Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 37

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 37

"Na maku..." Cui Hong teringat bahwa ia harus menyembunyikan rahasianya, maka disambungnya cepat, "Cin Hwa, *she Ok*, dan aku.... aku pun sebatangkara di kota raja ini. Aku seorang yatim piatu."

Tan Siong memandang dengan penuh selidik dan alis berkerut, agaknya dia merasa heran karena melihat betapa pakaian gadis itu cukup indah dan mahal, dan betapa seorang yang demikian cantik jelita hidup seorang diri saja di dunia ini! "Tapi.... tapi kau.... benar-benar hidup sendirian saja, Nona?" tanyanya, seperti tidak percaya.

Cui Hong maklum bahwa tentu pemuda itu heran melihat pakaiannya yang indah dan mahal. "Aku memang hidup sendirian saja, akan tetapi aku menerima peninggalan warisan yang cukup banyak dari orang tuaku. Untuk kehidupanku, aku tidak khawatir, dan aku suka sekali pesiar." Ia merasa bahwa ia telah bicara terlampau banyak, maka ia pun bangkit berdiri. "Sudahlah, Saudara Tan Siong, aku harus pergi sekarang dan terima kasih atas semua kebaikanmu terhadap diriku."

Tan Siong juga ikut bangkit. "Tapi, Nona Ok Cin Hwa..."

"Alangkah berbahayanya kalau engkau keluar dari sini. Bagaimana kalau sampai bertemu dengan mereka berempat yang tentu masih penasaran dan sedang mencarimu?" Cui Hong tersenyum manis. "Aku tidak takut. Bukankah selama ini aku pun merantau seorang diri dan selalu selamat? Aku tidak khawatir, karena bukankah seperti kaukatakan tadi, di kota raja ini terdapat hukum yang melindungi orang-orang yang tidak berdosa?"

"Benar, itu untuk diriku, Nona. Siapa yang akan mengganggu aku dan untuk apa mengganggu aku, seorang laki-laki yang tidak punya apa-apa. Akan tetapi engkau! Engkau begini. Ah, keadaanmu."

Cui Hong memandang tajam dan senyumnya masih menghias bibirnya yang merah merekah bukan karena gincu.

"Begini..... apa, Saudara Tan Siong?" tanyanya mendesak. "Maaf engkau begini cantik jelita dan pakaianmu....

menunjukkan engkau memiliki uang. Keadaan dirimu dan pakaianmu itu saja sudah cukup untuk membangkitkan selera buruk dalam hati orang-orang jahat."

Untuk ketiga kalinya Cui Hong merasa heran terhadap hatinya sendiri. Kenapa hatinya begini girang, sampai berdebar mendengar pemuda tani ini mengatakan bahwa ia cantik jelita? Padahal biasanya, kalau ada laki-laki yang berani memujinya, memuji kecantikannya di depannya, ia akan merasa sebal dan marah. Mengapa demikian? Apakah karena laki-laki lain memuji untuk merayu dan untuk kurang ajar, sedangkan pemuda ini memuji dengan sinar mata jujur dan untuk memperingatkannya akan bahaya yang mengancamnya karena kecantikannya? Entahlah, akan tetapi yang jelas, ia merasa senang sekali mendengar pemuda itu mengatakan ia cantik jelita!

"Jangan khawatir, Saudara Tan. Aku melihat bahwa di kota raja ini pusat wanita-wanita cantik dengan pakaian-pakaian mereka yang serba indah. Apakah mereka semua itu pun takut untuk keluar rumah? Tak mungkin kiranya empat orang itu hanya mengejar-ngejar aku seorang saja. Nah, selamat tinggal dan sampai berjumpa lagi!" Berkata demikian, Cui Hong lalu meninggalkan ruangan belakang kuil itu.

"Nanti dulu, Nona Ok....!" Tan Siong mengejar dan berjalan di samping Cui Hong. "Biar aku mengantar Nona sampai ke tempat tinggalmu."

"Ah, tidak perlu, Saudara Tan, tidak perlu," kata Cui Hong yang khawatir kalau orang ini mengetahui tempat ia bermalam. Dengan uangnya ia telah menyewa sebuah rumah gedung kecil di pinggir kota, tempat yang dipergunakannya untuk beroperasi dan berusaha membalas dendam terhadap musuh-musuhnya. Ia akan merasa tidak enak kalau sampai ada orang yang mengetahui tempat tinggalnya.

"Baiklah, Nona Ok. Setidaknya aku akan merasa lega dan aman kalau engkau sudah tiba di tempat tinggalmu. Di manakah engkau tinggal?"

"Di.... di rumah penginapan." Terpaksa Cui Hong berkata membohong dan ia pun mendapatkan akal. Kalau ia menolak terus, tentu akan menimbulkan kecurigaan pemuda ini, dan pula rasanya ia pun segan untuk berpisah begitu saja. Ingin ia berada lebih lama dekat dengan pemuda ini dan bercakap-cakap.

Mereka lalu berjalan ke luar dari kuil. Matahari sudah condong ke barat dan sambil berjalan, mereka bercakap-cakap. Percakapan kecil saja, hanya omong-omong dan ngobrol tentang hal-hal remeh untuk mengisi kesunyian, akan tetapi sungguh aneh, Cui Hong merasa gembira bukan main karena belum pernah ia mengalami keakraban seperti dengan pemuda yang baru saja dikenalnya ini.

Diam-diam, ketika bercakap-cakap, ia melirik dan mengamati wajah pemuda itu penuh perhatian. Seorang pemuda yang ganteng, menarik, jujur, sopan, dan memiliki keberanian yang mengagumkan. Kesopanan dan keberanian itu wajar, sesuai dengan kejujurannya, tidak berpura-pura atau menyembunyikan pamrih apa pun. Seorang pemuda yang belum tentu dapat ditemukan di antara seribu orang pemuda lain, pikirnya.

Setelah tiba di depan sebuah penginapan, Cui Hong berkata, "Di sinilah untuk sementara aku menginap, Tan-toa-ko (Kakak Tan). Terima kasih engkau telah mengantarku sampai di sini."

Wajah pemuda itu nampak berseri mendengar Cui Hong menyebutnya kakak, sebutan yang lebih akrab daripada sebutan saudara. "Baiklah, aku pergi sekarang, Hwa-mo i (Adik Hwa). Harap kau suka berhati-hati menjaga diri. Ingat, di kota raja ini banyak terdapat orang jahat."

"Terima kasih, Toako. Sampai berjumpa kembali." "Tapi. tapi.... dapatkah kita berjumpa kembali?"

"Mengapa tidak? Kita sudah saling mengenal, bukan? Dan selama kita berada di kota raja, tentu saja besar kemungkinan kita akan saling jumpa."

"Mudah-mudahan begitu. Selamat tinggal, Hwa-moi." Pemuda itu lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dengan langkah cepat dari situ. Cui Hong mengikutinya dengan pandang matanya. Seorang pemuda yang amat baik, pikirnya, dan selalu menjaga kesopanan. Kalau tidak demikian, tentu setelah tiba di depan rumah penginapan ini, Tan Siong akan berusaha mengikutinya sampai ke kamarnya. Tentu saja ia tidak tinggal di rumah penginapan ini dan setelah bayangan Tan Siong tidak nampak, ia menyelinap ke samping rumah penginapan itu dan mengambil jalan lain untuk kembali ke rumah yang disewanya, yang berada di satu jalan dengan rumah penginapan itu.

-odwo-

Koo Cai Sun merasa tersiksa batinnya setelah dia tinggal di dalam gedung Pui Ki Cong bersama keluarganya. Memang, gedung itu besar dan megah, jauh lebih mewah daripada rumahnya sendiri, dari situ terjaga ketat oleh para pengawal, juga merasa aman karena adanya dua orang jagoan yang tangguh. Tetapi perasaan aman dan tenteram ini hanya dinikmatinya di waktu malam. Dia dapat tidur nyenyak, tidak khawatir lagi akan kedatangan musuh besar yang ditakutinya. Cai Sun adalah orang yang suka keluyuran, suka mencari kesenangan di luar rumah. Setelah beberapa belas hari lamanya dia tinggal terkurung saja di dalam rumah, akhirnya dia tidak kuat, merasa seperti di dalam rumah tahanan saja. Dia rindu untuk mengunjungi rumah-rumah pelesiran, rindu untuk mencari wanita-wanita baru yang akan dapat menghibur hatinya yang selalu haus akan kesenangan itu.

Dan ternyata bahwa bayangan musuh itu sama sekali tidak pernah muncul! Juga setelah beberapa kali dia pada siang hari keluar rumah bersama Cia Kok Han dan Su Lok Bu. Tak pernah dia mengalami gangguan dari Kim Cui Hong. Hal ini membuatnya berbesar hati dan mulailah dia berani keluar dari rumah gedung itu di waktu siang. Dia berpendapat bahwa Kim Cui Hong tentu hanya berani turun tangan di waktu malam saja, hanya berani bertindak secara sembunyi. Kalau terang-terangan di waktu siang tentu wanita itu tidak berani karena pertama, dia sendiri memiliki kepandaian cukup untuk melawannya dan kedua, di waktu siang hari wanita itu tentu akan dikenal orang dan di kota raja terdapat banyak penjaga keamanan yang telah dikenalnya. Kalau di waktu siang dia berkelahi dengan seorang wanita asing, tentu banyak orang akan membantunya. Jelaslah bahwa Kim Cui Hong tidak akan berani menyerangnya di waktu siang di tempat umum yang ramai.

Dengan pikiran seperti itu, Cai Sun mulai berani keluar dari gedung untuk berjalan-jalan dan tak lama kemudian, dia pun mulai berani keluar mengunjungi rumah-rumah pelesiran untuk bersenang-senang dengan pelacur-pelacur baru. Dan pada suatu hari, setelah matahari naik tinggi, pergilah Cai Sun keluar dari gedung seorang diri saja, tidak ditemani Cia Kok Han, Su Lok Bu atau seorang pun pengawal. Dengan santai ia melangkah keluar dan berjalan-jalan menuju ke pasar.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh seorang wanita muda yang memakai pakaian merah muda, pakaian yang cukup indah dan mewah berjalan seorang diri di depannya. Melihat lenggang yang memikat dari belakang, pinggul yang seperti menari-nari di balik celana sutera tipis, tergeraklah hati Cai Sun yang mata keranjang. Dia tidak ingat lagi dari mana wanita itu tadi muncul, karena tahu-tahu sudah berjalan di sebelah depan, dengan lenggang yang nampak dari celah-celah rambut yang hitam itu amat putih mulus dan timbul keinginan hati Cai Sun untuk melihat bagaimana wajah perempuan itu. Dari belakang memang amat menggairahkan, dengan bentuk tubuh yang ramping dan padat, dengan lekuk lengkung tubuh yang matang, akan tetapi hatinya belum puas kalau belum melihat bagaimana wajahnya. Betapa pun indah tubuh dan kulit seseorang, kalau tidak disertai wajah yang cantik, maka wanita itu tidak akan dapat menarik hati pria, terutama pria mata keranjang seperti Cai Sun. Dia pun mempercepat langkahnya dengan hati berdebar penuh kegembiraan. Sebentar saja Cai Sun dapat menyusul wanita itu dan dia lewat di sebelah kanannya, mendahului dan sengaja melepas batuk. Wanita itu terkejut dan menoleh ke kanan. Mereka saling bertemu pandang dan Cai Sun merasa jantungnya seperti akan copot. Wanita itu cantik jelita dan manis sekali! Dan yang lebih daripada itu, dia mengenal wanita itu sebagai gadis yang pernah menimbulkan keributan di dalam rumah makan beberapa hari yang lalu! Selama itu, dia tidak pernah dapat melupakan gadis itu. Sudah dicobanya untuk bertanya-tanya para pelayan rumah makan, sudah diusahakannya untuk mencari, namun dia tak pernah berhasil. Dan sekarang, tanpa disangka-sangka, dia bertemu dengan gadis cantik menarik itu. Juga wanita itu nampak kaget, lalu tersipu-sipu malu.

"Ah, kiranya engkau, Nona...!" Kata Cai Sun dengan sikap ramah dan segera ia memasang aksinya, tersenyum-senyum dan mencoba untuk memperlebar matanya yang sipit dan kecil seperti mata babi itu. Memang wajah Cai Sun yang bulat dan gemuk itu mirip wajah seekor babi.

"Ah, In-kong (Tuan Penolong)!" Wanita itu berseru dengan suara tertahan sehingga terdengar merdu sekali, lalu ia menundukkan mukanya yang berubah merah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment