Chapter 29
Sepasang mata Louw Ti yang sejak tadi bersinar-sinar aneh itu kini mencorong dan wajahnya membayangkan kebengisan yang menyeramkan. Dia mendekati nona bangsawan itu dan menyeringai bengis.
"Heh-heh, artinya bahwa engkau akan mati di tanganku dan tak seorang pun tahu apa yang telah terjadi di antara kita!" Setelah berkata demikian, dia menerjang ke depan dengan kedua lengan dipentang lalu menyambar ke depan seperti dua kaki depan harimau menubruk kelinci. Dia membayangkan bahwa sekali tubruk saja tentu dia akan dapat menangkap nona itu dan akan diperkosanya di situ juga sebelum dibunuhnya dan mayatnya akan dikubur di belakang rumah malam nanti setelah gelap.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia melihat nona itu berkelebat ke samping dan tubrukannya mengenai tempat kosong! Nona ini telah mampu mengelak dari tubrukannya tadi dengan gerakan yang amat lincah! Dengan penasaran, Louw Ti lalu membalikkan tubuhnya dan menyerang lagi, lebih cepat dan dengan loncatan, menerkam ke depan. Dia sudah memperhitungkan bahwa nona itu tentu tidak akan mampu menghindarkan diri sekali ini, karena selain cepat, juga terkamannya itu kuat, dan kedua tangannya menyambar dari kanan kiri menutup jalan keluar bagi lawan.
Akan tetapi untuk kedua kalinya dia kecelik karena tiba-tiba saja tubuh nona bangsawan yang kelihatannya lemah-lembut itu sudah berkelebat ke belakang. Tubrukannya luput dan nona itu sudah lenyap menghilang ke dalam sebuah kamar dan menutupkan daun pintunya dari dalam.
"Ha-ha-ha, hendak lari ke mana kau? Ke dalam kamar? Ha-ha-ha, kebetulan sekali!" Louw Ti tertawa, mengira bahwa calon korbannya itu melarikan diri ke tempat tidur. Dengan beberapa kali loncatan saja, dia sudah berada di depan pintu yang tertutup. Sekali menendang, daun pintu itu roboh dan dia pun meloncat ke dalam. Sebuah kamar kosong dan ada sebuah pintu tembusan ke belakangnya. Dia menerjang pintu ini dan ternyata menembus ke sebuah lorong yang kosong pula. Louw Ti merasa penasaran, mencari-cari. Banyak kamar di kanan kiri lorong dan dia membuka daun pintu kamar-kamar itu satu demi satu, akan tetapi semua kamar itu ternyata kosong tidak ada isinya, belum ada perabot kamarnya dan nona bangsawan itu tidak nampak bayangannya.
Terpaksa dia kembali ke ruangan tadi melalui kamar yang daun pintunya diruntuhkannya tadi dan... di dekat meja di dalam ruangan itu kini telah berdiri seorang yang membuat jantungnya seperti berhenti berdenyut, seorang bertubuh semampai yang mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng hitam pula, orang yang pernah merampas harta pusaka itu dan merobohkannya di kuil tua! Wajah Louw Ti yang hitam menjadi agak pucat dan dia merasa gentar sekali. Akan tetapi, orang itu berdiri di dekat meja dan dua bungkusan uang dan emas telah dikumpulkannya di atas meja di dekatnya. Jelaslah bahwa orang berkedok itu akan merampas pula dua bungkusan berharga itu. Dan habislah kesemuanya untuk dia! Rumahnya habis, tidak ada sepeser pun di sakunya, dan dia masih akan dituntut pula oleh nona bangsawan yang kini telah menghilang entah ke mana! Dan semua barang berharga itu telah dirampas oleh orang berkedok yang berdiri di depannya ini. Orang inilah biang keladi kejatuhannya, semenjak mengganggu rumah hartawan yang dilindunginya. Orang inilah yang mencelakakannya!
Teringat akan itu semua, Louw Ti menjadi sedemikian sakit hati dan marahnya sehingga dia mengeluarkan suara teriakan yang terdengar seperti gerengan seekor binatang buas dan dia pun sudah menerjang ke depan sambil melolos dan menggerakkan senjata cambuknya.
Akan tetapi, Kim Cui Hong yang kini menjadi orang bertopeng hitam itu tidak mau membuang waktu seperti ketika ia melayani Louw Ti di kuil tua. Dengan gerakan aneh, tubuhnya menyelinap di bawah sinar cambuk dan tahu-tahu tangan kirinya sudah menangkap ujung cambuk itu, tangan kanannya menotok ke depan disusul kaki kanan yang menendang ke arah lutut kiri lawan. Serangan ini sangat cepat dan tak terduga-duga oleh Louw Ti. Dia mencoba untuk menarik kembali senjatanya, namun cambuk itu tak dapat terlepas dari pegangan tangan lawan, sedangkan tangan kanan lawan sudah menyambar dengan totokan ganas ke arah pergelangan tangan kanannya. Untuk menyelamatkan tangannya, terpaksa dia melepaskan cambuknya dan meloncat ke belakang menghindarkan tendangan lawan. Dalam segebrakan saja kini cambuknya sudah berpindah tangan.
"Tar-tar-tar...!" Kini cambuk itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar, seperti ular-ular mematuk ujung cambuk itu menyambar ke arah berbagai jalan darah penting di tubuh Louw Ti! Tentu saja orang ini terkejut dan sibuk sekali, berusaha mengelak, namun datangnya serangan cambuk yang bertubi-tubi itu terlampau cepat baginya sehingga akhirnya, dia pun terpelanting roboh dan tak mampu bergerak lagi karena jalan darahnya tertotok, seperti keadaannya malam tadi di kuil tua dalam hutan! Ia hanya rebah miring dan memandang dengan mata melotot tanpa dapat menggerakkan kaki tangannya yang menjadi lumpuh. Sinar matanya penuh kebencian kepada orang berkedok itu.
Cui Hong memandang kepada korbannya melalui lubang di topengnya, sepasang matanya berkilat-kilat penuh dendam. Kemudian dia berkata, "Louw Ti, engkau jahanam keparat yang paling busuk di dunia ini, karena itulah maka aku hendak menghukummu sesuai dengan kejahatanmu."
Karena sudah putus asa dan tidak berdaya, Louw Ti menjadi nekat. "Iblis keji, siapakah engkau?"
Cui Hong mengeluarkan suara dengusan mengejek. "Hemm, engkau ingin melihat isterimu diperkosa di depan matamu, seperti yang sering kali kau lakukan? Engkau ingin melihat anak-anakmu dibunuh di depan matamu, seperti engkau membunuh mereka? Tunggu sebentar?" Dan Cui Hong lalu meninggalkan Louw Ti, memasuki sebuah kamar. Louw Ti tertegun dan diam-diam merasa ngeri. Orang berkedok itu kejam seperti binatang buas, jahat seperti iblis, dan dia tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh orang itu, ucapan yang membuat hatinya gelisah dan jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Tak lama kemudian orang berkedok ini muncul lagi dari dalam kamar itu dan Louw Ti merasa jantungnya seperti akan copot karena berdebar keras sekali ketika dia melihat isterinya dan dua orang anaknya berjalan di samping si kedok hitam itu!
"Ayah...!" Dua orang anaknya itu, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang usianya baru enam dan empat tahun, memanggilnya dan lari menghampirinya, lalu berlutut di dekat tubuhnya. Akan tetapi isterinya hanya berdiri saja memandang, dengan kedua mata berlinang air mata.
"Louw Ti, inilah isteri dan anak-anakmu. Engkau tentu ingin melihat isterimu diperkosa orang, bukan oleh satu orang melainkan akan kudatangkan empat orang untuk memperkosanya, dan melihat anak-anakmu dibunuh di depan matamu, bukan?"
Wajah yang hitam itu menjadi pucat. Dia mencoba untuk menggerakkan kaki tangannya namun tak berhasil. "Tidak... tidak..., jangan ganggu mereka..." dia meratap.
"Hemm, di mana kekerasan hatimu? Di mana kekejamanmu? Engkau terlalu sering membunuh orang begitu saja, di depan mata orang-orang yang mencintainya, dan engkau selalu sering memperkosa wanita, juga di depan orang-orang yang mencintainya. Kenapa sekarang engkau meratap agar isterimu jangan diperkosa di depan matamu dan anak-anakmu dibunuh di depan matamu?"
"TIDAK.... jangan..., ah, ampunkan mereka.... bunuh aku tapi jangan ganggu mereka."
"Hemm, enak saja bicara! Aku pun tidak sekejam engkau untuk melakukan semua itu di depan matamu, akan tetapi setidaknya engkau akan mendengarkan sendiri dengan kedua telingamu." Cui Hong lalu memegang kedua orang anak kecil itu. Dua orang anak itu meronta dan memanggil-manggil ayahnya, akan tetapi Cui Hong menarik tangan mereka, bahkan kini dibantu oleh isteri Louw Ti yang sejak tadi diam saja, hanya menitikkan air mata. Dengan paksa kedua orang anak itu diseret masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari ruangan itu.
"Jangan...! Jangaaaannn....!" Louw Ti meratap, merintih dan berteriak. Akan tetapi semua ratapannya tidak ada yang memperdulikannya. Akhirnya dia diam dan dengan mata terbelalak memandang ke arah kamar itu yang pintunya ditutup dari dalam, lalu terdengar isterinya menangis dan terdengar pula anak-anaknya menjerit dan menangis ketakutan! Dapat dibayangkan siksaan yang diderita batin Louw Ti di saat itu. Dia membayangkan betapa isterinya diperkosa orang sampai merintih-rintih dan menangis, membayangkan kedua anaknya disiksa dan dibunuh sampai menjerit-jerit ketakutan.
"Jangan...! Ah, ampunkan mereka..... jangan....!" Dia berteriak-teriak akan tetapi teriakannya semakin lemah karena dia mengalami guncangan batin yang amat hebat. Membayangkan isterinya diperkosa orang dan anak-anaknya disiksa, tanpa mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan mereka, sungguh merupakan siksaan yang lebih hebat daripada siksaan badan. Akhirnya dia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Kini sunyi saja dari kamar itu. Tangis isterinya dan jerit anak-anaknya sudah berhenti.
"Jangan-jangan mereka sudah mati...," pikir Louw Ti dan tangisnya makin tersedu-sedu.
Ketika daun pintu itu terbuka, Louw Ti menghentikan tangisnya, mengedip-ngedipkan matanya untuk mengusir air mata yang menghalangi pandang matanya, lalu memandang dengan melotot ke arah orang berkedok itu, yang keluar dari kamar dengan langkah seenaknya. Diakah yang memperkosa isteriku? Ataukah ada kawan-kawannya? Tentu dia yang telah membunuh anak-anakku. Sampai mati dia tidak akan melupakan ini. Dia harus mengenal orang ini agar kelak, kalau ada kesempatan, dia akan membalas dendam!
"Binatang she Louw, sudah puaskah hatimu mendengar isterimu diperkosa orang dan anak-anakmu disiksa? Aku menyerahkan isterimu kepada orang-orangku agar dipermainkan secara bergilir sampai mampus, dan juga membunuh anak-anakmu di luar dusun. Akan tetapi aku masih belum selesai dengan dirimu."
Louw Ti yang merasa berduka, marah dan penuh kebencian itu kini sudah nekat dan lupa akan rasa takut. "Jahanam! Iblis keji! Siapakah engkau? Jangan menjadi pengecut dan perlihatkan mukamu kepadaku!"
Tiba-tiba dari balik kedok itu terdengar suara ketawa halus dan disusul suara merdu seorang wanita, berbeda dengan suara si kedok hitam tadi yang seperti suara pria.
"Tentu saja engkau akan mengenal aku." Dan orang itu lalu membuka kedoknya dan sepasang mata Louw Ti terbelalak lebar dan penuh keheranan ketika dia melihat bahwa muka di balik kedok itu adalah wajah cantik dari nona bangsawan tadi! Kini mengertilah dia. Si kedok hitam itu bukan lain adalah nona bangsawan itu pula. Seorang wanita! Dan demikian lihainya, dan demikian penuh dendam kepadanya sehingga mengatur siasat yang sudah direncanakan dengan rapi untuk menghancurkannya!
"Kau...!!" Dia berseru dan habislah harapannya. Bagaimana wanita ini tidak akan berlaku kejam kepadanya? Baru saja dia hendak membunuhnya, bahkan hendak memperkosanya!