Pui Kian sedang sial. Peti hitam itu tak pernah dibuka lagi oleh pembesar itu sampai tiba saatnya peti itu diserahkan kepada Kwa Taijin dari kota raja! Matahari telah condong ke barat ketika akhirnya rombongan yang dinanti-nanti dengan jantung berdebar tegang oleh para pejabat di Thian-cin itu tiba. Sebuah kereta berkuda empat yang dikawal oleh pasukan pengawal kota raja yang berpakaian indah dan gagah sebanyak lima puluh orang. Pada waktu itu, para pembesar kota raja tidak berani melakukan perjalanan ke luar kota raja tanpa pengawal yang kuat, karena banyaknya kerusuhan dan pemberontakan yang timbul di mana-mana.
Biarpun di Thian-cin ada kepala daerah yang sebetulnya memiliki kedudukan lebih tinggi dari Kepala Jaksa Pui, namun pengaruh dan kekuasaan kepala daerah Teng itu kalah oleh Pui Taijin sehingga ketika para pembesar melakukan penyambutan, kepala daerah ini diam saja, bahkan menganjurkan ketika Pui Taijin mempersilakan tamu agung itu untuk tinggal di gedungnya. Diam-diam Kwa Taijin mencatat sikap ini. Memang dia sudah mendengar desas-desus dan keluhan rakyat di Thian-cin yang sampai ke kota raja tentang pembesar she Pui ini, yang menurut kabar hidup sebagai raja yang berkuasa penuh di Thian-cin! Maka, melihat sikap Pui Taijin dan mendengar penawarannya agar dia suka tinggal di gedung pembesar itu, dia pun menerimanya karena hal itu akan memudahkan usahanya untuk melakukan penelitian dan penyelidikan.
Penyambutan di gedung Pui Taijin amat meriah. Hal ini memang sudah dipersiapkan lebih dahulu oleh Pui Taijin. Pembesar tinggi Kwa dari kota raja itu disambut seperti orang menyambut kaisar sendiri saja. Dan begitu tiba di rumah gedung Pui Taijin yang luas, pembesar dari kota raja itu bersama para pengiringnya lalu dijamu dengan hidangan-hidangan yang mewah dan lezat. Bahkan lima puluh orang pengawal itu pun dijamu di ruangan lain oleh kepala pengawal yang dikepalai oleh Ji Ciangkun, komandan pasukan keamanan di Thian-cin. Di dalam kesempatan ini, setelah memberi sambutan selamat datang dan penghormatan dengan cawan-cawan arak, disaksikan oleh para pembesar lain, dengan wajah penuh senyum, Pui Kian lalu menyerahkan buntalan kain merah terisi peti hitam itu kepada Kwa Taijin.
"Mendengar akan kesukaan Taijin, maka sebagai penyambutan selamat datang dan penghormatan, saya haturkan sedikit barang-barang kesenian terbuat dari batu kemala dan mutiara ini, harap Taijin sudi menerimanya dengan senang hati."
Kwa Taijin adalah seorang yang paling suka mengumpulkan barang-barang terbuat dari batu kemala dan mutiara. Mendengar ucapan itu, dengan mata berseri dia memandang ke arah buntalan kain merah itu.
"Batu giok dan mutiara? Ah, Pui Taijin terlalu sungkan," katanya sambil menerima buntalan itu, meletakkannya ke atas meja dan karena ingin sekali melihat benda-benda yang tentu amat indah itu, dibukanya buntalan itu, kemudian dikeluarkannya peti kecil hitam itu, diikuti oleh pandang mata Pui Taijin yang tersenyum gembira karena hadiahnya diterima dengan sikap demikian gembira oleh pembesar tinggi yang amat ditakuti ini.
Peti hitam itu dibuka oleh Kwa Taijin sendiri dan wajah Kwa Taijin berubah keruh, sinar matanya penuh kemarahan, sebaliknya wajah Pui Taijin menjadi pucat, matanya terbelalak dan dikejap-kejapkan beberapa kali seolah-olah dia tidak dapat percaya kepada matanya sendiri melihat betapa barang-barang ukiran batu giok dan mutiara yang amat indah itu kini telah berubah menjadi setumpuk batu-batu kali biasa! Juga mereka yang duduk dekat meja itu memandang dengan kaget. Gilakah kepala jaksa itu? Sungguh berani mati mempermainkan Kwa Taijin dari kota raja, memberi hadiah berupa batu-batu biasa dikatakannya perhiasan dari batu giok dan mutiara! Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan yang bergelora di hati Kwa Taijin. Dia merasa dipermainkan, bahkan dihina oleh kepala jaksa yang dia dengar merupakan orang paling berkuasa di Thian-cin ini. Dia begitu datang ke Thian-cin dihina dan dijadikan bahan tertawaan oleh kepala jaksa ini! Diangkatnya peti terbuka itu dan dilemparkannya ke atas lantai dengan wajah berubah merah sekali.
"Brakkkk....!" Peti itu pecah dan isinya, batu-batu kali itu berantakan di atas lantai. Pembesar itu lalu memutar tubuhnya menghadapi Kepala Daerah Teng yang duduk di dekatnya. "Teng Taijin, mari kita pergi!" Dan dia pun memberi isyarat kepada komandan pasukan pengawalnya untuk pergi dari situ tanpa pamit kepada Pui Taijin.
"Taijin, apakah yang terjadi? Bagaimana bisa menjadi batu-batu ini....?" Suara Ji Ciangkun menyadarkan Pui Taijin dan dia pun cepat memegang tangan Ji Ciangkun.
"Ciangkun, ada..... ada yang tidak beres....." Dan dengan marah sekali, tanpa mempedulikan betapa para pejabat lainnya sudah berbondong-bondong meninggalkan ruangan itu untuk meninggalkan tempat itu agar tidak terlibat, Pui Kian lalu berteriak memanggil kepala pasukan pengawalnya.
"Periksa mereka yang semalam berjaga di luar kamarku! Siksa mereka agar mengaku siapa yang telah mencuri barang-barang dari dalam peti ini. Lakukan penggeledahan di tempat tinggal mereka!"
Dengan marah akan tetapi juga khawatir sekali Kepala Jaksa Pui mengajak Perwira Ji berunding di dalam kamarnya. Mereka berdua juga melakukan pemeriksaan di dalam kamar itu, akan tetapi tidak nampak tanda-tanda bahwa kamar itu kebobolan. Keduanya mengambil kesimpulan bahwa yang bermain gila tentu seorang di antara para pengawal!
Kita tinggalkan dulu dua orang pembesar yang berunding dengan hati penuh kekhawatiran itu, dan mengikuti perjalanan Kwa Taijin yang dengan muka merah saking marahnya kini menuju ke gedung Kepala Daerah Teng. Karena marah dan juga kesal hatinya, pembesar dari kota raja ini langsung saja memasuki kamar yang sudah disediakan untuknya dan menyatakan kepada pihak tuan rumah bahwa malam itu dia tidak mau diganggu lagi dan baru pada keesokan harinya dia mulai bekerja! Diam-diam Kepala Daerah Teng merasa girang melihat adanya peristiwa aneh itu. Dia pun menduga bahwa pasti terjadi hal-hal yang luar biasa karena dia tahu bahwa orang she Pui itu kaya raya dan sudah biasa memberi hadiah kepada atasannya. Tak mungkin Jaksa Pui itu sengaja menghina Kwa Taijin. Hal ini sama dengan bunuh diri! Akan tetapi, diam-diam dia merasa girang karena peristiwa itu mungkin saja akan menjatuhkan Pui Taijin yang menjadi saingan utamanya, atau setidaknya akan mengurangi kekuasaan Pui Taijin sehingga dia sendiri akan mampu mengembangkan kekuasaannya di Thian-cin yang sebenarnya merupakan wilayahnya karena dialah kepala daerah di situ, sedangkan Pui Taijin hanyalah kepala jaksa yang terhitung anak buahnya.
Biarpun hatinya marah sekali akhirnya saking lelahnya, Kwa Taijin dapat pulas juga di dalam kamarnya yang mewah, disediakan oleh Kepala Daerah Teng. Akan tetapi lewat tengah malam, dia terbangun. Dia terkejut melihat bayangan orang di dalam kamarnya, dan jelas bahwa orang itu mengambil cap kebesarannya yang terletak di atas meja, lalu orang itu meloncat keluar dari jendela kamarnya. Kwa Taijin bangkit dan mengucek-ngucek matanya. Akan tetapi dia tidak bermimpi dan cap kebesaran itu sudah lenyap dari atas meja. Kemudian terdengar suara orang di luar kamarnya, di luar jendela dari mana orang tadi meloncat keluar.
"Aku berhasil mengambil cap kebesarannya. Cepat larikan cap ini kepada Pui Taijin. Cepat!"
Mendengar suara itu, Kwa Taijin kini yakin bahwa memang ada maling memasuki kamarnya dan mencuri cap kebesarannya. Dia lalu berteriak-teriak keras.
"Maling.....! Maling.....! Tangkap.....!!"
Teriakannya disambut oleh derap kaki para pengawal yang lari mendatangi. Kwa Taijin sendiri lari ke jendela yang terbuka dan dia melihat bahwa empat orang penjaga yang berada di luar jendela telah roboh pingsan! Gegerlah gedung itu ketika para pengawal lari berserabutan untuk mengejar dan mencari maling itu. Akan tetapi, bayangan maling itu tidak nampak lagi.
"Cepat, antar aku ke rumah Jaksa Pui. Sekarang juga!" Tiba-tiba Kwa Taijin memberi perintah kepada komandan pengawalnya, "Dan bersiaplah untuk menangkapnya!"
Komandan pengawal itu segera mengumpulkan anak buahnya, dan ditemani oleh Kepala Daerah Teng yang masih merasa bingung dan kaget itu, Kwa Taijin lalu naik keretanya menuju ke rumah gedung Kepala Jaksa Pui.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Kepala Jaksa Pui Kian ketika dia menerima kedatangan Kwa Taijin bersama Kepala Daerah Teng dan semua pengawal dari kota raja itu pada waktu lewat tengah malam!
Begitu berhadapan dengan Pui Kian, Kwa Taijin mengerutkan alisnya, dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan, telunjuk kanannya menuding ke arah muka kepala jaksa itu, dia membentak, "Pengkhianat she Pui! Hayo cepat kau kembalikan cap kebesaranku!"
Tentu saja Pui Kian melongo, tidak mengerti apa yang dimaksudkan pembesar tinggi itu. "Cap..... cap kebesaran? Apa..... apa yang Taijin maksudkan?"
Sikap dan ucapan ini oleh Kwa Taijin dianggap sebagai sikap pura-pura yang palsu, maka kemarahannya makin memuncak. "Keparat, kau masih mau berpura-pura lagi setelah menyuruh maling mencuri cap itu dari kamarku? Pengawal, geledah kamarnya dan cari cap itu, dan tahan dia!"