Chapter 158
"Ternyata pemilik rumah ini sendiri," ujar perempuan itu ketika melihat Kebo Arema yang berada di gubuknya sendiri. Gubuk yang masih dikenalnya dengan baik.
"Terima kasih telah menjaga gubuk ini selalu bersih," kata Kebo Arema kepada perempuan tua itu.
Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, perempuan itu pamit untuk kembali ke rumahnya yang tidak begitu jauh, hanya berselisih beberapa meter dari gubuk tempat tinggal Kebo Arema. Namun, tidak lama kemudian, perempuan itu datang kembali.
"Aku punya banyak dendeng ikan," ucap perempuan itu sembari menyerahkan beberapa potong dendeng ikan.
"Terima kasih, Nyi," sahut Kebo Arema kepada perempuan itu yang terlihat tengah melangkah kembali ke rumahnya.
Malam di perkampungan Muara Porong itu terasa begitu dingin; semilir angin tiada henti berhembus dari lembah bukit hijau yang tinggi menjulang. Ketika pagi menjelang, mereka berlima melanjutkan perjalanan menyusuri pesisir ujung Jawadwipa. Mereka singgah di beberapa tempat sembari tidak lupa memberi berbagai tanda jalur sandi agar dapat dibaca oleh rombongan di belakang mereka. Akhirnya, mereka menyeberang ke Balidwipa melalui tepian pantai Tanah Melaya.
Pagi yang bening menyambut kedatangan mereka di pesisir pantai Tanah Melaya. Mahesa Amping membawa rombongannya menuju rumah Ki Subali.
"Semoga kesejahteraan dan keselamatan memenuhi dirimu, wahai putra Tanah Melaya penuntun arah bintang," ucap Mahesa Amping kepada Ki Subali yang menyambutnya penuh kegembiraan.
"Selamat datang kembali di Tanah Melaya," balas Ki Subali.
"Empu Dangka diminta untuk tinggal di istana oleh Sri Baginda Maharaja Singasari," jawab Mahesa Amping ketika Ki Subali menanyakan tentang Empu Dangka yang tidak ikut menyertainya.
"Mudah-mudahan orang tua itu betah tinggal di satu tempat," ujar Ki Subali yang telah mengenal Empu Dangka sebagai seorang pengembara.
Setelah beristirahat cukup di kediaman Ki Subali, Mahesa Amping bercerita tentang beberapa tugasnya.
"Apa yang dapat kubantu untuk perjuangan kalian?" tanya Ki Subali menawarkan diri.
"Ki Subali dapat mengerahkan beberapa orang untuk mengamati sepanjang pesisir pantai barat Balidwipa dan melaporkan kepada kami bila menemui pihak asing masuk ke perairan ini," jawab Mahesa Amping mengenai tugas yang dapat dilakukan Ki Subali, yang memiliki pengaruh besar di antara para nelayan di pesisir barat Balidwipa.
"Pekerjaan yang tidak perlu banyak keringat. Orang-orangku, para nelayan, dapat melakukannya sambil mencari ikan di sepanjang pesisir ini," sahut Ki Subali menyanggupi.
"Aku juga mohon izin untuk menempatkan pasukanku di hutan ujung Tanah Melaya ini," ujar Mahesa Amping.
Setelah menyampaikan beberapa hal penting, terutama tentang tanda dan jalur rahasia yang akan mereka pergunakan, Mahesa Amping mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan. Ketika matahari telah sedikit bergeser ke barat, mereka telah memasuki sebuah hutan di sebelah timur pesisir pantai Tanah Melaya.
"Kita akan menempatkan pasukan bergerak di hutan ini," kata Mahesa Amping kepada Kebo Arema, Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga.
"Tempat yang baik untuk menyimpan sisa tenaga," ujar Sembaga sambil menyapu pandangan ke sekeliling, merasakan keteduhan yang redup.
"Sebentar lagi rombongan pasukan kita akan mengalir ke hutan ini," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga, yang diminta untuk mengatur semua pasukan khususnya mewakili dirinya yang akan melanjutkan perjalanan bersama Kebo Arema.
"Jangan khawatir, kami akan menyiapkan segalanya," jawab Wantilan mewakili Mahesa Semu dan Sembaga.
"Aku percaya pada kalian," kata Mahesa Amping sambil melambaikan tangan, lalu melanjutkan perjalanan bersama Kebo Arema.
Akhirnya, bersamaan dengan jatuhnya matahari di ujung timur cakrawala langit senja, Mahesa Amping dan Kebo Arema telah memasuki sebuah padukuhan. Jalan padukuhan itu sudah begitu sepi. Mereka mendapati dua orang yang tengah berada di gardu ronda tidak jauh dari sebuah rumah.
"Tidak usah di Banjar Desa, bermalamlah di rumahku," ujar salah seorang dari kedua lelaki itu sambil menunjuk ke arah rumahnya.
"Terima kasih, mudah-mudahan tidak merepotkan," jawab Mahesa Amping.
"Tidak merepotkan, aku tinggal sendirian di rumah," kata lelaki itu dengan senyum terbuka yang ramah.
Ketika rekan lelaki itu pamit, sang tuan rumah mengajak Mahesa Amping dan Kebo Arema ke rumahnya.
"Dulu aku sering melanglang; kalian mengingatkanku pada waktu masih muda," ujar lelaki itu memberi alasan mengapa begitu baik menerima orang asing di rumahnya. "Hari ini aku menerima kalian bermalam, mungkin dalam kehidupan lainnya, buyutku bermalam di rumah buyut kalian. Begitulah kehidupan saling bertukar," lanjut lelaki itu yang sudah cukup berumur, terlihat dari banyaknya kerut di wajahnya.
"Namaku Mahesa Amping dan ini pamanku Kebo Arema. Kami bermaksud mengunjungi anak keponakan kami yang tinggal di kaki Bukit Pura Indrakila," ujar Mahesa Amping menyampaikan tujuan perjalanannya.
"Namaku Made Jantak, namun orang di sini lebih senang menyebutku dengan panggilan Ki Gayem," jawabnya.
Ki Gayem mempersilakan Mahesa Amping dan Kebo Arema duduk di balai-balai bambu, sementara ia masuk ke dalam. Tak lama, Ki Gayem keluar kembali sambil membawa setumpuk pisang rebus.
"Tadi pagi aku baru saja menebang setandan pisang kepok," ucap Ki Gayem sembari mempersilakan tamunya menikmati hidangan tersebut.
Sementara itu, langit malam sudah terlihat begitu kelam. Pucuk pohon tangkil di depan rumah Ki Gayem terlihat merunduk tertiup angin yang berembus kencang. Ki Gayem adalah orang yang pandai bercerita. Bertemu dengan Kebo Arema, maka berjodohlah mereka karena sama-sama punya pengalaman di berbagai tempat dan banyak lokasi yang pernah mereka singgahi.
"Bila tidak ingat aturan, aku mungkin sudah kecantol gadis Pulau Bader," ujar Ki Gayem bercerita tentang sebuah pulau kecil yang sama-sama pernah disinggahi oleh Kebo Arema.
"Lelaki di Pulau Bader dapat dibeli dengan harga lima ekor babi," timpal Kebo Arema, membuat percakapan mereka seperti tidak pernah putus dan terus berkembang.
Sementara itu, malam merayap menggayuti dingin dan kesenyapan.
"Maaf bila aku banyak bercerita, sementara kalian harus beristirahat," kata Ki Gayem yang mengerti malam sudah semakin larut.
"Kami senang dengan semua kisah Ki Gayem," sahut Mahesa Amping.
Akhirnya, Mahesa Amping dan Kebo Arema masuk ke bilik yang telah disediakan. Malam pun berlalu bersama hawa dingin yang masih terasa menembus bilik dari anyaman bambu.
"Biarlah aku yang berjaga lebih dulu," kata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil bersandar pada pilar kayu di ujung peraduan.
"Bangunkan aku bila saatnya tiba," jawab Kebo Arema sambil meluruskan kakinya.
Tidak lama kemudian, Kebo Arema sudah jauh terlelap, sementara Mahesa Amping masih bersandar pada tiang kayu. Meski matanya terpejam, panca indera Mahesa Amping selalu terjaga. Tidak ada bunyi yang terluput dari pendengarannya, mulai dari suara gesekan bambu di samping rumah Ki Gayem yang beradu tertiup angin, suara tikus yang mengerat kayu, hingga suara halus seekor cecak yang tengah mengunyah nyamuk. Panca indera Mahesa Amping memang terus terjaga, sementara akal budi dan pikirannya telah hilang bersatu dalam alam kesunyatan, alam ketiadaan bunyi dan waktu.
Sejenak, Mahesa Amping merasakan suara dan getaran kebahagiaan yang membahana. Itulah suara nirwana yang memanggil-manggil jiwanya untuk singgah, tapi Mahesa Amping lebih memilih meneruskan pengembaraan jiwanya di alam ketiadaan yang abadi.
"Terima kasih telah berjaga sepanjang malam," ujar Kebo Arema yang telah terbangun kepada Mahesa Amping.
Mendengar suara itu, Mahesa Amping membuka kelopak matanya.
"Hari masih di ujung malam, masih ada waktu untuk meluruskan badan ini," jawab Mahesa Amping sambil menggeser punggungnya turun dan rebah di peraduan.
Terlihat Kebo Arema bangkit dan bersandar pada pilar kayu.
"Matahari pagi masih bersembunyi," kata Kebo Arema sambil matanya menyapu sekeliling bilik bambu yang masih temaram, diterangi pijar kecil di atas tanah di samping peraduan yang sudah mulai redup.
Akhirnya, matahari pagi yang ditunggu telah menggeliat naik; cahayanya menembus kisi-kisi anyaman bilik bambu.
"Aku belum menyiapkan sarapan pagi," kata Ki Gayem kepada Kebo Arema dan Mahesa Amping yang akan melanjutkan perjalanan.
"Terima kasih telah memberi kami tumpangan," ujar Kebo Arema kepada Ki Gayem.
Diiringi tatap pandang Ki Gayem, Mahesa Amping dan Kebo Arema melangkahkan kaki di jalan padukuhan yang mulai terlihat ramai. Semilir angin mengiringi langkah mereka yang telah keluar dari regol pintu gerbang padukuhan memasuki jalan bulakan panjang.
"Di balik gumuk besar itu, kita akan memasuki sebuah hutan yang cukup lebat," kata Mahesa Amping kepada Kebo Arema mengenai arah yang akan mereka tempuh.
Sebagaimana dikatakan Mahesa Amping, mereka mendaki sebuah gumuk besar yang ternyata merupakan batu karang yang banyak ditumbuhi rerumputan.