Chapter 37
Pagi itu, di sebuah jalan yang sepi di luar gerbang kota Tanah Gelang-gelang, berjalan dua iring-iringan pedati yang dijaga oleh sepuluh orang pengawal barang. Tidak terlihat apa yang dibawa karena pedati tertutup rapat, menandakan barang yang dibawa pasti berharga.
"Saatnya kita beraksi," kata Raden Wijaya sambil memberi tanda. Lawe, Raden Wijaya, dan Mahesa Amping langsung meloncat ke tengah jalan.
"Berhenti!" seru Lawe, berlagak seperti penyamun sungguhan.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya orang terdekat Lawe, tak kalah garangnya.
"Pergi dan tinggalkan barangmu," ujar Lawe.
"Jumlah kami lebih banyak dari kalian," balas pengawal barang itu.
"Kalian cuma sepuluh orang pengawal barang, tidak ada artinya," kata Lawe, masih dengan sikap garang.
"Jumlah kami bukan sepuluh," jawab pengawal barang itu. Bersamaan dengan itu, sepuluh orang keluar dari dalam dua pedati. Ternyata di dalam pedati tertutup itu bersembunyi sepuluh prajurit dari Tanah Gelang-gelang.
"Dan kami bukan pengawal barang, tapi para prajurit yang siap menangkap kalian," kata salah satu prajurit sambil tertawa, diikuti tawa prajurit lainnya yang merasa berhasil mengelabui tiga pemuda di depan mereka.
"Kita telah dijebak," ujar Mahesa Amping kepada Lawe dan Raden Wijaya.
"Kepung dan habisi mereka!" perintah orang yang ternyata seorang perwira tinggi. Para prajurit pun menyebar mengepung, yakin sasaran mereka tidak akan bisa melarikan diri. Ternyata mereka salah. Tiga pemuda yang dikepung tidak terlihat gentar sedikit pun.
"Olahraga pagi yang menyenangkan," kata Lawe kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya. Saat para prajurit menyerang, mereka pun memencar. Terjadilah tiga kerumunan pertempuran yang seru.
Gerakan Lawe begitu lincah, baik saat mengelak maupun menyerang. Beberapa prajurit babak belur terkena pukulan dan tendangannya. Namun, serangan dan kepungan terhadap Lawe tidak kendur.
Sementara itu, beberapa prajurit yang menyerang Raden Wijaya dibuat bingung. Dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandangan mata biasa, Raden Wijaya seperti menghilang dari kepungan. Tiba-tiba, ia sudah berada di belakang salah satu prajurit yang naas, langsung terkena pukulan Raden Wijaya yang tidak menggunakan tenaga cadangan, namun prajurit itu langsung roboh merasakan tulang iganya seperti patah.
Tidak seperti Lawe atau Raden Wijaya, Mahesa Amping bertempur seperti orang yang tidak mengenal ilmu kanuragan. Tanpa senjata, ia bergerak seenaknya, membuat para prajurit yang menyerangnya menjadi penasaran. Tak satu pun serangan pedang mereka mengenai sasaran. Mahesa Amping mengelak sejadinya, menyerang seperti asal-asalan, tapi selalu menimbulkan korban. Tendangan kaki kuda ke belakang mematahkan pergelangan tangan seorang prajurit, membuat pedangnya terlepas. Saat mengelak, ia seperti tersungkur menabrak badan salah seorang prajurit yang langsung roboh sesak napas, seperti tertabrak gunung batu.
Ketujuh prajurit yang mengeroyok Lawe menjadi sangat penasaran. Tak ada serangan yang dapat menembus dan melukai Lawe yang bergerak lincah dan cepat seperti burung sikatan. Setelah sekian lama menyerang, tenaga ketujuh prajurit itu menyusut, sementara Lawe tidak terlihat lelah. Akhirnya, Lawe tidak ingin bermain terus. Ia meningkatkan tataran ilmunya, dan dalam sebuah gebrakan, tiga prajurit langsung roboh pingsan. Melihat tiga temannya begitu cepat roboh, keempat prajurit menjadi bimbang. Ketika mereka masih dalam keraguan, seorang prajurit lagi dirobohkan oleh Lawe hanya dengan tendangan melingkar yang menyambar dadanya.
Sementara itu, sebagaimana Lawe, Raden Wijaya juga merasa sudah lama bermain-main. Dengan kecepatan yang sukar diterima pandangan kasat mata, tiga orang prajurit terlempar merasakan pukulan dan tendangan yang entah dari mana datangnya. Tiga prajurit langsung roboh pingsan. Tidak seperti Lawe dan Raden Wijaya, Mahesa Amping masih tetap melakukan permainannya. Gerakan semaunya dan seperti asal-asalan itu justru berakibat luar biasa. Lima prajurit terbaring tak mampu bangkit karena badan mereka remuk, tulang terasa patah dan ngilu.
"Apakah kamu masih punya tenaga untuk bermain?" tanya Mahesa Amping sambil tersenyum kepada seorang prajurit, seorang perwira tinggi yang masih terus menyerang meski hanya tinggal sendirian.
"Sebagai prajurit, kematian bukan hal yang menakutkan," jawab perwira itu sambil terus mengayunkan pedangnya. Diam-diam Mahesa Amping mengagumi sikap perwira itu, begitu setia kepada tugasnya dan tidak takut mati. Seorang prajurit berjiwa ksatria. Itulah sebabnya Mahesa Amping tidak begitu bernafsu merobohkannya, apalagi melukainya. Mahesa Amping berpikir untuk menaklukkannya dengan cara lain.
Dalam sebuah kesempatan, Mahesa Amping melompat beberapa langkah menjauh. "Kisanak. Lihatlah batu besar itu," katanya sambil menunjuk sebuah batu sebesar kerbau tidak jauh dari mereka berdiri. Ketika perwira itu melihat ke arah batu yang ditunjuk, dengan sorotan pandangan mata, tidak dengan kekuatan penuh, hanya seperlima kekuatannya, batu itu pecah berkeping-keping.
Perwira itu menatap Mahesa Amping tak percaya. "Aku dapat membunuh pasukan segelintir hanya dengan sekali sapuan pandangan mata. Menyerahlah!" kata Mahesa Amping dengan suara berwibawa dan sorot mata tajam yang menakutkan. Bergetar jantung perwira itu menatap mata Mahesa Amping. Dalam hati, ia berpikir bahwa pemuda di hadapannya adalah orang berilmu tinggi, namun tidak menggunakan ilmunya yang sebenarnya. Yakinlah bahwa pemuda itu orang berhati bersih dan telah berusaha lunak menghadapi para prajurit yang berusaha menangkapnya, bahkan membunuhnya sesuai perintah Raja Jayakatwang.
"Terima kasih atas kebaikanmu, anak muda. Aku menyerah," kata perwira itu sambil menjatuhkan pedangnya.
"Suruh semua kawanmu menyerah," perintah Mahesa Amping dengan suara yang masih penuh wibawa karena sedikit dilambari tenaga cadangan yang langsung menggetarkan dada perwira itu.
"Lemparkan senjata kalian, menyerahlah!" seru perwira itu dengan suara lantang. Mendengar suara pemimpinnya memerintahkan menyerah, tanpa menunggu perintah kedua kali, tiga orang prajurit yang masih berhadapan dengan bimbang melawan Lawe langsung melemparkan senjatanya. Sementara itu, empat orang prajurit yang melawan Raden Wijaya, yang sedang setengah putus asa menjadi bulan-bulanan pukulan Raden Wijaya seperti orang kepanasan mendapatkan hujan, langsung melempar senjatanya. Gembira ikut menyerah!
"Katakan pada Rajamu, ini cuma sekadar peringatan atas peristiwa di Pulau Madhura dan pembakaran galangan di Bandar Cangu. Kami dapat melakukan jauh lebih besar lagi!" kata Raden Wijaya dengan lantang ketika dua pedati yang memuat beberapa prajurit yang terluka mulai bergerak, diiringi beberapa prajurit yang lesu berjalan meninggalkan pedang mereka yang masih tergeletak. Jalan di tengah hutan yang jauh dari gerbang kota itu kembali sunyi. Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe telah jauh meninggalkan Tanah Gelang-gelang.
Ternyata apa yang terjadi di jalan tengah hutan itu tidak lepas dari perhatian tiga pasang mata yang terus mengintai. "Pemuda itukah yang membunuh kakakku?" tanya seorang yang sudah berumur kepada dua orang pemuda yang menyertainya.
Jalur perdagangan antara Tanah Gelang-gelang ke Kediri memang sudah ramai. Beberapa padukuhan di jalur perdagangan itu tampaknya ikut tumbuh berkembang. Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah singgah di sebuah pasar kademangan Kedungjati. Tampaknya pasar itu tempat persinggahan beberapa saudagar.
"Berikan kami hidangan terbaik di kedai ini," kata Lawe kepada seorang pelayan pria di sebuah kedai yang cukup ramai.
"Pelayan!" seru seorang pria yang sudah cukup berumur namun masih nampak kekar, menghampiri pelayan itu. "Berikan tuan muda ini makanan yang terbaik di kedai ini, besok pagi mereka sudah tidak lagi dapat menikmatinya," kata pria itu kepada pelayan sambil melirik Mahesa Amping.
"Kenapa kisanak begitu mudah menentukan umur kami?" tanya Mahesa Amping yang merasa pria asing ini sengaja membuat ulah.
"Karena kamu berutang nyawa guru kami," kata seorang pemuda yang datang bersama saudaranya yang mirip. Ternyata, dua pemuda itu berjuluk sepasang iblis dari Gelang-gelang.
"Pamanku akan membuat perhitungan denganmu," kata Prastawa dengan mata penuh kebencian.
"Nanti malam, saat bulan purnama, kutunggu kamu di puncak bukit Jati," kata pria itu, yang mengaku adik dari Empu Gelian yang pernah dikalahkan dan terbunuh oleh Mahesa Amping di Pulau Madhura. Sepasang iblis dari Gelang-gelang dan pamannya telah meninggalkan kedai.
Kepada seorang pelayan, Mahesa Amping bertanya tentang arah menuju puncak bukit Jati. Pelayan itu pun menunjukkan arah menuju puncak bukit Jati. "Di puncak bukit Jati ada lingga persembahan Dewa Syiwa, apakah tuan akan melakukan persembahan ke sana?" tanya pelayan itu menanyakan maksud tujuan Mahesa Amping menanyakan tempat itu.