Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 39

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 39

Cai Sun tertawa. "Ia adalah sahabatku yang baru, Toako, namanya Ok Cui Hwa, seorang janda kembang."

Su Lok Bu mengerutkan alisnya dan memandang kepada rekannya itu. "Koo-siauwte, engkau terlalu sembrono, pergi seorang diri sampai di bagian yang sepi ini. Seorang pengawal melihatmu dan memberi laporan kepada Pui Kongcu yang mengutus aku untuk segera menyusulmu. Engkau membuat pekerjaan kami menjadi repot saja, Koo-siauwte."

"Maaf, maaf! Dalam bersenang-senang aku sampai lupa diri, Toako. Akan tetapi, di rumah Hwa-moi ini aku aman, harap jangan khawatir dan laporkan saja kepada Pui-kongcu bahwa aku sedang bersenang-senang di dalam rumah sahabat baruku."

"Tidak, Koo-te, engkau harus kembali, demikianlah perintah Pui-kongcu," bantah Su Lok Bu dengan suara tegas.

Cai Sun ragu-ragu untuk membantah lagi. Dia tahu bahwa di dalam keluarga Pui, dia masih kalah berkuasa dibandingkan orang tinggi besar ini, dan pula, dia tahu bahwa kepandaiannya pun masih belum mampu menandingi kepandaian Su Lok Bu.

"Akan tetapi... mengapa aku tidak boleh bersenang-senang?"

"Tidak ada yang melarangmu bersenang-senang, akan tetapi tidak boleh meninggalkan gedung keluarga Pui terlalu jauh. Kenapa tidak kau bawa saja sahabatmu ini ke sana?" Wajah Cai Sun nampak berseri. "Ya, kenapa tidak demikian? Hwa-moi, mari ikut dengan aku ke gedung keluarga Pui, engkau akan senang di sana!"

"Eh, kenapa, Hwa-moi? Bukankah kita telah bersahabat baik? Aku ingin menyenangkan hatimu, percayalah, di sana engkau akan gembira sekali. Rumahnya indah dan mewah, tidak seperti di sini."

"Terima kasih, akan tetapi, aku malu... apa akan kata orang."

Melihat penolakan itu, Cai Sun menjadi kecewa dan marah. Kesenangan yang sudah dibayangkan sejak tadi, akan gagal. Seolah-olah makanan lezat yang sudah berada di depan bibir, kini akan terlepas. Tentu saja dia tidak rela melepaskannya.

"Hwa-moi, engkau tidak boleh menolak lagi. Engkau harus ikut denganku. Harus kubilang tadi, mengerti?" berkata demikian, Cai Sun hendak menangkap lengan tangan Cui Hong, akan tetapi wanita itu sudah melangkah mundur sehingga tangkapannya tadi luput.

"Hemm, lagi-lagi ada laki-laki hendak memaksakan kehendaknya kepada seorang wanita baik-baik! Apakah di kota raja ini seperti di dalam hutan rimba?" Ucapan itu mengejutkan semua orang dan mereka menoleh ke luar. Kiranya dari luar muncul seorang pemuda yang memandang kepada Cai Sun dengan alis berkerut dan pandang mata marah. Melihat pemuda itu, Cui Hong terkejut sekali.

"Tan-toako, harap jangan mencampuri..." Ia khawatir sekali karena ia tahu betapa lihainya Cai Sun, apalagi di situ terdapat pasukan pengawal yang dipimpin oleh Su Lok Bu yang ia sudah dengar memiliki kepandaian tinggi itu. Sekali ini Tan Siong tentu akan celaka.

"Biarlah, Hwa-moi. Siapa pun akan kuhadapi kalau ia berani mengganggu dan menghina mu!" kata Tan Siong dengan sikap tenang dan tabah sekali.

Sementara itu, ketika melihat bahwa pemuda yang muncul ini adalah pemuda petani yang pernah ribut di dalam rumah makan menghadapi empat orang pria yang mengganggu wanita itu, bangkitlah kemarahannya dan sekali loncat, Cai Sun sudah berada di depan pemuda itu.

"Petani dusun busuk! Mau apa kau? Apakah sudah bosan hidup? Hayo menggelinding pergi!" Berkata demikian, tangan kanannya menampar. Tamparan yang kuat sekali karena dia sengaja mengerahkan tenaga dan kalau pemuda tani itu terkena tamparan tadi yang mengarah kepalanya, tentu dia akan roboh dan mungkin akan terluka berat atau bahkan tewas. Cui Hong terkejut bukan main dan ia sudah siap untuk melindungi Tan Siong ketika tiba-tiba ia melihat hal yang luar biasa, hal yang terjadi di luar dugaan sama sekali. Dengan gerakan yang amat lincah dan ringan, dan dengan amat mudahnya, Tan Siong telah menggeser kakinya dan mengelak!

"Sudah mengganggu wanita baik-baik masih memukul orang tanpa dosa lagi. Wah, sungguh jahat sekali kau ini!" kata Tan Siong, menudingkan telunjuknya ke arah hidung Cai Sun yang bentuknya merupakan ciri khas hidung laki-laki mata keranjang.

Melihat betapa tamparannya dapat dielakkan oleh pemuda tani itu, Cai Sun menjadi marah bukan main. "Jahanam busuk, engkau sudah bosan hidup!" Dan dia pun menerjang maju, sekali ini bukan sekedar tamparan saja, melainkan serangan dengan jurus ilmu silatnya yang ampuh. Dengan gerakan yang cepat walaupun tubuhnya bundar dengan perut gendut, dia mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah ulu hati lawan, sedangkan pukulan ini disusul dengan tendangan kaki kirinya mengarah selangkangan. Hebat serangan ini karena merupakan serangan dari Ilmu Silat Thian-te Sin-kun yang menjadi kebanggaannya. Sesuai dengan namanya, Ilmu Silat Thian-te Sin-kun mendasarkan gerakan kombinasi atas dan bawah dan dia menyerang dengan jurus Kilat Mengguncang Bumi Langit.

Senyum kagum membayang di bibir Cui Hong ketika dia melihat sikap Tan Siong menghadapi serangan itu. Kalau tadi ia masih khawatir dan juga terheran-heran, kini hatinya mulai merasa ten

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment