Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 47

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 47

"Memang siluman itu jahat sekali, karena itu kami akan menangkap atau membunuhnya," kata Pui Ki Cong.

"Kalau begitu, Jiwi saja yang datang ke pondok itu, tentu ia akan muncul! Sementara itu, dipersiapkan orang-orang untuk mengepung dan menangkapnya," kata Cui Hong memberi saran.

"Ah, itu berbahaya sekali!" kata Cai Sun, bergidik membayangkan betapa dia dan Ki Cong berada di pondok sunyi dalam hutan kemudian muncul musuh besarnya itu!

"Heh, engkau takut? Bukankah ada kami dan pasukan yang telah mengepung pondok itu?" Su Lok Bu mencela.

"Sejak kapan Koo Cai Sun yang terkenal itu menjadi seorang penakut?" Cia Kok Han juga mengejek.

Koo Cai Sun merasa disudutkan. Dia tidak mampu mengelak lagi, dan teringat bahwa yang diusulkan oleh Ok Cin Hwa adalah dia dan Ki Cong. Kalau ada Ki Cong, tentu akan berkurang rasa takutnya. "Aku tidak takut, hanya aku khawatir Pui-kongcu yang tidak berani bersama aku pergi ke pondok itu." Berkata demikian, Cai Sun memandang Ki Cong sambil menyeringai.

Pui Ki Cong mengerutkan alisnya. Dia memang menghendaki dengan sangat agar musuh besar yang berbahaya itu secepat mungkin dapat terbunuh agar dia dapat tidur dengan nyenyak, akan tetapi kalau dia harus ke tempat berbahaya itu, sungguh membuat dia merasa ngeri.

"Hemm, perlukah aku ke sana sendiri? Tidak cukup engkau saja, Koo-toako? Dengan engkau menjadi umpan, sudah cukup untuk memancing ia datang, atau setidaknya laki-laki she Tan itu," ujarnya ragu.

"Aih, Kongcu. Kita takut apa? Selain ada kita berdua, masih ada lagi Cia dan Su-enghiong, dan kalau kita siapkan seratus orang prajurit mengepung tempat itu, membuat barisan pendam, apa yang akan dapat dilakukan oleh siluman itu? Sebelum ia sempat menyerang kita berdua, tentu ia sudah lebih dulu disergap dan mampus! Selain itu perlu apa takut kalau di samping kita ada nona yang begini manis dan hangat?" Berkata demikian, dengan ceriwis sekali tangan kiri Cai Sun mengelus pipi Cui Hong. Wanita ini pura-pura malu dan mengerling tajam ke arah Ki Cong, menepiskan tangan Cai Sun dengan berkata,

"Ihhh... Koo-inkong harap jangan nakal...!" Dan ia tersenyum dan mengerling dengan daya tarik yang amat kuat ke arah Ki Cong, membuat orang mata keranjang ini menelan ludah. Di dalam pondok bersama wanita cantik ini! Menarik sekali, dan pula, kalau ada pasukan seratus orang yang dipimpin oleh dua orang pembantunya yang lihai, memang tidak ada yang perlu ditakuti. Pula, Cai Sun di sampingnya juga merupakan seorang pengawal yang cukup tangguh.

"Baiklah, aku akan ikut ke sana. Kita semua harus bekerja sama untuk dapat membekuk siluman itu secepatnya!" Akhirnya dia mengambil keputusan setelah melihat betapa mata kiri Cui Hong berkedip lembut memberi isyarat kepadanya yang hanya dapat dilihatnya sendiri! Kedipan mata yang merupakan janji itu, dan suara Cai Sun terdengar gemetar.

Cai Sun mengangkat kedua pundaknya dan menoleh kepada Ok Cin Hwa. "Bagaimana pendapatmu, Adik manis? Akan berhasilkah pancingan kita ini?" Suaranya lirih sekali seolah-olah dia takut kalau-kalau suaranya akan terdengar musuh.

"Saya tidak tahu, akan tetapi mudah-mudahan berhasil. Ia hanya mengatakan bahwa kalau saya perlu sesuatu darinya, saya disuruh datang ke sini dan menanti, tentu ia akan datang."

"Bagaimana kalau ia tiba-tiba muncul di dalam pondok ini, Toako?" Ki Cong bertanya dan jelas nampak betapa dia menggigil ketakutan.

"Ha-ha-ha!" Cai Sun tertawa, walaupun dia menahan suara ketawanya agar jangan terdengar terlalu keras. "Bagaimana mungkin? Sebelum ia tiba di pintu, ia akan disergap seratus orang! Kita di sini aman seperti di rumah sendiri, Kongcu, harap jangan khawatir."

"Saya pun tidak merasa takut, karena bukankah di luar sana ada seratus orang pasukan yang berjaga? Apalagi di sini ada dua orang gagah perkasa yang menemani saya. Koo-inkong dan Pui Taijin, saya mau beristirahat dulu di kamar yang kiri itu. Silakan Jiwi beristirahat pula di kamar kanan kalau Jiwi tidak sedang ketakutan." Cui Hong tersenyum dan melempar kerling genit sekali dan ia pun bangkit berdiri, langkahnya dibuat semenarik mungkin ketika ia melenggang dan memasuki kamar yang sebelah kiri, tahu bahwa dua orang pria itu mengikutinya dengan pandang mata kehausan. Dua pasang bukit pinggulnya sengaja dibuat menari-nari ketika ia melenggang tadi. Dan hasilnya memang baik sekali, dua orang pria itu memandang dengan mata melotot, bahkan Cai Sun tak dapat menahan dirinya untuk tidak menelan ludah.

"Kongcu, saya akan menemani nona itu, silakan kalau Kongcu mau beristirahat di kamar kanan. Selamat malam, Kongcu....!" Dia pun bangkit dan hendak segera menyusul wanita itu, akan tetapi Pui Ki Cong cepat menegurnya.

"Koo-toako, engkau hendak memandang rendah kepadaku?"

"Ehh? Apa maksud Kongcu....?" Cai Sun menahan langkah dan membalikkan tubuhnya.

Pui Ki Cong sudah bangkit berdiri dan mukanya berubah merah. "Sudah sejak ia ditangkap, Ia memberi isyarat-isyarat kepadaku. Akulah yang akan menemaninya!"

"Tapi, saya yang telah mengenalnya lebih dulu, Kongcu!" Cai Sun membantah dengan mata melotot dan merasa penasaran. Tak disangkanya bahwa majikannya ini ternyata tertarik kepada Ok Cin Hwa dan hendak merampas daging gemuk itu dari depan mulutnya.

Pui Ki Cong mengerutkan alisnya dengan marah. "'Koo Cai Sun! Apakah engkau hendak menentang aku?'" bentaknya.

Cai Sun terkejut dan sadar bahwa orang she Pui ini bukan hanya tertarik, melainkan sudah tergila-gila kepada Ok Cin Hwa sehingga bersikap demikian kasar keji. Tentu saja dia tidak berani menentang orang itu. Perpecahan akan amat merugikan dirinya, apalagi kalau hanya karena memperebutkan seorang wanita, seorang janda saja. Kalau Pui Ki Cong mengusirnya, dia bisa mati konyol di dalam tangan iblis wanita itu. Maka dia pun cepat menjura dan tertawa lebar.

"Aha, mengapa kita harus bertengkar karena seorang perempuan saja? Maaf, Pui Kongcu. Tidak kusangka bahwa Kongcu demikian bergairah terhadap dirinya. Kita tidak perlu berebut karena seorang janda muda seperti wanita itu tentu tidak akan kewalahan melayani dua orang seperti kita. Nah, silakan Kongcu lebih dulu, baru nanti saya yang menggantikan Kongcu."

Pui Ki Cong juga teringat dan dia pun tersenyum. Memang tidak semestinya dalam keadaan nyawanya terancam seperti itu memperebutkan seorang janda yang belum tentu akan memuaskan hatinya, walaupun wajahnya, bentuk badan dan sikap janda itu demikian menggairahkan. Sudah banyak dia mengalami kekecewaan dari wanita-wanita yang tadinya nampak cantik dan menawan hati.

"Maaf, Toako, tadi aku telah lupa diri. Baiklah, aku akan main-main dengannya lebih dulu, dan biar nanti kusuruh ia keluar menemani dan melayanimu." Dengan langkah lebar Pui Ki Cong menghampiri kamar yang sebelah kiri, membuka daun pintunya, masuk dan menutupkan lagi daun pintu kamar itu dari dalam.

Sambil menyeringai Cai Sun kembali duduk di atas kursi, matanya memandang ke arah kamar itu seolah-olah ingin menembus dinding untuk mengintai apa yang terjadi di dalamnya. Dia mendengar suara Pui Ki Cong bicara, lalu disusul suara ketawanya lirih dan suara ketawa Ok Cin Hwa. Bahkan terdengar suara wanita itu cukup jelas, "Aihhh, Tai-"

"jin, jangan begitu!'"

Cai Sun terkekeh, membayangkan permainan cinta mereka dan dia pun mendengar suara dipan berderit diduduki mereka. Suasana lalu menjadi sepi di kamar itu dan Cai Sun memperlebar senyumnya. Kalau wanita itu pandai, sebentar saja tentu Pui Ki Cong kalah dan dia memperoleh giliran! Dia akan mengajak wanita itu ke kamar sebelah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment