Chapter 143
"Penjualanku," kata anak itu tiba-tiba sambil menunjuk empat orang anak tanggung yang tengah berjalan akan keluar pasar.
"Izinkan aku menemui mereka," ujar Ketut Dewa Akasa kepada Ki Arya Sidi. Ki Arya Sidi, yang seolah tidak menghadapi suatu hal yang besar, mengizinkan anak itu dengan menganggukkan kepalanya. Diam-diam ia merasa bangga melihat jiwa satria telah tumbuh di dalam diri anak sekecil itu.
"Serahkan jajanan itu semua kepadaku," kata Ketut Dewa Akasa di hadapan empat anak tanggung tersebut.
Keempat anak tanggung itu tertawa tak tertahan melihat seorang bocah yang lebih kecil dari mereka tengah menggertak.
"Apakah kamu akan merampok kami?" tanya salah seorang dari mereka yang terlihat bertubuh paling tinggi dan kurus.
"Benar, aku akan merampok kalian," kata Ketut Dewa Akasa dengan gaya penuh keberanian.
"Anak ini memang perlu disumbat mulutnya," ucap anak yang paling tinggi kurus itu sambil melangkah mendekati Ketut Dewa Akasa dan langsung melayangkan tangannya menampar ke arah wajahnya.
Ternyata, Ketut Dewa Akasa bukan anak kecil sembarangan. Selama ini, ia telah berlatih bersama ketiga saudaranya dengan cara yang sesungguhnya dalam menghadapi perkelahian. Ketut Dewa Akasa membiarkan tangan anak itu mendekati wajahnya dengan mata tidak berkedip sedikit pun. Ketika tangan anak tinggi kurus itu hampir mengenai wajahnya, Ketut Dewa Akasa memiringkan sedikit kepalanya. Tangan anak tinggi kurus itu mengenai tempat kosong dan tubuhnya sedikit terhuyung.
Ketut Dewa Akasa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu; dengan cepat kakinya bergeser dan menekuk siku kaki anak tinggi kurus itu. Akibatnya sungguh luar biasa, anak itu terjungkal ke depan hingga jatuh mencium bumi. Jajanan di tangannya terlihat tercecer di tanah. Anak tinggi kurus itu bangkit berdiri kembali dengan mata merah penuh kemarahan.
"Kucekik kau sampai mati!" teriak anak itu sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah leher Ketut Dewa Akasa.
Ketut membiarkan tangan anak itu menyambar lehernya, namun baru saja tangan tersebut menyentuh kulitnya, kedua tangannya segera mencengkeram erat pergelangan tangan si anak tinggi kurus. Tangan kecil Ketut Dewa Akasa ternyata sudah terlatih. Anak itu meringis merasakan tangannya tercekal begitu keras. Tidak sampai di situ, dengan tangan kecilnya, Ketut memelintir tangan lawannya ke arah luar dan melemparkannya. Ketika tangan lawannya terbuka lebar, sebuah pukulan mungil Ketut Dewa Akasa bersarang ke perut anak tinggi kurus itu.
Ki Arya Sidi yang melihat dari kejauhan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Harusnya tangan itu mengarah ke dada, tapi anak sekecil itu sudah punya jiwa pengasih," batin Ki Arya Sidi merasa bangga karena muridnya telah memiliki jiwa welas asih.
"Ayo bangkit berdiri, apakah kamu masih kuat?" tanya Ketut Dewa Akasa kepada anak tinggi kurus itu yang sepertinya masih belum sanggup berdiri. "Berikan kembali apa yang sudah kamu rampas dari anak kecil penjual tali, atau kamu ingin terjungkal seperti kawanmu?"
Ternyata ketiga anak lainnya berjiwa pengecut; tidak ada sedikit pun pembelaan kepada kawannya yang masih menahan rasa sakit di perutnya.
"Hanya sekeping inilah yang kami dapatkan dari anak kecil penjual tali itu," kata salah seorang anak sambil menyerahkan sekeping logam.
"Sisanya telah kamu belanjakan untuk jajanan itu," ujar Ketut Dewa Akasa dengan suara yang dibesarkan layaknya seorang pendekar besar.
"Benar," jawab anak itu sambil menganggukkan kepala, dibenarkan pula oleh kedua kawannya.
"Pergilah, kali ini kalian kumaafkan. Mulai hari ini, aku tidak mau mendengar lagi anak kecil penjual tali itu dirampas miliknya," kata Ketut Dewa Akasa.
Ketiga anak itu berjalan cepat meninggalkan kawan mereka yang perlahan bangkit berdiri, lalu menyusul teman-temannya. Ketut Dewa Akasa kembali ke tempat penjual dawet.
"Aku hanya mendapatkan sekeping, berapa keping milikmu yang dirampas?" tanya Ketut kepada anak kecil penjual tali.
"Tiga keping," jawab anak kecil itu.
"Ini dua keping milikku untukmu, mudah-mudahan besok kamu tidak diganggu lagi," kata Ketut Dewa Akasa sambil menyerahkan dua keping miliknya kepada anak kecil penjual tali tersebut.
"Terima kasih," kata anak itu penuh kegirangan. "Akan kubelanjakan untuk bahan jamu ibuku yang sedang sakit," lanjutnya sambil menuju pasar yang masih ramai dengan membawa sisa ikat tali jualannya.
"Aku sangsi apakah kamu dapat melayani ketiga anak itu sekaligus," kata Made Dewa Apah menggoda adiknya.
"Aku tidak takut selama yang kubela adalah sebuah keadilan," jawab Ketut Dewa Akasa penuh semangat.
"Adikmu benar, jiwa satria selalu menegakkan keadilan di muka bumi ini," kata Ki Arya Sidi kepada keempat muridnya.
Matahari terus merayap dan suasana pasar tidak lagi seramai sebelumnya. "Mari kita melanjutkan perjalanan," ajak Ki Arya Sidi. Mereka pun keluar dari padukuhan itu dan terus melangkah menyusuri pematang sawah yang luas membentang.
"Padi ini baru berumur dua pekan, masih lama menunggu waktu panen," ujar Ki Arya Sidi sambil melihat hamparan sawah. Mereka pun mendekati sebuah bulakan panjang yang sepi.
"Apakah arah kita menuju bukit di depan kita?" tanya Wayan Dewa Bayu kepada Ki Arya Sidi.
"Benar, setelah mendaki bukit itu, kita sudah mendekati Pura Indrakila," jawab Ki Arya Sidi.
Namun, begitu mereka memasuki bulakan panjang itu, terdengar suara beberapa orang tengah bertempur. Ki Arya Sidi memberi tanda kepada muridnya untuk melihat apa yang terjadi dengan cara bersembunyi di balik semak dan alang-alang. Ketika mendekat, ternyata memang terjadi pertarungan sengit antara tujuh orang, dengan satu orang dikeroyok oleh dua orang lainnya.
"Kita belum dapat menentukan siapakah yang patut kita bela," kata Ki Arya Sidi perlahan sambil matanya terus mengawasi pertarungan.
"Tapi kita dapat terlambat membela mereka yang perlu dibela," kata Made Dewa Apah penuh kekhawatiran.
"Kalian tetaplah bersembunyi, aku akan mencoba turun ke arena pertarungan," kata Ki Arya Sidi yang langsung keluar dari persembunyiannya.
"He, he, he, ada tontonan yang asyik," ucap Ki Arya Sidi sambil mendekati salah satu dari dua orang yang sedang mengeroyok.
"Orang gila, enyahlah kamu!" hardik orang itu merasa terganggu dengan kehadiran Ki Arya Sidi yang berlakon layaknya orang gila.
"Aku ingin ikut berkelahi, tidak enak melihat dua orang melawan satu," kata Ki Arya Sidi sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Dasar orang gila!" maki salah seorang dari mereka yang langsung melayangkan golok tajam ke arah leher Ki Arya Sidi. Gerakan orang itu masih terhitung sangat lambat di mata Ki Arya Sidi. Dengan cepat, tangan Ki Arya Sidi mencekal pergelangan tangan orang itu. Dengan gaya orang gila, Ki Arya Sidi menubrukkan tubuhnya ke arah orang tersebut dengan tenaga dalam. Akibatnya mengejutkan, tubuh orang itu terpental bersama terlepasnya golok dari tangannya. Orang itu terjatuh dan tidak mampu bangkit lagi, tampaknya ia pingsan.
Melihat kawannya jatuh, kemarahan luar biasa meluap dari lawan lainnya. "Kuhabisi dulu nyawamu, orang tua edan!" teriaknya sambil menyerang ke arah leher Ki Arya Sidi.
"Tidak kena, tidak kena," kata Ki Arya Sidi dengan suara terkekeh-kekeh sambil mengelak setiap serangan. Kembali Ki Arya Sidi menabrakkan tubuhnya. *Bruk!* Terdengar suara tubuh saling beradu. Anehnya, Ki Arya Sidi tetap berdiri, sementara orang yang ditubruknya terjengkang dan tidak bergerak lagi.
Orang yang sebelumnya dikeroyok termangu tidak percaya melihat orang tua di dekatnya telah merobohkan kedua lawannya dengan mudah. Belum hilang rasa heran itu, Ki Arya Sidi sudah mendekati dua pertempuran lainnya. Dengan mudah, ia merampas semua senjata dari empat orang yang sedang bertarung.
"Senjata bagus, senjata bagus," kata Ki Arya Sidi sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"Orang tua edan, kembalikan senjataku!" teriak seorang yang berwajah garang sambil mendekati Ki Arya Sidi bersama kawannya. Belum sempat mereka mendekat, Ki Arya Sidi membalikkan badan. Ketika mereka mendekat untuk menghajar, Ki Arya Sidi tiba-tiba berjongkok. Dengan tangan menempel di tanah, kedua kakinya menendang ke arah belakang, tepat menghantam dada kedua lawannya secara bersamaan.
Kedua orang itu terlempar, jatuh terlentang, dan pingsan.
"Terima kasih Pak Tua edan, kamu telah mempermudah pekerjaan kami," kata salah seorang yang tadi dibantu. Sementara dua kawannya memeriksa isi pakaian keempat orang yang pingsan.
"Aku mendapatkannya," kata salah seorang sambil memperlihatkan sebuah kotak perhiasan.
"He, he, he, ternyata kalian adalah perampok," kata Ki Arya Sidi masih dengan gaya orang gila sambil menggaruk-garuk kepala.