Chapter 69
"Tidak ada syarat yang akan memberatkan kalian. Yang kuminta cuma satu, tunjukkan kepadaku siapa orang di balik semua ini, terutama orang yang telah memberi upah kepada kalian," ujar Ragasuci.
"Biarlah aku yang mewakili Bango Samparan," kata Kujang Gundul, lalu diam sebentar sambil menarik napas panjang. "Yang memberi upah kepada kami untuk semua ini adalah Patih Manohara," lanjutnya.
"Sejak semula aku sudah menduga," sahut Ki Mantul.
"Mungkinkah masih ada pucuk di atas Patih Manohara?" tanya Raden Wijaya.
"Memegang ular memang harus kepalanya," ujar Ragasuci seolah telah memiliki rencana besar sambil mengarahkan pandangan matanya kepada Kujang Gundul.
"Aku memerlukan dirimu," kata Ragasuci kepada Kujang Gundul.
"Bila Baginda Raja mempercayai hamba," jawab Kujang Gundul penuh hormat.
Sementara itu, hari telah jauh di ujung malam. Ragasuci telah menyampaikan beberapa rencana besarnya untuk membersihkan lingkungan istana dari para pengkhianat. Demikianlah, pagi-pagi sekali terlihat dua ekor kuda keluar dan terus menjauh dari Hutan Kranggan. Ternyata dua penunggangnya adalah Kujang Gundul dan Ki Mantul.
Arah yang mereka tuju sepertinya menuju Kotaraja Kawali. Ketika kuda-kuda mereka telah mendekati gerbang kota, mereka pun berpisah untuk mengatur jarak. Ki Mantul terlihat semakin menjauh ke depan meninggalkan Kujang Gundul. Ki Mantul sudah memasuki gerbang kota saat matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya. Tujuan Ki Mantul ternyata bukan ke istana raja, melainkan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari pasar di tengah kota raja.
Rumah itu tidak terlalu megah bila dibandingkan dengan beberapa rumah di Kota Raja, hanya sebuah rumah sederhana. Ada beberapa pohon buah di halaman rumah itu yang terlihat bersih. Nampaknya, penghuninya sangat rajin membersihkannya setiap pagi. Terlihat Ki Mantul telah masuk ke halaman lewat pintu regol yang terbuka sambil menuntun kudanya. Seorang lelaki yang masih belia menghampirinya.
"Selamat datang, Ki Mantul," sapa lelaki belia itu; nampaknya ia sudah sangat mengenal Ki Mantul.
"Apakah Ki Lurah Gembleh ada di rumah?" tanya Ki Mantul.
"Ki Lurah baru saja datang dari istana. Semalam Ki Lurah tidak pulang," jawab anak itu sambil mengambil tali kekang kuda Ki Mantul.
"Terima kasih," kata Ki Mantul kepada anak itu yang terlihat membawa kuda Ki Mantul mendekati pohon kecapi untuk mengikatnya.
Anak itu pun berlari ke dalam rumah, diikuti pandangan mata Ki Mantul.
"Naiklah ke atas, Ki Mantul," ajak Ki Lurah Gembleh yang sudah muncul bersama anak itu dari dalam rumah.
Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, Ki Mantul langsung bercerita tentang apa yang terjadi di rumah singgah di tepi Hutan Kranggan.
"Akhirnya kecurigaanku terbukti," ujar Ki Lurah Gembleh setelah mendengar penjelasan Ki Mantul tentang keikutsertaan Patih Manohara dalam upaya mencelakai Baginda Raja Ragasuci.
"Patih Manohara tidak berdiri sendiri. Baginda Raja Ragasuci ingin membersihkan sampai ke pucuknya," kata Ki Mantul.
"Tugas apa yang dapat aku mainkan?" tanya Ki Lurah Gembleh.
"Menangkap semua ular di Hutan Kranggan," jawab Ki Mantul sambil menjelaskan beberapa hal sesuai rencana yang telah disepakati bersama Ragasuci.
"Hari ini juga aku akan mempersiapkan orang-orang kepercayaanku untuk melakukan penyusupan," kata Ki Lurah Gembleh setelah memahami penjelasan Ki Mantul.
"Aku pun akan segera kembali ke Hutan Kranggan," ujar Ki Mantul.
Sementara itu, di sebuah rumah yang tidak jauh dari kotaraja, Kujang Gundul tengah berbicara dengan seseorang yang selama ini bertugas sebagai penghubung dan orang kepercayaan Patih Manohara.
"Aku telah menyelesaikan tugasku melenyapkan Bango Samparan. Sekarang aku meminta tambahan upah dari tuanmu karena aku telah melakukan pekerjaan tambahan," ujar Kujang Gundul.
"Pekerjaan tambahan apa yang kamu maksudkan?" tanya orang kepercayaan Patih Manohara dengan bingung.
Kujang Gundul mengambil sesuatu dari balik kainnya; ternyata ia memperlihatkan sebuah cincin. "Lihat dan perhatikan," katanya sambil memperlihatkan cincin di tangannya.
Orang kepercayaan Patih Manohara bukanlah orang bodoh. Ia sangat tercengang melihat cincin yang ditunjukkan Kujang Gundul. Cincin itu adalah tanda kebesaran Baginda Raja Ragasuci yang tidak akan diberikan kepada siapa pun kecuali jika nyawa sudah terlepas dari badan.
"Aku akan menyerahkan ini setelah kamu datang membawa tambahan upah untukku," ujar Kujang Gundul, tersenyum gembira melihat orang kepercayaan Patih Manohara terbelalak.
"Tunggulah di sini, aku akan menyampaikannya kepada Patih Manohara," jawab orang itu, lalu pergi keluar rumah.
Baginya, ini adalah berita yang akan menggembirakan junjungannya, Patih Manohara. "Akhirnya usaha kita melenyapkan Ragasuci berhasil," ujar Patih Manohara kepada orang kepercayaannya.
Bersamaan dengan perginya orang kepercayaannya, Patih Manohara keluar istana menuju rumah Raden Darmamula, salah seorang bangsawan yang cukup berpengaruh dan masih paman dari Ragasuci.
"Usaha kita berhasil," kata Patih Manohara kepada Raden Darmamula.
"Kita harus mendapatkan kepastian," jawab Raden Darmamula.
"Orangku sedang mengambil cincin kebesaran raja," ujar Patih Manohara.
"Tidak cukup itu, kita harus melihat langsung jenazahnya," tegas Raden Darmamula.
"Apa yang harus kita lakukan setelah Ragasuci benar-benar binasa?" tanya Patih Manohara.
"Kita jadikan orang-orang Pasir Muncang sebagai gerombolan yang harus mempertanggungjawabkan semua ini," ujar Raden Darmamula.
"Menjadikan orang-orang Pasir Muncang sebagai kambing hitam?" tanya Patih Manohara.
"Dan sebagai tumbal," imbuh Raden Darmamula.
Patih Manohara tidak bertanya lagi; ia langsung mengerti tentang tumbal itu. "Siapkan pasukan, besok pagi kita berangkat ke Hutan Kranggan," perintah Raden Darmamula.
Demikianlah, Patih Manohara kembali ke istana untuk mempersiapkan pasukannya berangkat ke Hutan Kranggan guna memastikan Ragasuci memang telah mati sekaligus menghancurkan orang-orang Pasir Muncang yang bersembunyi di hutan Cigugur. Rahasia inilah yang ditangkap oleh orang-orang kepercayaan Ki Lurah Gembleh.
"Secepatnya kamu harus sampai di Hutan Kranggan," perintah Ki Lurah Gembleh kepada salah seorang anak buahnya untuk menyampaikan rencana Patih Manohara.
Sementara itu, hari sudah masuk pertengahan malam. Kujang Gundul sudah keluar dari gerbang kota. Jalan di luar kota itu sudah begitu sunyi.
"Berhenti!" tiba-tiba dua orang menghadang di hadapan Kujang Gundul sambil membentak dan menyuruhnya turun dari kuda.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Kujang Gundul sambil turun dari kuda.
"Kami ingin meminta nyawamu," jawab salah seorang yang menghadang Kujang Gundul.
"Apakah nyawaku cukup berharga?" tanya Kujang Gundul.
"Cukup berharga karena ada sepundi keping emas di balik pakaianmu," jawab orang itu sambil tersenyum menyeringai.
"Dari mana kalian tahu?" tanya Kujang Gundul.
"Itu bukan urusanmu," jawab orang itu sambil melepas golok dari sarungnya.
Kujang Gundul tidak dapat berbuat lain kecuali mempersiapkan dirinya. "Serahkan lehermu agar pekerjaan kami menjadi mudah," ujar orang itu yang langsung mengayunkan goloknya membabat leher Kujang Gundul.
Dengan tenang, Kujang Gundul merendahkan tubuhnya dan berbalik menyerang dengan tendangan. Mendapatkan serangan balik yang cepat, orang itu cukup terperanjat dan langsung mundur. Bersamaan dengan itu, kawannya yang sedari tadi berdiam diri ikut membantu menyerang Kujang Gundul dari samping. Kujang Gundul pun melompat menghindari serangan itu.
Baru saja ia terhindar, serangan lain menyusul di hadapannya. Demikianlah pertempuran terjadi. Serangan kedua pengeroyok itu tidak pernah terputus; sepertinya mereka dari perguruan yang sama, terlihat dari serangan yang beruntun dan teratur. Serangan mereka begitu dahsyat.
Namun, Kujang Gundul bukan petarung kemarin sore. Ia memiliki kesenangan unik: ia senang bertempur. Semakin tangguh lawannya, semakin gembira hatinya. Kujang Gundul pun melayani kedua penyerangnya dengan penuh semangat.
"Keluarkan semua jurus kalian!" seru Kujang Gundul. Ia mengeluarkan senjatanya yang bukan keris lagi karena sudah hancur. Senjata penggantinya adalah sebuah tombak pendek. Meski bukan senjata andalannya, dengan tombak pendek itu Kujang Gundul masih terlihat sangat mahir.
*Croot!*
Tombak pendek Kujang Gundul berhasil merobek urat pangkal salah seorang lawannya. Darah mengalir deras. Orang itu tampak menahan rasa sakit dan tidak lagi menyerang. Menghadapi satu lawan, Kujang Gundul menjadi agak ringan, sementara lawannya terlihat kewalahan. Tombak pendek bermata dua itu terus berputar-putar.
*Sret!*
Mata tombak Kujang Gundul berhasil mengenai bahu kanan lawannya. Segaris darah segar keluar dari bahunya.
"Apakah pertempuran ini masih harus dilanjutkan?" tanya Kujang Gundul sambil tersenyum.