Chapter 57
Kita mengenal Su Lok Bu dan Cia Kok Han karena dua tahun yang lalu mereka bekerja sebagai pengawal pribadi Pui Ki Cong atau yang dikenal sebagai Pui Kongcu (Tuan Muda Pui), yaitu orang pertama yang menjadi musuh besar Kim Cui Hong. Pui Kongcu kemudian disiksa hingga menjadi penyandang disabilitas berat oleh gadis itu sebagai bentuk pembalasan dendam. Setelah peristiwa pembalasan dendam Kim Cui Hong terhadap empat orang yang pernah memperkosa dan menghinanya—yang berakhir dengan tiga orang disiksa dan seorang bunuh diri—dua orang jagoan ini segera mengundurkan diri. Mereka berdua adalah pendekar dari perguruan Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai. Setelah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, mereka segera meninggalkan keluarga bangsawan Pui. Keduanya menyadari bahwa mereka telah bekerja sebagai pengawal seorang pemuda bangsawan yang pernah melakukan perbuatan keji terhadap Kim Cui Hong. Mereka merasa malu dan pergi tanpa pamit.
Kemudian, dua orang sahabat ini memenuhi panggilan Jenderal Ciong Kok yang mereka kenal baik dan mendapat tugas mengamati keadaan di luar benteng kota raja bagian barat. Dua jagoan ini ditemani oleh lima jagoan lain yang terkenal dengan sebutan Liong-san Ngo-eng (Lima Pendekar Bukit Naga). Mereka adalah kakak beradik seperguruan, tokoh-tokoh perguruan silat Liong-san-pai yang merupakan ahli silat pedang yang cukup tangguh.
Tujuh orang mata-mata pemerintah ini telah mendapat berita dari para penyelidik yang melakukan pengamatan dari benteng kota raja bahwa ada tiga orang penunggang kuda yang berpakaian seperti penduduk dusun. Namun, cara mereka menunggang kuda dan keberadaan senjata di punggung mereka menimbulkan dugaan bahwa mereka bukanlah penduduk dusun biasa. Mereka patut dicurigai dan diselidiki lebih lanjut karena ketiga orang itu menuju ke arah kota raja.
Demikianlah, karena memandang rendah pertahanan kota raja Peking, pemimpin laskar rakyat Li Cu Seng menjadi lengah. Ketika dia dan dua orang pembantunya tiba di luar tembok benteng, di tepi sebuah hutan, mereka menghentikan kuda mereka. Li Cu Seng memberi isyarat dan dua orang pembantunya, Cu Kam dan Giam Tit, ikut turun dari kuda. Mereka menambatkan kuda di pohon tepi hutan itu.
"Dari sini kita harus berjalan kaki. Bersikaplah biasa dan kalau ada pertanyaan, kita mengaku akan mengunjungi keluarga yang tinggal di kota raja," kata Li Cu Seng dengan sikap tenang.
Dua orang pembantunya mengerutkan dahi dan tampak ragu serta khawatir.
"Memasuki kota raja?" tanya Gu Kam. "Akan tetapi itu berbahaya sekali, Li-bengcu (Pemimpin Li)!"
"Hemm, Gu-twako, apakah engkau takut?" Li Cu Seng bertanya sambil menatap wajah raksasa brewok itu dengan sinar mata tajam.
"Li-bengcu, engkau tahu bahwa aku tidak pernah takut!" jawab Gu Kam.
"Suheng (kakak seperguruan) Gu Kam tentu saja tidak takut, Li-bengcu. Akan tetapi yang kami khawatirkan adalah bengcu sendiri. Kalau sampai ketahuan musuh bahwa bengcu sendiri yang memasuki kota raja, bagaimana mungkin kami berdua dapat melindungi bengcu dari sergapan balatentara kerajaan yang berkumpul di sana?" kata Giam Tit.
Li Cu Seng tersenyum dan mengangguk-angguk. Tentu saja dia tidak pernah meragukan kesetiaan dan kegagahan dua orang pembantunya ini.
"Gu-twako dan Giam-twako, aku tahu benar bahwa kalian berdua tidak takut menghadapi apa pun juga. Sejak semula kita semua sudah menyadari bahwa perjuangan ini berarti mempertaruhkan nyawa kita. Hanya ada dua pilihan: berhasil atau mati! Karena itu, mengapa kita ragu kalau ada bahaya menanti dalam kota raja? Kiranya tidak ada yang tahu akan penyamaran kita bertiga. Kalau ada yang bertanya, jangan lupa mengatakan bahwa kita datang dari dusun dan hendak mengunjungi keluarga Panglima Bu Sam Kwi yang tinggal di kota raja."
"Akan tetapi, apakah bengcu benar-benar mengenal Jenderal Bu Sam Kwi?" tanya Giam Tit. Li Cu Seng tersenyum. "Tentu saja aku mengenalnya, bahkan kami dulu menjadi sahabat baik. Aku akan memakai nama marga Cu, dan kalian berdua adalah kakak beradik she (bermarga) Kam. Nah, mari kita memasuki kota raja. Kita tinggalkan kuda di sini." Mereka bertiga menambatkan kuda pada batang pohon, namun melepaskan kendali dari hidung dan mulut kuda-kuda itu sehingga ketiga binatang tersebut dapat memakan rumput yang tumbuh subur di bawah pohon.
Su Lok Bu dan Cia Kok Han memberi isyarat kepada lima orang Liong-san Ngo-eng untuk mendekat. Mereka bertujuh lalu berunding.
"Kita belum yakin siapa mereka dan apa niat mereka. Belum tahu benar apakah mereka itu lawan atau kawan. Maka kita bayangi saja ke mana mereka pergi. Lihat, mereka bertiga meninggalkan kuda dan kini berjalan menuju ke pintu gerbang kota raja. Kita bayangi dari jauh!" bisik Cia Kok Han.
Tujuh orang itu membayangi tiga orang yang berjalan dengan santai menuju ke pintu gerbang. Setelah tiba di pintu gerbang, para penjaga menghadang dan menghentikan tiga orang tersebut.
"Berhenti! Kami mendapat tugas untuk memeriksa semua pendatang yang tidak kami kenal. Hayo katakan, siapa kalian, datang dari mana, dan hendak ke mana?" tanya komandan jaga dengan sikap tegas.
Li Cu Seng melangkah maju dan memberi hormat. "Sobat, dalam keadaan seperti sekarang ini, memang kalian sebagai penjaga harus teliti dan tegas. Sikapmu ini mengagumkan dan pasti akan mendapat pujian dari Panglima Besar Bu Sam Kwi. Kami akan melaporkan ketegasanmu ini kepada beliau!"
"Panglima Besar Bu Sam Kwi?" Komandan jaga bertanya, matanya terbelalak. Tentu saja dia tahu siapa Panglima Besar Bu Sam Kwi. Semua orang mengenal panglima besar yang amat terkenal itu, apalagi prajurit seperti dia dan kawan-kawannya.
"Engkau menyebut nama Panglima Besar Bu Sam Kwi? Apakah kalian bertiga ini prajurit anak buah Bu Thai-ciangkun (Panglima Besar Bu)?"
Li Cu Seng tersenyum, sengaja mengambil sikap angkuh, dan dua orang pembantunya juga mengimbangi sikap ini dengan membusungkan dada.
"Prajurit? Kami adalah perwira pembantu beliau yang amat dipercaya sehingga beliau kini mengutus kami untuk mengunjungi keluarga beliau di kota raja."
Sikap komandan jaga dan anak buahnya yang berjumlah selusin orang itu berubah. Komandan jaga memandang hormat. "Ah, maafkan karena kami tidak mengenal sam-wi (tuan bertiga). Akan tetapi, kalau sam-wi para pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi, mengapa tidak mengenakan pakaian dinas?"
"Eh, kawan. Di luar sana terdapat banyak pasukan pemberontak. Kalau kami memakai pakaian perwira, tentu kami tidak akan dapat sampai di sini! Kami sengaja menyamar sebagai petani agar dapat mudah masuk ke kota raja dan menyampaikan pesan Panglima Besar Bu kepada keluarganya di kota raja."