Chapter 63
Kim Lan Hwa terpaksa duduk kembali. Kini, wanita bangsawan ini tidak dapat lagi menggunakan gertakan karena keadaan Li Cu Seng sudah ketahuan, dan ini berarti bahwa ia mempunyai hubungan dengan pimpinan pemberontakan itu!
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cantik sudah berdiri dekat kereta.
"Enci Kim Lan Hwa, jangan khawatir, aku datang melindungimu!"
Kim Lan Hwa terbelalak memandang gadis itu dan ia berseru girang, "Cui Hong!"
Perwira tua yang tadi menodongkan pedangnya kini membalik dan menyerang Cui Hong. Akan tetapi, Cui Hong yang hanya memegang sebatang ranting dengan mudah mengelak. Sekali ranting itu berkelebat, jalan darah di pundak perwira itu telah tertotok sehingga lengan kanannya lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan. Kaki kiri Cui Hong menendang.
"Bukk...!" Perut perwira itu tertendang sehingga tubuhnya terpental dan dia roboh pingsan!
"Adik Cui Hong, cepat engkau bantu mereka!" Kini Kim Lan Hwa menunjuk ke arah Li Cu Seng yang masih kerepotan dikeroyok lima orang itu. Sementara itu, dua orang pembantunya, Gu Kam dan Giam Tit, juga masih bertanding seru dengan lawan masing-masing. Kim Lan Hwa segera mengenal Kim Cui Hong, putri pamannya. Ia sudah mendengar tentang nasib Cui Hong yang malang dan sudah mendengar pula betapa kini Cui Hong menjadi seorang wanita yang tinggi sekali ilmu silatnya sehingga musuh-musuhnya—yang membunuh ayah dan suheng-nya, yang memperkosa dan menghinanya—semua telah dihukumnya secara mengerikan. Karena yang disiksanya itu adalah putra jaksa tinggi dan orang-orangnya, tentu saja Kim Cui Hong menjadi orang buruan pemerintah. Tentu saja yang memburunya adalah para penjahat yang menjadi kawan-kawan pembesar itu. Maka, kemunculan Cui Hong yang lihai itu menggirangkan hati Kim Lan Hwa.
Seperti kita ketahui, secara kebetulan pada siang hari itu Cui Hong sedang berjalan menuju kota raja untuk mengunjungi saudara sepupunya, yaitu Kim Lan Hwa. Sama sekali tidak disangkanya ia akan bertemu dengan wanita itu di dekat hutan. Melihat perkelahian itu, tadinya ia ragu karena tidak tahu urusannya. Akan tetapi, ketika mengenali Su Lok Bu dan Cia Kok Han yang dulu pernah menjadi jagoan Tuan Muda Pui Ki Cong, ia tidak ragu lagi harus membantu pihak mana. Sudah pasti pihak dua orang bekas kaki tangan Pui Ki Cong itu yang tidak benar. Juga melihat Kim Lan Hwa yang duduk di kereta ditodong seorang perwira, ia cepat turun tangan membereskan perwira itu. Setelah Kim Lan Hwa meminta bantuannya, Cui Hong kembali ragu. Siapa yang harus dibantunya? Jangan-jangan dua orang bekas anak buah Pui Kongcu itu berada di pihak Kim Lan Hwa. Saudara sepupunya ini adalah istri seorang panglima, maka tidak aneh kalau dua orang itu kini menjadi pengawalnya.
"Enci Lan Hwa, siapa yang harus kubantu? Perwira itukah?" tanyanya ragu.
"Bukan! Merekalah yang hendak menangkap aku. Bantulah tiga orang pendekar itu!"
Pada saat itu, Su Lok Bu mengeluarkan bunyi siulan nyaring dan bermunculanlah dua losin prajurit! Tadinya dia memandang rendah tiga orang itu dan merasa yakin akan dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi, setelah mendapat kenyataan betapa lihainya mereka dan melihat pula munculnya seorang gadis cantik memegang ranting yang membuat wajahnya pucat dan jantungnya berdebar, dia cepat memberi isyarat memanggil pasukannya yang tadi sudah siap menanti perintah. Su Lok Bu mengenal Kim Cui Hong! Juga Cia Kok Han mengenalnya sehingga dua orang ini menjadi jerih sekali karena mereka maklum betapa lihainya gadis itu.
Cui Hong sudah menerjang dengan rantingnya. Ia melihat betapa seorang di antara tiga pendekar yang dikeroyok itu kewalahan menghadapi barisan pedang lima orang yang lihai. Ia menyerang dari luar kepungan sehingga yang diserangnya terpaksa membalik untuk membela diri dan kepungan itu menjadi kacau. Melihat kehebatan gerakan ranting di tangan Cui Hong, dua orang dari lima anggota kiam-tin itu terpaksa menghadapinya sehingga Li Cu Seng hanya dikeroyok oleh tiga orang. Tentu saja hal ini membuat dia tidak terdesak lagi.
Barisan pedang itu berusaha untuk memancing Cui Hong ke dalam kepungan. Biarpun ada dua orang, kalau keduanya dapat mereka kepung dalam barisan pedang mereka, tentu mereka berlima dapat mendesak dan mengalahkannya. Akan tetapi, Cui Hong tidak dapat dipancing. Ia tetap saja bergerak di luar kepungan dan Li Seng bergerak di dalam kepungan.
Namun, tidak terlalu lama Li Cu Seng dan Kim Cui Hong membuat lima orang Liong-san Ngo-eng terdesak karena Su Lok Bu telah meniup peluitnya dan dua losin prajurit datang menyerbu. Segera empat orang itu—Li Cu Seng, Kim Cui Hong, Cu Kam, dan Ciam Tit—menghadapi pengeroyokan banyak orang. Tujuh jagoan ditambah dua puluh empat orang prajurit. Orang yang tadi dirobohkan Cui Hong masih belum dapat ikut mengeroyok.
Melihat empat orang itu dikeroyok demikian banyak prajurit, Kim Lan Hwa menjadi khawatir sekali. Kalau mereka itu roboh, ia sendiri tentu akan ditangkap dan dituduh bersekutu dengan para pimpinan pemberontak!
Sementara itu, Su Lok Bu dan Cia Kok Han, dibantu belasan orang prajurit, sudah mengepung Cui Hong.
"Kim Cui Hong iblis betina! Sekarang engkau akan menebus semua dosa kekejamanmu dulu!" bentak Su Lok Bu. "Engkau ikut menjadi seorang pemberontak!"
Cui Hong mengelebatkan rantingnya. "Huh, kiranya engkau anjing-anjing penjilat pembesar korup dan laknat, sampai sekarang tetap saja menjadi anjing penjilat!"
Empat orang itu tentu saja terdesak hebat karena dikeroyok terlalu banyak orang. Memang mereka masing-masing sudah merobohkan dua orang pengeroyok, namun pihak musuh terlalu banyak sehingga keselamatan mereka terancam dan gawat sekali. Melarikan diri pun tidak mungkin karena mereka dikepung banyak orang. Lagi pula, bukan watak Li Cu Seng untuk lari meninggalkan kawan-kawannya. Dia pun bertanggung jawab atas keselamatan Kim Lan Hwa karena bagaimanapun juga, wanita selir Panglima Bu Sam Kwi itu sudah berjasa menolong dia bertiga keluar dari kota raja. Kalau kini dia dan dua orang anak buahnya melarikan diri meninggalkan Kim Lan Hwa dan gadis perkasa yang kini membantu mereka, dunia akan mencemoohkan nama mereka sebagai pengecut yang tidak mengenal budi! Lebih baik mati daripada dianggap pengecut.
Pada saat yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah puluhan orang berpakaian pengemis yang membawa tongkat hitam menyerbu ke tempat pertempuran. Mereka itu adalah para anggota Hek-tung Kai-pang dan mereka segera menyerang para prajurit kerajaan dengan permainan tongkat mereka yang lihai! Jumlah para anggota Hek-tung Kai-pang itu tidak kurang dari empat puluh orang dan mereka rata-rata memiliki ilmu tongkat yang lihai, yang merupakan ilmu istimewa dari Hek-tung Kai-pang. Kini keadaannya menjadi terbalik. Para prajurit terdesak hebat, banyak di antara mereka yang sudah roboh.
Cui Hong mengamuk. Dengan bantuan banyak anggota Hek-tung Kai-pang, ia mendesak Su Lok Bu dan Cia Kok Han dengan ranting di tangannya. Pada saat yang tepat, ia berhasil menendang roboh Su Lok Bu dan tangan kirinya menampar hingga mengenai pundak Cia Kok Han sehingga dua orang ini terpelanting. Akan tetapi, mereka dapat melompat bangkit dan bersama Liong-san Ngo-eng, mereka tanpa malu-malu lagi melarikan diri karena maklum bahwa kalau mereka nekat melawan, akhirnya mereka tentu akan tewas. Sisa para prajurit yang belum roboh juga melarikan diri.
Li Cu Seng lalu meneriaki para anggota Hek-tung Kai-pang untuk membubarkan diri. "Tidak perlu lagi kalian semua kembali ke kotaraja, cukup beberapa orang saja dengan menyamar sebaiknya dan kalian bersiaplah karena penyerbuan akan segera dilakukan. Nona Kim, terpaksa engkau harus ikut dulu dengan kami karena kami tidak mempunyai waktu mengantar Nona ke San-hai-koan."
"Hong-moi, naiklah dan temani aku!" kata Kim Lan Hwa kepada Cui Hong. Gadis itu pun tidak menolak dan tanpa banyak cakap ia memasuki kereta dan duduk di samping selir panglima besar itu. Karena keadaan mendesak—yaitu para perwira kerajaan tadi tentu akan cepat datang lagi membawa pasukan besar—maka Cui Hong juga tidak ada waktu lagi untuk bercakap-cakap. Kereta segera dilarikan oleh Li Cu Seng. Gu Kam dan Giam Tit menunggangi kuda mereka dan mereka membalap menuju daerah barat yang sudah dikuasai pasukan rakyat pimpinan Li Cu Seng. Setelah kereta berjalan dan mereka duduk bersanding di dalam kereta, barulah Kim Cui Hong yang tangannya dipegang oleh Kim Lan Hwa yang gemetaran itu berkata.
"Enci Lan, apakah artinya semua ini? Engkau adalah istri seorang panglima besar, mengapa engkau malah bersama tiga orang yang dikeroyok para prajurit itu? Mengapa pasukan kerajaan malah mengganggumu? Dan siapakah tiga orang itu?"
"Panjang ceritanya, Hong-moi. Ketahuilah bahwa suamiku, Panglima Bu, kini berada di San-hai-koan memimpin pasukan menjaga tapal batas di timur-laut itu. Semua anggota keluarganya telah diboyong pula ke sana. Hanya aku seorang diri yang tinggal di gedungnya di kota raja."
"Akan tetapi mengapa, Lan-ci? Mengapa engkau tidak ikut pula diboyong ke sana?"
Kim Lan menghela napas panjang. "Ahh, semenjak aku diambil menjadi selir Panglima Besar Bu Sam Kwi, hidupku amat pahit, Hong-moi," katanya dengan nada sedih.