Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 68

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 68

Setelah membayar harga makanan, pemuda itu diantar ke rumah penginapan di belakang rumah makan tersebut. Seorang pelayan menyambut dan menerima tamu itu dari pelayan rumah makan. Pemuda itu diantar ke kamar yang bersih di bagian depan rumah penginapan, di atas loteng. Dari kamar tidurnya, ia dapat melihat orang-orang yang berlalu-lalang di jalan raya depan rumah makan. Memang ia sengaja memilih kamar di bagian depan. Setelah ditinggalkan pelayan, ia memasuki kamar, menutup pintu, lalu duduk di dekat jendela dan memandang ke arah orang-orang yang melintas. Pemuda tampan itu melamun.

Pemuda itu adalah Kim Cui Hong.

Ketika memperkenalkan namanya kepada pelayan rumah penginapan untuk dicatat dalam daftar tamu, ia memberi nama Ok Cin. Dahulu, ketika menuntut balas kepada musuh-musuh besarnya, ia pernah menggunakan nama samaran Ok Cin Hwa. Sekarang, menyamar sebagai seorang pemuda, ia memakai nama itu, hanya dikurangi huruf Hwa agar pantas untuk nama pria. Ok Cin, Tuan Muda Ok Cin!

Kim Cui Hong termenung. Hatinya bingung menghadapi keadaan negara saat itu. Dahulu, ayahnya, mendiang Kim Siok, guru silat di dusun Ang-ke-bun yang berjiwa pendekar, selalu menasihatinya agar memiliki tiga kebaktian. Pertama, berbakti kepada Thian (Tuhan) yang Maha Kuasa dengan cara hidup bersih, baik, dan benar. Kedua, berbakti kepada orang tua dengan cara menghormati, mencintai, serta merawat mereka. Ketiga, berbakti kepada negara, yaitu Kerajaan Beng. Kebaktian pertama sudah ia laksanakan; ia selalu berusaha agar perbuatannya berada di pihak yang benar dan tidak pernah melakukan kejahatan menuruti nafsu sendiri. Kebaktian kepada orang tua tidak dapat ia laksanakan sepenuhnya karena ibunya telah meninggal dunia sejak ia berusia lima tahun dan ayahnya tewas di tangan para penjahat yang telah ia balas semua. Kini tinggal kebaktian terakhir, yaitu kepada Kerajaan Beng. Hal inilah yang membingungkannya. Ketika ayahnya mengajak ia dan mendiang suhengnya—yang menjadi tunangannya—melarikan diri meninggalkan Ang-ke-bun sebelum disusul para jagoan kiriman Pui Kongcu, ayahnya pernah menyatakan ketidaksenangan terhadap Kerajaan Beng karena kelemahan kaisar yang menjadi boneka di tangan para pembesar lalim. Bahkan, ayahnya berkata bahwa jika terus dikejar-kejar, lebih baik mereka bergabung dengan rakyat yang memberontak terhadap kelaliman kaisar.

Inilah yang membingungkan hatinya. Ia melihat ada tiga kekuasaan besar yang sedang bersaing memperebutkan kekuasaan. Pertama, pemerintahan Kerajaan Beng di mana kaisarnya dikuasai oleh para thaikam sehingga para pejabat sebagian besar melakukan penyelewengan dan korup. Kekuasaan kedua adalah Laskar Rakyat yang dipimpin Li Cu Seng, golongan pemberontak yang paling besar dan kuat. Kekuasaan ketiga dipegang oleh Panglima Besar Bu Sam Kwi yang mengepalai bala tentara dalam jumlah besar di San-hai-koan. Ia harus berpihak ke mana jika terjadi perang? Cui Hong termangu-mangu. Ia tahu bahwa ketiga kekuasaan itu terdiri dari bangsa sendiri. Masing-masing tentu mempunyai alasan dan merasa pihak mereka yang paling benar. Kaisar merasa benar karena dia adalah kaisar, keturunan dari pendiri Dinasti Beng, dan menganggap para penentangnya sebagai pemberontak. Pihak Li Cu Seng merasa benar sebagai pembela rakyat yang tertindas dan menganggap kaisar beserta pejabatnya lalim. Adapun balatentara Bu Sam Kwi merupakan pihak ketiga dan ia tidak tahu pasti panglima besar itu akan berpihak ke mana, setia kepada kaisar atau membantu para pemberontak.

Cui Hong merasa bingung. Andaikata yang bertikai hanya dua pihak, yaitu Kerajaan Beng menghadapi orang asing (Mongol atau Mancu), ia tidak akan ragu lagi. Pasti ia akan membela Kerajaan Beng melawan musuh. Namun, sekarang tiga kekuasaan itu adalah bangsa sendiri yang terpecah-pecah. Jika terjadi perang antara kerajaan melawan pejuang rakyat, akibatnya sama saja: rakyat yang menderita. Kalau kota raja dihancurkan pihak pemberontak, penduduk tentu mengalami kehancuran dan penderitaan. Sebaliknya, kalau pihak pemberontak kalah, laskar yang terdiri dari rakyat itu tentu banyak yang tewas.

Ia lalu membayangkan kakak sepupunya, Kim Lan Hwa. Ia merasa kasihan. Lan Hwa sebetulnya dapat hidup berbahagia sebagai selir Panglima Besar Bu Sam Kwi yang amat mengasihinya. Hal ini diakui sendiri oleh Lan Hwa, meskipun ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada Panglima Bu. Bagaimanapun juga, ia dapat hidup mulia dan terhormat. Sayang, kasih sayang panglima itu menimbulkan rasa iri dan cemburu dalam hati para istri Panglima Bu sehingga akhirnya Lan Hwa dibenci. Kini, Kim Lan Hwa bersama Li Cu Seng, pemimpin pemberontak. Apa yang akan terjadi dengan kakak sepupunya itu? Ia tentu sudah dianggap sebagai pemberontak karena melarikan diri bersama Li Cu Seng. Bagaimana tanggapan Panglima Besar Bu Sam Kwi jika mengetahui selir terkasihnya itu kini pergi bersama Li Cu Seng?

Akhirnya, Cui Hong mengambil keputusan untuk tidak melibatkan diri dalam permusuhan dan perang saudara. Lebih bebas hidup sebagai pendekar yang tidak memihak karena ketiga kekuasaan itu masih sebangsa dan sesaudara. Ia hanya akan melanjutkan pendiriannya sejak dulu: memihak orang-orang yang tertindas, menegakkan kebenaran dan keadilan, serta menentang orang-orang yang bertindak sewenang-wenang dan jahat, tidak peduli dari golongan mana pun. Setelah mengambil keputusan, Cui Hong mandi, berganti pakaian, makan malam, dan tidur. Ia akan meninggalkan kota raja besok pagi sebelum terlambat karena jika sudah terjadi perang, tentu akan sulit baginya untuk keluar dari kota raja. Apalagi jika ada orang yang mengenalinya sebagai wanita yang kemarin membantu pemimpin pemberontak Li Cu Seng, tentu ia akan dikejar-kejar.

Menjelang tengah malam, Cui Hong tersentak bangun. Ia mendengar suara ribut-ribut di luar kamarnya. Cepat ia meniup padam lampu kecil di atas mejanya dan membuka jendela, melihat ke arah jalan raya. Namun, jalanan sudah sunyi, tidak tampak orang berlalu-lalang. Suara keributan itu terdengar di dalam rumah makan. Ia terkejut dan heran mendengar suara senjata tajam beradu, bentakan marah, serta teriakan kesakitan. Ada orang berkelahi, pikirnya.

Menyadari mungkin ada peristiwa penting atau keadaan gawat, ia cepat membereskan pakaian penyamarannya sebagai laki-laki, menggendong buntalan pakaiannya, lalu keluar dari kamar menuju pintu besar bagian luar rumah penginapan. Pintu besar itu tertutup dan anehnya, ia tidak melihat seorang pun di rumah penginapan itu, baik tamu maupun pelayan. Ia membuka daun pintu yang tembus ke ruangan rumah makan dan di bawah penerangan yang cukup, ia melihat perkelahian hebat. Lima orang berpakaian pelayan dan lima orang berpakaian pedagang sedang mati-matian melawan pengeroyokan puluhan prajurit. Ia heran sekali. Lima orang pelayan itu, termasuk pelayan yang melayaninya tadi, ternyata melawan dengan menggunakan pedang dan gerakan mereka cukup lihai. Ia berdiri bingung karena tidak tahu mengapa rumah makan itu diserbu prajurit. Ia tidak ingin mencampuri urusan itu. Namun, belum lama ia berdiri di luar pintu belakang rumah makan, terdengar bentakan nyaring.

"Nah, itu dia si iblis betina!" Lima orang berloncatan mengepung Cui Hong. Dua di antaranya adalah Perwira Su Lok Bu dan Cia Kok Han. Cui Hong terkejut mengetahui rahasianya terbongkar dan keadaannya berbahaya. Namun, ia tidak gentar. Ketika Su Lok Bu menyerang dengan sepasang pedangnya, Cui Hong melompat ke kiri ke ruangan yang lebih luas. Kelima orang itu mengepungnya. Cui Hong cepat menyambar sapu bergagang panjang, mematahkannya hingga tersisa gagang kayu, lalu menggunakannya sebagai senjata. Su Lok Bu menyerang, disusul Cia Kok Han yang menggerakkan golok besar, dibantu tiga prajurit bersenjatakan golok. Namun, Cui Hong tidak gentar. Ia memainkan senjata gagang sapu itu dengan putaran cepat dan pengerahan tenaga sakti. Tubuhnya berkelebatan cepat. Terdengar suara berdentangan, dan lima orang pengeroyok itu terkejut karena tangan mereka tergetar hebat akibat tangkisan. Tiga prajurit itu bahkan terhuyung ke belakang.

Ketika para pelayan rumah penginapan Lok Thian beserta tamunya sudah roboh, terluka, dan tertawan, para prajurit ikut mengeroyok hingga Cui Hong dikepung lebih dari dua puluh orang. Namun, sepak terjang Cui Hong luar biasa. Senjatanya menyambar dahsyat, berubah menjadi gulungan sinar yang merobohkan enam pengeroyok. Ia bersilat dengan ilmu Toat-beng Koai-tung (Tongkat Aneh Pencabut Nyawa), ilmu andalan yang diwarisinya dari mendiang Toat-beng Hek-mo (Iblis Hitam Pencabut Nyawa).

Cui Hong membuat kepungan menjadi agak longgar. Hanya Su Lok Bu dan Cia Kok Han yang masih menyerang dari jarak dekat, namun serangan mereka selalu terpental ketika bertemu dengan gulungan sinar tongkat gagang sapu itu.

Tiba-tiba terdengar tawa bergelak dan muncullah seorang kakek tinggi besar memegang cambuk hitam, diikuti delapan prajurit. Dia adalah Tung Kok yang dimintai bantuan. Mendengar tawa itu, Su Lok Bu dan Cia Kok Han mundur dan memberi isyarat kepada para prajurit untuk membuat kepungan luas agar kakek itu dapat menangkap Kim Cui Hong dengan leluasa. Gadis itu berdiri berhadapan dengan Tung Ok, menatap tajam wajah kakek yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua itu. "He-he-he, Su-ciangkun, mana iblis betina cantik yang kau maksudkan itu? Di sini hanya ada seorang pemuda tampan!" kata Tung Ok.

"Lo-cian-pwe, pemuda itulah penyamaran si iblis betina Kim Cui Hong yang kejam dan jahat, kini menjadi mata-mata pemberontak!" kata Su Lok Bu.

"Hati-hati, Lo-cian-pwe, ia lihai bukan main. Jangan sampai ia lolos!" sahut Cia Kok Han.

"Heh-heh-heh, lolos dari tanganku? Tidak mungkin! Nona, engkau tentu cantik sekali. Dalam pakaian pria pun engkau tampak tampan luar biasa. Kim Cui Hong? Nama yang indah, sesuai orangnya. Nah, Kim Cui Hong, aku adalah Tung Ok, Si Racun Timur, dan semua orang di dunia kang-ouw tunduk kepadaku. Maka, dengarlah, engkau harus tunduk pula padaku! Menyerah dan berlututlah!"

Cui Hong merasa ada kekuatan aneh yang seolah memaksanya berlutut kepada kakek itu. Kakinya gemetar. Tiba-tiba ia teringat nasihat gurunya, mendiang Toat-beng Hek-mo, tentang cara menolak pengaruh sihir. Ia mengerahkan tenaga batinnya, membiarkan tenaga sakti dari tan-tien di bawah pusar bergulung ke atas untuk memperkuat perasaan dan pikirannya.

"Kakek siluman! Siapa mau menyerah kepadamu!" bentaknya.

Tung Ok menjadi marah sekali karena malu. Di depan dua perwira dan puluhan prajurit, sihirnya tidak dapat memengaruhi gadis itu.

"Tidak bisa menangkap hidup-hidup, aku akan menangkapmu dalam keadaan mati!" bentaknya. Kakek itu bergerak cepat dan tongkat hitamnya menyambar dahsyat.

Cui Hong mengenal serangan berbahaya itu, maka ia cepat menggunakan kecepatan gerakan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak ke kiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment