Chapter 78
"Dengarlah, bahwa salah seorang buyut kami telah membawa tanaman Kembang Wijaya itu dari Pulau Kembang ke daratan," ujar Gurusuci Darmasiksa. Ia menarik napas panjang, menghentikan perkataannya sejenak.
"Tahukah kalian di mana buyut kami itu menanam tanaman keramat tersebut?" tanya Gurusuci Darmasiksa sambil tersenyum menatap wajah ketiga pemuda yang menunggu kelanjutan ucapannya.
"Buyut kami menanam tanaman itu di curug kembar ini, tepatnya di dalam gua di balik salah satu air terjun itu," lanjut Gurusuci Darmasiksa sambil menunjuk salah satu air terjun.
"Eyang begitu yakin di balik air terjun itu ada sebuah gua?" tanya Raden Wijaya.
"Ayahku pernah bercerita bahwa dirinya pernah masuk ke dalam gua itu. Ternyata kembang itu masih kuncup, belum mencukupi masa tiga ratus tahun," kata Gurusuci Darmasiksa. "Inilah rahasia dan wasiat dari ayahku untuk menjaga Kembang Wijaya itu. Hari ini saatnya seorang pewaris memiliki kembang keramat itu. Aku berharap anakku berkenan mewakiliku," ujar Gurusuci Darmasiksa kepada Raden Wijaya.
"Cucunda mewakili Eyang untuk memiliki kembang itu?" tanya Raden Wijaya mengulang ucapan Gurusuci Darmasiksa.
"Engkaulah pewaris itu," tegas Darmasiksa kepada Raden Wijaya.
"Bukankah masih ada Paman Ragasuci?" tanya Raden Wijaya.
"Ragasuci telah memiliki takhtanya sendiri yang seharusnya menjadi milikmu. Saatnya engkau mencari takhtamu yang sebenarnya, takhta yang lebih besar, jauh melebihi tanah Pasundan," kata Gurusuci Darmasiksa.
"Apa pun yang Eyang kehendaki, akan Cucunda pusakai," jawab Raden Wijaya penuh hormat.
"Kembang Wijaya adalah lambang cinta, Kembang Wijaya juga lambang kesetiaan. Kepada seorang raja yang bijaksana itulah cinta dan kesetiaan dipersembahkan," tutur Gurusuci Darmasiksa.
"Cucunda belum dapat menangkap apa yang Eyang maksudkan," tanya Raden Wijaya.
"Saatnya engkau memilih dari dua orang sahabatmu ini yang akan mewakili dirimu mengambil Kembang Wijaya yang telah mekar sebagai sebuah persembahan," kata Gurusuci Darmasiksa kepada Raden Wijaya.
"Amanat ini telah diberikan kepadaku, biarlah aku sendiri yang menanggungnya," ujar Raden Wijaya.
"Sudah menjadi syarat, tidak dapat diubah," kata Gurusuci Darmasiksa sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku memilih Mahesa Amping karena ini menyangkut sebuah pekerjaan yang pasti penuh bahaya yang tidak kita ketahui. Semoga Lawe, sahabatku, dapat menerimanya," kata Raden Wijaya yang akhirnya menerima persyaratan itu dan memilih Mahesa Amping untuk mewakilinya.
Mahesa Amping segera mempersiapkan diri. Gurusuci Darmasiksa memberikan beberapa petunjuk kepada Mahesa Amping mengenai apa yang harus dilakukannya. "Ambilah curug yang ada di sebelah kanan, di balik curug itulah gua itu tersembunyi," kata Gurusuci Darmasiksa memberikan petunjuk arah.
Namun, belum sempat Mahesa Amping melangkah, tiba-tiba muncul sebuah suara bergema yang tidak diketahui sumbernya.
"Biarkan aku yang memiliki Kembang Wijaya itu, kalian akan kukubur semuanya di tempat ini sebagai tumbal," terdengar suara melengking diiringi tawa yang menyerupai ringkik kuda, membuat siapa pun yang mendengarnya merinding. Terlebih hari sudah mulai gelap karena senja telah berlalu.
"Ternyata Ki Bancak masih belum berubah, masih suka main sembunyi-sembunyian," kata Gurusuci Darmasiksa dengan suara yang dilambari tenaga dalam tinggi.
"Kakek keriput, ternyata pendengaranmu masih cukup tajam," sahut suara itu dengan gusar karena jati dirinya telah diketahui oleh Gurusuci Darmasiksa.
"Segeralah kamu ke gua di balik curug itu, kami mampu menangani orang ini," bisik Gurusuci Darmasiksa kepada Mahesa Amping yang terlihat ragu dan berat hati. Namun, akhirnya Mahesa Amping percaya penuh kepada Gurusuci Darmasiksa, meski baru mendengar dari beberapa orang di sekitar istana akan tingkat ilmu Gurusuci Darmasiksa yang diakui sebagai raja yang berkemampuan tinggi.
"Hati-hatilah, sahabat," kata Raden Wijaya mengantar langkah Mahesa Amping yang telah berjalan mendekati curug.
Mahesa Amping menghilang di balik curug, disaksikan oleh Lawe, Raden Wijaya, dan Gurusuci Darmasiksa dengan harapan bahwa Mahesa Amping akan muncul kembali dalam keadaan utuh dan selamat. Namun, perasaan mereka berubah seketika manakala dari kegelapan malam dan kerimbunan pepohonan muncul sesosok bayangan hitam yang tidak lain adalah Ki Bancak.
Puluhan tahun yang lalu, antara Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak memang telah ada perseteruan tajam. Mereka terlibat dalam masalah cinta segitiga memperebutkan hati seorang putri Melayu. Perselisihan mereka diselesaikan dalam pertandingan terbuka yang adil, di mana Gurusuci Darmasiksa berhasil mengalahkan Ki Bancak. Sejak saat itu mereka tidak berjumpa kembali; Ki Bancak mengasingkan diri, terus berlatih meningkatkan ilmunya, dan mendirikan sebuah padepokan. Di antara muridnya adalah Patih Manohara dan Juragan Susatpam yang sampai saat ini menghilang entah ke mana.
"Hari ini kita berjumpa kembali, Darmasiksa," kata Ki Bancak ketika sosok wajahnya terlihat jelas.
"Semoga kesejahteraan meliputimu, Bancak," ujar Gurusuci Darmasiksa penuh senyum.
"Aku merasakan ilmumu sudah jauh meningkat lewat lontaran suaramu," kata Ki Bancak.
"Aku pun melihat hal yang sama dalam suara ringkik tawamu," balas Gurusuci Darmasiksa.
"Langsung saja ke pokok masalah, kedatanganku kemari hanya untuk membuat perhitungan atas diri dua orang muridku," kata Ki Bancak yang memiliki watak terbuka dan tidak suka berbasa-basi.
"Ternyata sifatmu masih belum berubah, polos dan tidak bertele-tele," kata Gurusuci Darmasiksa. "Ada apa dengan kedua muridmu hingga kamu muncul setelah lama bersembunyi?"
"Aku mau membuat perhitungan dengan orang yang telah mengalahkan kedua muridku," kata Ki Bancak.
"Biarlah aku mewakili sahabatku bila urusan berkisar pada dua orang muridmu," kata Raden Wijaya yang langsung menebak bahwa inilah guru dari Patih Manohara dan Juragan Susatpam.
"Maafkan Cucundaku, orang muda memang selalu ingin cepat menyelesaikan masalah," kata Gurusuci Darmasiksa yang masih belum dapat meraba seberapa tinggi ilmu Ki Bancak dan tidak menginginkan Raden Wijaya menjadi bulan-bulanan kakek tua yang dulu mampu mengimbangi ilmunya.
"Ternyata Darmasiksa tua sudah punya banyak cucu. Tidak usah khawatir, aku akan meladeni cucumu dan membiarkan dirimu berdiri cemas menjadi penonton," kata Ki Bancak gembira melihat Darmasiksa tampak cemas.
"Hari sudah begitu gelap, apakah tidak sebaiknya urusan kita selesaikan besok hari?" kata Gurusuci Darmasiksa mencoba mengulur waktu, berharap urusan tidak perlu diselesaikan dengan pertempuran.
"Jangan coba-coba membodohiku, aku sudah mendengar rahasia besar tentang Kembang Wijaya yang keramat itu. Mungkin inilah jodohku menjadi raja besar dan akan menurunkan banyak raja. Urusan kedua muridku kuanggap lunas bila saja kalian menyerahkan Kembang Wijaya kepadaku," tawar Ki Bancak.
"Lama mengasingkan diri meningkatkan ilmu telah membuat dirimu berada di atas puncak gunung yang tinggi," kata Gurusuci Darmasiksa.
"Aku menawarkan penyelesaian urusan dengan mudah, tapi nampaknya kamu ingin mencari jalan lain, menyelesaikan secara laki-laki sebagaimana beberapa puluh tahun yang lalu," kata Ki Bancak penuh percaya diri.
"Tulang-tulangku sudah begitu rapuh, aku tidak yakin dapat melakukan urusan secara laki-laki sebagaimana yang kamu maksud," kata Gurusuci merendahkan diri.
"Jangan pura-pura merendahkan diri, diam-diam aku sering bertandang ke Gunung Kahuripan sekadar mengintip sudah berapa jauh ilmu yang kamu tingkatkan," kata Ki Bancak berterus terang.
Gurusuci Darmasiksa terdiam sejenak. Ucapan Ki Bancak membuatnya merenung. Ia menangkap bahwa Ki Bancak datang ke Gunung Kahuripan bukan sekadar mengintip ilmunya, melainkan sebuah ungkapan kerinduan seorang sahabat. Dahulu kala, mereka adalah dua orang sahabat yang selalu bersama, namun kehadiran seorang wanita telah memisahkan hati mereka. Namun, hakikat persahabatan tidak mudah terpisah; dalam sanubari terdalam, mereka mengakui ada gejolak kerinduan yang tidak mudah dielakkan.
"Entahlah, setelah bertemu denganmu, tulang-tulang tuaku ini sepertinya ingin menjajal sejurus dua jurus ilmu sahabatku yang kudengar terus meningkat," kata Gurusuci Darmasiksa dengan senyum penuh persahabatan.
Melihat senyum penuh persahabatan dari Gurusuci Darmasiksa, hati Ki Bancak sepertinya mencair. Di hadapannya bukan lagi laki-laki yang telah merebut cintanya, melainkan seorang sahabat lama.
"Ternyata kamu tidak banyak berubah. Dulu kita pernah melanglang dunia bersama, menerima setiap tantangan. Siapa pun yang menantang, hari ini aku hanya ingin mencoba sejauh mana ilmu sahabatku, semoga tidak berkarat dimakan usia," kata Ki Bancak.
"Seperti yang kamu katakan, ilmuku mungkin sudah berkarat karena lama tidak digunakan," kata Gurusuci Darmasiksa melangkah mendekati Ki Bancak.