Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 35

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 35

"Hayo, A-cauw, apakah engkau kehilangan nyalimu setelah berhadapan dengan wanita cantik?" demikian antara lain orang itu berkata.

Agaknya laki-laki yang berada di dekat meja Cui Hong itu bernama A-cauw dan kini dia membungkuk dengan sikap hormat dibuat-buat kepada Cui Hong. "Nona, apakah Nona sendirian saja makan di sini?"

Cui Hong maklum bahwa laki-laki ini hendak kurang ajar, akan tetapi ia tidak mau mencari keributan. Dengan suara datar ia pun menjawab, "Benar, aku duduk dan makan sendirian. Ada sangkut paut apakah hal itu dengan dirimu?"

"Begini, Nona. Aku dan teman-temanku itu, kami berempat baru saja menang taruhan, dan kami mengadakan pesta di restoran ini. Melihat Nona seorang diri saja, kami berempat ingin sekali mengundang Nona untuk makan bersama kami, bersenang-senang dan ikut menghabiskan uang kemenangan kami." Cui Hong mengerutkan alisnya dan ingin menampar muka yang bopeng itu. Akan tetapi ia menahan diri. Ia sedang berada di kota raja dan dengan tugas yang amat penting. Kalau ia membuat ribut tentu akan menarik perhatian, apalagi kalau sampai ia memperlihatkan kepandaiannya, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Ia harus merahasiakan dirinya agar tidak ada yang tahu bahwa ia adalah Kim Cui Hong yang sedang berusaha membalas dendam terhadap musuh-musuhnya. Untuk ini pula ia sudah bersusah payah menghias mukanya dengan penyamaran sehingga tahi lalat di dagunya juga tidak tampak. Ia percaya bahwa seperti juga Louw Ti, musuh-musuhnya yang lain tidak akan dapat mengenalnya tanpa adanya tahi lalat di dagunya itu. Kalau kini ia melayani segala urusan kecil seperti gangguan laki-laki kurang ajar ini, hal itu amat berbahaya karena dapat membocorkan rahasia tentang dirinya yang hendak dirahasiakan. Pula, sejauh ini, laki-laki bermuka bopeng itu belum memperlihatkan sikap kurang ajar, bahkan mempersilakannya dengan sopan, walaupun kesopanan itu dibuat-buat.

"Terima kasih, Saudara. Akan tetapi aku sudah kenyang, maka terpaksa aku tidak dapat menerima undanganmu. Terima kasih, aku malah sudah selesai makan dan hendak pergi." Berkata demikian, Cui Hong bangkit dan memberi isyarat kepada pelayan untuk datang agar ia dapat membayar harga makanan dan pergi secepatnya dari situ. Akan tetapi, ketika pelayan itu datang dengan sikap takut-takut, Si Muka Bopeng membentaknya,

"Mau apa kau? Pergi!" Pelayan itu mundur lagi dengan muka membayangkan ketakutan. Hal ini menyadarkan Cui Hong bahwa empat orang itu memang sudah dikenal di situ dan agaknya sudah biasa ditakuti orang.

"Nona, seorang gadis secantik engkau tidak patut makan sendirian, maka marilah ikut bersama kami, Nona. Nanti kami akan mengantar Nona pulang. Di manakah rumahmu dan siapa pula namamu, Nona?" Si Muka Bopeng kini semakin berani dan pertanyaan-pertanyaannya itu mulai kurang ajar.

"Apakah sudah ada yang punya, Nona manis?" terdengar seorang temannya berteriak dari meja sebelah.

"Aih, jangan jual mahal, Nona manis," kata yang lain.

"Kami baru saja mendapat rezeki besar, jangan khawatir, kami mampu memberi hadiah besar kepadamu, Nona manis," sambung orang ketiga.

Mendengar ucapan-ucapan itu dan melihat sikap mereka, Cui Hong mulai naik darah. Ia merasa serba salah, menghajar mereka berarti akan membuka rahasianya. Mendiamkan saja, mereka tentu akan semakin kurang ajar dan ia tidak akan kuat menahan kesabarannya lagi.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara seorang laki-laki yang terdengar tegas dan halus, biarpun penuh dengan nada teguran. "Saudara-saudara adalah laki-laki, maka tidak sepatutnya mengganggu seorang wanita baik-baik di tempat umum. Nona ini sudah makan dan menolak undangan kalian, kenapa mengeluarkan ucapan yang tidak sopan?"

Cui Hong cepat memandang dan ternyata yang mengeluarkan kata-kata itu adalah pemuda yang berpakaian kuning yang tadi duduk seorang diri di sudut belakang. Kini pemuda itu telah bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada Si Muka Bopeng dengan sinar mata penuh teguran.

"Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?" bentak Si Muka Bopeng. Juga tiga orang kawannya sudah bangkit berdiri dan memandang ke arah pemuda berpakaian kuning itu dengan mata melotot dan muka mengancam.

Dengan sikap masih tenang pemuda itu menjawab, "Namaku Tan Siong dan aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian, melainkan hanya menasihatkan bahwa tidak sepatutnya laki-laki menggoda wanita di tempat umum."

"Peduli apa engkau? Apa sih kedudukan dan pekerjaanmu maka engkau berani menentang kami?" Si Muka Bopeng kembali bertanya karena dia masih ragu-ragu untuk turun tangan terhadap pemuda yang belum dikenalnya ini. Sementara itu, sambil melirik dan mengikuti peristiwa itu dengan sudut matanya, Cui Hong menghampiri pelayan dan menyerahkan pembayaran harga makanannya. Akan tetapi ia masih berdiri di dekat pintu, memandang ke arah dua orang laki-laki yang sedang bertengkar itu. Hatinya semakin tertarik karena pemuda berpakaian kuning itu bersikap demikian tegas, jujur, dan penuh dengan keberanian. Juga hatinya senang sekali karena pemuda itu telah membelanya, walaupun ia yakin bahwa pemuda itu akan membela wanita mana pun yang diganggu orang. Pemuda itu tidak membela pribadinya, melainkan membelanya karena ia wanita yang mengalami gangguan laki-laki kurang ajar.

"Aku tidak mempunyai kedudukan apa-apa, dan pekerjaanku adalah bertani. Aku seorang perantau yang baru saja masuk ke kota raja dan kebetulan melihat apa yang kalian lakukan terhadap Nona itu. Aku hanya memberi nasihat kepada kalian, tidak bermaksud buruk."

Mendengar bahwa pemuda itu hanya seorang petani dan perantau, Si Muka Bopeng menjadi marah sekali. "Keparat! Kiranya hanya seorang petani dusun busuk! Berani engkau menegur aku? Tidak tahu engkau siapa aku? Aku adalah Si Harimau Sakti, jagoan di kota raja. Manusia usil macam engkau ini harus dihajar!" Dan Si Muka Bopeng lalu menendang meja di depannya itu.

"Brakkk...!" Meja itu terpelanting, berikut mangkuk piring dan semua benda itu menabrak pemuda berpakaian kuning. Ada kuah sayur memercik ke pakaian pemuda dusun itu yang terpaksa melangkah ke belakang dan agak terhuyung karena meja itu menimpa dadanya cukup keras.

Melihat ini, Cui Hong mengerutkan alisnya. Pemuda itu adalah pemuda dusun yang sama sekali tidak pandai ilmu silat. Kalau pemuda itu pandai ilmu silat, tentu akan dapat menghindarkan diri dengan mudah. Akan tetapi, kenyataan ini membuatnya semakin kagum. Kalau pemuda itu gagah perkasa, maka tidak aneh kalau dia berani menentang Si Muka Bopeng yang berjuluk Harimau Sakti itu bersama teman-temannya. Akan tetapi, pemuda tani itu tidak pandai ilmu silat namun berani menentang. Kegagahan ini amat mengagumkan hatinya dan ia pun siap untuk melindungi pemuda itu kalau sampai terjadi perkelahian karena ia dapat menduga bahwa tentu pemuda tani itu akan disiksa oleh Si Muka Bopeng dan kawan-kawannya yang kini sudah datang beramai-ramai dan mengepung pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment