Chapter 150
Tanpa pikir panjang, terlihat Ketut Suida telah membuka mulutnya lebar-lebar. Bersamaan dengan itu, tangan Mahesa Amping menjentikkan arang hitam langsung masuk ke dalam mulut Ketut Suida.
"Telanlah," kata Mahesa Amping kepada Ketut Suida, yang langsung menelan arang hitam kecil di mulutnya.
"Glekk," terdengar air liur Ketut Suida membawa arang hitam itu masuk ke tenggorokannya.
"Enyahlah dari pandanganku sebelum aku berubah pikiran," ucap Mahesa Amping dengan suara penuh wibawa.
Terlihat Ketut Suida bangkit berdiri, lalu terpincang-pincang melangkah pergi setengah berlari.
"Aku baru mendengar kalau belatimu ternyata diwarangi," ujar Empu Dangka yang datang menghampiri Mahesa Amping, sambil pandangannya mengikuti langkah Ketut Suida yang hampir menjauh dan akhirnya menghilang terhalang belukar yang tumbuh tinggi di sekitar pohon ngablang.
"Aku hanya meniru apa yang dikatakan tentang kerisnya," sahut Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Wayan Tagur yang langsung ikut tersenyum.
"Ternyata keponakanmu cukup tajam penglihatannya. Kerisku ini kadang kupakai juga untuk berburu burung belekuk, mana mungkin kuwarangi," kata Wayan Tagur penuh senyum.
"Obat apa yang kamu berikan kepada mereka?" tanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Wayan Tagur.
"Istriku mengeluarkan obat cacing kering penurun panas," ujar Wayan Tagur menjelaskan tentang obat yang dikeluarkan dari bubu kecilnya.
"Obat penawar yang kuberikan hanya sebuah arang sisa perapian," kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
"Ternyata malam ini aku dikelilingi oleh dua orang penipu ulung," sahut Empu Dangka, yang dibalas dengan tawa berkepanjangan oleh Mahesa Amping dan Wayan Tagur.
Sementara itu, temaram warna malam yang dingin telah membasahi tanah halaman ladang jagung di depan gubuk yang baru saja selesai dipanen. Malam sebentar lagi akan berlalu.
"Semoga keselamatan selalu menaungi perjalanan kalian," ucap Wayan Tagur mengantar kepergian Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Semoga kesejahteraan selalu hadir untuk keluargamu," balas Empu Dangka menyampaikan salam perpisahan.
Sementara itu, matahari pagi baru saja beranjak naik, mengintip di ujung bumi. Pagi begitu cerah dalam warna hijau yang bening; rerumputan, ilalang, dan bunga bakung yang tumbuh berkembang di sepanjang jalan sepertinya tengah menari bermandi kehangatan matahari pagi. Terlihat dua orang berkuda membelakangi matahari pagi, debu-debu terlihat mengepul di belakang kaki kuda mereka.
Mereka adalah Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah melanjutkan perjalanan ke Tanah Melaya, sebuah perkampungan nelayan di pesisir barat Balidwipa. Matahari belum sampai di puncaknya manakala mereka telah berhadapan dengan bibir pantai yang luas. Terlihat mereka tengah berkuda menyusuri bibir pantai berpasir putih. Kadang ombak kecil menyapu dan membasahi kaki-kaki kuda mereka.
"Aku punya kenalan di Tanah Melaya," kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
Akhirnya, kuda-kuda mereka membawa mereka mendekati sebuah perkampungan nelayan yang terlihat dirimbuni pohon kelapa. Mereka turun dari kuda ketika telah sampai di kampung nelayan tersebut. Seorang lelaki di depan gubuknya yang sedang memperbaiki jala menganggukkan kepala ketika dilewati oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka yang berjalan sambil menuntun kuda.
"Orang-orang yang ramah," bisik Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
Langkah kaki mereka berhenti di depan sebuah gubuk tempat seorang lelaki setengah tua tengah duduk di atas bale-bale bambu.
"Kukira ada saudagar besar datang ke gubukku," kata lelaki itu. Ia sepertinya sudah sangat mengenal Empu Dangka, sehingga langsung turun dari bale-bale bambu.
"Kukira Ki Subali sudah tidak mengenali diriku lagi," ujar Empu Dangka kepada orang yang dipanggilnya Ki Subali itu.
Udara memang cukup terik di atas perkampungan nelayan yang berpasir putih tersebut.
"Mari naik dan bicara di atas bale-bale," ajak Ki Subali mempersilakan dua tamunya naik ke atas bale-bale yang cukup lebar untuk mereka bertiga.
"Perkenalkan, ini keponakanku, namanya Mahesa Amping," ujar Empu Dangka kepada Ki Subali.
Terlihat Ki Subali memanggil seorang pemuda yang sedang membelah kayu. Ia meminta anak muda itu mengambil buah kelapa di depan rumahnya.
"Tolong ambilkan yang muda untuk tamuku," kata Ki Subali kepada pemuda itu. Dengan ringannya, anak muda itu memanjat pohon kelapa.
"Awas, Ki Subali," seru anak muda itu dari atas pohon sambil menjatuhkan beberapa buah kelapa.
"Mudah-mudahan dapat melepas dahaga kalian," kata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka sambil menyerahkan buah kelapa yang sudah dipangkas ujung pangkalnya agar mudah untuk diminum dan diambil dagingnya.
"Terima kasih, Kampur. Bawalah untukmu," ucap Ki Subali kepada pemuda itu yang dipanggilnya Kampur, yang baru saja turun dari atas pohon kelapa dan tengah mengibas-ngibaskan dada serta pundaknya dari debu batang kelapa yang menempel.
Anak muda itu kembali ke tempatnya membelah kayu, sementara Ki Subali kembali naik ke atas bale-bale menemani tamu-tamunya.
"Kukira Empu Dangka tidak akan singgah lagi ke gubukku," kata Ki Subali kepada Empu Dangka.
"Aku perlu bantuanmu untuk mengantar kami menyeberang," ujar Empu Dangka langsung menyampaikan keperluannya.
"Dengan senang hati aku akan mengantar kalian," jawab Ki Subali menerima permintaan itu.
"Ada satu lagi, mudah-mudahan Ki Subali tidak keberatan," kata Empu Dangka.
"Mudah-mudahan aku dapat memikulnya," jawab Ki Subali sambil tersenyum.
"Tidak berat, aku bermaksud memberikan dua ekor kuda itu untuk Ki Subali," kata Empu Dangka.
"Memang tidak berat, bahkan sangat ringan untuk membawanya ke pasar ternak," jawab Ki Subali yang disambut tawa panjang dari Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Aku tidak melihat Nyi Subali," tanya Empu Dangka.
"Sudah dua minggu ini istriku di seberang menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Kebetulan sekali setelah mengantar kalian, aku akan singgah ke rumah mertuaku itu," jelas Ki Subali.
Sementara itu, tidak terasa sang waktu telah menarik layar cakrawala langit di atas panggung bumi menjadi warna sore yang teduh. Terlihat matahari kuning bulat masih menggelantung rebah ke barat, mendekati ujung laut biru yang datar. Senja pun berlalu, mentari sudah lama tenggelam di balik bumi, dan cakrawala langit malam di atas hamparan laut biru bergelombang dipenuhi taburan bintang.
Terlihat sebuah perahu nelayan terapung, dipermainkan ombak. Angin laut yang kuat telah mengembangkan layarnya hingga terus melaju. Ada tiga orang lelaki ditemani cahaya lentera perahu yang temaram bergoyang ke kiri dan ke kanan. Mereka adalah Mahesa Amping, Empu Dangka, dan Ki Subali yang tengah mengarungi Selat Bali menuju Tanah Jawa.
"Nasib kita sedang baik, lihatlah bintang Sulo Bawi bersinar begitu terang, itu tanda angin timur masih akan terus berhembus hingga fajar," kata Ki Subali yang pandai membaca berbagai bintang.
Hamparan laut biru terbentang bagai permadani bergelombang. Perahu berlayar tunggal itu begitu kerdil terapung, dibawa angin timur yang terus berhembus. Sebagaimana yang dikatakan Ki Subali, menjelang fajar mereka telah melihat gundukan hitam daratan tanah membujur. Itulah daratan Tanah Jawa.
Berdesir detak hati Mahesa Amping menatap hamparan tanah hitam di bawah cakrawala langit yang masih buram. Ada kegembiraan yang melompat-lompat; hati dan perasaan Mahesa Amping sepertinya merasakan laju perahu begitu lambat. Layar perahu itu sudah digulung, terlihat Ki Subali dengan penuh ketenangan kadang mengayuh, mengarahkan perahu berada di belakang gelombang. Perahu nelayan itu pun terus melaju dibawa ombak mendekati daratan pantai.
"Kita berada di pantai Kampung Mandar," kata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka sambil melompat ke laut dangkal.
"Istri Ki Subali orang Mandar?" tanya Mahesa Amping sambil membantu Ki Subali merapatkan perahunya ke daratan yang lebih dangkal.
"Benar, istriku orang Mandar, aku sendiri keturunan Melayu," kata Ki Subali sambil mengikat perahunya di sebuah tonggak kayu pohon kelapa yang terpenggal.
"Orang Mandar dan orang Melayu adalah keturunan pelaut, darah mereka mungkin berwarna biru," ujar Empu Dangka.
"Mungkin juga darah mereka rasanya asin," celetuk Empu Dangka kembali, yang disambut derai tawa dari Mahesa Amping dan Ki Subali. Sepertinya mereka telah melupakan semalaman digoyangkan gelombang dan kebosanan.
Sementara itu, sang mentari telah muncul mengintip di ujung bumi dalam warna kuning elok, membias memancar di atas warna biru laut.
"Warna pagi yang indah," kata Mahesa Amping dalam hati sambil memandang cahaya matahari yang baru terbit di ujung tepi laut yang jauh.
"Tidak jauh dari sini ada sebuah kedai," kata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.
"Tunggulah kalian di kedai ini, aku akan segera kembali," ujar Ki Subali ketika mereka tiba di kedai, karena ia bermaksud untuk singgah ke rumah mertuanya sambil melihat istrinya.
"Janganlah diri kami membuat Ki Subali tergesa-gesa, kami tidak sedang berburu waktu," kata Empu Dangka.
Langkah Ki Subali sudah tidak terlihat lagi, terhalang sebuah gubuk yang berdiri di tikungan jalan. Sementara itu, Mahesa Amping dan Empu Dangka memesan minuman hangat kepada pemilik kedai.
"Serabinya masih hangat," tawar pemilik kedai itu, serabi yang memang terlihat masih berasap.
Ternyata, kedai itu semakin terang pagi, semakin banyak didatangi orang; beberapa nelayan yang baru saja kembali dari melaut, atau beberapa wanita yang hanya berkemben selembar kain datang membeli beberapa jajanan, mungkin untuk suami dan anaknya.