Chapter 58
"Baiklah, kami percaya. Akan tetapi demi ketertiban, harap kalian memperkenalkan nama agar kami catat."
"Aku bermarga Cu, dan dua orang temanku ini adalah kakak beradik bermarga Kam. Sekarang maafkan kami karena kami harus segera menghadap keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi," kata Li Cu Seng. Para penjaga itu tidak berani lagi menghalangi dan mereka mempersilakan tiga orang yang mengaku sebagai perwira utusan Jenderal Bu memasuki pintu gerbang kota raja.
Akan tetapi, pada saat itu, tujuh orang penunggang kuda yang berpakaian sebagai perwira datang dari luar. Su Lok Bu dan Cia Kok Han melompat turun dari atas punggung kuda mereka, diikuti oleh lima orang Liong-san Ngo-eng. Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah menghadang tiga orang yang baru hendak memasuki pintu gerbang. Su Lok Bu, murid Siauw-lim-pai yang bertubuh tinggi besar, hitam, dan brewokan itu berkata dengan suara nyaring.
"Harap kalian bertiga berhenti dulu!" seru Su Lok Bu sambil berdiri tegak di depan tiga orang itu dan mengamati wajah mereka dengan tajam menyelidik. "Siapakah kalian, datang dari mana, dan hendak ke mana?"
Dengan penuh kewaspadaan namun dengan sikap yang tenang, Li Cu Seng tersenyum lalu menjawab, "Baru saja para penjaga pintu gerbang sudah menanyakan hal yang sama kepada kami dan sudah kami jawab dengan sejelasnya. Akan tetapi, kalau kalian ingin tahu, boleh kami ulang jawaban kami. Aku bermarga Cu dan dua orang temanku ini kakak beradik bermarga Kam. Kami bertiga datang dari barisan penjaga garis depan di San-hai-koan. Kami adalah tiga orang perwira kepercayaan Panglima Besar Bu Sam Kwi dan diutus oleh Bu Thai-ciangkun untuk mengunjungi keluarganya di kota raja."
Cia Kok Han yang bertubuh pendek gendut bertanya, "Maafkan kami, sobat, kalau kami bersikap teliti. Kalau kalian bertiga benar perwira pembantu Panglima Besar Bu Sam Kwi, tolong perlihatkan surat kuasa sebagai tanda agar kami merasa yakin. Juga agar kalian memberi keterangan mengapa kalian berpakaian seperti petani dusun dan mengapa pula kalian meninggalkan tiga ekor kuda tunggangan di hutan itu."
Diam-diam tiga orang pimpinan laskar pemberontak itu terkejut. Kiranya tujuh orang itu telah mengetahui bahwa mereka datang berkuda! Ini berarti bahwa sejak jauh, mereka telah diawasi. Akan tetapi, Li Cu Seng yang cerdik tetap tenang ketika dia menjawab sambil tersenyum.
"Kami kira sebagai perwira berpengalaman, tentu kalian mengerti keadaan kami. Di luar sana terdapat banyak sekali pasukan pemberontak. Kalau kami mengenakan pakaian perwira, sudah pasti kami tidak mungkin dapat sampai di sini dan sudah terbunuh di tengah perjalanan. Kami sengaja meninggalkan kuda kami di hutan karena kami ingin menyamar sebagai orang desa agar tidak menarik perhatian. Dan tentang surat-surat yang menunjukkan bahwa kami utusan Panglima Besar Bu Sam Kwi, ah, tentu kalian sudah mengetahui. Kami adalah prajurit-prajurit yang setia sampai mati. Andaikata kami yang melaksanakan tugas ini harus mati dalam perjalanan, jangan sampai ada yang mengetahui siapa kami untuk menjaga rahasia pimpinan kami."
Jawaban yang lancar ini membuat hati Su Lok Bu, Cia Kok Han, dan kelima Liong-san Ngo-heng merasa puas.
"Maafkan kalau kami memeriksa dengan teliti karena kami tidak ingin kecolongan. Nah, kalau begitu silakan kalian melanjutkan perjalanan ke rumah keluarga Panglima Besar Bu. Perkenalkan, kami bertujuh adalah para pembantu Ciong Goan-swe yang juga merupakan rekan dan sahabat Panglima Besar Bu Sam Kwi. Kami akan melaporkan kedatangan kalian di kota raja kepada beliau," kata Su Lok Bu.
Diam-diam hati Li Cu Seng terkejut juga. Kalau Jenderal Ciong sendiri yang bertemu dengannya, tentu jenderal itu akan mengenalnya. Maka dia cepat mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalanannya ke dalam kota raja, diikuti oleh dua orang pembantunya. Karena Li Cu Seng menduga bahwa para perwira tadi cerdik dan tidak akan melepaskannya dari pengawasan begitu saja, dia terpaksa mengajak dua orang temannya menuju ke rumah keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi, tidak jadi langsung menyelidiki keadaan dan kekuatan benteng pasukan kerajaan.
Dua orang temannya berbisik, menyatakan kekhawatirannya jika mereka mengunjungi keluarga Bu Sam Kwi. Bagaimana kalau keluarga itu mengenal Li Cu Seng? Pasti akan gempar dan pasukan datang menangkap mereka. Di dalam kota raja, mereka bagaikan tiga ekor harimau yang sudah terjebak dalam ruangan tertutup dan tidak mungkin dapat lolos.
"Jangan khawatir, tidak ada seorang pun anggota keluarga Bu Sam Kwi yang pernah mengenal aku. Bahkan Bu Sam Kwi sendiri kalau bertemu dengan aku, belum tentu dapat mengenalku. Kami bersahabat ketika kami masih muda, belasan tahun yang lalu. Jangan khawatir, kita ke sana dan biarkan aku yang bicara dengan mereka. Setelah ada kesempatan, baru kita akan berkeliling dalam kota untuk melakukan penyelidikan."
Tiga orang itu lalu menuju ke rumah besar yang menjadi tempat tinggal keluarga Panglima Besar Bu Sam Kwi. Tentu saja mereka sudah tahu di mana rumah itu karena sebelumnya mereka telah mempelajari keadaan kota raja dari para penyelidik yang lebih dulu disebar di Peking. Ketika mereka sedang berjalan dan tiba di depan sebuah pasar, seorang pengemis berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian compang-camping penuh tambalan, terbungkuk-bungkuk menghampiri mereka dan menyodorkan sebuah mangkuk retak dengan tangan kanannya untuk meminta sedekah. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat hitam.
"Kasihanilah, Tuan, berilah sedikit sumbangan!" kata pengemis itu dengan suara cukup lantang sehingga terdengar orang-orang di sekitar tempat itu. Li Cu Seng dan dua orang pembantunya segera mengenali pengemis ini. Ada belasan orang anggota Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam), sebuah perkumpulan pengemis yang mendukung gerakan Li Cu Seng, memang telah menyusup ke dalam kota raja dan menjadi mata-mata yang melaporkan keadaan kota raja kepada para pimpinan pemberontak. Maka Li Cu Seng dan dua orang temannya segera mengeluarkan uang receh dan memasukkannya ke dalam mangkuk retak itu. Ketika tidak ada orang lain memperhatikan peristiwa biasa dan wajar ini, si pengemis berbisik.
"Beng-cu (Pemimpin Rakyat), hati-hati, ada beberapa ekor serigala membayangi." Setelah berbisik demikian, pengemis itu pergi. Tiba-tiba Li Cu Seng menjatuhkan dua buah uang receh dan segera membungkuk untuk memungutnya. Kesempatan ini dia pergunakan untuk melihat ke arah belakangnya dan dia dapat melihat lima orang menyelinap di antara para pengunjung pasar. Tahulah dia bahwa mereka itulah yang disebut serigala oleh anggota Hek-tung Kai-pang. Sebutan serigala berarti mata-mata musuh atau kaki tangan pasukan kerajaan.
Li Cu Seng memberi isyarat kepada dua orang temannya untuk berjalan tenang seperti biasa dan dia lalu mengajak mereka pergi ke gedung keluarga Panglima Bu. Gedung itu besar dan halaman depannya amat luas. Akan tetapi anehnya, mereka tidak melihat ada prajurit yang berjaga di gardu dekat pintu gerbang. Padahal, Panglima Bu Sam Kwi adalah seorang pembesar militer yang memiliki kedudukan tinggi, bahkan kini pertahanan seluruh balatentara kerajaan untuk menghadang gerakan orang-orang Mancu berada di tangannya. Akan tetapi mengapa rumah keluarga panglima yang berkuasa itu tidak dijaga prajurit? Karena tidak ada yang menjaga, tiga orang itu langsung saja memasuki halaman yang luas menuju ke pendapa gedung besar tersebut.
Ketika mereka tiba di pendapa, dua orang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai pelayan keluar menyambut. Melihat bahwa yang datang hanya tiga orang laki-laki berpakaian seperti orang desa, dua orang pelayan itu mengerutkan alis mereka dan tampak tidak senang.
"Heh, siapa kalian dan mau apa datang ke sini!" seorang di antara mereka membentak, tampak marah.
"Kalau mau minta pekerjaan atau minta sumbangan, kami tidak dapat membantu dan hayo pergi dari sini!" kata orang kedua, tak kalah galaknya.
Li Cu Seng dan dua orang pembantunya segera dapat mengenal dua orang pelayan ini. Dari sikap mereka, tahulah Li Cu Seng bahwa mereka berdua adalah orang-orang yang suka menjilat ke atas dan menekan ke bawah, mencari muka kepada atasan dan merendahkan bawahan. Dia tahu bahwa Kerajaan Beng kini penuh dengan orang-orang macam ini. Sebagian besar para pejabatnya adalah penjilat kaisar yang memeras rakyat dan menumpuk harta kekayaan. Karena para pembesar sebagian besar merupakan penjilat dan koruptor, dia tergerak dan mengerahkan laskar rakyat untuk memberontak demi meruntuhkan kekuasaan para koruptor itu. Baru dua orang pelayan saja sudah begini sikapnya. Dia yakin bahwa mereka ini merupakan sebagian dari anak buah atau pendukung dari para thai-kam yang kini berkuasa di istana.
Gu Kam dan Giam Tit sudah tidak sabar melihat sikap dua orang pelayan itu. Gu Kam yang tinggi besar dan brewok melangkah ke depan menghadapi mereka dan berkata dengan suara keras, "Kami adalah perwira-perwira utusan Panglima Besar Bu Sam Kwi! Cepat laporkan kepada keluarga Panglima Bu bahwa kami diutus untuk bicara dengan keluarga beliau!"
Dua orang pelayan itu saling pandang dan cengar-cengir. Jelas bahwa mereka tidak percaya dan menghina. "Huh, siapa percaya?" kata yang seorang.
"Kalian bohong! Hayo pergi! Mana ada perwira-perwira seperti kalian, tiga orang desa kotor?"