Chapter 53
Tosu itu bangkit dan merangkul keponakannya sambil menangis. "Ah, agaknya bukan hanya ilmu silat tinggi yang pernah kau pelajari di Kun-lun-san, akan tetapi para tosu yang bijaksana dari Kun-lun-pai telah mengisi batinmu dengan kebajikan-kebajikan yang tinggi pula. Ayah ibumu meninggal secara wajar, yaitu karena penyakit dan karena berduka, dan mereka dimakamkan dengan sederhana oleh para penduduk dusun di Hek-kee-cun, di sebelah selatan kota. Namun..."
Girang sekali rasa hati Tan Siong setelah dia mengetahui di mana makam orang tuanya. Dia pun merasa kasihan kepada pamannya. Jelaslah bahwa pamannya ini sekarang telah terhukum di dalam hatinya, menyesali semua perbuatannya yang telah lalu. Tidak ada hukuman yang lebih berat menjadi derita batin daripada derita yang timbul karena penyesalan yang tak kunjung padam. Dia dapat menduga bahwa tentu banyak kejahatan dilakukan pamannya ini di waktu muda. Apalagi pamannya sampai menangis ketika melihat orang tersiksa di pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui. Tentu pamannya ini dahulunya menjadi seorang penjahat besar. Akan tetapi, dia ikut merasa lega dan girang bahwa adik kandung ibunya ini sekarang telah sadar dan bertobat. Untuk menghibur hati orang tua, dia tidak tergesa-gesa meninggalkan pamannya dan tidak menolak ketika pamannya mengajaknya makan siang. Bahkan, pamannya minta kepadanya untuk tinggal di kuil itu menemaninya selama beberapa hari.
"Selama ini kau mengira bahwa aku hidup seorang diri saja tanpa sanak keluarga di dunia ini, dan tiba-tiba engkau, keponakanku satu-satunya, muncul dalam keadaan yang begitu mengagumkan. Temanilah pinto selama beberapa hari untuk melepas kerinduanku, Tan Siong."
"Maaf, Paman. Aku harus cepat pergi mencari makam orang tuaku, maka sore nanti atau paling lambat besok pagi aku harus pergi meninggalkan Paman."
Paman dan keponakan itu lalu bercakap-cakap. Dengan penuh perhatian, girang, dan bangga, Gan Tosu mendengarkan cerita keponakannya tentang masa belajarnya di Kun-lun-san. Bahkan untuk menyenangkan hati pamannya, ketika diminta, Tan Siong memainkan beberapa jurus ilmu silat Kun-lun-pai, baik dengan tangan kosong maupun dengan pedang tipisnya. Gan Tosu menonton demonstrasi itu dengan hati penuh kagum karena baru melihat keponakannya bersilat saja, dia pun tahu bahwa dia tidak akan mampu menandingi kehebatan keponakannya.
"Hebat, hebat!" serunya dengan girang. "Ilmu silatmu demikian indah dan mengandung kekuatan dahsyat."
"Ah, Paman terlalu memuji. Aku masih mengharapkan petunjuk dari Paman."
"Pinto tidak sekadar memuji, Tan Siong. Tingkat ilmu silatmu sudah jauh lebih tinggi daripada tingkat pinto. Akan tetapi, sebaiknya ilmu sepasang pedang pinto, yaitu Siang-liong-kiam (Pedang Sepasang Naga), kau pelajari dan biarlah kuturunkan kepadamu. Nah, lihatlah pinto memainkan ilmu itu, perhatikan baik-baik."
Tosu itu kini bergembira dan agaknya sudah mulai melupakan kesedihannya karena penyesalan itu. Dia mengeluarkan sepasang pedang hitam putih dan bersilat pedang. Memang inilah ilmu silat andalannya dan sepasang pedang itu membentuk dua gulungan sinar hitam putih yang saling bantu dan saling melindungi, merupakan ilmu pedang pasangan yang tangguh.
Girang sekali rasa hati Tan Siong dan setelah pamannya berhenti bersilat, pamannya lalu menyerahkan sebuah kitab. "Ilmu pedang Siang-liong-kiam itu sudah pinto catat dalam kitab ini. Pelajarilah dan terimalah sepasang pedang ini, Tan Siong."
"Akan tetapi, Paman. Sepasang pedang ini adalah pedang pusaka milik Paman, masih Paman perlukan untuk pelindung diri."
Tosu itu menarik napas panjang. "Terimalah, baru akan puas hati pinto kalau pedang-pedang ini berada di tangan seorang bijaksana dan gagah seperti engkau." Dia memaksa dan akhirnya Tan Siong menerimanya. "Di tangan pinto, sepasang pedang ini dahulu hanya membuat dosa. Biarlah mereka pun menebus dosa-dosanya dengan perbuatan baik, menentang kejahatan di tangan seorang pendekar seperti engkau. Pinto sekarang tidak membutuhkan perlindungan pedang, tidak membutuhkan kekerasan lagi. Ancaman kematian akan pinto hadapi dengan tenang dan ikhlas."
Pada saat itu terdengar suara orang dari luar kuil, suara yang halus, suara wanita. "Gan Tek Un, keluarlah dari kuil, aku ingin bicara denganmu!"
Gan Tojin terkejut dan wajahnya berubah pucat ketika ia mendengar suara itu. Tan Siong mengerutkan alisnya dan bangkit berdiri. Akan tetapi pamannya sudah mendahuluinya. "Tan Siong, kuminta dengan sangat kepadamu agar engkau berdiam saja di sini dan jangan mencampuri urusan di luar kuil. Ini adalah urusan pribadi pinto sendiri. Duduklah saja dan kau tunggu di sini."
Tan Siong mengangguk dan mengerutkan alisnya. Hatinya merasa kecewa. Tadi dia melihat pamannya sudah bertobat dan bahkan sudah menjadi seorang tosu. Akan tetapi, mengapa sekarang muncul seorang wanita dalam kehidupan pamannya sebagai tosu? Apakah pamannya hanya pura-pura saja menjadi tosu untuk menutupi semua perbuatannya? Dan pamannya jelas berpesan agar dia tidak mencampuri karena urusan dengan wanita itu adalah urusan pribadi! Kekecewaan membuat hatinya merasa penasaran dan marah. Sebaiknya dia cepat meninggalkan pamannya ini yang memiliki kepribadian yang tidak meyakinkan. Dia lalu menyambar buntalan pakaiannya dan biarpun agak meragu, terpaksa dia menyimpan pula sepasang pedang dan kitab pemberian pamannya. Keadaan pamannya membuat kegembiraan untuk mempelajari ilmu sepasang pedang itu menjadi kendur. Akan tetapi, baru saja dia bangkit dan hendak pergi, tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang tadi lantang memaki-maki. Cepat dia berjalan mengendap dan biarpun pamannya sudah berpesan, dia kini menuju ke luar dan mengintai dari balik jendela depan.
Siapakah wanita yang memanggil Gan Tosu dengan nama aslinya itu? Baru mendengar suaranya saja, Gan Tosu sudah dapat menduga siapa yang memanggil, dan dengan muka pucat dia pun keluar. Di luar kuil, berdiri di pekarangan sambil bertolak pinggang, Cui Hong telah menantinya. Ya, wanita itu adalah Kim Cui Hong! Ketika ia menyeret tubuh Koo Cai Sun dan Pui Ki Cong keluar dari dalam pondok kecil dan memasuki hutan, ia telah berhasil memaksa kedua orang tua itu untuk mengaku di mana adanya musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un. Dari kedua orang tawanannya yang sudah ketakutan setengah mati itu, ia mendengar bahwa Gan Tek Un kini telah menjadi seorang tosu bernama Gan Tosu, tinggal di sebuah kuil tua di sebelah barat kota raja, kurang lebih belasan mil dari kota raja.
Maka, setelah ia menyiksa kedua orang musuhnya dan menggantung tubuh mereka di depan pintu gerbang rumah gedung keluarga Pui, Cui Hong lalu beristirahat di tempat persembunyiannya. Hatinya terasa puas dan ia dapat tidur nyenyak setelah semalam suntuk tidak tidur dan tubuhnya letih sekali. Setelah tidur sampai sore, barulah ia meninggalkan tempat persembunyiannya dan dengan wajah pucat ia pergi mencari musuhnya yang terakhir, yaitu Gan Tek Un.
Sejak melihat tubuh Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun tergantung di depan gedung keluarga Pui, dan pernah pula dia bertemu dengan Louw Ti yang telah menjadi manusia cacat, tahulah Gan Tosu bahwa cepat atau lambat, gadis she Kim, putri guru silat Kim itu, tentu akan menemukan dirinya. Dia merasa menyesal sekali dan merasa bahwa dia telah melakukan perbuatan yang amat keji terhadap gadis itu. Maka dia pun sudah siap untuk menerima hukuman untuk menebus dosanya. Maka, begitu dia mendengar seruan wanita yang memanggilnya, dia pun dapat menduga bahwa tentu gadis itu pula yang kini datang mencarinya. Dia lalu berpesan kepada Tan Siong agar tidak mencampuri, kemudian dengan muka pucat dan hati tenang dia pun berlari keluar.
Melihat wanita cantik dan gagah yang kini berdiri bertolak pinggang di pekarangan kuil, Gan Tosu segera teringat akan gadis remaja yang pernah diperkosanya bersama Koo Cai Sun dan Louw Ti, setelah Pui Ki Cong yang mempermainkan gadis itu selama tiga hari merasa bosan dan menyerahkan gadis itu kepada mereka bertiga. Teringat dia betapa dia pun ikut pula memperkosa dan menghina gadis itu. Mukanya yang tadinya pucat kini berubah menjadi merah sekali. Dia merasa menyesal dan juga malu mengingat akan kejahatan itu. Tergopoh dia menghampiri gadis itu dan menjura.
"Nona baru datang? Pinto memang sudah mengharapkan kedatanganmu," katanya dengan sikap tenang. Setelah kini berhadapan dengan orang yang hendak membalas dendam kepadanya, tosu ini bersikap tenang dan pasrah, bahkan dia membayangkan betapa sebentar lagi dia akan dapat menebus dosanya yang amat keji terhadap wanita ini, beberapa tahun yang lalu ketika wanita ini masih seorang gadis remaja.
Cui Hong memandang dengan sinar mata mencorong dan ia mengerutkan alisnya. "Hemm, Gan Tek Un, engkau masih mengenalku? Bagus sekali kalau begitu! Biarpun berganti baju domba atau kelinci, seekor serigala tetap serigala. Biarpun engkau sudah berganti pakaian menjadi tosu, bagiku engkau tetap saja Gan Tek Un si jahanam keparat yang lebih jahat dari iblis sendiri. Gan Tek Un, apakah engkau masih ingat kepada semua perbuatan yang pernah kaulakukan terhadap diriku?"
"Tentu saja pinto ingat semuanya, Nona, dan karena itulah pinto menanti kedatanganmu agar pinto dapat membayar hutang dan melunasi dosa pinto yang amat besar itu dengan hukuman yang akan Nona jatuhkan kepada pinto."
Melihat sikap yang pasrah ini, kata-kata yang lembut dan penuh penyesalan, hati Cui Hong agak kecewa. Ia ingin melihat lawan atau musuh terakhir ini juga masih dalam keadaan jahat dan pongah seperti tiga orang musuhnya yang telah dihukumnya, agar hatinya menjadi puas dalam pembalasan dendamnya. Karena di samping membalas dendam pribadi, juga berarti ia telah menyingkirkan seorang manusia berwatak iblis dari dunia ramai, membuat si jahat itu tidak akan mampu berbuat jahat lagi.
"Gan Tek Un pendeta palsu banyak cakap, keluarkan sepasang pedangmu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak di sini!" tantangnya, tangannya hanya memegang sebatang kayu ranting pohon sebesar pergelangan tangannya.
"Nona Kim Cui Hong, sudah pinto katakan bahwa pinto memang menanti datangnya hukuman atas dosa pinto terhadap Nona. Pinto tidak akan melawan, juga tidak akan minta ampun. Nah, pinto sudah siap. Jatuhkanlah hukuman apa saja yang Nona kehendaki atas diri pinto. Pinto tidak akan melawan!"
Berkata demikian, tosu itu lalu menjatuhkan diri berlutut, bersedekap, dan memejamkan mata, dengan tubuh dan kepala tegak, siap menanti siksaan yang bagaimanapun tanpa melawan atau mengeluh. Dia memusatkan seluruh perhatian kepada keyakinan bahwa dia sedang menebus dosa dengan hati ikhlas.
Melihat sikap musuhnya itu, Cui Hong mengerutkan alisnya dan sejenak ia termangu-mangu. Bagaimana mungkin ia menyerang seorang yang sama sekali tidak melawan, bahkan kini duduk bersila dengan kedua mata dipejamkan? Akan tetapi, bagaimana mungkin pula ia melepaskan musuh yang satu ini? Bagaimanapun juga, Gan Tek Un ini tidak lebih baik daripada yang lain. Seperti yang lain, dia dulu juga memperkosanya dan menghinanya dan hal itu sama sekali tak pernah dilupakan. Selama tujuh tahun ini, bayangan mengerikan diperkosa secara bergantian oleh empat orang musuh besarnya itu selalu membayanginya; kalau malam menjadi mimpi buruk dan kalau siang membuat ia termenung seperti orang kehilangan semangat. Dan hanya dendam dan pembalasan itu saja yang membuat ia dapat bertahan untuk hidup terus, bahkan memberi ia semangat untuk belajar silat dengan tekun. Balas dendam! Tak mungkin ia melepaskan orang ini.
"Gan Tek Un, jahanam busuk! Bangkitlah dan jangan menjadi pengecut. Bangkitlah dan kaulawan aku, keparat!"
Akan tetapi Gan Tek Un sudah siap untuk menerima siksaan yang betapa hebat pun, dan dia sudah pasrah, kini sama sekali tidak menjawab dan tidak pula membuka kedua matanya.
"Gan Tek Un, sekali lagi. Bangkitlah dan lawanlah aku, kalau tidak, aku terpaksa akan turun tangan membalas dendam padamu!" Suara Cui Hong penuh dengan kemarahan dan rasa penasaran, dan ranting di tangannya sudah tergetar ujungnya.
Kembali Gan Tek Un tidak menjawab dan duduknya tidak bergoyang sedikit pun.
"Keparat! Jangan mencoba menggunakan kelembutan untuk menghapus dendamku! Sampai mati pun aku tidak akan dapat menghapus dendamku. Nah, terimalah pembalasanku!"
Berkata demikian, Cui Hong sudah mengangkat ranting itu ke atas kepalanya, siap untuk menghajar tubuh Gan Tek Un seperti ia pernah menghajar tubuh Pui Ki Cong sampai kulitnya pecah-pecah semua.
"Tahan dulu!" Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan ranting di tangan Cui Hong itu tertahan oleh sebatang pedang tipis. Cui Hong melangkah ke belakang dan memandang dengan marah, kemudian matanya terbelalak.
"Engkau...?!" Ia memandang wajah Tan Siong dengan bingung, sama sekali tak pernah mengira bahwa pemuda ini akan muncul, bahkan menghalanginya untuk membalas dendam. "Kau... mau apa kau?" tanyanya agak gagap.
"Lhiap, aku harus mencegah engkau melakukan kekejaman, menyerang orang yang tidak berdosa dan tidak mau melawanmu," kata Tan Siong sambil menarik kembali pedang yang tadi dipakai menangkis ranting di tangan Cui Hong.
Cui Hong tersenyum dingin. "Tan-toa-ko, apakah engkau tahu siapa orang yang kau katakan tidak berdosa ini?"
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia adalah Gan Tosu yang dulu bernama Gan Tek Un, yaitu adik mendiang ibuku, pamanku yang selama ini kucari."