Chapter 59
Dengan kecepatan geraknya, Mahesa Amping meliuk ke kanan dan ke kiri, atau melompat dengan cepat dan ringannya menghindar dari setiap sergapan lima orang lawannya. Sementara itu, Datuk Belang juga melakukan hal yang sama; dengan mudah ia terbang ke sana kemari menghindari serangan.
"Kalian masih belum waktunya menjadi orang upahan," ujar Datuk Belang sambil menghindari tusukan tombak yang nyaris menusuknya dari arah belakang.
"Orang tua sombong!" teriak salah seorang dari lima penyerangnya sambil menyabetkan golok besarnya ke arah Datuk Belang.
Sambil tertawa, Datuk Belang menghindar, namun empat buah senjata lain telah menyusulnya. Kembali Datuk Belang keluar dari kepungan empat orang penyerangnya. Bukan main geramnya kelima orang itu karena mendapati seorang lawan yang tidak mudah ditundukkan. Dengan brutal mereka kembali menyerang Datuk Belang, yang melayani mereka sambil tertawa terkekeh-kekeh. Hal itu membuat kelima penyerangnya merasa direndahkan dan menyerang dengan kemarahan yang memuncak.
Datuk Belang tampaknya sudah jemu bermain-main.
Buk! Sebuah pukulan bersarang tepat di ulu hati seorang penyerang yang nekat menyusup dari samping kanan; ia langsung rebah tidak sadarkan diri.
Prak! Sebuah pukulan tangan terbuka menghantam rahang penyerang di sisi kiri Datuk Belang hingga ia terhuyung pening, bahkan sebuah giginya melompat keluar dari mulutnya yang terluka.
Des! Sebuah tendangan ke belakang menghujam perut penyerang yang mencoba menusukkan tombak dari arah belakang. Tendangan keras itu membuat penyerangnya mual luar biasa.
"Kalian tinggal berdua," ucap Datuk Belang kepada dua orang sisanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Ternyata kedua penyerang itu bukan orang yang gampang berputus asa. Melihat tiga orang temannya dirobohkan dengan mudah, mereka justru terlihat semakin garang. Seorang penyerang memutarkan golok panjangnya, sementara seorang lagi yang bersenjata dua buah badik di tangan kiri dan kanannya bersiap menyerang.
"Tidak ada yang lepas dari badikku!" seru orang bersenjata badik itu sambil melepaskan dua buah senjatanya meluncur cepat ke arah tubuh Datuk Belang.
Wus! Dua buah badik meluncur dari jarak dua setengah langkah.
Set! Dua buah badik itu telah dijepit dengan dua jari tangan kanan dan kiri Datuk Belang. Dengan kecepatan dua kali lipat, badik tersebut dikembalikan kepada empunya, langsung menancap di kedua paha penyerangnya. Orang itu rebah, tidak sanggup menahan sakit. Darah segar mengalir deras dari kedua pahanya.
"Aku telah bermurah hati, tidak mengarahkan badik itu ke jantung temanmu," ujar Datuk Belang kepada seorang penyerang lainnya yang terbelalak melihat kawannya jatuh dengan senjata sendiri. "Silakan pilih, dengan cara apa kamu akan aku robohkan," lanjutnya sambil tersenyum menatap sang penyerang.
Sementara itu, Mahesa Amping masih setia melayani keempat penyerangnya. Ia sempat melihat empat lawan Datuk Belang yang telah jatuh bergelimpangan tidak berdaya, lalu memutuskan untuk segera menyelesaikan pertempurannya. Tiba-tiba saja, tubuh Mahesa Amping melenting keluar dari kepungan dengan kecepatan luar biasa. Lima pasang mata terlongong-longong melihat Mahesa Amping sudah berdiri tegap berjarak lima langkah dari mereka.
Bum! Bum! Mahesa Amping menghentakkan kakinya dua kali ke tanah. Hentakan itu berdampak luar biasa; bumi di sekitar lima orang penyerangnya terasa berguncang. Kelima orang itu limbung, bergoyang ke kiri dan ke kanan berusaha menyeimbangkan diri. Rupanya, Mahesa Amping telah merebut dan menguasai alam pikiran mereka dengan ilmu bayang-bayang semu.
Plak! Plak! Belum sempat berbuat apa-apa, dua tamparan keras menghinggapi wajah kelima penyerang itu, membuat mereka jatuh rebah tidak sadarkan diri. Mahesa Amping hanya menggunakan sepersepuluh kekuatannya dan tidak bermaksud membunuh mereka.
"Menyerahlah, semua kawanmu sudah tidak berdaya," ujar Datuk Belang kepada satu penyerang terakhir yang sudah kehilangan nyali.
"Aku menyerah," kata orang itu sambil melemparkan goloknya.
"Uruslah semua kawanmu yang terluka. Hari ini kamu kuampuni, dan jangan berharap kemurahanku ini berlaku untuk kedua kalinya. Katakan kepada orang yang memberimu upah, buanglah mimpinya untuk memiliki Keris Siginjai," tegas Datuk Belang dengan suara penuh ancaman.
Setelah orang itu pergi, Datuk Belang dan Mahesa Amping melanjutkan perjalanan.
"Mengapa Datuk tidak menangkap mereka dan menyerahkannya kepada pihak kerajaan?" tanya Mahesa Amping saat mereka sudah berjalan cukup jauh.
"Kurasa dengan menangkap mereka, tidak akan mengurangi dan menghentikan para pemimpi yang ingin menguasai Keris Siginjai ini," jawab Datuk Belang.
"Datuk benar. Satu orang pemimpi terbunuh, seribu pemimpi lain akan lahir di muka bumi," Mahesa Amping membenarkan.
"Bukan para pemimpi itu yang harus kita binasakan, tetapi mimpi itulah yang harus kita hentikan," kata Datuk Belang.
"Para pemimpi tidak pernah hidup di alam dunianya sendiri," sahut Mahesa Amping.
"Dunia seperti bayang-bayang diri yang tidak akan dapat dikejar," tambah Datuk Belang. "Kesadaran inilah yang harus kita sebarkan, bermula dari diri kita sendiri, berlanjut kepada keluarga, dan meluas kepada orang-orang di sekitar kita."
Mahesa Amping mengerti arah pembicaraan Datuk Belang. "Membangun kesadaran dengan jalan damai?"
"Membangun kedamaian dengan sadar," jawab Datuk Belang sambil tersenyum.
Tak terasa perjalanan mereka sudah dekat. "Kukira kalian baru akan tiba saat menjelang malam," sambut Pranjaya.
"Harusnya lebih siang lagi kami sudah sampai," ujar Datuk Belang yang langsung duduk di panggung pendapa untuk menceritakan kejadian yang menimpa mereka di perjalanan.
"Mudah-mudahan mereka menjadi jera," kata Argalanang setelah mendengar cerita itu.
"Dan jerih," lanjut Lawe.
"Semoga mereka jera dan jerih," tambah Raden Wijaya.
"Semoga mereka jera, jerih, dan kapok," sahut Pranjaya.
"Kapuk di tempat asalku dapat dijadikan bantal guling," celetuk Lawe, yang disambut tawa karena salah dengar.
Sore itu, suasana di rumah panggung terasa hangat. Ragasuci dan Dara Puspa berkunjung ke kediaman Datuk Belang bersama Dara Petak dan Dara Jingga.
"Kedatanganku ini bermaksud mengajak Sanggrama untuk mengunjungi tanah leluhurnya di Tanah Sunda," ujar Ragasuci. "Dua orang adikku, Dara Petak dan Dara Jingga, akan ikut pula."
"Ayahku, Gurusuci Darmasiksa, akan bergembira dapat melihat kembali cucu tercintanya," kata Ragasuci memohon kepada keponakannya, Raden Wijaya.
"Aku datang bersama ketiga kawanku, aku tidak dapat meninggalkan mereka," ujar Raden Wijaya.
"Ajaklah ketiga kawanmu," jawab Ragasuci.
"Semua keputusan ada di tangan Mahesa Amping, dialah pimpinan rombongan kami," kata Lawe sambil mempersilakan Mahesa Amping memberi keputusan.
Mahesa Amping menarik napas panjang. "Baiklah, kita memang sudah terlalu lama di Tanah Melayu. Orang-orang di Singasari mungkin tengah khawatir menanti kedatangan kita." Ia berhenti sejenak. Sepasang mata indah milik Dara Jingga tampak tidak sabar menunggu lanjutan kalimatnya. "Tidak ada salahnya bila dalam perjalanan pulang kita singgah sebentar di Tanah Sunda."
"Sudah lama aku bermimpi melihat Tanah Sunda yang katanya penuh bunga," seru Lawe gembira.
"Aku tidak ikut bersama kalian. Biarlah aku pulang sendiri ke Pantai Pasir Seputih," ujar Argalanang menolak ajakan tersebut.
"Kita datang bersama, pulang pun harus bersama pula," sahut Lawe kepada Argalanang.