Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 24

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 24

Para pengawal pribadi Pui Kian hanya terdiam, tidak berani membela majikan mereka karena mereka pun mengenal siapa Kwa Taijin dan tahu bahwa para pengawal kota raja itu adalah pasukan yang lebih tinggi kedudukannya daripada mereka. Kepala pengawal bersama anak buahnya cepat melakukan penggeledahan dan tak lama kemudian, kepala pengawal sudah keluar dari kamar membawa sebuah cap kebesaran milik Kwa Taijin yang tadi dicuri maling.

"Hemm, lihat ini! Kau masih hendak menyangkal lagi?" Kwa Taijin memperlihatkan cap itu di depan hidung Pui Kian. Pucatlah wajah Pui Kian.

"Tapi... sungguh mati... saya... saya tidak mencurinya."

"Hemm, kau penjahat kepalang tanggung! Kalau tidak menyuruh curi, apakah cap kebesaranku itu bersayap, terbang meninggalkan meja kamarku lalu hinggap di meja dalam kamarmu?"

"Fitnah..., ini tentu fitnah..." Pui Kian meratap.

"Tangkap dia! Bawa ke dalam tahanan di tempat kepala daerah!" bentak Kwa Taijin.

Malam itu Pui Kian, kepala jaksa Thian-cin yang biasanya menjadi raja kecil di kota itu, harus meringkuk di dalam penjara di belakang gedung kepala daerah, dijaga ketat oleh pengawal-pengawal kota raja atas perintah Kwa Taijin sendiri. Akan tetapi, penjagaan yang amat ketat ini masih tidak mampu mencegah Cui Hong yang membungkus sebuah kerikil dengan kertas yang telah diberi tulisan, lalu melontarkan kertas itu ke dalam kamar tahanan dari jauh, dan kertas yang membungkus kerikil itu melayang melalui jeruji besi, dan tepat mengenai kepala Pui Kian.

"Tukk!" Pui Kian mengaduh dan melihat benda kecil putih itu yang tadi menyambar kepalanya, dia cepat memungutnya. Penerangan lampu di luar kamar tahanan cukup terang menerobos melalui jeruji-jeruji besi dan dia lalu membuka kertas yang membungkus kerikil itu, dan dibacanya tulisan tangan yang halus di atas kertas.

"Kepala Jaksa Pui,

kami mengucapkan selamat kepada mu!" "Mendiang guru silat Kim Siok sekeluarga".

Membaca tulisan itu, Pui Kian mengerutkan alisnya. Guru silat Kim Siok? Sudah mendiang? Dia mengingat-ingat, lalu mengepal tinju dengan geramnya. Ah, kini dia teringat akan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Guru silat Kim? Dengan anak gadisnya yang dilamar oleh Pui Ki Cong putranya, akan tetapi ditolak. Guru silat itu bersama seorang muridnya telah tewas dan gadis itu... ah, ke mana perginya gadis itu? Bukankah menurut kabar yang diperolehnya, gadis anak Kim Kauwsu itu oleh putranya diberikan kepada Thian-cin Bu-tek Sam-meng? Dan bagaimana mungkin guru silat Kim yang sudah mati itu mampu melemparkan surat ini? Kini dia dapat menduga bahwa yang mencuri barang-barang berharga dan menggantinya dengan batu, kemudian melakukan fitnah atas dirinya dengan mencuri cap kebesaran milik Kwa Taijin kemudian menaruh ke dalam kamarnya tentu juga orang yang melemparkan surat itu! Akan tetapi siapa? Kim Kauwsu tidak mungkin karena dia sudah mati. Juga muridnya yang akan menjadi mantunya itu. Lalu siapa? Anak perempuannya? Rasanya tidak mungkin. Anak perempuan itu sudah dibawa Bu-tek Sam-meng, kalau belum mati pun tentu menjadi bini muda mereka. Apakah murid-murid Kim Kauwsu? Ah, bisa jadi. Bukankah banyak juga murid-murid guru silat itu? Dia mengepal tinju. Dikirimkannya surat pemberian selamat atas malapetaka yang menimpa dirinya itu jelas merupakan ejekan. Ingin dia menangkap orang itu, menghukumnya dengan tangan sendiri. Akan tetapi, pembesar itu teringat akan keadaan dirinya dan lenyaplah semua kemarahan terhadap orang yang memfitnahnya, terganti oleh ketakutan yang amat hebat. Dia membayangkan dirinya dihukum, dipecat, dan dibuang, atau bahkan mungkin dihukum mati! Gemetar seluruh tubuhnya mengingat ini dan tanpa dapat ditahannya lagi dia menangis!

Kerap kali terbukti bahwa orang-orang yang paling kejam hatinya adalah orang-orang yang paling penakut! Ada kalanya pula sifat pengecut dan penakutlah yang mendorong seseorang untuk berwatak kejam terhadap sesama manusia. Karena merasa takut dan merasa terancam keselamatannya, maka orang itu akan menyerang siapa saja yang dianggapnya menjadi ancaman bagi keselamatannya, kesejahteraannya atau kemuliaan hidupnya. Agaknya Kepala Jaksa Pui ini orang seperti itulah. Biasanya, kalau dia memperlihatkan kekuasaannya menindas orang lain, hatinya merasa gembira dan puas sekali melihat orang lain itu meratap-ratap minta ampun, menangis di depan kakinya minta keringanan hukuman. Puas dan gembira karena tangis orang lain itu merupakan mahkota kekuasaannya. Ratap tangis orang lain bagaikan nyanyi merdu di telinganya. Kini, menghadapi ancaman terhadap dirinya yang sukar untuk dapat dihindarkannya, melihat betapa kekuasaannya runtuh dan dia sama sekali tidak berdaya, kebanggaan dirinya runtuh pula dan timbul iba diri yang berlebihan besarnya, yang mendorong mengalirnya air mata dari sepasang matanya yang sudah lama mengering tak pernah disentuh perasaan itu.

Dan si pelempar surat, Kim Cui Hong, sambil tersenyum puas dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri-seri, meninggalkan kota Thian-cin pada pagi hari itu juga, masih gelap, membawa bungkusan pakaiannya yang kini juga terisi sebuah kantung terisi barang-barang berharga yang indah dan amat mahal harganya.

Kota raja tampak megah dan ramai, walaupun sebenarnya banyak penduduknya merasa gelisah karena kini pasukan-pasukan pemberontak sudah semakin maju mendekati kota raja dari semua jurusan. Dari timur kabarnya pemberontak yang dipimpin oleh Lie Cu Seng sudah semakin maju sampai ke perbatasan provinsi, hanya tinggal tiga ratus li dari kota raja. Di barat juga pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Bu Sam Kwl memperoleh kemenangan-kemenangan. Apalagi di utara. Pasukan kerajaan kewalahan menghadapi serbuan-serbuan bangsa Mancu yang semakin kuat saja. Pendeknya, kota raja telah dikepung dari berbagai jurusan oleh banyak musuh. Bukan hanya tiga golongan musuh itu saja. Mereka bertiga itu adalah golongan musuh paling besar dan paling kuat. Masih banyak lagi pemberontakan-pemberontakan kecil terjadi di daerah-daerah. Semua ini membuat para menteri yang masih setia kepada kerajaan menjadi semakin gelisah. Akan tetapi apa daya mereka? Kaisar dininabobokkan oleh para thaikam dan selalu menerima pelaporan yang baik-baik saja dari para thaikam itu.

Karena keadaan seperti mendung dan gelap oleh kegelisahan, oleh ancaman-ancaman yang tidak tampak dan terasa oleh semua orang bahwa kota raja berada dalam ancaman bahaya besar, maka yang berpesta pora dalam keadaan seperti itu adalah orang-orang yang menjual tenaga dan kepandaian silat mereka sebagai pengawal-pengawal dan penjaga-penjaga keamanan. Orang-orang berpangkat dan orang-orang hartawan yang memiliki uang, tidak sayang mengeluarkan banyak uang membayar jagoan-jagoan yang bertugas menjaga keamanan mereka dan keluarga mereka. Dalam keadaan ketakutan, orang memang dapat melakukan hal-hal yang menggelikan. Orang-orang hartawan itu sama sekali tidak ingat lagi bahwa ancaman perang tidak mungkin dapat dihindarkan oleh perlindungan yang diberikan jagoan-jagoan silat begitu saja! Dan mereka pun lupa bahwa yang mungkin mengganggu dalam keadaan kacau itu justru orang-orang yang biasa bertindak kasar dan keras, yaitu orang-orang yang merasa punya kepandaian silat dan yang merasa unggul, termasuk orang-orang yang mereka angkat menjadi jagoan-jagoan itu! Mereka tidak ingat betapa sudah banyak terjadi adanya pagar makan tanaman, atau orang-orang yang diandalkan sebagai penjaga keamanan bahkan menjadi pengacau keamanan itu sendiri! Seperti memelihara harimau untuk mencegah serbuan serigala. Serigalanya tidak datang, akhirnya sang harimau peliharaan itu yang akan menerkam dan memangsanya!

Betapapun juga, sudah pasti bahwa para jagoan atau mereka yang merasa memiliki kepandaian silat dan yang berani berkelahi, dalam keadaan seperti itu menjadi laris sekali. Tenaga mereka dan jaminan mereka dibayar mahal oleh orang-orang beruang yang rela membayar mahal hanya sekadar untuk menenteramkan hati mereka dan "merasa terlindung".

Banyak jagoan-jagoan atau tukang-tukang pukul yang memiliki ilmu silat tinggi dan yang ditakuti dan disegani orang, yang perlindungannya berharga mahal sekali, berhasil mengumpulkan kekayaan dan menjadi orang kaya. Di antara mereka terdapat seorang jagoan yang terkenal sekali dengan julukannya, yaitu Toat-beng joan-pian (Cambuk Pencabut Nyawa)! Dia telah menjadi kaya raya karena menjadi pelindung beberapa orang hartawan di kota raja. Melihat betapa usaha di luar lebih baik daripada menjadi kepala-kepala pengawal yang makan gaji, sudah lama jagoan ini meninggalkan pekerjaannya sebagai pengawal seorang pembesar di kota raja dan membuka usaha melindungi hartawan-hartawan dengan menerima bayaran mahal setiap bulannya. Dan dia agaknya memang berdarah pedagang. Usahanya ini dapat diperluasnya menjadi semacam perusahaan penjaga keamanan dan dia memiliki puluhan orang pembantu yang bertugas menjaga rumah-rumah hartawan. Dia sendiri hanya dipakai namanya saja untuk menakut-nakuti orang. Dan memang sesungguhnya, hartawan yang dijaga oleh anak buah Toat-beng Joan-pian ini, tidak ada yang berani mengganggu. Agaknya para penjahat di kota raja tidak berani menentang Si Cambuk Pencabut Nyawa yang selain terkenal lihai bukan main, akan tetapi juga terkenal bertangan besi dan tidak pernah mau mengampuni siapa yang berani mengganggu hartawan yang dilindunginya. Setelah membunuh beberapa orang yang berani mencoba-coba, akhirnya tak seorang pun berani mengganggunya lagi dan dalam waktu dua tiga tahun saja dia telah menjadi seorang yang kaya raya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment