Chapter 46
Dalam hal kegemaran terhadap wanita, tingkat Pui Ki Cong tidak kalah oleh Koo Cai Sun. Maka, melihat sikap Cui Hong yang beberapa kali tersenyum dan melirik ke arahnya, dia pun menduga bahwa tidak akan sukar baginya untuk mendekati wanita ini. Sikap wanita ini menunjukkan bahwa ia memiliki perhatian terhadap dirinya. Dan Ki Cong percaya bahwa dalam segala hal, kecuali ilmu silat, dia memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pembantunya itu. Dia lebih muda beberapa tahun, juga dia lebih kaya, dengan kedudukan yang membuatnya menjadi seorang bangsawan. Dalam hal wajar, dia merasa yakin bahwa dia lebih tampan. Cai Sun mempunyai muka yang bulat dan bersih, pandai merayu, suka bergurau dan banyak tertawa, akan tetapi tidak dapat dibilang tampan atau gagah. Perutnya gendut dan tubuh yang kegemukan itu tentu tidak menarik hati wanita. Sebaliknya, dia berwajah tampan, jantan dan tubuhnya pun tidak gendut, bahkan agak tinggi. Jantungnya berdebar juga melihat kecantikan wanita bernama Ok Cin Hwa yang janda muda ini. Akan tetapi, melihat sikap yang akrab dari Cai Sun, dia mengerutkan alisnya dan ingin memperlihatkan kekuasaannya di atas pembantunya itu kepada Ok Cin Hwa.
"Koo Toako, bukan tempatnya kita bicara di luar. Mari, ajak Nona ini masuk ke dalam agar kita dapat bicara dengan tenang dan aman. Marilah, Nona Ok, silakan masuk ke dalam rumahku."
Cui Hong tersenyum manis, pertanda bahwa Pui Ki Cong mulai memperlihatkan sikap bersaing dengan Cai Sun, dan hal ini menandakan bahwa pancingannya berhasil. Ia telah berhasil menarik perhatian musuh utamanya itu! Sambil tersenyum manis, ia lalu bangkit. "Kiranya Kongcu yang menjadi tuan rumah? Koo-inkong, siapakah Kongcu ini dan mengapa saya diajak ke rumahnya ini?"
Diam-diam Cai Sun mendongkol juga.
Percakapan antara Ok Cin Hwa dan Pui Ki Cong itu dirasakannya seperti menyeretnya turun harga! "Marilah kita masuk dan kita bicara di dalam!" katanya singkat dan mereka pun masuk ke dalam gedung besar itu. Biarpun di dalam batinnya, Cui Hong sama sekali tidak tertarik akan kemewahan dan kekayaan berlimpah yang berada di dalam gedung, namun ia memaksa diri memperlihatkan kekaguman dan berkali-kali mengeluarkan seruan kagum sehingga Pui Ki Cong merasa girang dan bangga, sebaliknya Cai Sun semakin muram wajahnya. Dia teringat betapa harta kekayaannya habis ketika tokonya dibakar orang, dan dia dapat menduga bahwa pembakarnya tentulah musuh besar yang kini sedang ditakutinya.
Cui Hong diajak masuk ke ruangan dalam dan Cai Sun segera disuruh memanggil dua orang jagoan yang mengepalai pasukan pengawal keluarga Pui, yaitu Cia Kok Han dan Su Lok Bu. Melihat dua orang ini, diam-diam ada juga rasa khawatir di dalam hati Cui Hong. Dua orang ini lihai, kalau sampai rahasianya ketahuan, ia tentu akan celaka. Ia berada di dalam kepungan musuh-musuh yang lihai! Akan tetapi sikapnya tampak tenang-tenang saja, agak malu-malu seperti sikap seorang wanita yang berada di antara beberapa orang laki-laki asing.
Empat orang laki-laki itu kini duduk berhadapan dengan Cui Hong dan dengan suara tetap halus, dengan pandang mata berseri dan senyum menyeringai seperti biasa lagak Cai Sun terhadap wanita, Cai Sun berkata, "Adik Ok Cin Hwa, kami sengaja mengundangmu karena kami membutuhkan bantuanmu. Maukah engkau membantu kami?"
Cui Hong memandang dengan alis dikerutkan dan mulut tersenyum keheranan. "Ah, harap jangan main-main, Koo-inkong. Seorang seperti aku ini, dapat membantu apakah kepada Cuwi (Anda Sekalian)?"
"Nona, kami membutuhkan bantuanmu berupa keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya." Ki Cong berkata.
"Aih, kalau cuma keterangan yang sebenarnya, tentu saja saya mau melakukannya dengan segala senang hati, Kongcu." kata Cui Hong sambil mengarahkan pandang mata jeli dan mesra kepada Pui Ki Cong. Melihat ini, Cai Sun kembali merasa tak senang karena cemburu. Dia merasa mendapatkan saingan berat dalam diri Ki Cong terhadap wanita cantik ini.
"Adik Ok Cin Hwa, beliau ini adalah seorang pejabat tinggi, maka sepatutnya engkau menyebut Taijin (Pembesar) dan bukan Kongcu (Tuan Muda)." kata-kata Cai Sun ini membuat alis Ki Cong berkerut. Tadi ia sudah merasa girang karena sebutan kongcu itu berarti bahwa nona manis ini menganggapnya masih seorang muda! Padahal usianya sudah tidak muda lagi, hampir empat puluh tahun. Dan kini Cai Sun merusak "suasana" yang menyenangkan hatinya itu.
"Ah, maafkan saya, karena saya tidak tahu, Taijin!" kata Cui Hong sambil cepat menjura dengan hormat ke arah Ki Cong. Hal ini menghapus kekecewaan hati Ki Cong dan dengan sikap berwibawa dia menggerakkan tangan menyuruh wanita itu duduk kembali.
"Nona, kami sedang mencari dua orang dan kiranya hanya engkaulah yang dapat membantu kami dan menunjukkan di mana adanya dua orang itu." Ki Cong melanjutkan kata-katanya. "Yang seorang adalah laki-laki bernama Tan Siong itu, yang sering membelamu. Sedangkan yang kedua adalah seorang wanita yang muncul dengan muka berkedok dan mempunyai tahi lalat di dagunya. Nah, kami mengharapkan keterangan yang sejujurnya dan sebenarnya darimu. Di manakah kedua orang itu?"
CUI HONG mengangguk-angguk. "Saya akan memberikan keterangan yang sejujurnya, Taijin. Laki-laki yang bernama Tan Siong itu baru saja kenal ketika dia muncul di rumah makan itu dan melindungi saya dari gangguan beberapa orang laki-laki kurang ajar, bahkan kemudian muncul Koo-inkong ini yang menolong saya. Adapun wanita berkedok itu saya kenal ketika ia muncul di malam hari itu."
"Yang kami butuhkan adalah keterangan di mana adanya mereka?" desak pula Pui Ki Cong. Sejak tadi Cui Hong memutar otak mencari siasat terbaik demi keuntungannya.
"Sesungguhnya, saya tidak pernah mereka beritahu di mana mereka tinggal. Setahu saya, Tan Siong tadinya tinggal di dalam kuil tua itu, akan tetapi entah sekarang, saya sendiri tidak tahu, apalagi tempat tinggal wanita berkedok itu, saya tidak pernah diberi tahu."
Empat orang itu saling pandang. "Mengakulah saja kalau engkau tidak ingin kami paksa!" Tiba-tiba Su Lok Bu yang berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar itu menggertak. Cui Hong memperlihatkan wajah ketakutan dan melihat ini, Pui Ki Cong yang sudah mulai tertarik kepada wanita cantik ini cepat berkata.
"Kita tidak perlu menggunakan kekerasan, Su Enghiong!" Kemudian dia memandang wajah Cui Hong dan berkata ramah, "Aku percaya, Nona ini pasti akan dapat memberi petunjuk bagaimana kita akan dapat bertemu dengan kedua orang itu. Benarkah begitu, Nona? Kuharap saja kepercayaanku kepadamu takkan sia-sia belaka."
Cui Hong menggeser duduknya mendekat ke arah Pui Ki Cong yang duduk di sebelah kanannya sambil melirik ketakutan kepada Su Lok Bu. Kemudian, ia memandang Ki Cong dan berkata dengan merdu dan bernada sungguh-sungguh. "Taijin, seorang perempuan seperti saya ini, mana berani berbohong kepada Taijin? Saya berkata dengan sesungguhnya ketika mengatakan bahwa saya tidak tahu di mana mereka tinggal. Akan tetapi, seperti yang Taijin katakan tadi, kalau memang Taijin ingin bertemu dengan mereka atau seorang di antara mereka, agaknya saya dapat memberi petunjuk..."
"Ah, Nona manis!" Ki Cong berseru gembira sekali. "Itulah yang kuharapkan! Dapatkah engkau memberi petunjuk agar kami dapat bertemu dengan wanita berkedok itu?"
"Dapat, Taijin.... karena memang ia telah.... ah, akan tetapi ini rahasia! Kenapa sih Taijin ingin bertemu dengan wanita aneh yang selalu berkedok itu? Saya sendiri ngeri dan takut terhadap dirinya yang penuh rahasia."
Su Lok Bu sudah hendak menghardik lagi untuk memaksa wanita itu cepat bercerita di mana tempat sembunyi wanita berkedok, akan tetapi Ki Cong memberi tanda dan berkedip kepadanya sehingga jagoan ini terdiam. Kemudian Ki Cong berkata lagi kepada wanita itu, nada suaranya membujuk. "Ketahuilah, Nona Ok. Wanita berkedok itu dan laki-laki yang bernama Tan Siong, mereka adalah penjahat-penjahat kejam, pembunuh-pembunuh keji. Mereka sedang kami cari-cari untuk ditangkap dan dihukum karena kalau mereka tidak ditangkap, tentu mereka akan melakukan lebih banyak pembunuhan lagi atas diri orang-orang yang tidak berdosa. Nah, sekarang katakan bagaimana agar kami dapat menangkap mereka?"
"Ihhh....! Mengerikan! Memang saya sudah merasa takut terhadap mereka. Akan tetapi kalau saya membuka rahasia ini, tentu mereka akan marah kepada saya dan bagaimana kalau saya dibunuh?" Ia menggigil dan mukanya berubah pucat.
"Ha-ha, jangan takut, Adik manis. Di sini ada Kakanda Cai Sun yang akan melindungi!" kata Cai Sun, gembira bahwa ternyata dugaannya benar dan siasatnya berhasil baik karena wanita ini agaknya akan menjadi kunci pembuka tempat persembunyian dua orang musuh itu, terutama tempat persembunyian Kim Cui Hong yang mengancam nyawanya.
"Kami akan melindungimu!" kata Ki Cong tak mau kalah. "Nah, bagaimana kami dapat menangkap mereka?"
"Dalam pertemuan terakhir antara kami, wanita berkedok itu membawa saya lari ke sebuah pondok kecil di tengah hutan. Kemudian wanita itu berpesan bahwa kalau saya memerlukan bantuannya, saya disuruh ke pondok itu dan menanti sampai ia datang."
"Ah! Di mana pondok itu? Di hutan mana?" "Tapi..... tapi saya takut Taijin."
"Jangan takut, kami akan melindungimu. Katakan saja di mana pondok itu?"
"Di sebelah timur pintu gerbang kota, ada sebuah bukit sunyi dan pondok itu berada di tengah hutan, di lereng bukit itu. Hutan yang amat sunyi, penuh pohon cemara."
"Ah, di hutan cemara bukit itu?" Koo Cai Sun berseru, girang.
"Ya, sebuah pondok kosong di tengah hutan. Sunyi sekali. Saya..... saya takut untuk pergi ke sana, Taijin."
"Dan perempuan berkedok itu tinggal di sana?" kini Cia Kok Han yang bertanya.
Cui Hong menoleh dan beradu pandang dengan sepasang mata yang sipit sekali namun yang sinar matanya mencorong menakutkan.
"Saya tidak tahu, ia hanya mengatakan bahwa saya disuruh datang ke sana dan menunggu kedatangannya." "Apakah ia mengaku siapa namanya?" Koo Cai Sun ingin kepastian.
Cui Hong menggeleng kepala, "Ia hanya mengaku bahwa ia bermarga Kim."
Itu saja sudah cukup bagi Cai Sun dan Ki Cong. Kim Cui Hong, musuh besar mereka! Gadis putri guru silat Kim yang kini datang sebagai siluman yang hendak membalas dendam kepada mereka. Harus didahului sebelum mereka celaka di tangan siluman itu. Bergidik mereka mengingat akan nasib yang diderita Louw Ti.
"Biarkan Nona ini pergi ke sana malam ini. Kita mengepung tempat itu dan menyergapnya ketika ia memasuki pondok." kata Cia Kok Han dan rekannya, Su Lok Bu mengangguk menyetujui.
"Ah, ah..... saya tidak berani....." Cui Hong berkata seperti mau menangis dan wajahnya menjadi pucat. "Ia tentu akan membunuhku, setelah tahu aku mengkhianatinya tidak, saya tidak berani!" "Mau atau tidak, engkau harus membantu kami agar kami dapat menangkapnya!" kata pula Cia Kok Han tegas.
"Ahh..... tapi apakah tidak dapat diambil jalan lain yang lebih tepat? Ia bukan seorang bodoh, tentu ia akan menaruh curiga dan kalau sudah begitu, selain Cuwi (Anda Sekalian) tak dapat menangkapnya karena ia tidak akan muncul, juga saya pasti akan dibunuhnya. Lalu apa artinya segala jerih payah ini?"
"Adik yang manis, apakah engkau mempunyai siasat lain yang lebih baik?" Cai Sun bertanya karena kata-kata gadis itu memang masuk akal. Kalau sampai gagal, dan wanita itu terbunuh secara sia-sia, sungguh sayang sekali.
"Ia harus dapat dipancing dengan umpan yang menarik tanpa menimbulkan kecurigaan padanya. Kalau saja Cuwi mengetahui apa yang menjadi keinginan hatinya yang paling besar, yang akan memaksanya keluar dari tempat persembunyiannya dan datang ke pondok itu."
"Hemm, keinginannya yang paling besar adalah membunuh kami....." Cai Sun terlanjur bicara dan isyarat dari Ki Cong sia-sia saja.
Pui Ki Cong menarik napas panjang. "Karena Koo Toako sudah terlanjur mengatakan kepada mu, Nona, biarlah kuceritakan saja dengan terus terang. Kami sudah percaya kepadamu dan kami mengharapkan bantuan untuk menangkap siluman betina yang amat jahat ini. Ia telah mengancam untuk membunuh aku dan Koo Toako ini."
"Ihhh.....! Jahatnya....!" Cui Hong berseru dengan wajah kaget dan ngeri, memandang bergantian kepada Ki Cong dan Cai Sun, seolah-olah tidak percaya bahwa dua orang yang demikian baiknya akan dibunuh orang.