Chapter 28
"Wirrrr...!" Tongkat itu diputarnya secara aneh, menyerbu gulungan sinar cambuk dan terkejutlah Louw Ti ketika tiba-tiba saja cambuknya macet dan menempel pada tongkat lawan!
"Haiiiitttt...!" Dia mengerahkan tenaganya membetot cambuknya agar terlepas dari tempelan tongkat, akan tetapi tiba-tiba kaki Cui Hong sudah bergerak menyambar ke depan mencium lututnya. "Dukk...!" Tak dapat ditahan lagi Louw Ti jatuh berlutut karena sebelah kakinya tiba-tiba menjadi lumpuh dan tiba-tiba saja cambuknya terlepas, akan tetapi ujung tongkat itu sudah berkelebat menyambar ke arah kedua pundak dan kedua pinggangnya, menotok secara cepat bukan main sehingga tahu-tahu Louw Ti merasa betapa kedua kaki tangannya tak dapat digerakkan lagi.
"Hemm, kiranya hanya begini saja kemampuan Louw Ti yang berjuluk Toat-beng Joan-pian, yang terkenal sebagai seorang di antara Thian-cin Bu-tek Sam-eng!" orang berkedok itu mengejek dan sekali tangan kirinya merenggut, buntalan di punggung Louw Ti sudah berpindah ke tangannya! Wajah Louw Ti menjadi pucat sekali, akan tetapi karena kaki tangannya tidak dapat digerakkan lagi, dia hanya memandang dengan mata terbelalak.
"Jaaa... jangan rampas itu..... aku mohon padamu, itu..... bukan..... bukan milikku....." Akhirnya dia dapat mengeluarkan kata-kata yang penuh permohonan dan kegelisahan.
Orang berkedok itu berdiri di depan Louw Ti yang sudah rebah terlentang tak berdaya itu. Biarpun tidak tampak karena tertutup kedok, namun mudah diduga bahwa mulut di balik kedok itu tentu tersenyum, entah tersenyum mengejek ataukah tersenyum puas.
"Louw Ti, orang macam engkau ini masih dapat memohon, masih dapat minta dikasihani? Aih, betapa aneh dan lucunya! Louw Ti, pernahkah engkau memenuhi permohonan orang lain, pernahkah engkau mengasihani orang lain?" Setelah berkata demikian, Kim Cui Hong, orang berkedok itu, meloncat ke luar kuil dan terdengarlah derap kaki kuda.
Louw Ti menjadi bingung. Buntalan terisi barang-barang berharga itu dirampas orang, dan kudanya juga dibawa pergi, dan dia sendiri tidak mampu menggerakkan kaki tangan karena totokan yang luar biasa sekali. Dia mencoba untuk menduga-duga siapa orang berkedok yang selama ini mengganggunya, akan tetapi tidak menemukan orang yang cocok. Saking bingung, gelisah dan marahnya, Louw Ti tak dapat menahan mengalirnya air matanya! Baru sekarang selama ia menjadi jagoan dia tahu dan merasakan sendiri apa artinya duka. Dia sudah menggadaikan rumahnya, dan kalau barang-barang harta pusaka itu tidak dapat dirampasnya kembali, dia kehilangan segalanya. Rumah dan semua isinya, dan dia bahkan tentu akan dituntut oleh putri bangsawan itu! Kehilangan semua hartanya masih masuk penjara lagi!
Setelah lewat tengah malam, barulah dia mampu menggerakkan kaki tangannya karena pengaruh totokan jalan darah mulai menipis. Begitu dia dapat bergerak, Louw Ti cepat bangkit dan dia lalu melakukan perjalanan secepatnya menuju ke dusun Ang-ke-bun. Dia harus berjalan kaki atau lari karena kudanya juga dibawa pergi perampok berkedok itu. Sambil menyumpah-nyumpah Louw Ti berlari cepat. Setengah malam lamanya otaknya diputar mencari siasat. Dia tidak memikirkan lagi si kedok hitam karena dia kini terhimpit oleh pertanggungjawabannya. Dia harus menghadapi nona bangsawan itu dan urusan inilah yang terpenting dan harus dapat diselesaikan dan diatasinya terlebih dahulu. Dan dia sudah merencanakan siasatnya untuk dapat keluar dari ancaman bahaya itu dengan baik. Teringatlah dia akan kedatangan nona bangsawan cantik itu, ketika nona itu menerima uang tanggungan, dan menyerahkan harta pusaka, dan memesan agar dia merahasiakan semuanya itu. Yang tahu akan urusan harta pusaka itu hanyalah nona bangsawan itu sendiri dan dia disaksikan pula oleh istrinya. Tidak ada orang lain yang mengetahuinya! Tidak ada jalan lain kecuali yang sudah direncanakannya ketika dia masih rebah tak mampu bergerak dan kini dia bergegas lari menuju ke Ang-ke-bun untuk melaksanakan rencana siasatnya menyelamatkan diri, bahkan memperoleh keuntungan dari masalah yang menghimpitnya itu. Pada keesokan harinya, matahari telah naik tinggi ketika Louw Ti memasuki dusun Ang-ke-bun dan dia segera langsung menuju ke rumah besar baru seperti yang diterangkan oleh nona bangsawan itu. Jantungnya berdebar tegang ketika ia memasuki pekarangan rumah itu. Punggungnya menggendong sebuah buntalan besar. Dia merasa lega dan girang sekali melihat betapa rumah besar itu tampak sunyi, tidak ada orang lain. Ketika dia mengetuk pintu, yang membuka daun pintu adalah nona bangsawan itu sendiri. Nona itu tampak makin cantik jelita, dengan pakaian yang indah dan sungguh aneh sekali, Louw Ti merasa seolah-olah ia pernah mengenal nona ini. Bukan kemarin dulu ketika nona bangsawan itu datang ke rumahnya di kota raja, melainkan jauh sebelum itu. Dia pernah mengenal atau setidaknya bertemu dengan wanita ini. Akan tetapi dia lupa lagi kapan dan di mana. Akan tetapi, hati dan pikirannya segera dipenuhi oleh rencana siasatnya dan dia tidak mau repot-repot tentang hal itu. Apalagi nona bangsawan itu sudah tersenyum sehingga nampak deretan gigi yang putih seperti mutiara dan rapi.
"Ah, kiranya Louw-enghiong baru datang?"
Tepat seperti yang direncanakan, Louw Ti memandang ke kanan kiri seolah-olah takut kalau-kalau kedatangannya diketahui orang. "Kudaku jatuh sakit di tengah jalan, nona, sehingga saya terpaksa berjalan kaki. Maaf, saya agak terlambat, akan tetapi saya berhasil membawa harta. eh, ini sampai ke sini."
Kembali ia memandang ke kanan kiri dan menahan kata-katanya hendak menyebut harta pusaka.
Nona bangsawan itu tersenyum. "Tidak usah khawatir, Louw-enghiong, di sini tidak ada orang lain hanya aku sendiri. Masuklah, aku girang bahwa engkau sudah berhasil membawa harta pusaka itu dengan selamat sampai ke rumah ini. Rumah ini masih kosong, karena masih baru dan belum ada pelayan. Besok pagi baru keluarga ayah datang bersama barang-barang dan pelayan."
Bukan main girang rasa hati Louw Ti. Keadaan tempat ini sungguh tepat sekali untuk pelaksanaan siasatnya! Sunyi tidak ada orang lain kecuali mereka berdua! Dia mengikuti nona itu masuk ke ruangan sebelah dalam dan dia melihat bahwa rumah ini memang besar, mempunyai banyak kamar.
"Mari, silakan duduk dan berikan buntalan itu kepadaku, Louw-enghiong," kata nona itu setelah mereka tiba di ruangan sebelah dalam yang luas, di mana hanya ada beberapa buah kursi dan sebuah meja besar.
Louw Ti merasa betapa jantungnya berdebar semakin kencang. Dia tidak pernah mengalami ketegangan seperti ini. Biasanya, biar ada maksud membunuh orang atau melakukan perbuatan apa pun, dia bersikap tenang saja. Akan tetapi entah mengapa, sekali ini dia merasa amat tegang dan buntalan itu mengeluarkan bunyi ketika dia letakkan di atas meja, tanda bahwa tangannya agak gemetar.
"Nanti dulu, Siocia, Buntalan ini akan saya serahkan kepada nona kalau uang tanggungan saya berikut ongkos pengiriman yang lima puluh tail emas itu nona serahkan dulu kepada saya."
Nona bangsawan itu tersenyum manis dan kembali Louw Ti seperti merasa pernah melihat mulut yang amat menggairahkan itu.
"Ah, tentu saja, tunggu sebentar," kata nona itu dan saking tegang dan gembiranya, Louw Ti telah melupakan lagi perasaannya itu. Nona itu memasuki sebuah kamar dengan langkah berlenggang-lenggok amat menggairahkan dan pada saat itu Louw Ti menambah rencananya. Sayang kalau nona itu dibunuh begitu saja, pikirnya, sayang tubuh yang demikian indah, wajah yang demikian cantik! Malam tadi dia merencanakan untuk membunuh nona bangsawan ini, karena tidak ada seorang pun yang tahu bahwa nona ini berhubungan dengan dia, tidak ada yang tahu bahwa nona ini menyuruh dia mengirimi harta pusaka itu. Kalau dia dapat membunuh nona itu dan melenyapkan mayat dan bekas-bekasnya, tentu dia akan selamat. Biarlah harta pusaka itu hilang dirampok orang. Setidaknya dia akan dapat memperoleh kembali rumahnya dan isinya, bahkan menerima pula upah lima puluh tail emas! Malapetaka yang menimpa dirinya akan berubah menjadi keuntungan! Dan kini, melihat wajah itu, melihat lenggang itu, dia menambahkan "perkosaan" pada rencananya, akan memperkosa dulu nona bangsawan itu sepuasnya sebelum membunuhnya!
Nona itu muncul kembali dari dalam kamar, membawa dua buntalan. Ia meletakkan dua buntalan di atas meja, lalu membuka dua buntalan itu. Mata Louw Ti bercahaya ketika dia melihat uangnya, uang tanggungan hasil penggadaian rumah, berada di buntalan besar, sedangkan di buntalan kedua nampak berkilauan emas batangan lima puluh tail!
"Nah, ini upah lima puluh tail emas, Louw-enghiong. Dan ini uang tanggungan-mu kukembalikan, di dalamnya sudah kusisipkan uang bunganya. Sekarang perlihatkan harta pusaka itu kepadaku, hendak kulihat apakah masih lengkap, sesuai dengan catatan ini."
Tanpa bicara, Louw Ti mendorong buntalannya, mendekatkannya kepada nona itu. Buntalan dibuka dan nona itu terbelalak, lalu menatap wajah Louw Ti, "Louw enghiong, apa artinya ini?" Ia menuding ke arah tumpukan batu koral yang berada di dalam buntalan.