Chapter 69
"Tar-tar-tarrr!" Cambuk itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar ke arah kepala, disusul serangan ke arah pinggang, lalu ke arah kaki secara bertubi-tubi. Hebat sekali serangan cambuk itu. Akan tetapi, Cui Hong memiliki *ginkang* (ilmu meringankan tubuh) yang tinggi sehingga tubuhnya berkelebatan sedikit dan terhindar dari sambaran cambuk. Ketika cambuk menyambar lagi ke arah lehernya, ia melompat ke kanan, membalik, dan menghantam cambuk itu dengan tongkat gagang sapu.
"Wuuuttt... takkk!" Tung Ok berseru kaget dan melangkah mundur. Dia terkejut sekali karena tangkisan gagang sapu itu mampu menggetarkan tangannya yang memegang gagang cambuk! Sulit dipercaya seorang wanita muda memiliki tenaga *sinkang* yang mampu mengimbangi tenaganya. Dia menyerang semakin hebat, memainkan ilmu cambuknya yang ia sendiri anggap tidak ada lawan yang mampu menandinginya. Akan tetapi, Cui Hong tidak mau kalah. Ia memainkan ilmu tongkat warisan gurunya, yaitu Toat-beng Koai-tung, dan terjadilah perkelahian yang amat seru. Gulungan sinar cambuk dan tongkat menyambar-nyambar, terkadang tampak cambuk dan tongkat seolah berubah menjadi banyak. Mereka yang menonton perkelahian itu menjadi kagum dan juga gentar untuk maju membantu. Tung Ok sendiri harus mengakui bahwa baru sekali ini dia bertemu seorang wanita muda yang sanggup melawannya tanpa terdesak, walaupun dia sudah mengerahkan tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus simpanannya. Bahkan tadi ilmu sihirnya juga tidak mampu memengaruhi Cui Hong. Baru sekarang dia tahu mengapa dua orang tangguh seperti Su Lok Bu (murid Siauw-Iim-pai) dan Cia Kok Han (murid Bu-tong-pai) memuji-muji gadis ini dan merasa jerih kepadanya. Sebutan Iblis Betina bukan sebutan kosong.
Setelah perkelahian satu lawan satu itu berlangsung cukup lama, sekitar lima puluh jurus, dan dia belum juga mampu menangkap wanita itu—hidup atau mati seperti yang dikatakannya—Tung Ok menjadi penasaran. Dari perkelahian itu dia tahu bahwa dia pun tidak akan kalah oleh Kim Cui Hong, akan tetapi untuk dapat merobohkan wanita itu pun bukan hal mudah baginya. Kalau dibiarkan terlalu lama, pandangan orang terhadapnya akan menurun. Maka, dia memberi isyarat kepada delapan orang prajurit yang menjadi pembantu dan pengawalnya. Delapan orang yang sejak tadi sudah siap siaga mengepung dalam lingkaran itu tiba-tiba bergerak mengelilingi Cui Hong dan Tung Ok yang masih bertanding seru. Mereka melolos benda lunak hitam dari ikat pinggang mereka. Benda itu ternyata adalah semacam jala ikan yang terbuat dari tali hitam yang halus. Tiba-tiba mereka menggerakkan tangan secara bergantian dan jala berkembang menyambar ke arah Cui Hong. Wanita ini menangkis dengan tongkatnya sambil mengerahkan tenaga, namun ternyata tongkat yang mampu merusak senjata tajam lawan itu tidak mampu memutus tali-tali jala yang terbuat dari bahan yang khas dan aneh, yang tidak akan putus walaupun dibacok senjata tajam sekalipun! Cui Hong terkejut dan mengelak. Ia berhasil mengelak dari sambaran jala-jala itu sampai lima...
Ruangan tertutup yang luas itu tidak terang ketika Su Lok Bu dan Cia Kok Han masuk. Kalau pada waktu pertama kali mereka berdua datang menemui tiga orang tengkorak hidup—yaitu Pui Ki Cong, Koo Cai Sun, dan Louw Ti—dalam ruangan itu dipasang lima buah lampu besar sehingga keadaan terang benderang seperti siang, kini yang dipasang hanya dua buah lampu sehingga remang-remang menyeramkan! Agaknya tiga orang itu memang tidak ingin pekerjaan mereka tampak jelas oleh orang yang selalu mereka tunggu-tunggu, maka Pui Ki Cong sebagai tuan rumah menyuruh para pelayan menyalakan dua buah lampu saja. Baru saja Pui Ki Cong menerima kabar dari Su Lok Bu bahwa musuh besarnya, Kim Cui Hong, telah dapat ditangkap hidup-hidup dan hendak diserahkan kepadanya. Dengan girang sekali dia lalu mengajak Koo Cai Sun dan Louw Ti untuk menanti di dalam ruangan itu, sengaja membuat suasana di situ tidak terang agar keburukan rupa mereka tidak tampak nyata. Dengan perasaan hati berdebar-debar penuh ketegangan dan dendam kebencian, mereka duduk di atas kursi roda masing-masing dan menunggu. Akhirnya, seorang pelayan membuka pintu ruangan itu dari depan dan Su Lok Bu masuk mendorong Kim Cui Hong yang kaki tangannya terbelenggu kuat. Gadis itu masih mengenakan pakaian pria, wajahnya agak pucat, akan tetapi sepasang matanya mencorong dalam keremangan cuaca dalam ruangan itu. Setelah tidak berdaya dalam libatan dan bungkusan delapan helai jaring yang kokoh kuat, Cui Hong sama sekali tidak berkutik ketika ia ditotok oleh Su Lok Bu. Dalam keadaan tak mampu bergerak karena tertotok, dengan mudah Su Lok Bu dan Cia Kok Han melepaskannya dari dalam libatan jala-jala dan membelenggu kedua pasang kaki tangannya.
"Hemm, beginikah sikap dua orang laki-laki yang mengaku gagah perkasa ini? Katanya dahulu adalah pendekar Siauw-lim dan Bu-tong? Curang, main keroyokan, dan tidak adil!" Cui Hong mengejek, sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut.
Wajah kedua orang perwira itu terasa panas. Kalau bukan di waktu malam ketika mereka menangkap gadis itu, tentu akan tampak muka mereka berubah kemerahan.
"Hemm, terhadap seorang wanita yang jahat dan kejam melebihi iblis betina, tidak perlu memakai peraturan orang gagah! Yang jahat harus dibasmi, dengan cara apa pun juga," kata Su Lok Bu untuk menyembunyikan rasa tidak enak mendengar teguran yang mengandung ejekan itu. Memang, sebagai seorang pendekar murid Siauw-lim-pai, amat memalukan kalau mengalahkan musuh dengan cara keroyokan. Akan tetapi, musuhnya ini bukan sekadar *pi-bu* (mengadu kepandaian silat) atau sekadar menguji, melainkan sebagai usaha untuk menyingkirkan orang yang jahat dan amat kejam.
"Huh, kalian ini dulu menjadi anjing-anjing penjilat pembesar Pui dan putranya yang jahat, masih dapat mengatakan orang jahat seperti iblis! Tak tahu malu!" kata pula Cui Hong marah.
"Tidak perlu banyak cerewet! Rasakan pembalasan orang-orang yang engkau siksa dengan kejam. Engkau memang bukan manusia lagi! Hayo!" Su Lok Bu dan Cia Kok Han lalu membawa gadis itu dan setengah menyeretnya menuju ke gedung tempat tinggal Pui Ki Cong. Kini mereka telah menyeret Cui Hong memasuki ruangan remang-remang di mana tiga orang tengkorak hidup itu sudah menanti di atas kursi roda masing-masing, seperti setan-setan yang keluar dari neraka untuk membalas dendam kepada Kim Cui Hong.
Cui Hong didorong masuk dan karena kedua kakinya terbelenggu, ia pun terpelanting roboh dalam keadaan terlentang. Akan tetapi, dengan kedua kakinya yang telah terbebas dari totokan, ia dapat mengangkat tubuhnya dan duduk menghadapi tiga orang di atas kursi roda itu. Matanya mencorong dan terbayang kengerian melihat tiga orang yang wajahnya seperti setan itu memandang kepadanya. Ia merasa ngeri melihat yang duduk di tengah kedua matanya telah berlubang dan tidak ada biji matanya lagi. Ia teringat bahwa orang itu adalah Pui Ki Cong. Yang duduk di sebelah kiri Ki Cong, mata kirinya juga buta dan itu tentulah Louw Ti yang memandang kepadanya dengan mata kanannya yang berputar-putar aneh, bukan mata orang yang waras otaknya. Yang duduk di sebelah kanan itu tentu Koo Cai Sun yang biarpun kedua matanya tidak buta, namun mukanya juga hancur dan kehilangan hidung, bibir, dan telinga, seperti tengkorak hidup. Melihat tiga orang itu, diam-diam Cui Hong bergidik. Baru ia melihat sendiri dan merasa betapa pembalasan sakit hatinya dulu itu memang teramat kejam. Dalam keadaan dendam sakit hati, ia seolah bukan manusia lagi, menyiksa tiga orang sampai sedemikian rupa sehingga kalau ia membunuh mereka bertiga, kiranya tidak sekejam penyiksaan yang dilakukannya itu. Mulailah timbul perasaan penyesalan dalam hatinya yang sekarang dua orang perwira itu menyerahkannya kepada tiga orang manusia yang sudah berubah mukanya seperti iblis itu. Tahulah ia bahwa nyawanya tidak mungkin tertolong lagi. Mereka mungkin akan membalas dan menyiksaku seperti aku menyiksa mereka, pikir Cui Hong. Biarlah kalau demikian, memang sudah sepatutnya dan ia akan membunuh diri begitu mendapat kesempatan. Ia merasa heran mengapa tiga orang itu masih mau hidup dalam keadaan seperti itu.
Di antara tiga orang itu, hanya Koo Cai Sun yang kedua matanya masih utuh dan masih awas. Dia mengamati pemuda tampan yang terbelenggu kaki tangannya itu dan menegur, "Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, mana Kim Cui Hong yang engkau janjikan akan dibawa ke sini itu? Ini seorang pemuda, bukan Nona Kim Cui Hong!"
"Ya, ini seorang pemuda, bukan iblis betina!" kata Louw Ti yang memandang dengan sebelah matanya yang berputar-putar.
"Hemm, benarkah itu, Ji-wi Ciangkun (Kedua Perwira)?" tanya Pui Ki Cong yang telah buta kedua matanya.
"Harap kalian pandang baik-baik! Ia adalah Kim Cui Hong yang menyamar sebagai seorang pemuda!" kata Su Lok Bu.
"Mana kami bisa keliru?" kata Cia Kok Han. "Penyamarannya memang bagus, akan tetapi ia betul seorang gadis, yaitu Kim Cui Hong!"
Cui Hong yang sudah bangkit duduk itu tiba-tiba menggunakan lututnya untuk meloncat sehingga ia dapat bangkit berdiri. Dengan sikap angkuh dan suara tegas ia berkata, "Pui Ki Cong, Louw Ti, dan Koo Cai Sun, aku benar Kim Cui Hong. Aku telah ditangkap secara curang dan sudah berada dalam kekuasaan kalian bertiga. Mau bunuh, lakukanlah! Aku tidak takut mati!"
Mendengar suara ini, Pui Ki Cong berkata, "Benar, ia adalah Kim Cui Hong. Su-ciangkun dan Cia-ciangkun, tinggalkan ia di sini dan ji-wi (kalian berdua) datang lagi besok untuk menerima apa yang aku janjikan."
Su Lok Bu dan Cia Kok Han mengangguk dan mereka lalu pergi. Mereka merasa yakin bahwa gadis itu sudah tidak berdaya. Tak mungkin dapat melepaskan diri dari belenggu kaki tangannya. Biarpun tiga orang itu sudah tidak memiliki tenaga, namun mereka mempunyai belasan orang pelayan yang juga menjadi pengawal dengan kepandaian yang cukup.
Agaknya Pui Ki Cong menyadari akan kelemahan dia dan dua orang bekas pembantunya yang kini senasib dengannya, menjadi manusia yang jasmaninya seperti setan. Maka setelah dua perwira itu keluar, dia berseru memanggil dua orang kepala pelayan yang juga kepala pengawalnya.
"Bong Can dan Bong Lim, ke sinilah kalian!"
Pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka cepat, menunjukkan bahwa dua orang itu sejak tadi memang siap menanti panggilan di belakang pintu. Mereka adalah dua orang kakak beradik, Bong Can berusia tiga puluh lima tahun dan Bong Lim berusia tiga puluh tahun. Kakak beradik ini keduanya bertubuh tinggi besar dan sikap mereka gagah, wajah mereka juga cukup menarik. Hanya bedanya kalau Bong Can berkulit hitam, Bong Lim berkulit agak putih. Mereka adalah murid-murid Kun-lun-pai dan termasuk orang-orang gagah berjiwa pendekar. Tadinya mereka datang ke kota raja dari daerah selatan untuk membantu Kerajaan Beng dari ancaman orang Man-cu yang semakin berkembang. Ketika mendengar akan adanya pemberontakan rakyat dipimpin oleh Li Cu Seng karena Kaisar dikuasai para Thaikam sehingga pemerintah tidak bijaksana dan para pembesar sebagian besar lalim dan korupsi, kedua orang murid Kun-lun-pai ini merasa ragu untuk membantu pemerintah. Maka ketika Pui Ki Cong mengundang mereka untuk menjadi pengawal pribadi, mereka menerima pekerjaan ini. Pertama, karena menjadi pengawal pribadi merupakan pekerjaan wajar dan baik asalkan tidak menghambakan diri kepada pembesar atau hartawan yang menyuruh mereka melakukan kejahatan. Kedua, mereka merasa iba sekali melihat keadaan Pui Ki Cong dan dua orang temannya yang harus mereka jaga. Tentu saja mereka ingin mengetahui mengapa tiga orang itu menjadi seperti itu, dan Pui Ki Cong menceritakan bahwa mereka bertiga dianiaya oleh seorang iblis betina bernama Kim Cui Hong. Dan dengan alasan takut kepada iblis betina itu kalau-kalau datang mengganggu lagi, maka dia minta kepada dua orang bersaudara itu menjadi pengawal pribadi yang melindungi keselamatan mereka bertiga. Pui Ki Cong tentu saja merasa malu menceritakan sebab dari kemarahan si Iblis Betina itu. Demikianlah, kedua saudara Bong ini menjadi pengawal pribadi Pui Ki Cong dan sudah berada hampir satu setengah tahun di gedung itu. Mereka merasa iba karena Pui Ki Cong berada di gedung hanya bertiga dengan dua orang senasib itu, tidak didekati keluarga karena keluarga tiga orang itu agaknya tidak ada yang mau mendekati mereka. Kedua orang bersaudara Bong menjadi kepala pengawal atau boleh juga disebut kepala pelayan di gedung itu, mengepalai delapan orang pelayan lain yang juga menjadi pengawal.
Ketika dua orang perwira, Su Lok Bu dan Cia Kok Han, menghadap tiga orang majikan mereka membawa seorang teman, Bong Can dan Bong Lim sudah siap siaga kalau-kalau tenaga mereka diperlukan, maka mereka sudah bersiap di belakang pintu. Begitu dipanggil, keduanya lalu memasuki ruangan itu. Melihat keadaan ruangan agak gelap, tanpa diperintah, Bong Can dan Bong Lim segera menghampiri lampu-lampu lain dan akan menyalakannya.
"Bong Lim, jangan nyalakan lampu itu, biar begini saja!" seru Pui Ki Cong karena biarpun dia tidak dapat melihat, pendengarannya menjadi tajam dan dia dapat mendengar ketika Bong Lim menghampiri meja lampu. Bahkan langkah kaki Bong Lim juga dia dapat membedakan dari langkah kaki Bong Can atau orang lain.