Chapter 66
"Ciong Goan-swe, mengapa melaporkan hal secuil itu seolah-olah perkara besar sehingga mendatangkan kegelisahan dalam hati Sri Baginda Kaisar? Apa arti pemberontakan semacam itu? Semua pemberontakan dapat dihancurkan selama ini!"
"Akan tetapi, Sri Baginda Yang Mulia, kali ini ancaman datang dari Laskar Rakyat yang dipimpin pemberontak Li Cu Seng. Anak buah mereka itu ratusan ribu orang banyaknya!" bantah Jenderal Ciong.
"Maksud Ciong Goan-swe adalah ratusan ribu orang petani dan jembel yang kurang makan sehingga bertubuh kurus dan lemah! Mengapa harus khawatir? Bukankah kita mempunyai balatentara yang cukup banyak dan kuat? Juga kami mendengar banyak pendekar yang siap mempertahankan kerajaan dan kota raja," bantah Thaikam Sue.
"Ciong Goan-swe," kini Kaisar berkata, "Kami percaya akan kemampuan Goan-swe memimpin pasukan. Kami memerintahkan Goan-swe untuk menghancurkan para pemberontak itu!" Kaisar lalu memberi tanda bahwa persidangan ditutup. Jenderal Ciong terpaksa kembali ke benteng dengan wajah muram. Celaka, pikirnya. Air bah sudah merendam tubuh sampai mendekati leher, masih saja Kaisar tidak menyadari bahaya mengancam. Semua ini gara-gara para Thaikam tolol yang berlagak pintar itu! Tidak ada jalan lain bagi Jenderal Ciong sebagai seorang panglima yang gagah, kecuali mempertahankan kota raja mati-matian sampai titik darah terakhir!
Su Lok Bu dan Cia Kok Han, pendekar Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai yang kini menjadi perwira pembantu Jenderal Ciong untuk membela Kerajaan Beng dari ancaman pemberontak, juga merasa kecewa sekali. Akan tetapi, kekecewaan mereka terutama disebabkan karena mereka tidak berhasil menangkap atau membunuh Kim Cui Hong. Dua orang ini menganggap Kim Cui Hong sebagai wanita iblis yang teramat kejam dan jahat. Memang mereka telah mengetahui bahwa Pui Ki Cong, kepada siapa mereka tadinya menghambakan diri, telah melakukan kejahatan terhadap Kim Cui Hong dengan memperkosanya. Begitu pula jagoan-jagoan pembesar Pui, termasuk Koo Cai Sun dan Lauw Ti. Akan tetapi, pembalasan Kim Cui Hong terhadap mereka bertiga melampaui batas perikemanusiaan. Maka, setelah Kim Cui Hong terbebas dari tangkapan mereka dan mereka terpaksa melarikan diri karena munculnya banyak pengemis bertongkat hitam yang lihai, dua orang perwira itu lalu mengunjungi sebuah rumah besar yang terpencil di sudut kota.
Rumah itu besar dan kuno, tampak seram dan sunyi. Akan tetapi, begitu Su Lok Bu dan Cia Kok Han memasuki halaman gedung, dari tempat persembunyian muncul empat orang berpakaian seperti penjaga atau tukang pukul. Sikap garang mereka menghilang ketika dalam keremangan senja itu mereka mengenali dua orang perwira yang datang. "Laporkan kepada Tuan Muda Pui Ki Cong bahwa kami berdua hendak bertemu dan menyampaikan berita penting sekali," kata Su Lok Bu.
Kepala jaga mengangguk dan dua orang perwira itu menunggu di pendapa saat kepala jaga melapor ke dalam. Sebetulnya, Su Lok Bu dan Cia Kok Han sudah tidak membantu Pui Kongcu (Tuan Muda Pui) lagi. Akan tetapi, melihat keadaan bangsawan itu yang amat menderita, terkadang mereka datang menjenguk, bahkan mencarikan tabib yang terkenal pandai untuk merawat tubuh Pui Kongcu yang cacat. Mungkin karena merasa senasib, atau mengingat bahwa nasib dua orang anak buahnya yang juga dibuat cacat oleh Cui Hong itu setia kepadanya, Pui Kongcu bahkan menyuruh orang membawa Koo Cai Sun dan Lauw Ti ke gedung itu dan tinggal bersamanya. Mereka mendapat perawatan tabib yang pandai. Biarpun menjadi manusia cacat, namun karena Pui Kongcu kaya raya, mereka dapat terawat dengan baik.
Tak lama kemudian, kepala jaga keluar dan mempersilakan Su Lok Bu dan Cia Kok Han masuk ke ruangan dalam. Cuaca sudah mulai gelap dan lampu-lampu penerangan mulai dinyalakan sehingga ruangan itu pun terang sekali karena ada lima buah lampu besar. Kalau saja dua orang perwira ini belum pernah melihat tiga orang yang berada di ruangan itu, tentu mereka akan bergidik dan merasa ngeri. Memang keadaan ruangan itu dan penghuninya sangat menyeramkan.
Ruangan yang luas itu sudah terasa mencekam. Penerangan lima lampu besar membuat semua yang berada di situ tampak jelas. Dinding-dindingnya terhias lukisan dan tulisan indah. Pot-pot bunga di setiap sudut menyegarkan, akan tetapi sutra putih yang bergantungan sebagai tirai jendela dan pintu mendatangkan kesan angker, seperti ruangan berkabung karena ada kematian. Di tengah ruangan terdapat meja bundar yang lebar. Di belakang meja tampak tiga orang yang keadaannya amat mengerikan. Mereka semua duduk di atas kursi roda. Mereka adalah Tuan Muda Pui Ki Cong, putra Kepala Jaksa Pui yang telah pensiun setelah dipenjara selama satu tahun. Sekarang, bekas jaksa yang masih kaya raya itu menjadi tuan tanah yang menyewakan banyak rumah. Orang kedua adalah Koo Cai Sun, dan yang ketiga Lauw Ti. Dua orang ini dahulu merupakan bagian dari Thian-cin Bu-tek Sam-eng (Tiga Pendekar Tanpa Tanding dari Thian-cin), bersama mendiang Gan Tek Un yang bunuh diri.
Pui Ki Cong sekarang berusia tiga puluh sembilan tahun, akan tetapi karena mukanya rusak, sukar ditaksir berapa usianya. Muka pemuda bangsawan yang dulunya tampan dan berkulit putih itu kini menyeramkan, seperti muka setan. Seluruh tubuhnya ada bilur-bilur menghitam, bekas luka sayatan akibat cambukan ranting oleh Cui Hong. Kulit mukanya juga penuh luka sayatan yang sudah sembuh namun meninggalkan garis-garis hitam. Sepasang matanya buta dan kosong karena biji matanya sudah copot, bukit hidungnya hilang sehingga tampak berlubang, bibirnya pun hilang sehingga hanya terlihat deretan gigi, bahkan kedua daun telinganya juga lenyap. Sungguh tidak mirip manusia lagi. Semua ini ditambah lagi dengan kelumpuhan kedua kakinya karena tulang-tulangnya hancur. Tadinya, tulang lengan dari siku ke bawah juga remuk, akan tetapi berkat kepandaian tabib, kini dia sudah dapat menggerakkan kedua lengan dan tangannya, walaupun gerakannya kaku. Keadaannya sedemikian menakutkan dan menjijikkan sehingga istri serta anak-anaknya pun merasa takut dan jijik mendekatinya. Maka ia hidup terasing di dalam gedung pemberian orang tuanya itu, hanya dikelilingi pelayan karena kegiatan apa pun harus dibantu.
Koo Cai Sun berusia empat puluh empat tahun, akan tetapi tak seorang pun yang mengenalnya sembilan tahun yang lalu akan dapat mengetahui bahwa si muka setan ini adalah Koo Cai Sun. Keadaannya hampir sama dengan Pui Ki Cong. Kedua telinganya hilang, bukit hidungnya remuk sehingga berlubang melompong, mulutnya tanpa bibir sehingga tampak gigi yang besar-besar dan ompong sebagian. Kedua lengan tangannya bengkok walaupun sudah dapat digerakkan. Biarpun kedua kakinya tidak lumpuh, jari-jari kakinya habis terbakar sehingga ia terpaksa memakai kursi roda.
Orang ketiga, Lauw Ti, berusia sebaya dengan Koo Cai Sun. Mukanya pun cacat, mata kirinya buta karena pecah, dan matanya yang tinggal sebelah kanan memiliki sinar aneh, sinar mata seseorang yang miring otaknya. Ia sering menyeringai dan terkadang terkekeh, aneh dan mengerikan. Kedua tangannya cacat dan tangan kirinya buntung sebatas pergelangan. Kedua kakinya dahulu mengalami patah tulang, namun kini telah sembuh walaupun yang kanan setengah lumpuh sehingga jika berjalan ia harus terpincang-pincang dengan kaki kiri. Maka, ia menggunakan kursi roda untuk bergerak. Biarpun penderitaan jasmani Lauw Ti tidak sehebat Pui Ki Cong dan Koo Cai Sun, penderitaan batinnya lebih hebat sehingga pikirannya terganggu dan menjadi setengah gila.