Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 54

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 54

Cui Hong terkejut dan kerut di alisnya makin mendalam. "Ah! Kiranya dia inikah pamanmu? Inikah orangnya yang dulu pernah menipu orang tuamu sehingga orang tuamu menjadi terlunta-lunta dan meninggal dunia?"

"Benar, Lihiap."

"Dan engkau kini hendak membelanya? Betapa anehnya sikapmu! Toako, jangan mencampuri urusan kami. Mundurlah dan biarkan aku menyelesaikan urusan pribadiku dengan Gan Tek Un!"

"Tidak, Lihiap. Engkau tidak boleh bertindak kejam."

"Apa? Engkau benar-benar hendak melindungi pamanmu yang jahat ini?"

"Biar dia pamanku ataukah orang lain, aku tetap akan mencegah engkau bertindak kejam, Lihiap. Menyerang orang yang tidak bersalah, orang yang tidak melawan, sungguh merupakan perbuatan yang kejam dan tidak patut dilakukan seorang pendekar wanita seperti engkau ini."

"Hemm, Tan-toako, tahukah engkau mengapa aku hendak menyiksa orang ini?" Tan Siong menggelengkan kepalanya, "Apa pun kesalahannya, tidak sepatutnya kalau engkau kini hendak menyerangnya karena dia sudah tidak mau melawan sama sekali."

"Tan-toako, sudah kuceritakan kepadamu tentang empat orang manusia iblis yang telah menghinaku, memperkosaku sampai lewat batas perikemanusiaan. Perbuatan mereka melebihi kekejaman iblis sendiri dan yang tiga orang sudah kubereskan. Hanya tinggal seorang lagi dan yang seorang itu adalah Gan Tek Un!"

Bukan main kagetnya hati Tan Siong mendengar ini. Dia tahu bahwa pamannya memang pernah menjadi penjahat, akan tetapi tak pernah disangkanya bahwa pamannya pernah melakukan perbuatan sekeji itu, memperkosa gadis yang tidak berdaya, beramai-ramai dengan tiga orang kawannya! Dengan muka berubah pucat, dia membalik dan memandang kepada tosu yang masih duduk bersila itu.

"Paman, benarkah Paman dulu melakukan perbuatan keji dan hina itu?" tanyanya dengan suara nyaring.

Gan Tosu memang sejak tadi mendengarkan dan kini dia menarik napas panjang tanpa membuka kedua matanya. "Semua yang dikatakan Nona ini benar belaka, Tan Siong. Memang aku pernah melakukan perbuatan jahat itu dan perbuatanku terhadap Nona inilah yang merupakan satu di antara banyak perbuatanku yang membuat aku menyesal setengah mati. Biarkan dia menyiksa atau membunuhku untuk menebus dosaku, Tan Siong."

"Nah, engkau mendengar sendiri, Toako. Apakah engkau kini masih hendak melindungi dia?" Cui Hong menuntut.

"Kim-lihiap, pendirianku tidak berubah. Aku tetap mencegah engkau melakukan perbuatan kejam itu. Aku membelanya bukan karena dia pamanku, melainkan karena seorang yang tidak melawan terancam oleh kekerasan. Dan aku mencegah engkau melakukan kekejaman itu karena... terus terang saja, Lihiap, cintaku kepadamu masih tetap. Aku mencegah engkau menjadi pembunuh kejam demi cintaku kepadamu!"

Kembali Cui Hong tersenyum, akan tetapi kini senyumnya mengejek dan sepasang matanya mencorong penuh kemarahan. Ia merasa dipermainkan.

"Tan Siong!" bentaknya dengan suara ketus. "Engkau bilang bahwa engkau mencintaiku, akan tetapi engkau menentang aku yang hendak membalas dendam kepada orang yang telah merusak kebahagiaanku, yang telah menghancurkan harapanku, yang telah menggelapkan sinar kehidupanku, yang telah membunuh ayahku dan suhengku! Cinta macam apakah itu? Tidak perlu engkau merayu, kalau engkau membela jahanam Gan Tek Un ini, berarti engkau adalah musuhku! Majulah!" Cui Hong menodongkan rantingnya, siap untuk menyerang.

"Kim-lihiap, sungguh engkau membuat aku bersedih bukan main. Tentu saja aku tidak akan melayani tantanganmu, karena sampai mati pun aku tidak akan memusuhimu. Aku hanya melindungi orang yang terancam, bukan berarti memusuhimu. Engkau tidak dapat mengerti pendirianku. Sekali lagi, ingatlah dan hapuslah dendam dari dalam hatimu, karena itu merupakan racun yang hanya akan merusak lahir batinmu sendiri."

"Cerewet! Aku mau hajar dan siksa dia untuk membalas dendam, baik engkau suka maupun tidak!" Dan Cui Hong kini dengan kemarahan meluap sudah mengayun rantingnya untuk memukul remuk tulang kaki Gan Tosu yang duduk bersila itu.

"Sing! Tak!" Ranting itu tertangkis pedang di tangan Tan Siong. Pemuda ini sudah cepat menangkis dan kini dia berdiri menghalang di antara Cui Hong dan tosu itu dengan sikap melindungi. "Tan Siong, terpaksa aku harus menyingkirkan segala penghalang untuk membalas dendamku, termasuk engkau!" teriak Cui Hong dan ia sudah menyerang dengan rantingnya. Ujung rantingnya tergetar dan seolah-olah terpecah menjadi tujuh yang melakukan serangkaian totokan ke arah tujuh jalan darah di tubuh bagian depan dari lawan.

Tan Siong terkejut sekali. Dia memang sudah tahu betapa lihainya wanita ini ketika membantunya menghadapi jagoan-jagoan yang menjadi pelindung Pui Ki Cone, akan tetapi baru sekarang dia menghadapinya langsung sebagai lawan. Dia pun cepat menggerakkan pedang tipisnya, diputarnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya. Namun, pemutaran pedang saja tidak cukup, dia harus berlompatan ke sana ke sini karena ujung ranting itu seolah-olah dapat menerobos di antara gulungan sinar pedangnya.

Cui Hong tidak bermaksud mencelakai pemuda itu, sama sekali tidak. Dia masih merasa kagum dan suka kepada pemuda perkasa itu, apalagi mendengar betapa sampai kini pemuda itu masih tetap mencintainya, walaupun sudah mendengar riwayatnya, tahu bahwa ia bukanlah seorang perawan terhormat lagi, melainkan seorang wanita yang sudah ternoda dan terhina. Ia hanya ingin merobohkan Tan Siong agar tidak dapat menghalangi pelaksanaan balas dendamnya terhadap Gan Tek Un, maka semua serangannya merupakan totokan-totokan yang amat hebat. Sebaliknya, Tan Siong juga hanya ingin melindungi pamannya, bukan berniat untuk melukai apalagi membunuh gadis yang dikagumi dan dicintainya itu, maka dia pun hanya menggerakkan pedangnya untuk melindungi tubuhnya, menangkis dan mengelak tanpa balas menyerang.

Akan tetapi, segera dia terdesak hebat. Andaikata dia membalas semua serangan Cui Hong pun, belum tentu dia akan mampu mengalahkan gadis perkasa itu, apalagi kini dia hanya menangkis tanpa bisa menyerang. Gulungan sinar pedangnya semakin menyempit, terjepit, dan tertekan oleh sinar hijau dari ranting di tangan Cui Hong.

"Tahan senjata kalian! Jangan berkelahi dan dengarkan pinto!" Tiba-tiba terdengar teriakan Gan Tojin, tosu yang tadi duduk bersila. Mendengar ini, Tan Siong melompat ke belakang dan Cui Hong juga menahan gerakan rantingnya, ingin tahu apa yang akan dikatakan musuh besarnya itu. Siapa tahu musuh besarnya itu timbul keberanian untuk maju sendiri menghadapinya dan melarang Tan Siong mencampuri urusan pribadi mereka.

Tosu itu masih duduk bersila, mukanya pucat akan tetapi sinar matanya mencorong penuh semangat. Agaknya kesedihannya yang tadi sudah lenyap. "Siancai! Dengan sikap kalian, maka dosa pinto bertambah dalam dan besar saja. Setelah menjadi seorang pemeluk agama yang taat, pinto bahkan mengakibatkan perpecahan dan perkelahian antara dua orang muda yang saling mencinta. Nona Kim Cui Hong, engkau sudah sepatutnya membalas dendam kepada pinto karena perbuatan pinto terhadapmu dahulu itu memang tak dapat diampuni. Dan engkau pun benar, Tan Siong, karena engkau melindungi yang lemah, bukan karena pinto pamanmu, dan itu merupakan sikap seorang pendekar. Akan tetapi kalau pinto membiarkan kalian saling berkelahi sampai seorang di antara kalian roboh tewas atau terluka, pinto akan merasa berdosa lebih hebat lagi yang takkan dapat pinto lupakan selama hidup. Karena itu, biarlah pinto mengakhiri saja semua derita ini!" Tiba-tiba tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu tosu itu sudah menusukkan sebuah pisau ke dadanya.

"Crep!" Pisau itu menembus dada sampai ujungnya tampak sedikit di punggung dan dia masih tetap duduk bersila!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment