Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 30

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 30

"Kalian telah menunaikan tugas dengan baik," berkata Senapati Mahesa Pukat memberi selamat kepada para cantrik utama Padepokan Bajra Seta.

Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing.

Senapati Mahesa Pukat ingin mendengar langsung cerita perjalanan mereka di Pulau Madura.

Wantilan mewakili kawan-kawannya bercerita tentang perjalanan mereka di Pulau Madura.

Suasana di pendapa utama Benteng Cangu itu menjadi hening manakala Senapati Mahesa Pukat menyampaikan berita duka cita, bahwa ayahnya, Mahendra, telah meninggal dunia.

"Aku mendapat kabar sehari setelah kalian meninggalkan Bandar Cangu ini," berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan kapan ayahnya Mahendra meninggal dunia.

Mahesa Amping yang biasanya sangat tabah, tidak mampu menutup rasa dukanya.

Terlintas bayangan wajah Mahendra yang begitu penuh senyum saat memberinya dasar kanuragan.

Terlihat Mahesa Amping menunduk dalam menahan agar air matanya tidak keluar dan mencoba menguasai gelombang perasaan dukanya.

"Sri Maharaja telah berkenan mencandikan jasadnya di Gunung Arjuna," berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan di mana jasad Mahendra dikebumikan.

"Seorang yang setia pada pengabdiannya," berkata Kebo Arema ketika mengetahui siapa Mahendra lewat penjelasan Kertanegara.

Senja pun datang meredup rasa duka yang berlarut melepas perasaan yang terhanyut; perlahan Mahesa Amping sudah dapat menguasai perasaannya, menyadari bahwa hidup dan mati adalah sebuah takdir yang sudah digariskan.

Semua akan kembali ke dalam keabadian Sang Hyang Maha Karsa.

Malam pun berlalu dalam sebuah perjamuan besar di Pendapa utama Benteng Cangu.

Senapati Mahesa Pukat bersedia menyediakan prajuritnya mengawal Pangeran Kertanegara bersama calon istrinya Menik Kaswari.

Akhirnya disepakati, para cantrik Padepokan Bajra Seta akan langsung kembali ke padepokannya, sementara Kebo Arema dan Bhaya akan terus bersama Kertanegara tinggal di Kotaraja sesuai dengan permintaan Pangeran Kertanegara.

"Paman Sembaga sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta, sudah rindu berat untuk segera turun ke sawah," berkata Senapati Mahesa Pukat yang seolah dapat membaca hati Sembaga dan kawan-kawannya.

Bersamaan dengan datangnya pagi, bersama geliat lalu lalang di sekitar Bandar Cangu yang ramai, sebuah rombongan telah keluar meninggalkannya.

Dan di sebuah jalan yang bercabang, rombongan itu pun terpecah.

Pangeran Kertanegara dan Menik Kaswari bersama Kebo Arema, Bhaya, dan sekelompok prajurit mengambil arah jalan ke arah Kotaraja Singasari.

Sementara rombongan lainnya terlihat mengambil jalan lain, mereka adalah para cantrik utama Bajra Seta bersama Lawe, seorang putra tunggal Ki Gede Banyak Wedi yang telah diizinkan menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta.

Langit cerah memayungi lima ekor kuda berlari menembus hutan ilalang.

Tiga ekor kuda tampak selalu berjalan beriringan di depan, penunggangnya masih muda belia, sementara itu di belakang mereka tiga ekor kuda yang selalu mengikuti dan mengimbangi laju kuda mereka.

Tiga orang penunggang kuda yang masih muda belia adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Lawe.

Sementara di belakang mereka yang selalu mengikuti adalah Sembaga, Wantilan, dan Mahesa Semu.

Hati mereka semua sudah terpaut untuk segera sampai di Padepokan Bajra Seta.

Sepanjang hari mereka memacu kudanya, di bulakan panjang atau di hutan ilalang.

Baru di malam hari mereka beristirahat, kadang di banjar desa sebuah padukuhan atau di tanah terbuka di bawah pohon besar agar sedikit berlindung dari angin malam.

Hari itu matahari senja sudah membayangi bumi ketika mereka keluar dari sebuah hutan.

Jarak Padepokan Bajra Seta hanya terhalang bukit kecil.

Matahari sudah bersembunyi di ujung cakrawala ketika mereka sampai di atas puncak bukit kecil.

Di depan mata mereka memandang hamparan hijau sawah dalam gugus petak bersusun bertingkat.

"Rumput-rumput liar di sawah menanti kita," berkata Wantilan sambil memacu kudanya menapaki bulakan panjang.

Hari memang sudah hampir gelap manakala mereka telah sampai di muka gerbang Padepokan Bajra Seta.

Segenap penghuni Padepokan menyambut sukacita kedatangan mereka.

"Kami membawa putra Ki Gede Banyak Wedi, namanya Lawe," berkata Wantilan ketika mereka sudah berada di pendapa utama memperkenalkan Lawe kepada Mahesa Murti.

"Aku merasa tersanjung dititipi putra Paman Banyak Wedi di Padepokan ini," berkata Mahesa Murti menerima Lawe seperti keluarganya sendiri.

Mulai hari itu Lawe telah menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta.

Setahap demi setahap, tataran ilmu Lawe terus meningkat.

Berlatih bersama Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah membuat perkembangan ilmu Lawe semakin pesat.

Tidak ada perbedaan di Padepokan Bajra Seta, semua bahu-membahu bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka sendiri, di samping olah kanuragan dan olah kajiwan yang dipimpin langsung oleh Mahesa Murti sebagai ketua tunggal Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu, kedatangan Kertanegara di Kotaraja disambut dengan sukacita.

Sri Maharaja menerima Menik Kaswari sebagai menantunya.

Pada hari itu juga, telah dilangsungkan upacara peresmian mereka dengan upacara kebesaran kerajaan.

Dalam sebuah kesempatan, Kertanegara telah memperkenalkan Kebo Arema kepada Sri Maharaja.

Ternyata mereka berdua merasa begitu cocok.

Keduanya mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari.

"Jadi kamu berasal dari suku air," berkata Sri Maharaja setelah mengenal Kebo Arema lebih jauh lagi.

"Ada yang bilang bahwa suku air punya nyawa rangkap tiga?" Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Sri Maharaja.

"Mungkin yang dimaksud Tuanku, bahwa suku air adalah orang yang tidak pernah takut menghadapi badai, topan, dan ombak. Setiap orang suku air pernah mengalami terapung berhari-hari di tengah laut, terdampar di pulau kosong, atau sekarat terkena racun ikan laut paling ganas sekalipun."

Demikianlah awal pertemuan Kebo Arema dengan Sri Maharaja.

Mereka sama-sama mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari yang mereka sepakati menyebutnya sebagai kerajaan air.

Hari-hari selanjutnya, Kebo Arema begitu sering dipanggil ke istana di tempat pribadi Sri Maharaja.

Kadang mereka berbincang sampai jauh malam.

Hari itu kembali Kebo Arema dipanggil menghadap Sri Maharaja.

"Kebo Arema," berkata Sri Maharaja.

"Dalam sebuah perjalanan pulang dari sebuah ziarah suci di Biara Beduhur, dalam tujuh malam aku bermimpi dengan mimpi yang sama." "Gerangan apa yang Tuan mimpikan?" tanya Kebo Arema menjadi sangat ingin tahu apa yang Sri Baginda mimpikan itu.

"Dalam mimpi itu, aku masih ada dalam Biara Beduhur memandang sebuah lukisan Jung besar berlayar yang megah bagai sebuah Jung para dewa. Entah dari mana datangnya, di sebelahku telah berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu memandangku dengan tersenyum begitu ramah sambil menunjuk ke arah gambar di batu dan berkata bahwa akulah yang berjodoh membawa lukisan di batu itu keluar dari Biara Beduhur. Sampai tujuh malam berturut-turut aku bermimpi yang sama," berkata Sri Maharaja bercerita tentang mimpinya.

"Kita bertemu dengan pemuda yang sama dalam mimpi," berkata Kebo Arema. "Mimpi apa yang kamu mimpikan?" Sri Maharaja terheran mendengar ucapan Kebo Arema.

"Pada waktu itu aku terapung-apung di tengah lautan, jukungku pecah dihantam badai gelombang. Tujuh malam di tengah lautan aku bermimpi yang sama. Dalam mimpiku aku telah ada di atas Jung besar yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku. Entah dari mana, di sampingku berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu berkata kepadaku, bahwa aku berjodoh membawa dan memiliki Jung besar itu," berkata Kebo Arema bercerita tentang mimpinya.

"Apakah kamu pernah bercerita tentang mimpimu itu kepada orang lain?" tanya Sri Maharaja.

"Hamba hanya bercerita kepada kakek hamba. Setelah mendengar cerita mimpi itu, kakek hamba hanya mengatakan bahwa Gunadharma, leluhur para suku air, telah menyelamatkan hamba," berkata Kebo Arema.

"Pemuda yang kamu mimpikan Gunadharma?" tanya Sri Maharaja.

"Apa yang Tuanku ketahui mengenai Gunadharma leluhur kami?" tanya Kebo Arema.

"Gunadharma adalah murid seorang Brahmana sakti, konon dialah yang dipercayakan Raja Samaratungga membangun biara di atas bukit Beduhur," berkata Sri Maharaja.

"Aku akan menatah gambar di atas kulit rontal," berkata Kebo Arema sambil mengambil selembar kulit rontal dan menatahnya.

Ternyata tatahan Kebo Arema melukiskan sebuah jung besar.

"Lukisan inikah yang terpahat di Biara Beduhur?" tanya Kebo Arema.

"Benar, kamu dapat melukisnya begitu indah," berkata Sri Maharaja memuji tatahan Kebo Arema di atas kulit rontal. "Hamba tidak pernah berkunjung ke Biara Beduhur, lukisan ini adalah jung besar yang ada dalam mimpi hamba."

"Ternyata kita telah berjodoh, sebagaimana Raja Samaratungga dan Gunadharma membangun mimpi mereka membangun biara besar di atas bukit Beduhur."

"Maksud Tuanku, kita bersama membangun jung para dewa itu?" tanya Kebo Arema.

"Benar, kita bukan hanya membangun jung besar itu, tapi kita akan membangun kerajaan air bersama," berkata Sri Maharaja dengan penuh semangat, telah dapat memahami tafsir mimpinya.

"Mulai hari ini, aku serahkan mimpiku kepadamu, membuat jung besar para dewa," berkata Sri Maharaja.

"Titah Tuanku akan hamba junjung segenap hati," berkata Kebo Arema dengan penuh hormat.

"Kutitipkan juga, Putra Mahkota bersamamu," berkata Sri Maharaja sambil tersenyum, dalam hati telah bersyukur bahwa Pangeran Kertanegara telah mendapatkan sahabat sejati seperti Kebo Arema.

Keesokan harinya, Sri Maharaja telah memanggil Mahapatih untuk membuat persiapan sebuah prasasti pengukuhan sebuah usaha besar membangun kerajaan air di bumi Singasari.

Gegap gempita suasana di seluruh penjuru bumi Singasari mendengar rencana besar itu.

Ada yang gembira dan bangga.

Tapi ada juga sebagian yang merasa ketakutan, menjadi semakin merasa terancam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment