Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 01

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 01

SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI

Karya: Arief Sujana (Ki Kompor)

JILID 01

Langit begitu cerah, awan putih bergantungan di atas bumi Kotaraja Singasari yang besar dan ramai. Sepanjang jalan kotaraja dihiasi rumah-rumah besar bertiang tinggi dari kayu jati berukir indah. Kuda-kuda pengangkut barang milik saudagar tidak pernah sepi berlalu-lalang. Kadang satu dua kereta kencana milik para bangsawan terlihat menyusuri jalan. Terlihat seorang putri dari jendela kereta kencana yang begitu elok rupawan. Orang-orang yang berjalan kaki pun tampak penuh kegembiraan, datang dan berlalu dari arah pasar kotaraja yang ramai.

Ada berita penting yang menjadi pembicaraan hangat pada saat itu, bahwa besok di Istana Singasari akan ada pelantikan dan pengukuhan beberapa pangeran istana, para rakyan, dan beberapa orang biasa yang dianggap telah banyak berjasa bagi kelangsungan serta kejayaan Kerajaan Singasari.

Pada hari itu, Mahesa Murti dan Mahesa Pukat berada di rumah Mahendra. Sebagai seorang ayah, bukan main bangganya ia memandang kedua anaknya. Tidak ada kebanggaan yang lebih besar bagi seorang ayah selain melihat anak yang tumbuh dewasa, berpijak, dan mengenal paugeran hidup dari Yang Maha Pemberi Sumber Kehidupan. Sementara pangkat dan jabatan hanyalah sebuah amanat yang harus dijaga dan disyukuri.

Besok, Mahesa Pukat akan dikukuhkan sebagai Rakyan Rangga yang berkedudukan di benteng Cangu, sebuah daerah di sebelah utara kotaraja. Sementara itu, Mahesa Murti mendapat anugerah Tanah Sima untuk seluruh tanah Padepokan Bajra Seta dan sekitarnya.

"Kekayaan, kehormatan, dan kedudukan adalah amanat dari Yang Maha Pemberi Anugerah, sumber dari segala sumber kehidupan ini," kata Mahendra sambil memandang kedua putranya yang besok akan dilantik dan dikukuhkan di Paseban Raya.

"Nasihat Ayah akan kami pusakai," kata Mahesa Murti mewakili.

Mahendra tua nampak termenung. Matanya memandang jauh ke depan, melampaui pucuk-pucuk kembang soka yang tumbuh di sudut halaman. Ia mengenang masa mudanya dalam petualangan panjang, melewati beberapa generasi kepemimpinan Singasari. Hari pun telah menjelang senja ketika Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke rumahnya.

Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba. Pagi itu Istana berhias indah. Di depan pintu gerbang telah terangkai untaian janur kuning sebagai tanda bahwa hari itu akan ada sebuah upacara besar. Sepanjang dinding istana telah dihiasi umbul-umbul warna-warni mengiringi umbul-umbul kebesaran kerajaan-kerajaan di bawah daulat Singasari Raya. Istana Singasari yang megah tampak menjadi lebih indah melebihi pemandangan hari-hari sebelumnya.

Di dalam Paseban Raya telah berkumpul para undangan, para rakryan tinggi kerajaan, para utusan kerajaan seluruh daulat Singasari Raya, para bhirawa suci, dan tentunya mereka yang akan mendapatkan anugerah Sri Maharaja. Sementara itu, di Penataran samping Paseban Raya, para kawula dan warga kotaraja ikut berdesakan penuh semangat ingin menyaksikan langsung upacara penobatan tersebut. Mereka ingin melihat kemegahan Istana Singasari dari dekat, meski hanya di Penataran, sebuah lapangan besar yang berdampingan dengan Paseban Raya.

Di panggung Paseban Raya, Sri Maharaja telah berdiri bersama permaisuri dinaungi payung kebesaran kerajaan, Kiai Penanggungan. Sebuah payung pusaka kerajaan yang dikeramatkan. Konon, seorang abdi dalem istana yang bertugas membawa payung ini harus berpantang; ditabukan memakan buah labu parang merah. Pernah ada seorang abdi dalem yang lupa dan melanggar pantangan ini. Akibatnya di luar akal pikiran, Payung Kiai Penanggungan tidak dapat diangkat, seolah-olah diberati oleh beban ribuan kati.

Konon menurut beberapa orang tua di zaman itu, payung Kiai Penanggungan juga dapat mengusir hujan. Cuaca menjadi begitu cerah bilamana payung keramat ini hadir melengkapi setiap upacara kerajaan. Dalam kisah lain, menurut para bhirawa suci, Payung Kiai Penanggungan adalah hadiah Dewa Siwa kepada Raden Erlangga ketika berada di puncak Gunung Penanggungan dalam pengungsiannya saat bersembunyi dari kejaran musuh.

"Sejahteralah Sri Seminingrat yang bergelar Maharaja Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana, sang penguasa utama Kerajaan Singasari Raya, penuh kemuliaan Sang Permaisuri Waning Hyun dengan abhiseka Sri Jaya Wardhani," terdengar suara Mahapatih yang menjadi juru bicara Sri Maharaja, mengawali upacara suci itu dengan mengucapkan puja dan puji kepada Sri Maharaja dan permaisuri.

Setelah mengatur napas perlahan, Sang Mahapatih membacakan satu per satu para putra raja yang dinobatkan sebagai adipati di penjuru tanah daulat Singasari Raya. Beberapa rakryan tinggi kerajaan dititahkan menduduki jabatan baru, begitu pula para bhirawa suci dan kawula biasa yang karena jasanya diberikan anugerah Tanah Sima. Semua mendengar dengan penuh khidmat setiap ucapan yang disampaikan Sang Mahapatih. Suasana menjadi begitu hening penuh kehormatan; seolah-olah ucapan Sang Mahapatih adalah titah langsung Sri Maharaja.

Setelah Sang Mahapatih selesai membacakan daftar tersebut, satu per satu para penerima penobatan dan anugerah berbaris di hadapan panggung Paseban Raya untuk menerima langsung prasasti dari Sri Maharaja berupa sebuah kotak kayu hitam persegi panjang berukir tanda kebesaran. Akhirnya, tahap demi tahap pelaksanaan upacara suci itu pun berakhir, ditandai dengan turunnya Sri Maharaja dan Permaisuri meninggalkan panggung.

"Selamat bertugas, Rakyan Rangga Mahesa Pukat," kata Rakryan Tumenggung Honggopati kepada Mahesa Pukat dalam sebuah perjamuan besar yang diadakan sebagai rasa suka cita setelah upacara usai.

"Terima kasih, mohon doa restunya," kata Mahesa Pukat kepada Rakryan Tumenggung Honggopati, sahabat lamanya itu.

Sementara itu, di tempat yang sama, Mahesa Murti tengah berbincang bersama seorang bhirawa yang juga diberi anugerah Tanah Sima.

"Semoga Sri Maharaja selalu diberkati oleh para dewa," kata Sang Bhirawa kepada Mahesa Murti. "Sri Maharaja tangannya bermata, bersaksi atas segala jasa."

"Anugerah ini adalah titipan dari Yang Maha Pemberi Anugerah, lewat tangan Sri Maharaja anugerah ini dititipkan," sahut Mahesa Murti.

"Pandangan Anakmas begitu luhur. Berbahagialah Penasihat Agung Mahendra telah berputra seperti Anakmas," kata Sang Bhirawa kepada Mahesa Murti yang juga mengenal Mahendra.

Perjamuan terus berlangsung dalam suasana kegembiraan menyambut keputusan Sri Maharaja yang menempatkan beberapa keluarga dekat di daerah-daerah penting. Sebuah keputusan tepat untuk mengikat kedaulatan Singasari Raya. Di samping itu, dengan cerdas Sri Maharaja juga memberikan anugerah Tanah Sima kepada para pendeta dan kawula biasa yang telah banyak berjasa. Dukungan pun menjadi semakin meluas untuk kedamaian bumi Singasari Raya.

Di tengah perjamuan yang hangat itu, datang menghampiri Mahesa Murti seorang yang berperawakan tubuh tegap dan penuh wibawa, namun wajahnya selalu menunjukkan senyum keramahan. Dengan penuh hormat Mahesa Murti menyambut orang tersebut yang tidak lain adalah Ratu Anggabhaya Mahesa Cempaka. Bersamanya, ada seorang anak laki-laki remaja seusia Mahesa Amping.

"Beri hormat kepada pamanmu," kata Ratu Anggabhaya memperkenalkan anak laki-laki berwajah tampan yang merupakan putranya sendiri, Raden Wijaya.

"Menghaturkan hormat untuk Paman Mahesa Murti," kata Raden Wijaya dengan penuh kesopanan. Mahesa Murti membalas salam tersebut dengan rasa suka. Sejak pandangan pertama, ia menyukai anak laki-laki yang sangat sopan dan mengenal tata krama itu, tidak seperti beberapa putra bangsawan yang sering dijumpainya yang bersikap angkuh dan ingin selalu dihormati.

"Apakah aku sudah setua seorang paman?" canda Mahesa Murti kepada Raden Wijaya. Raden Wijaya menoleh kepada Ratu Anggabhaya meminta pertimbangan, karena baginya Mahesa Murti memang masih tampak sangat muda.

"Aku memanggil ayahmu sebagai Paman Mahendra, sudah sewajarnya putraku memanggilmu dengan sebutan Paman," kata Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Murti sekaligus meluruskan kebimbangan Raden Wijaya.

"Bagaimana bila aku memanggil Paman Muda Mahesa Murti?" kata Raden Wijaya yang disambut tawa oleh Mahesa Murti maupun Ratu Anggabhaya.

"Tidak ada Paman Muda atau Paman Tua. Paman ya paman," sahut Ratu Anggabhaya sambil tertawa.

"Betul, betul, betul," kata Raden Wijaya dengan jenaka yang mengundang tawa mereka bertiga. Beberapa pasang mata merasa iri melihat keakraban tersebut. Mahesa Murti sendiri semakin menyukai kejenakaan Raden Wijaya yang masih remaja; rasanya mereka sudah saling mengenal lama.

"Sebenarnya kami berharap Anakmas Mahesa Murti dapat menggantikan kedudukan adikmu, Mahesa Pukat, sebagai guru keluarga istana," kata Ratu Anggabhaya.

"Hamba akan menjunjung tinggi titah Tuanku," jawab Mahesa Murti penuh hormat, namun ada kegelisahan di dalam hatinya.

"Tapi kami lebih menghargai kedudukanmu sebagai pemimpin Padepokan Bajra Seta," lanjut Ratu Anggabhaya dengan senyum dikulum, sepertinya dapat membaca kegelisahan hati Mahesa Murti. "Akhirnya kami berpikir lain..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment