Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 71

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 71

Mendengar permintaan Mahesa Amping, Ragasuci sepertinya mendapatkan sebuah jawaban.

"Kupertaruhkan adu tanding ini atas kebebasan Pamanda dari segala tuntutan. Kuwakilkan diriku kepada Mahesa Amping," ucap Ragasuci dengan lantang, seolah sebagai pernyataan agar didengar oleh semua yang hadir di halaman rumah singgah itu.

Raden Darmamula tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya dan merasa bahwa Ragasuci telah melakukan kesalahan besar dengan mewakilkan dirinya kepada seorang pemuda yang tidak dikenal. Namun, Raden Darmamula tidak mengatakan apa pun; baginya, pernyataan Ragasuci adalah sebuah keuntungan.

Raden Darmamula melihat Mahesa Amping turun dari rumah panggung dengan penuh ketenangan dan kepercayaan diri yang tinggi, seolah tidak akan menghadapi sesuatu yang mencemaskan.

"Pemuda tolol yang merasa punya ilmu andalan," batin Raden Darmamula menafsirkan ketenangan Mahesa Amping.

Semua mata tertuju kepada dua lelaki yang saling berhadapan di tengah halaman rumah singgah yang luas. Banyak orang yang belum mengenal Mahesa Amping secara pribadi merasa khawatir dan menganggap pernyataan Ragasuci adalah sebuah kecerobohan. Sementara itu, Kujang Gundul yang telah merasakan sendiri kedahsyatan ilmu Mahesa Amping tersenyum gembira.

"Raden Darmamula tidak menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu setingkat dewa," batin Kujang Gundul, matanya tidak pernah lepas dari arena pertandingan.

"Berbanggalah dirimu, anak muda, karena telah mewakili Baginda Raja. Meski diriku masih sangsi apakah dirimu layak menjadi lawan tandingku," ujar Raden Darmamula kepada Mahesa Amping yang sudah berdiri di hadapannya.

"Ternyata kita punya perasaan yang sama. Aku pun merasa sangsi apakah Paman dapat mengalahkanku," balas Mahesa Amping, sengaja memancing kemarahan Raden Darmamula.

Pancingan Mahesa Amping tepat mengenai sasaran; kata-kata itu terasa pedas di telinga Raden Darmamula.

"Keluarkan senjatamu!" seru Raden Darmamula yang langsung mengeluarkan sebuah keris besar. Bentuknya tidak lazim seperti keris biasa karena lebih besar dan lebih panjang.

Mahesa Amping melihat pamor yang tidak biasa muncul dari aura keris Raden Darmamula, sebuah isyarat bahwa dirinya harus berhati-hati. Maka dengan tenang dan penuh percaya diri, Mahesa Amping menarik pisau belati senjata andalannya dari balik pakaian.

Melihat Mahesa Amping hanya bersenjata belati, Raden Darmamula tersenyum, menganggap anak muda di depannya ini terlalu dungu.

"Kamu memang pantas bunuh diri," ucap Raden Darmamula. Tidak sabar melihat kemenangannya, ia langsung menerjang dengan kekuatan dan kecepatan luar biasa.

Betapa terkejutnya Darmamula saat mendapati Mahesa Amping sudah tidak ada di tempatnya. Serangannya menembus ruang kosong.

"Aku di sini, Paman," ujar Mahesa Amping yang telah bergeser ke samping, masih berdiri tenang seolah tidak menerima serangan apa pun.

Diam-diam, Raden Darmamula mengakui kecepatan gerak Mahesa Amping. Dengan kecepatan yang berlipat ganda, ia kembali melancarkan serangan. Kali ini, ayunan keris Raden Darmamula mengarah ke leher Mahesa Amping. Dengan cantiknya, Mahesa Amping merendahkan tubuhnya sehingga ayunan keris itu lewat tipis di atas kepalanya. Ia langsung melakukan serangan balik yang tidak terduga berupa tendangan yang meluncur mengancam perut Raden Darmamula.

Kaget bukan kepalang, Darmamula terpaksa mundur ke belakang dengan kecepatan tinggi.

"Gila!" seru Raden Darmamula. Matanya menatap Mahesa Amping dengan rasa tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Sejak saat itu, ia tidak lagi meremehkan lawannya dan mulai bersikap sangat hati-hati.

"Anak muda ini ternyata punya andalan," batin Raden Darmamula.

Raden Darmamula meningkatkan ilmunya, menggulung Mahesa Amping dengan serangan keris besarnya. Mahesa Amping terpaksa harus mengimbanginya. Pertempuran pun menjadi kian seru dan menegangkan. Raden Darmamula telah mencapai ilmu puncaknya; serangannya terlihat sangat cepat dan mengerikan. Keris di tangannya seperti bara yang menyala, hawa panas menyelimuti setiap sisi pertempuran.

Untungnya, Mahesa Amping dilindungi oleh daya kepekaan kekuatan bawah sadarnya yang bekerja otomatis memberikan daya tolak terhadap ancaman. Hawa dingin menyentak keluar dari tubuh Mahesa Amping, meredam hawa panas dari ilmu puncak Raden Darmamula.

Dua kekuatan dan kecepatan saling menggulung dan berbalas serangan. Mata telanjang sangat sukar mengikuti pertempuran mereka. Yang terlihat hanya dua bayangan hitam saling melesat dengan cepat, sulit untuk menentukan siapa Mahesa Amping dan mana Raden Darmamula. Sesekali terdengar denting senjata beradu. Baru kali ini Raden Darmamula harus menguras seluruh kekuatan ilmunya, dan diam-diam ia pun mengagumi pemuda yang menjadi lawannya itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment