Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 145

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 145

Semua tertawa ketika Ki Arya Sidi menjelaskan apa yang dimaksud dengan jurus katak menendang ke belakang. Diam-diam, Mahesa Amping melihat Ketut Dewa Akasa seperti cermin dirinya ketika masih kecil; memiliki otak yang cukup encer dan bakat yang baik. Mahesa Amping diam-diam mulai menyukai anak kecil ini.

Pembicaraan pun seketika terhenti manakala seorang lelaki tua yang bertugas melayani di Bale Guru itu muncul sambil membawa minuman hangat dan setumpuk ubi rebus. Sementara itu, waktu terus berlalu; malam telah menyelimuti Bale Guru yang hanya diterangi cahaya dua buah pelita.

"Ki Made Rangu, akan mengantar kalian untuk beristirahat," kata Mahesa Amping sambil masuk ke dalam memanggil Ki Made Rangu untuk mengantar empat bersaudara itu beristirahat di tempat yang telah ditentukan bagi para sisya di Pura Indrakila.

"Mudah-mudahan mereka dapat cepat berbaur bersama para sisya lainnya," ujar Empu Dangka setelah keempat sisya itu diantar oleh Ki Made Rangu.

"Kehadiran mereka mungkin bisa memecut semangat para sisya yang sudah ada sebelumnya karena mereka sudah berlatih lebih lama," sahut Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

Seekor burung celepuk terdengar berbunyi dari pohon asam di samping Bale Guru, suaranya terdengar lagi di tempat yang semakin jauh. Sementara itu, angin malam yang semilir menggoyangkan api pelita, menjadikan cahaya di pendapa Bale Guru seketika menjadi buram.

"Nampaknya Ki Arya Sidi sudah lelah dan mengantuk," kata Empu Dangka sambil tersenyum kepada Ki Arya Sidi yang terlihat memang sudah sangat lelah.

Akhirnya, mereka pun masuk ke dalam bilik masing-masing untuk beristirahat. Ki Arya Sidi langsung terlelap, sementara Mahesa Amping masih belum dapat memejamkan mata. Diawali bayangan Ketut Dewa Akasa yang lucu, angan Mahesa Amping melayang jauh sampai ke tanah Melayu di mana istri tercintanya, Dara Jingga, berada. Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, namun tidak lama kemudian yang terdengar adalah suara napasnya yang halus dan beraturan. Mahesa Amping pun akhirnya tertidur pulas.

Sementara itu, malam terus menyusutkan selimut kegelapannya dan bumi terjaga dari mimpinya manakala terdengar lirih dari jauh suara ayam jantan bersahut-sahutan yang semakin mendekat.

"Aku akan melaksanakan pemilahan para sisya menjadi tiga kelompok," kata Mahesa Amping menyampaikan rencananya kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

"Aku setuju, dengan demikian akan mempermudah dalam pembinaannya," jawab Ki Arya Sidi.

Maka pada pagi hari itu, Mahesa Amping memberitahukan perihal pemilahan itu kepada semua sisya. Mahesa Amping langsung menguji satu per satu para sisya di Pura Indrakila untuk menentukan di tingkat mana mereka ditempatkan. Keempat bersaudara dari Padepokan Panca Agni pun tidak lepas dari pengujian itu meski mereka telah berlatih lebih matang dibandingkan para sisya di Pura Indrakila.

Ketika Ketut Dewa Akasa masuk ke sanggar tertutup untuk melakukan ujian pemilahan, diam-diam Mahesa Amping mengagumi ketangkasan anak kecil itu. Mahesa Amping melihat Ketut Dewa Akasa tidak tertinggal jauh dibandingkan ketiga saudaranya yang sudah terlebih dahulu menjalani ujian.

"Anak ini hanya kalah sedikit dalam hal tenaga," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang sedang memperhatikan Ketut Dewa Akasa melakukan jurus perguruannya.

"Bagaimana menurutmu suasana di Pura Indrakila ini?" tanya Mahesa Amping kepada Ketut Dewa Akasa yang telah menyelesaikan ujian.

"Sangat menyenangkan, tidak sepi sebagaimana di Bukit Pejeng," jawab Ketut Dewa Akasa.

Mahesa Amping tersenyum mendengar jawaban itu dan mempersilakan Ketut Dewa Akasa keluar agar peserta lainnya dapat masuk. Akhirnya, seluruh sisya telah melakukan ujian pemilahan; sebuah ujian yang sangat ketat karena tidak hanya dilihat penguasaan jurusnya, tetapi juga pengaturan napas serta kemahiran dalam hal kekuatan dan keseimbangan di atas alat peraga yang ada.

"Sekarang kalian boleh beristirahat, besok aku akan menyampaikan pengumuman ujian pemilahan ini," ujar Mahesa Amping. Bukan main gembiranya para sisya karena hari itu mereka tidak perlu berlatih sampai senja. Matahari telah bersembunyi di balik kerimbunan daun dan dahan pohon rengat yang tumbuh di sisi barat sanggar. Suasana menjadi begitu teduh.

"Mari kita kembali ke pendapa untuk membicarakan hasil dari ujian pemilahan ini," ajak Mahesa Amping. Akhirnya, dua puluh empat sisya di Pura Indrakila dapat dikelompokkan menjadi dua bagian sesuai dengan tingkat ketangkasan yang mereka miliki. Keesokan harinya, hasil diumumkan. Ternyata Wayan Dewa Bayu dan ketiga adiknya masuk dalam kelompok pertama.

"Aku telah mengumumkan hasil ujian ini, adakah di antara kalian yang merasa keberatan?" tanya Mahesa Amping di sanggar terbuka.

Ternyata dari kelompok kedua ada yang mengacungkan tangan, seorang sisya yang berbadan agak bongsor seusia Wayan Dewa Bayu. "Maaf Guru, aku sangsi apakah anak kecil itu lebih baik daripada kami?" kata pemuda itu sambil menunjuk ke arah Ketut Dewa Akasa.

Mahesa Amping tersenyum memandang pemuda yang dikenalnya bernama Putu Risang Kamasa dari Pura Lempuyang itu.

"Saudaramu, Putu Risang Kamasa, telah mencontohkan keberanian dalam menyampaikan kejujuran perasaannya; itulah sikap jiwa satria yang merdeka," kata Mahesa Amping yang disambut sorak para sisya.

"Adakah di antara kalian yang masih keberatan?" tanya Mahesa Amping kembali. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan. "Penilaianku atas diri kalian tidak mengenal pilih kasih. Mari kita buktikan apakah Putu Risang Kamasa lebih baik dari saudaranya, Ketut Dewa Akasa," ujar Mahesa Amping sambil meminta keduanya maju ke depan.

Ketut Dewa Akasa dan Putu Risang Kamasa saling berhadapan. Mahesa Amping diam-diam mengagumi sikap Ketut Dewa Akasa yang tenang, sementara sikap Putu Risang Kamasa tampak meremehkan anak yang lebih muda di hadapannya.

"Bersiaplah, Saudara kecilku," kata Putu Risang Kamasa.

"Sejak berdiri di sini, aku sudah siap," balas Ketut Dewa Akasa dengan senyum tipis.

Belum habis Ketut Dewa Akasa berbicara, sebuah tendangan meluncur dari kaki kanan Putu Risang Kamasa. Ketut Dewa Akasa sangat hafal dengan jurus tersebut. Belum lagi kaki itu menyentuh tubuhnya, Ketut Dewa Akasa melompat ke samping, dibarengi tangannya yang mungil bergerak memukul pinggang lawannya.

Tidak menyangka lawan kecilnya mampu mengelak dan balas menyerang, Putu Risang Kamasa kaget, menjatuhkan diri ke samping, lalu berdiri kembali dengan wajah tidak percaya. Dari serangan itu, Putu Risang Kamasa mulai sadar bahwa anak di hadapannya cukup terlatih.

"Jangan berbangga dulu, kita baru mulai," kata Putu Risang Kamasa sambil melancarkan pukulan berantai. Tiga kali diserang, tiga kali pula Ketut Dewa Akasa mengelak, lalu balik membalas. Pertarungan pun menjadi seru.

Mahesa Amping yang menyaksikan pertarungan itu tersenyum. Ia mengagumi ketenangan Ketut Dewa Akasa dalam mengendalikan napas, sementara Putu Risang Kamasa dinilainya terlalu boros mengumbar tenaga. Setelah tiga puluh jurus berlalu, terlihat Putu Risang Kamasa sudah basah oleh keringat, sedangkan Ketut Dewa Akasa masih penuh tenaga.

"Anak itu seperti seekor tikus cerdik yang sedang menggoda kucing besar," kata Ki Arya Sidi penuh kebanggaan.

"Pukulan Putu Risang Kamasa sudah mulai mengambang lemah," bisik Mahesa Amping.

"Kesabaran anak itu sudah tinggal memetik panen," timpal Empu Dangka.

Penilaian ketiga ahli kanuragan itu tidak meleset. Putu Risang Kamasa semakin lemah. Ketut Dewa Akasa yang memang menanti kesempatan itu, segera melancarkan serangan beruntun yang tidak mampu lagi dihalau. Perut, pinggang, dan pangkal paha Putu Risang Kamasa akhirnya terkena pukulan dan tendangan yang telak dari Ketut Dewa Akasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment