Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 49

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 49

Akan tetapi, pengejaran mereka itu sudah jauh terlambat karena baru pada keesokan harinya mereka mendapatkan rahasia terowongan itu, sedangkan Cui Hong telah melarikan dua orang musuhnya pada malam tadi.

Setelah menyeret dua orang musuh besarnya melalui terowongan, akhirnya Cui Hong membawa mereka ke luar di pintu tembusan yang berada di dasar jurang. Ia terus menyeret mereka naik dan memasuki sebuah hutan lain yang lebat dan gelap. Ia memang sudah mempersiapkan tempat-tempat itu dan berhenti di sebuah lapangan rumput di tengah hutan. Ia lalu membuat dua api unggun yang cukup besar sehingga tempat itu menjadi terang. Ia tidak khawatir akan dilihat orang lain karena ia sudah menyelidiki bahwa tempat itu, terutama di waktu malam, sunyi bukan main dan tidak pernah didatangi manusia. Juga ia tidak khawatir akan tersusul oleh pasukan yang dipimpin oleh Cia Kok Han dan Su Lok Bu karena sudah ia perhitungkan bahwa mereka tentu tidak akan mendekati pondok sampai keesokan harinya. Malam ini ia bebas dari gangguan orang luar!

Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun masih rebah terlentang tak mampu bergerak ataupun bersuara, hanya mata mereka saja yang terbelalak ketakutan memandang kepada wanita itu. Cui Hong kini menghampiri Cai Sun yang menjadi ketakutan, dan sekali tepuk, Cai Sun mendapatkan kembali suaranya. Dia tidak mengeluarkan teriakan karena maklum bahwa hal itu akan sia-sia belaka. Teman-temannya berada di tempat yang jauh sekali, dan di tempat seperti ini mana ada orang yang akan dapat mendengar teriakannya? Kembali wanita itu menotoknya sehingga dia mampu bergerak, dan dia hanya dapat bangkit duduk karena kedua tangannya masih terbelenggu di belakang tubuhnya. Dia terbelalak menatap wajah wanita itu yang memandang kepadanya dengan mata mencorong dan mulut tersenyum mengejek.

"Kenapa... kenapa kau melakukan ini kepadaku?" tanyanya, masih terlalu ngeri membayangkan apa yang ditakutinya ketika semacam dugaan menyelinap di dalam benaknya. "Ok Cin Hwa, siapakah sebenarnya engkau?"

Cui Hong tidak menjawab, melainkan tersenyum dan kini ia mematahkan belenggu yang mengikat kedua tangan Cai Sun. Laki-laki itu bebas dan ketika ia meraba senjatanya, yaitu sepasang tombak pendek, ternyata sepasang senjata itu masih terselip dengan aman di punggungnya. Hatinya terasa agak aman, setidaknya dia dapat membela diri, pikirnya. Dia bangkit berdiri, membiarkan darahnya yang tadi berhenti mengalir itu kini menjadi normal kembali. Dia masih belum mengerti. Memang ada dugaan menyelinap di dalam benaknya bahwa Ok Cin Hwa ini mungkin penyamaran Kim Cui Hong. Akan tetapi, tidak mungkin, bantahnya. Musuhnya itu mempunyai tahi lalat di dagunya, dan selama ini sikap Ok Cin Hwa amat baik. Akan tetapi, yang jelas, Ok Cin Hwa ini pun mempunyai ilmu kepandaian tinggi sehingga dapat menyeret dia dan Ki Cong keluar dari pondok setelah merobohkan dia dengan tamparan pada tengkuknya. Dan lebih jelas lagi, Ok Cin Hwa ini tidak mempunyai maksud baik terhadap dia dan Ki Cong.

Cui Hong meraba dagunya, menghapus bedak tebal yang menyembunyikan tahi lalat di dagunya, kemudian melangkah maju, membiarkan sinar api menerangi wajahnya, mulutnya tersenyum mengejek, "Koo Cai Sun, jahanam besar. Buka matamu lebar-lebar dan lihat baik-baik, siapakah aku?"

Cai Sun terbelalak, mukanya menjadi semakin pucat dan napasnya terengah-engah. Dia menderita pukulan batin yang amat menggetarkan jantungnya. Dengan tangan gemetar dia menuding ke arah muka Cui Hong. "Kau... kau...?" Akan tetapi dia tidak mampu melanjutkan karena rasa takut dan ngeri sudah mencekik lehernya.

"Ya, akulah Kim Cui Hong. Lupakah engkau kepada gadis puteri Kim-kauwsu yang telah kauhina dan perkosa, kemudian kau buang seperti seekor binatang yang sudah hampir menjadi bangkai?"

Saking takutnya, Cai Sun lalu membalikkan tubuhnya dan meloncat untuk melarikan diri. "Brukkk!!" Tubuhnya terjengkang karena tahu-tahu gadis itu telah berada di depannya, mendahuluinya dan menghadangnya, lalu menendang perutnya yang gendut.

"Ah, tidak... aku... aku hanya ikut-ikutan... yang bersalah adalah dia...!" Cai Sun dengan tubuh menggigil dan telunjuk tangan gemetaran menuding ke arah tubuh Ki Cong yang masih menggeletak tak jauh dari situ dan yang sedang memandang dengan mata melotot ketakutan.

"Dia? Dia akan mendapatkan gilirannya. Sekarang aku akan membalas dendamku kepadamu, Koo Cai Sun!"

"Tidak... tidak!" Dan tiba-tiba Cai Sun menjatuhkan diri berlutut di depan Cui Hong. "Nona... Lihiap... ampunkan saya... ampunkan saya!" ratapnya.

Ratap tangis ini terdengar merdu bagaikan nyanyian bagi Cui Hong. Ia mendengarkan sambil tersenyum senang dan setelah Cai Sun berhenti memohon, menangis sambil berlutut, baru ia berkata dengan suara yang halus namun tajam menusuk.

"Jahanam busuk, keparat hina Koo Cai Sun, lupakah engkau betapa gadis Kim Ciu Hong itu pun meratap dan menangis, memohon ampun kepadamu dan tiga orang kawanmu yang memperkosanya? Akan tetapi kalian tertawa-tawa senang mendengar ia meratap, merintih dan menangis, melihat ia menggeliat-geliat kesakitan, terhina lahir batin, lupakah kamu?"

"Ampun... Lihiap, ampunkan saya. Saya merasa menyesal sekali, saya bertobat, ah, ampunkan saya, kasihanilah keluarga saya, anak istri saya...." Kini Cai Sun tanpa malu-malu lagi menangis! Lenyaplah semua kegarangan dan dia merasa menyesal sekali. Mengapa dia begitu bodoh, tidak mengenal Ok Cin Hwa sebagai musuh besarnya? Kini setelah tahi lalat itu terhapus, dia mengenal wajah itu, wajah yang tujuh tahun yang lalu pernah dikenalnya baik-baik sebagai wajah seorang gadis berusia lima belas tahun, yang dipermainkannya sepuas hatinya, bersama Louw Ti, Gan Tek Un, dan didahului oleh Pui Ki Cong!"

Akan tetapi, ratapan ini bahkan menambah rasa sakit di hati Cui Hong, menambah kemarahannya seperti minyak bakar disiramkan pada api yang sudah menyala.

"Bangsat rendah! Lupakah kalian yang telah membunuh ayahku dan suhengku? Dan sekarang engkau minta aku mengasihani anak istrimu? Bangkitlah dan lawanlah aku seperti seorang laki-laki. Engkau pengecut hina, bukan saja berwatak kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut tak tahu malu. Bangkitlah dan lawan aku, atau... aku akan menyiksaku sekarang juga!"

Cai Sun adalah seorang yang amat licik dan cerdik. Dia pun maklum bahwa tidak ada gunanya segala macam ratap tangis itu, dan dia tadi melakukannya hanya terdorong oleh rasa takutnya, juga merupakan semacam siasat karena harus mencari jalan untuk dapat menyelamatkan dirinya. Ketika Cui Hong bicara, diam-diam tangannya merayap ke arah gagang sepasang senjatanya dan begitu Cui Hong habis bicara, tiba-tiba saja, dari keadaan berlutut, dia sudah meloncat dan menerjang dari bawah, sepasang siang-kek (tombak pendek) bercabang itu sudah menyambar dengan kecepatan kilat, yang kiri menyerang ke arah kaki, yang kanan ke arah pusar lawan!

"Mampuslah!" Dia membentak nyaring untuk mengejutkan lawan.

"Heittt...!" Dengan gerakan amat ringan, tubuh Cui Hong melayang ke atas belakang, lalu berjungkir balik sampai tiga kali baru turun ke atas tanah. Akan tetapi, ternyata serangan Cai Sun yang hebat tadi hanya untuk mencari kesempatan saja, karena begitu lawan meloncat untuk mengelak, dia sudah membalikkan tubuhnya dan melarikan diri! Sesosok bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Cui Hong telah menghadang di depannya sambil bertolak pinggang. "Koo Cai Sun, engkau bukan saja seorang jahanam yang kejam dan jahat, akan tetapi juga pengecut dan curang!"

Di tangan Cui Hong tergenggam sebatang kayu ranting pohon dan melihat ini, Cai Sun menjadi nekat. Dia tidak mempunyai jalan keluar lagi. Bagaimanapun juga, sepasang senjatanya masih berada di tangannya, sedangkan lawan hanya memegang sebatang kayu ranting. Mustahil kalau dia sampai kalah, pikirnya. Maka tanpa banyak cakap lagi dia pun lalu menerjang maju sambil menggerakkan kedua tombak pendeknya yang mengeluarkan suara berdengung dibarengi angin pukulan yang keras, dan sepasang tombak pendek itu pun lenyap berubah menjadi dua gulungan sinar. Koo Cai Sun bukan seorang yang lemah. Ilmu silatnya tinggi dan dia pun sudah memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran. Akan tetapi, bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Cui Hong kini sudah berada di atasnya. Ilmu silat yang dimiliki Cui Hong adalah ilmu-ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu silat Cai Sun. Selain itu, kalau Cui Hong tekun berlatih dan memiliki tenaga dan ketahanan yang kuat, sebaliknya Cai Sun yang setiap hari hanya suka mengejar perempuan dan bermain cinta saja menurutkan nafsu berahinya, menjadi semakin lemah tanpa disadarinya. Tenaganya banyak berkurang, napasnya pendek dan sebentar saja bersilat, dia telah menjadi lelah.

Akan tetapi, karena sekali ini dia harus melindungi nyawanya, dan dia maklum bahwa musuhnya takkan mau mengampuninya, dia menjadi nekat dan melawan mati-matian. Segala macam ilmu yang ada padanya dikeluarkannya, dan dia pun mengerahkan seluruh tenaga yang ada.

Tiba-tiba dia mengeluarkan gerengan keras dan dari tangan kakinya menyambar benda hitam ke arah perut dan dada lawan. Melihat senjata rahasia yang dilepas dari jarak dekat dan amat berbahaya ini, Cui Hong memutar rantingnya dan belasan batang paku hitam runtuh ke atas tanah. Melihat senjata rahasianya gagal, Cai Sun menekan gagang tombak pendeknya yang kanan dan dari gagang senjata ini pun meluncur sebatang anak panah kecil yang cepat sekali ke arah leher lawan! Cui Hong terkejut, tidak keburu menangkis maka ia mengelak dengan tubuh dimiringkan sambil mengerahkan sinkang melindungi tubuh atas.

"Takkk!" Anak panah yang dielakkan itu luput dari leher akan tetapi mengenai pundak gadis itu dan meleset karena pundak itu telah dilindungi sinkang. Anak panah itu tidak melukai kulit, meleset dan hanya merobek baju di pundak saja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment