Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 56

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 56

"Aku tidak percaya...!" Suaranya masih terdengar dari jauh. "Hong-mo i!"

Tan Siong mengejar, akan tetapi gadis itu sudah jauh dan terdengar suara bergema, "Jangan kejar! Aku tidak sudi mendengar rayuanmu!"

Tan Siong menahan kakinya. Dia menghela napas panjang berulang kali, berdiri dengan muka pucat. Hatinya terasa pedih dan kosong. Dia harus mengaku dengan jujur kepada dirinya sendiri bahwa memang ada perasaan hampa dan kecewa ketika mengingat betapa gadis yang dicintainya itu telah dirusak kehormatannya oleh empat orang laki-laki jahat, termasuk pamannya sendiri. Apalagi kalau diingat bahwa Cui Hong telah berubah menjadi seorang gadis kejam yang dihantui dendam, bertindak kejam kepada orang-orang yang dulu memperkosanya. Memang gadis itu tidak membunuh mereka, akan tetapi penyiksaan yang ia lakukan bahkan lebih mengerikan daripada kalau ia membunuh mereka sebagai balas dendam. Empat orang yang dulu memperkosanya itu dihukumnya dengan amat mengerikan. Pui Ki Cong menjadi seorang laki-laki cacat dan buruk seperti setan, tidak akan berguna selama hidupnya. Demikian pula Koo Cai Sun, menjadi cacat, tapadaksa yang sudah bukan seperti manusia normal lagi. Lauw Ti menjadi cacat dan gila. Keadaan mereka bertiga lebih menyedihkan dan mengerikan daripada kalau mereka mati. Dan pamannya sendiri, orang keempat yang dulu memperkosa Cui Hong, terpaksa membunuh diri dengan perasaan penuh penyesalan. Sungguh pembalasan dendam Cui Hong itu terlalu kejam.

Kembali Tan Siong menghela napas panjang ketika terbayang olehnya semua kekejaman yang dilakukan Cui Hong terhadap orang-orang yang dibencinya, termasuk pamannya. Akibat kekejamannya itu, bukan hanya empat orang yang pernah memperkosanya yang menderita, terutama yang tiga orang kecuali pamannya yang sudah tewas. Mereka itu mati tidak, hidup pun bukan. Apa artinya hidup dalam keadaan tapadaksa separah itu? Lengan dan kaki patah bahkan ada yang buntung sehingga tubuh amat sukar bergerak, muka cacat, ada yang matanya buta, ada yang hidungnya hancur; pendeknya badan lumpuh sukar bergerak, muka cacat menjijikkan, batin terguncang sehingga menjadi seperti gila! Bukan mereka saja yang menderita hebat bukan kepalang, melainkan juga keluarga mereka, anak-istri mereka!

"Aahh, Hong-mo i... betapa kejamnya engkau... dendam kebencian telah membuat engkau seperti iblis! Akan tetapi, ya Tuhan, aku cinta padamu, Hong-mo i, aku tetap cinta padamu!" Tan Siong mengeluh, lalu pergi dari situ dengan perasaan hampa. Semangatnya seolah ikut terbang bersama Cui Hong.

Sudah banyak tercatat dalam sejarah betapa perkara-perkara besar yang menyangkut bangsa dan negara, dipengaruhi oleh ambisi pribadi para pemimpinnya. Perasaan dendam, iri, murka, dan keinginan pribadi untuk mereguk kesenangan melalui kekuasaan dari seorang pemimpin negara dan para pembantunya, terkadang menyeret bangsa ke dalam kehancuran.

Seperti tercatat dalam sejarah Negeri Cina, bangsa Cina tadinya hidup dalam keadaan yang lebih baik di bawah pemerintahan Kerajaan Beng (Terang) dibandingkan dengan keadaan rakyat di zaman penjajahan Mongol yang mendirikan Dinasti Goan yang bertahan selama hampir satu abad (1280-1368). Setelah rakyat Han dapat menggulingkan penjajah Mongol dan yang berkuasa adalah bangsa sendiri dengan berdirinya Kerajaan Beng, kehidupan rakyat mulai menjadi makmur. Akan tetapi, setelah berjaya selama hampir tiga abad (1368-1644), mulailah pemerintah Beng menjadi lemah sekali sehingga mengakibatkan rakyat kembali hidup menderita, bahkan keadaan kehidupan rakyat jelata lebih parah dibandingkan keadaan ketika dijajah orang Mongol! Hal ini disebabkan karena Kaisar terakhir Kerajaan Beng yang bernama Kaisar Cung Ceng (1620-1644) merupakan seorang kaisar yang lemah dan yang hanya mengejar kesenangan diri sendiri. Kelemahan ini tentu saja memunculkan banyak pejabat penjilat, terutama para Thai-kam (orang kebiri, sida-sida) yang berkuasa di dalam istana yang sedianya menjadi pelayan-pelayan kaisar dan keluarganya. Pada mulanya, Kaisar mempergunakan tenaga para pria yang dikebiri ini sebagai pelayan-pelayan dalam istana untuk mencegah terjadinya perzinaan antara banyak selir dan gadis-gadis dayang istana dengan para pelayan pria. Karena itu, semua pelayan pria dikebiri sehingga tidak memungkinkan terjadinya penyelewengan. Karena para Thai-kam ini tidak dapat lagi berhubungan dengan wanita, maka mereka melampiaskan semua nafsunya kepada kedudukan dan harta. Mulailah mereka menggunakan segala daya upaya untuk memperoleh kekuasaan dan satu-satunya cara untuk mendapatkan kekuasaan itu adalah mendekati Kaisar dan mengambil hati Kaisar.

Mungkin karena merasa senasib sepenanggungan, para Thai-kam ini kompak sekali dan dapat bekerja sama dengan baik. Juga mereka biasanya merupakan orang-orang pilihan. Kaisar tentu saja ingin memiliki pelayan-pelayan dalam istana yang berwajah tampan, bersih, pandai membawa diri, cerdas, dan cekatan. Bahkan banyak di antara mereka yang pandai ilmu silat untuk dijadikan pengawal pribadi, menjaga keselamatan Kaisar sekeluarga. Akan tetapi sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang terpelajar, ahli sastra. Maka, tidak mengherankan kalau sekumpulan orang pandai ini mudah menggunakan kecerdikan mereka, menguasai politik pemerintahan, dan memengaruhi Kaisar.

Kaisar Cung Ceng yang memang pada dasarnya lemah itu seolah menjadi boneka dan menurut saja kepada para Thai-kam pimpinan yang dia anggap sebagai hamba-hamba yang baik dan setia! Maka, biarpun kekuasaan masih berada di tangan Kaisar, namun sesungguhnya segala keputusan yang disahkan dan ditandatangani Kaisar itu keluar dari pikiran para Thai-kam.

Memang tepatlah pendapat dan ajaran para bijaksana zaman dahulu bahwa yang terpenting bagi manusia adalah hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Benar dan baik merupakan syarat bagi manusia untuk dapat hidup berbahagia. Para bijaksana selalu menasihati keturunan dan muridnya begini:

"Aku tidak ingin melihat kamu menjadi orang kaya raya, atau menjadi orang pintar, atau menjadi orang berkuasa! Aku hanya ingin kamu menjadi orang yang baik dan benar! Hanya orang yang baik dan benarlah menjadi kekasih Thian (Tuhan) dan menerima kasih karunia dan kebahagiaan dunia dan akhirat!"

Baik dan benar merupakan dasar bagi ketenteraman dan kebahagiaan. Orang kaya belum tentu benar, orang pintar belum tentu benar, orang berkuasa belum tentu benar. Orang yang baik dan benar tentu merupakan penyalur berkat Tuhan bagi manusia lain, bagi dunia. Akan tetapi sesungguhnya, orang kaya, orang pintar, orang berkuasa tanpa didasari sifat baik dan benar, sering malah mendatangkan malapetaka bagi manusia dan dunia karena keadaannya itu terkadang membuat dia sewenang-wenang, memikirkan kesenangan diri pribadi saja, bahkan menggunakan kekayaan, kepintaran, atau kekuasaannya untuk menindas orang lain yang dianggap menjadi penghalang kesenangannya.

Demikianlah keadaan para Thai-kam di dalam istana Kaisar Cung Ceng, pada masa terakhir pemerintahan Kerajaan atau Dinasti Beng. Mereka terdiri dari orang-orang pintar, kaya raya, dan berkuasa, namun tidak memiliki watak dasar baik dan benar tadi. Maka sepak terjang mereka hanya menimbulkan kesengsaraan bagi negara dan bangsa. Pemerintahan Kaisar Cung Ceng menjadi lemah, banyak peraturan yang sewenang-wenang menindas rakyat. Para pejabat pemerintah yang baik, yang setia, yang ingin membawa roda pemerintahan melalui jalan yang benar dan menyejahterakan rakyat, menjadi penghalang bagi para Thai-kam dan mereka itu, satu demi satu, disingkirkan dari jabatannya. Bahkan, yang dianggap berbahaya karena sikapnya menentang para Thai-kam, banyak di antara mereka bukan hanya dipecat oleh Kaisar atas bujukan para Thai-kam, melainkan dihukum berat dengan tuduhan fitnah memberontak.

Kalau pemerintah gagal menyejahterakan rakyat, bahkan menyengsarakan rakyat, maka akibatnya mudah diduga. Di mana-mana terjadilah pemberontakan.

Muncul orang-orang gagah yang tidak suka dengan keadaan itu dan mereka ini memiliki banyak pengikut, membentuk laskar-laskar rakyat, dan mulai mengadakan aksi menentang kerajaan!

Di antara para pemberontak itu, yang paling kuat memiliki banyak sekali pengikut sehingga namanya terkenal dan menjadi bagian sejarah, adalah Li Cu Seng. Sebetulnya, Li Cu Seng tadinya adalah seorang pendekar ahli silat dari dusun, bukan orang penting dan bukan orang ternama. Namun, sikapnya yang gagah dan wibawanya yang kuat menggerakkan ratusan ribu orang yang dengan sukarela menjadi pengikutnya. Terbentuklah barisan yang kokoh kuat dan mulailah pasukan Li Cu Seng bergerak. Pendekar yang berasal dari Provinsi Shensi ini memimpin laskarnya dan mulai penyerangannya dari utara dan barat. Pada waktu itu orang-orang Mancu sudah mengembangkan kekuasaannya ke selatan, namun gerakan mereka itu terbentur dan terhenti oleh pertahanan pasukan pemerintah Kerajaan Beng yang berjaga di Tembok Besar yang kokoh itu.

Dalam tahun 1640 Honan terjatuh ke tangan Li Cu Seng, dan dengan cepat pasukannya bergerak dan menduduki Provinsi Shensi dan Shansi. Di beberapa daerah ini, jumlah pengikutnya bertambah dan dia berhasil menghimpun pasukan yang besar dan kuat. Pemerintahan Kaisar Cung Ceng yang dipenuhi para Thai-kam dan pejabat tinggi yang korup tidak mendapat dukungan rakyat. Bahkan banyak pula panglima perang yang besar kekuasaannya seolah kurang mengacuhkan adanya pemberontakan Li Cu Seng yang semakin mendekati kota raja Peking. Banyak panglima perang juga sudah muak dengan pemerintahan Kaisar Cung Ceng yang korup dan dikuasai Thai-kam itu. Diam-diam mereka mengharapkan pergantian pimpinan pada pemerintah Dinasti Beng.

Di antara para panglima besar ini, yang terkenal adalah Panglima Bu Sam Kwi. Panglima Bu Sam Kwi memiliki pasukan yang besar dan kuat dan berkat pertahanannya di Tembok Besar Sa-hai-koan di mana Tembok Besar sampai di tepi lautan, maka pasukan Mancu tidak mampu menembus ke selatan. Panglima Bu Sam Kwi terkenal sebagai seorang panglima yang pandai memimpin pasukan, dan diam-diam dia menaruh simpati kepada gerakan Li Cu Seng yang merupakan seorang Beng-cu (Pemimpin Rakyat) yang berjuang membebaskan pemerintah dari cengkeraman para pejabat korup. Maka, Panglima Bu Sam Kwi seolah-olah menutup sebelah mata dan pura-pura tidak tahu bahwa gerakan pemberontakan Li Cu Seng sudah menguasai beberapa provinsi, bahkan mulai mendekati kota raja Peking!

Pada suatu pagi bulan kedua tahun 1644, tiga orang penunggang kuda menjalankan kudanya dengan santai di jalan umum di luar kota raja Peking sebelah barat. Yang berada di tengah adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh sedang namun tegap dan gagah, duduk di atas punggung kuda dengan tegak lurus menunjukkan seorang ahli, wajahnya membayangkan kegagahan dan kekerasan, sepasang matanya tajam bagaikan mata burung rajawali, pakaiannya seperti seorang petani sederhana dan di punggungnya tergantung sebatang pedang. Dua orang yang menunggang kuda di kanan kirinya adalah pria-pria berusia sekitar lima puluh tahun, yang seorang bertubuh tinggi kurus wajahnya seperti tengkorak dan yang kedua bertubuh tinggi besar seperti raksasa, wajahnya penuh brewok menyeramkan. Juga dua orang ini mempunyai senjata golok yang terselip di punggung mereka.

Pria yang berada di tengah dan dari sikap kedua orang pendampingnya mudah diduga bahwa dialah yang menjadi pemimpin, bukanlah orang biasa. Dialah pendekar Li Cu Seng yang amat terkenal dan dipuja ratusan ribu orang sebagai pejuang yang hendak menumbangkan kekuasaan yang dianggap lalim di Kerajaan Beng. Adapun dua orang pendampingnya itu adalah dua orang pembantunya yang setia. Yang seperti raksasa brewok bernama Gu Kam, sedangkan yang bertubuh tinggi kurus bermuka tengkorak adalah Giam Tit, sute (adik seperguruan) dari Gu Kam. Kedua orang ini adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai yang terkenal lihai ilmu goloknya.

Li Cu Seng adalah seorang pemimpin rakyat yang amat terkenal dan dia mempunyai pasukan yang amat besar jumlahnya. Sebagai seorang panglima besar, mengapa dia sekarang berkeliaran di luar kota raja, ditemani dua orang pembantunya, berpakaian seperti tiga orang desa biasa?

Li Cu Seng, selain lihai ilmu silatnya, juga merupakan seorang pemimpin barisan yang pandai. Setelah menguasai beberapa provinsi di barat dan daerah utara, dia memimpin barisannya menuju kota raja Peking. Dan sebagai seorang ahli perang yang ulung, kini dia turun tangan sendiri melakukan penyelidikan di luar benteng kota raja sebelah barat, ditemani dua orang pembantunya. Dia memang sudah menyebar para mata-mata dan penyelidik untuk mempelajari kekuatan musuh di kota raja, akan tetapi dia tidak merasa puas kalau tidak terjun sendiri melakukan penyelidikan. Di sinilah letak kekuatan dari Li Cu Seng. Dia teliti dan penuh perhitungan, melengkapi kekuatan pasukannya dengan kecerdikannya. Dua kelebihan ini digabung dan mendatangkan keberhasilan kepadanya.

Karena kini pasukannya sudah siap untuk melakukan penyerbuan ke kota raja Peking, maka Li Cu Seng, ditemani dua orang pembantunya yang setia, melakukan pengamatan sendiri untuk melihat bagaimana kekuatan pasukan kerajaan yang melakukan penjagaan di kota raja.

Sementara itu, di kota raja sendiri, para panglima yang masih setia kepada Kaisar Cung Ceng sibuk melakukan persiapan untuk mempertahankan kota raja dari ancaman laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng yang sudah menguasai sebagian besar daerah barat dan utara. Akan tetapi mereka ini sebagian besar adalah para panglima yang berpihak pada para Thai-kam, para panglima yang memperoleh kedudukan tinggi karena jasa para Thai-kam dan yang mendapatkan pembagian harta benda yang mereka korup. Karena mereka hanya setia kepada harta, kedudukan, dan kesenangan, maka tentu saja mereka juga tidak sepenuh hati membela Kerajaan Beng, walaupun jumlah pasukan mereka masih cukup banyak dan kuat. Kaisar Cung Ceng sendiri tidak menyadari bahwa kota raja sudah terancam oleh laskar rakyat pimpinan Li Cu Seng. Para Thai-kam sengaja menimbuni Kaisar dengan segala macam pesta dan kesenangan. Akan tetapi mereka juga berusaha untuk menyelamatkan diri. Mereka menghubungi dan mengirim sogokan kepada para panglima besar yang bertugas di perbatasan. Juga Panglima Bu Sam Kwi menerima sogokan dan hadiah dengan permintaan agar Panglima Bu Sam Kwi mengirim bala-tentaranya untuk melindungi kota raja dari ancaman musuh. Akan tetapi, Panglima Bu Sam Kwi yang memang sudah tidak suka kepada Cung Ceng, tidak mengacuhkan permintaan itu. Bahkan diam-diam Panglima Bu Sam Kwi condong mendukung gerakan Li Cu Seng untuk menumbangkan Kaisar Cung Ceng yang menjadi kaisar boneka di bawah pengaruh para Thai-kam.

Li Cu Seng dan dua orang pembantunya, Gu Kam dan Giam Tit, terlalu memandang rendah kepada para pimpinan pasukan pertahanan kota raja. Karena memandang rendah, mereka menjadi lengah, tidak tahu bahwa rahasia kedatangan mereka mendekati kota raja telah diketahui mata-mata pasukan kerajaan! Bagaimanapun juga, di kota raja masih terdapat panglima tua yang amat setia kepada Kerajaan Beng. Biarpun mereka juga tidak suka melihat Kaisar dikuasai para Thai-kam, namun mereka tetap setia kepada Dinasti Beng dan siap untuk membela kerajaan itu mati-matian dengan taruhan nyawa. Dalam keadaan kota raja terancam bahaya, maka para panglima yang setia inilah yang mengundang para pendekar untuk membantu pasukan kerajaan mempertahankan Peking dari serangan musuh.

Di antara panglima ini terdapat seorang panglima tua, yaitu Panglima Ciok Kak yang biasa disebut Ciong-goanswe (Jenderal Ciong). Usianya sudah enam puluh lima tahun, namun dia masih gagah perkasa, terkenal sebagai seorang ahli silat dan ahli perang yang berpengalaman. Bahkan dia mengenal baik para pendekar di dunia kang-ouw karena dia sendiri adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai. Dialah yang mengepalai bagian para penyelidik yang merupakan bagian penting dari pasukan pertahanan kota raja. Dia mengundang para pendekar gagah untuk menjadi penyelidik.

Ciong Goanswe ini yang mengutus tujuh orang pendekar, dijadikan mata-mata yang melakukan penyelidikan dan pengawasan di luar kota raja, bersama belasan orang pendekar lain. Tujuh orang ini melakukan pengamatan di sebelah barat, luar benteng kota raja. Mereka adalah Su Lok Bu, seorang murid Siauw-lim-pai yang pandai, juga seorang pensiunan perwira kerajaan. Orangnya berusia sekitar lima puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar berkulit hitam, mukanya penuh brewok dan matanya lebar seperti Panglima Thio Hwi dalam cerita Sam Kok, dan dia seorang ahli bermain siang-kiam (sepasang pedang) yang kosen.

Orang kedua adalah seorang pensiunan perwira pula, sahabat dari Su Lok Bu sejak muda, bernama Cia Kok Han, berusia sekitar lima puluh dua tahun pula. Cia Kok Han ini seorang murid Bu-tong-pai yang terkenal dengan senjata twa-to (golok besar). Tubuhnya pendek dengan perut gendut, kulitnya putih, matanya sipit sekali, dan seluruh rambut serta jenggotnya sudah putih semua.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment