Chapter 34
"Setan!" Koo Cai Sun mencabut senjatanya, sepasang *siang-kek*, tombak pendek bercagak. Ia melompat ke arah datangnya suara tadi, dari sebelah kiri di mana terdapat sebuah bangunan tembok. Namun, ia hanya melihat bayangan bertubuh langsing berkelebat sebelum bayangan itu lenyap.
"Akan kuhajar perempuan iblis itu! Akan kuhancurkan kepalanya dengan kepalaku, akan kucabik-cabik dagingnya dengan *siang-kek* ini!" umpatnya, terkejut melihat betapa cepat bayangan tadi berkelebat dan bergerak. Ki Cong, yang sangat ketakutan, segera mengajak Cai Sun dan para pengawalnya kembali ke rumahnya. Setelah memerintahkan pengawalnya untuk meningkatkan penjagaan dan mendatangkan bala bantuan, Pui Ki Cong mengajak Koo Cai Sun berunding di ruangan sebelah dalam.
"Bagaimana baiknya sekarang?" tanya Ki Cong dengan suara agak gemetar. Melihat keadaan Louw Ti tadi, kemudian bayangan yang berkelebat sambil mengeluarkan suara ancaman, ia menjadi ketakutan.
Di lubuk hatinya, Cai Sun juga sangat ketakutan. Ia bukan orang bodoh, melainkan cerdik dan licik. Ia tahu wanita puteri guru silat Kim itu muncul untuk membalas dendam dan kini sangat lihai. Ini terbukti ketika ia mencelakai Pui-taijin, menyiksa Louw Ti, dan kemunculannya tadi membuktikan kelihaiannya. Ia dan keluarganya terancam! Ia harus menggunakan kecerdikannya untuk menyelamatkan mereka tanpa terlihat sebagai pengecut. Maka, ia tersenyum. Wajah bulatnya seolah terbelah ketika mulutnya terbuka lebar.
"He-he-he, Pui-kongcu. Menghadapi ancaman bocah setan itu, kita tidak perlu takut. Jelas ia akan berusaha mencelakai kita, terutama engkau, Kongcu, karena engkaulah musuh utamanya. Akan tetapi, aku yakin dapat mengatasinya. Pui-kongcu, memang sebaiknya kita bergabung sementara waktu untuk menghadapinya. Aku juga merasa berkewajiban membantumu menolak ancaman perempuan itu. Bagaimana kalau untuk sementara ini aku membawa keluargaku tinggal di sini agar dapat menjaga keselamatanmu?"
Pui Ki Cong, yang gentar menghadapi ancaman gadis puteri Kim-kauwsu itu, tentu saja girang bukan main. Ia tidak tahu bahwa bekas pembantunya itu pun ketakutan dan ingin berlindung di gedungnya yang dijaga ketat para pengawal!
"Baik sekali kalau begitu, Toako. Aku pun akan mencari jagoan-jagoan di kota raja ini untuk melindungiku. Selain itu, aku akan mengerahkan orang pandai untuk mencari dan membekuk perempuan iblis itu."
Cai Sun sangat senang. Inilah yang diinginkannya. Selain dapat berlindung di gedung Pui Ki Cong dan memperoleh bantuan orang pandai dalam menghadapi Kim Cui Hong, ia juga dapat berjasa kepada bekas majikannya seolah ia berada di sana untuk melindunginya, bukan untuk mengungsikan keluarganya!
Cui Hong memasuki rumah makan yang tidak begitu ramai itu. Rumah makan sederhana di ujung kota itu menyambutnya dengan ramah oleh seorang pelayan yang selama beberapa hari ini melayaninya. Nona cantik ini memang sudah menjadi langganan, makan di sana setiap hari.
"Selamat siang, nona. Silakan duduk, pilih meja mana saja yang Anda kehendaki. Banyak yang masih kosong," sapa pelayan itu. Cui Hong mengangguk sedikit, lalu matanya menyapu ruangan. Memang tidak banyak tamu, hanya lima atau enam meja yang terisi. Mereka berkumpul di bagian depan, sehingga ia memilih meja di sudut agak belakang yang sepi. Hanya ada satu tamu lain duduk di meja belakang, terpisah dua meja darinya.
"Sediakan makanan seperti kemarin," kata Cui Hong singkat kepada pelayan yang mengangguk ramah. Setelah pelayan itu pergi menyiapkan pesanan, Cui Hong duduk. Tanpa disengaja, ia memandang ke depan. Kebetulan, pemuda yang duduk di meja lain, sendirian juga, sedang memandangnya. Dua pasang mata bertemu, dan Cui Hong segera membuang muka. "Wajah pria yang sangat menarik," pikirnya. Ia heran mengapa tiba-tiba ia tertarik pada pria itu. Padahal, pria itu memandangnya dengan tatapan kagum yang jujur, tanpa nada kurang ajar seperti yang sering ia lihat pada pandangan pria lain. Meski tidak pernah memandang langsung, dari sudut matanya ia beberapa kali mengamati pemuda berpakaian serba kuning itu.
Pemuda itu bukan remaja lagi, usianya pasti sekitar tiga puluh tahun. Ia berpakaian sederhana, dari kain kuning yang tidak mahal. Rambutnya yang hitam dan tebal agak keriting digelung ke atas dan diikat dengan pita biru.
Wajahnya tidak terlalu tampan, namun ganteng dan penuh kejantanan. Hidung mancung dan dagu meruncing menggambarkan ketabahan dan kemauan besar. Sinar matanya lembut namun tajam, memancarkan kejujuran. Bentuk tubuhnya sedang, dengan dada bidang dan leher yang tampak kuat. Melihat pakaiannya, pikir Cui Hong, ia pasti seorang petani. Ia semakin heran melihat dirinya sendiri begitu memperhatikan pria yang tidak dikenalnya. Padahal, biasanya ia tidak pernah memperhatikan pria. Sejak diperkosa dan dipermainkan empat orang pria, kemudian belajar ilmu silat dari gurunya, ia tidak pernah tertarik pada pria. Apalagi ketika ia sadar bahwa pandangan hampir semua pria kepadanya selalu mengundang sifat kurang ajar, godaan, kekaguman bernafsu, mengingatkannya pada pandangan empat pria musuh besarnya. Ia seperti tak pernah merasa tertarik atau suka kepada pria. Bahkan ada sedikit perasaan benci, menganggap semua pria adalah makhluk kejam yang hanya mengejar kesenangan nafsu berahi!
Inilah sebabnya ia merasa heran melihat dirinya begitu tertarik pada pria ini! "Ah, dia hanya seorang laki-laki..." Akhirnya Cui Hong mencela diri sendiri dan segera mengalihkan perhatiannya pada hidangan yang baru saja dikeluarkan pelayan.
Sambil makan, ia memikirkan dan mencari siasat untuk menghadapi dua musuhnya. Setelah berhasil membalas dendam terhadap Louw Ti, ia melakukan penyelidikan dan dengan mudah menemukan tempat tinggal Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun. Segera ia menyelidiki keadaan hidup kedua musuh besarnya itu. Ia sempat melihat rombongan Ki Cong dan Cai Sun yang dikawal belasan prajurit menemui Louw Ti yang telah gila di jembatan itu. Ia sempat mengejek dan mengancam kedua musuh besarnya. Jika ia menghendaki, ia bisa menyerang dan melukai mereka saat itu juga. Akan tetapi tidak, ia tidak mau menimbulkan keributan, apalagi mengamuk di antara pasukan pengawal. Ia harus mencari siasat yang tepat dan baik.
Sakit hati yang diderita Cui Hong terlalu besar sehingga memengaruhi seluruh hidupnya, membentuk watak tersendiri terhadap musuh-musuh besarnya. Ia ingin menikmati kemanisan balas dendam sedikit demi sedikit! Ia tidak tergesa-gesa. Sudah hampir delapan tahun ia menahan sakit hati, bertahun-tahun ia bersabar, maka sekarang pun ia tidak tergesa-gesa. Bagaikan seekor kucing yang melihat dua ekor tikus yang akan dijadikan korban, ia tidak tergesa-gesa menerkam mereka, melainkan hendak mempermainkan sepuasnya, seperti ketika ia dipermainkan musuh-musuhnya dahulu! Ia ingin melihat mereka menderita ketakutan, kengerian, dan barulah ia akan turun tangan membuat mereka menderita badan. Ia ingin mereka menderita lahir batin secara hebat, seperti yang pernah dideritanya dahulu oleh perbuatan mereka. Betapa nikmat dan manisnya melakukan pembalasan dendam seperti ini! Seperti orang makan hidangan lezat, tidak segera ditelan, melainkan dikunyah perlahan-lahan, pikir Cui Hong sambil mengunyah makanannya. Ia tidak tahu bahwa pria berpakaian kuning itu, yang tadi tidak mau memandangnya secara langsung, kini menatapnya dengan penuh perhatian dan kagum, selagi ia mencurahkan perhatiannya pada makanannya.
Selama beberapa hari ini, Cui Hong diam-diam mengikuti semua gerak-gerik kedua musuhnya. Ia sering tersenyum mengejek melihat kesibukan mereka, melihat betapa Cai Sun membawa seluruh keluarganya mengungsi ke gedung Pui Ki Cong.
...
dan ia pun melihat yang ada hanyalah seorang pemuda yang telah melukai para prajurit pengawal dan aku sebagai seorang kepala pengawal. "Menyerahlah untuk kutangkap dan aku tidak akan mempergunakan senjata terhadap dirimu."
Tan Siong mengangguk. "Baiklah, ini urusan pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Siauw-lim-pai maupun Kun-lun-pai. Akan tetapi, aku tidak merasa bersalah, maka terpaksa aku menolak untuk menyerah dan ditangkap."
"Su-toako, pemuda ini sombong sekali. Kalau tidak diberi hajaran, tentu akan memandang rendah kepada kita!" teriak Cai Sun marah, khawatir rekannya akan berdamai dan tidak melanjutkan perkelahian melawan pemuda itu. Ia sendiri sudah menggerakkan pedang di tangannya melakukan serangan dahsyat yang disambut Tan Siong dengan tenang. Melihat ini, terpaksa Su Lok Bu maju lagi melakukan serangan dengan sepasang pedangnya. Dua orang pengawal juga membantu dengan pedang mereka.
Tiba-tiba muncul seorang laki-laki pendek berkulit putih dan berperut gendut, dengan rambut dan jenggot putih semua. "Penjahat muda yang nekat, lihat golok besarku!" bentak orang itu. Begitu tiba di situ, ia membentak dan menggerakkan sebatang golok besar dan berat dengan gerakan yang amat dahsyat. Suara golok itu semakin berdesing-desing dan menyambar-nyambar ganas menyerang Tan Siong.
Kini Tan Siong kewalahan sekali, apalagi karena ia tahu yang baru datang ini tentulah seorang Bu-tong-pai. Hatinya merasa semakin ragu dan khawatir. Karena itu, gerakan pedangnya agak...
...nanti kemanisan balas dendam sepenuhnya tanpa gangguan orang lain. Napsu yang membakar hati Cui Hong mirip dengan napsu yang membakar diri Kai Sun atau Ki Cong ketika memperkosa wanita itu tujuh tahun yang lalu. Untuk menjatuhkan pembalasan dendamnya, Cui Hong seperti seekor kucing yang tekun dan sabar mengintai tikus-tikus calon korbannya, kini dengan amat sabarnya menanti saat baik dan mencari siasat agar ia dapat berhadapan dengan dua orang musuh besar itu tanpa gangguan orang lain.
Tiba-tiba Cui Hong dikejutkan dari lamunannya oleh suara tawa seorang laki-laki. Ia mengangkat mukanya dan melihat seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun, berwajah penuh bopeng dan bertubuh tinggi besar, berdiri dekat mejanya sambil tertawa terkekeh-kekeh memandangnya. Masih ada tiga orang laki-laki lain, teman orang yang kini berada di dekat mejanya, berada di meja sebelah kirinya, dan mereka pun tertawa-tawa memberi semangat kepada si muka bopeng.