Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 36

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 36

"Toako, perlu apa banyak bicara dengan cacing tanah ini? Hajar saja dia agar dia tahu rasa dan tahu diri!" kata seorang teman Si Muka Bopeng yang hidungnya pesek.

"Ya, mari kita pukul dia setengah mati!" teriak yang lain. Melihat sikap mereka, pemuda yang bernama Tan Siong itu kelihatan penasaran, akan tetapi sedikit pun tidak nampak rasa takut membayang di wajahnya. "Kiranya kalian adalah orang-orang yang suka melakukan kejahatan. Aku tidak takut karena aku percaya bahwa di kota raja ini tentu berlaku hukum yang melindungi orang-orang yang tidak bersalah."

"Heh-heh-heh, siapa yang akan melindungimu? Aku akan menghajarmu, siapa yang akan melarang? Di sini tidak ada hukum, hukumnya berada di dalam genggaman tanganku."

"Hemm, siapa bilang di sini tidak ada hukum?" Tiba-tiba terdengar suara keras dari ambang pintu dan muncullah tiga orang. Orang terdepan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, berperut gendut, mukanya putih bersih berbentuk bulat, wajahnya nampak gembira dan ramah, pakaiannya indah-indah, dan di pinggangnya tergantung sepasang tombak pendek bercagak. Di belakangnya masuk dua orang laki-laki berusia lima puluhan tahun, yang seorang pendek putih gendut, yang kedua tinggi besar hitam. Hanya tiga orang ini saja yang memasuki restoran, masih ada dua belas orang prajurit yang menanti di luar rumah makan itu.

Cui Hong yang tadi lebih dulu melihat tiga orang ini. Melihat orang pertama, diam-diam ia terkejut. Orang itu bukan lain adalah Koo Cai Sun! Dan dua orang kakek di belakangnya adalah Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang jagoan yang kini menjadi kepala pengawal di rumah gedung keluarga Pui. Seperti biasa, setiap kali melihat wanita cantik, sepasang mata Cai Sun mulai main dengan lirikan genit dan senyum penuh gaya. Dan dia pun langsung saja memperlihatkan kekuasaan dan pengaruhnya, juga hendak memamerkan "kebaikannya" kepada wanita cantik yang begitu dilihatnya membuat hatinya terguncang keras karena kagum itu.

Sementara itu, empat orang jagoan yang ternyata hanyalah jagoan-jagoan kecil yang banyak berkeliaran di kota-kota besar, begitu melihat masuknya Koo Cai Sun, menjadi terkejut dan seketika sikap mereka berubah. Bagi mereka Koo Cai Sun adalah seorang jagoan yang lebih besar, baik kedudukannya maupun kekuatannya.

"Aihh, kiranya Koo-enghiong yang datang!" kata Si Muka Bopeng. "Maafkan, kami sedang menegur seorang pemuda tani yang tidak tahu diri, berani hendak menentang kami berempat."

Koo Cai Sun melirik ke arah Cui Hong dan kemudian mengangkat muka memandang pemuda berpakaian kuning itu. "Siapakah kamu dan apa yang telah terjadi di sini?" tanyanya. Sikapnya demikian angkuh seolah-olah ia berpangkat hakim yang berwenang untuk memeriksa seseorang!

Pemuda itu menjura dengan sikap hormat, mengira bahwa penanya itu tentulah seorang pembesar. "Saya bernama Tan Siong. Ketika saya sedang makan di sini, saya melihat empat orang saudara ini mengganggu Nona di sana itu. Saya lalu menegur untuk menasihati mereka, akan tetapi mereka malah marah dan hendak memukul saya, bahkan membalikkan meja saya."

Koo Cai Sun kembali melirik ke arah Cui Hong dan dia lalu bertolak pinggang menghadapi Si Muka Bopeng. "Hem, bagus sekali perbuatan kalian, ya? Berani mengganggu seorang gadis di tempat umum! Apa kalian kira di sini tidak ada hukum? Selama aku di sini, kalian tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Hayo cepat kalian minta maaf kepada Nona itu!"

Si Muka Bopeng dan teman-temannya saling pandang dengan bingung. Mereka cukup mengenali Cai Sun, seorang yang paling suka kepada perempuan cantik dan sering pula mempergunakan kepandaian dan uangnya untuk memaksa perempuan cantik yang dikehendakinya. Akan tetapi kini ia bersikap sebagai seorang satria yang hendak melindungi seorang perempuan. Namun Si Muka Bopeng itu agaknya mengerti. Tentu Cai Sun hendak mencari muka kepada gadis cantik itu, pikirnya! Dia dan kawan-kawannya tidak berani membantah. Keempatnya lalu menghampiri Cui Hong, menjura, dan Si Muka Bopeng berkata, "Harap Nona suka memaafkan kelancangan kami tadi."

Akan tetapi Cui Hong hanya mengangguk dan ia pun sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari rumah makan itu. Hatinya sendiri terlalu tegang berhadapan dengan Cai Sun, seorang di antara musuh-musuh besarnya, bahkan merupakan orang kedua sesudah Pui Ki Cong yang paling hebat menghinanya tujuh tahun yang lalu. Maka, ia tidak mau mengeluarkan suara, takut kalau-kalau suaranya akan terdengar gemetar saking menahan kemarahan dan kebenciannya.

"Kalian harus mengganti semua kerusakan di sini!" kata Cai Sun dengan suara keras, dengan maksud agar terdengar oleh Cui Hong yang meninggalkan tempat itu.

Pemuda berpakaian kuning itu lalu menjura kepada Cai Sun dan berkata, "Terima kasih atas kebijaksanaan Tuan." Cai Sun hanya mengangguk. Memang tidak ada sedikit pun maksudnya untuk menolong atau membela pemuda tani itu. Andaikata di situ tadi tidak ada gadis cantik itu, agaknya ia pun tidak akan peduli apakah pemuda tani ini akan dihajar setengah mati ataukah dibunuh sekalipun! Pemuda itu pun cepat meninggalkan rumah makan setelah membayar harga makanan.

Cai Sun memang datang ke rumah makan itu untuk menjamu Cia Kok Han dan Su Lok Bu, dua orang rekan barunya yang dianggap cukup kuat untuk membantunya menghadapi Kim Cui Hong. Dia sudah membuktikan sendiri betapa hebatnya kepandaian dua orang ini; tingkat mereka bahkan lebih tinggi daripada tingkatnya. Dengan adanya kedua jago ini, dia sama sekali tidak takut akan ancaman gadis putri Kim-kauwsu itu. Kalau saja di situ tidak ada dua orang kakek jagoan ini, tentu dia membayangi gadis cantik tadi untuk dirayunya karena dia sudah tergila-gila kepada gadis yang cantik manis tadi. Akan tetapi setidaknya dia telah berdaya dan gadis itu tentu berterima kasih kepadanya, pikirnya. Tentu sudah ada kesan baik dalam hati gadis itu mengenai dirinya, dan kalau lain kali dapat bertemu kembali, hemm, tidak akan sukar menundukkannya!

"Nona, mari ikut bersamaku, cepat!"

Cui Hong menoleh dan melihat bahwa pemuda berpakaian kuning tadi telah berjalan dengan cepat mengejarnya dan memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya. Tentu saja ia merasa heran, bahkan ada perasaan kecewa menyelubungi hatinya. Apakah pemuda ini, yang tadi sempat menarik perhatiannya dan membangkitkan rasa kagumnya, pada kenyataannya hanyalah seorang laki-laki biasa saja seperti yang lain-lainnya dan selalu menyembunyikan pamrih di balik semua sikap dan perbuatannya terhadap seorang wanita? Seorang pemuda yang mempergunakan kehalusan sikapnya untuk memikat seorang gadis, dan kini, setelah merasa bahwa dia tadi melindungi dan membelanya, pemuda itu lalu memperlihatkan watak yang sesungguhnya dan mengajaknya ikut ke rumahnya untuk meminta imbalan jasa? Akan tetapi, pandangan mata pemuda itu demikian serius, sedikit pun tidak nampak maksud kurang ajar. Dan karena memang ingin sekali tahu dan mengenal pemuda ini lebih mendalam untuk mengetahui apakah benar pemuda ini seorang laki-laki yang patut dikagumi, Cui Hong tidak banyak berpikir lagi dan segera mengangguk serta mengikuti pemuda itu.

"Cepat, ke sini...!" Berkali-kali pemuda itu berseru dan nampak tergesa-gesa mengajak Cui Hong keluar masuk lorong sempit di antara rumah-rumah di dalam kota raja itu. Akhirnya, dengan mengambil jalan melalui lorong-lorong sempit, mereka tiba di ujung selatan kota raja dan pemuda itu mengajaknya untuk memasuki sebuah kuil tua yang nampaknya sudah tidak terpakai lagi. Di depan kuil itu nampak beberapa orang gelandangan berteduh. Mereka adalah para tunawisma yang mempergunakan kuil tua itu sebagai tempat berteduh. Agaknya pemuda itu sudah biasa memasuki kuil tua itu sehingga para pengemis itu tidak ada yang memperhatikannya, walaupun ada beberapa orang yang menoleh dan memandang heran melihat betapa pemuda itu datang bersama gadis sedemikian cantiknya. Cui Hong merasa semakin heran dan hatinya tambah tertarik. Dengan hati yang agak tenang dan menduga-duga, ia pun terus mengikuti pemuda itu masuk ke kuil rusak yang sudah tua itu dan akhirnya pemuda yang mengaku bernama Tan Siong itu berhenti di ruangan belakang yang biarpun sudah rusak dan tidak terawat, namun lantainya sudah dibersihkan. Di situ tidak terdapat orang lain kecuali mereka berdua.

"Nah, di sini kita aman sudah," kata Tan Siong sambil menarik napas panjang, wajahnya yang tadi serius nampak lega. Kembali timbul kecurigaan di dalam hati Cui Hong. Benarkah kekhawatirannya tadi bahwa pemuda ini bermaksud kurang ajar terhadap dirinya?

"Apakah artinya semua ini? Apa maksudmu mengajak aku pergi ke sini dengan tergesa-gesa seperti menyembunyikan diri?" Cui Hong bertanya sambil menatap tajam. Pemuda itu balas memandang dan kembali, seperti terjadi di dalam rumah makan tadi pada saat mereka bertemu pandang untuk pertama kali, dua pasang mata itu bertaut dan sampai lama mereka saling pandang, seolah-olah dua pasang mata itu saling menjajaki dan sinarnya saling melekat, sukar dipisahkan lagi. Akhirnya pemuda itu yang menundukkan sinar matanya karena dia harus menjelaskan tindakannya yang agaknya menimbulkan keheranan dan kecurigaan wanita itu.

"Maafkan aku, Nona, tadinya aku tidak sempat menjelaskan, dan terima kasih bahwa engkau begitu percaya kepadaku dan memenuhi permintaanku tanpa ragu-ragu."

Lega rasa hati Cui Hong. Bukan begini sikap seorang pria yang hendak berbuat kurang ajar, pikirnya. Ia tersenyum dan kembali pemuda itu terpesona. Biarpun usianya sudah tiga puluh tahun, namun selama hidupnya, rasanya baru sekali ini dia melihat senyuman yang demikian manis, demikian menyentuh perasaannya.

"Tidak ada maaf dan tidak perlu berterima kasih. Yang penting jelaskan apa maksudnya engkau mengajak aku bersembunyi di sini."

"Nona, sungguh aku merasa kagum dan heran sekali melihat betapa dalam keadaan terancam bahaya tadi, Nona bersikap demikian tenangnya, bahkan sampai sekarang engkau seperti tidak merasa bahwa dirimu terancam bahaya. Empat orang tadi, apakah engkau kira akan mau sudah begitu saja, Nona? Mereka tentu akan mencari dan mengejarmu, dan karena itulah, sebelum mereka keluar dari rumah makan, aku cepat mengejarmu dan mengajakmu pergi bersembunyi, dan di tempat ini mereka tentu tidak akan menemukanmu."

Hampir Cui Hong tertawa geli. Pemuda ini terlalu khawatir, padahal pemuda ini sendiri tadi demikian tabah menghadapi empat orang itu walaupun dia tidak pandai ilmu silat sedikit pun. Kenapa pemuda ini tidak mengkhawatirkan diri sendiri, sebaliknya amat mengkhawatirkan dirinya?

"Tapi, bukankah tadi muncul orang yang mereka takuti?"

"Aih, Nona, apakah Nona tidak dapat menduga? Orang gendut tadi jelas memiliki kedudukan atau kekuasaan yang lebih tinggi daripada empat orang itu, dan dengan adanya orang tadi, Si Muka Bopeng tidak berani mengganggumu. Akan tetapi, jelas bahwa di antara mereka ada hubungan, buktinya Si Muka Bopeng demikian menghormat, dan aku melihat bahwa Si Gendut yang baru datang tadi lebih jahat dan berbahaya lagi bagi dirimu."

"Ehhh...?" Cui Hong benar terkejut. Pemuda ini memang dapat menduga dengan amat cepatnya! Tentu saja Koo Cai Sun jauh lebih berbahaya daripada empat orang bajingan kecil tadi. "Bagaimana kau bisa tahu bahwa orang yang baru datang tadi lebih jahat dan berbahaya? Apakah engkau mengenalnya?"

Tan Siong menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengenalnya, Nona, akan tetapi siapa pun dapat melihat bahwa dia mempunyai niat buruk di dalam benaknya terhadap dirimu ketika dia melirik ke arahmu, Nona. Dan melihat senjata di pinggangnya itu... hemm, aku sungguh khawatir terhadap keselamatanmu, maka aku segera menyusul dan mengajakmu lari bersembunyi ke sini." Ketika menyadari bahwa sejak tadi mereka hanya bercakap-cakap sambil berdiri saja, Tan Siong lalu cepat mempersilakan Cui Hong duduk.

"Silakan duduk, Nona. Akan tetapi maaf, tidak ada tempat duduk yang layak di sini. Lantainya sudah kubersihkan dan kita hanya dapat duduk di atas lantai."

Cui Hong mengangguk dan melihat pemuda itu duduk, ia pun duduk bersimpuh di atas lantai dan memandang ke kanan kiri. "Tempat ini adalah sebuah kuil tua yang tidak dipakai lagi. Mengapa engkau tinggal di tempat ini? Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau seorang petani dari luar kota?"

Tan Siong menarik napas panjang. "Benar, Nona. Namaku Tan Siong dan pekerjaanku selama ini hanya bertani, dan bertahun-tahun aku tinggal di pegunungan yang sunyi. Aku datang ke kota raja ini karena hendak mencari seorang Pamanku. Karena belum berhasil, untuk menghemat biaya karena bekalku tidak banyak, aku mengambil keputusan untuk melewatkan malam di tempat ini. Dan, kalau boleh aku mengetahui, siapakah namamu, Nona, dan di mana engkau tinggal?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment