Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 122

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 122

"Jadi, kamu bukan orang Kademangan Rendang?" tanya Mahesa Amping memancing.

"Berapa kali kukatakan bahwa aku bukan orang Kademangan Rendang!" seru orang itu dengan mata melotot, seolah hendak menelan bulat-bulat wajah Mahesa Amping.

"Aku akan kembali ke Kademangan Rendang, membunuh mereka satu per satu," ujar Mahesa Amping sambil berdiri dan memungut kembali pisau belatinya yang terjatuh.

"Dengan caramu, kamu tidak dapat membunuh satu pun orang Kademangan Rendang," ejek orang itu, mengingat Mahesa Amping tidak mengerti sedikit pun jurus kanuragan.

"Aku akan memilih anak-anak kecil," sahut Mahesa Amping sambil berjalan meninggalkan orang itu yang tampak berkacak pinggang, menganggap Mahesa Amping sebagai pemuda bodoh dan kurang waras.

Ketika merasa sudah jauh, Mahesa Amping berbelok arah kembali ke tepi sungai, tempat Empu Dangka dan Ki Jagaraga tengah bersembunyi.

"Ki Jagaraga sebaiknya kembali ke Kademangan, biarlah kami berdua yang berjaga," kata Mahesa Amping kepada Ki Jagaraga.

"Baiklah, aku kembali ke Kademangan. Perutku memang sudah terasa berbunyi kukuruyuk," ujar Ki Jagaraga sambil turun dari atas pohon tempat mereka bersembunyi.

Setelah Ki Jagaraga tidak terlihat, Mahesa Amping bercerita kepada Empu Dangka tentang apa yang telah ditemui dan dialaminya.

"Ternyata kamu berotak encer," puji Empu Dangka setelah mendengar cerita Mahesa Amping.

"Masih ada waktu untuk menyiapkan siasat baru," kata Mahesa Amping sambil menjelaskan kepada Empu Dangka rencananya untuk menjebak orang yang telah menebarkan bulu daun pulus di sungai.

"Semoga usaha kita berhasil," ucap Empu Dangka saat Mahesa Amping bermaksud kembali ke Kademangan Rendang.

Matahari di siang itu telah menerangi sungai jernih berbatu di sebuah hutan perbatasan Kademangan Rendang. Di tempat persembunyiannya, di atas pohon besar, Empu Dangka menunggu kedatangan Mahesa Amping. Yang ditunggu akhirnya datang juga; Mahesa Amping kembali bersama Ki Demang.

"Aku takut Ki Demang tidak menyetujui rencana kami," kata Empu Dangka kepada Ki Demang.

"Aku percaya kepada kalian," jawab Ki Demang sambil tersenyum.

"Maaf, aku harus mengikat Ki Demang," ujar Mahesa Amping yang telah menyiapkan tali dari kulit kayu yang kuat untuk mengikat Ki Demang ke sebuah pohon.

"Aku akan kembali ke atas pohon sebagai pengintai," kata Empu Dangka sambil naik kembali ke atas pohon untuk mengawasi bila orang yang mereka tunggu datang.

Waktu terus berlalu, matahari telah bergeser ke barat. Cahaya matahari di atas sungai itu menjadi teduh karena terhalang ranting dan daun yang rindang. Suara gemericik air sungai yang menabrak batu-batu besar terdengar tidak putus-putus. Sesekali terdengar suara burung liar bersahutan di hutan tepian sungai, serta dua ekor tupai berekor panjang yang saling berkejaran.

Mahesa Amping duduk bersandar di pohon tempat Ki Demang terikat. Tidak ada satu pun suara yang luput dari pendengarannya; bahkan suara kadal yang merayap di tanah pun menarik perhatiannya. Sementara itu, di atas pohon, Empu Dangka terus mengintai, siap memberi tanda jika orang yang ditunggu muncul.

Akhirnya, penantian mereka berakhir saat sebuah ranting jatuh tepat di hadapan Mahesa Amping. Terlihat Mahesa Amping dengan belati di tangannya mengancam Ki Demang yang terikat.

"Berbicaralah dengan keras," bisik Mahesa Amping kepada Ki Demang.

"Dasar anak gendeng, kau kira aku takut mati?" teriak Ki Demang seolah memaki Mahesa Amping.

"Terlalu enak untukmu mati dengan cepat. Aku akan menyayat tubuhmu dan memeras jeruk limau agar kamu merasakan kepedihan yang sangat," ucap Mahesa Amping cukup keras.

"Hentikan!" Tiba-tiba terdengar suara dari seberang sungai. Orang itu telah datang, meminta Mahesa Amping berhenti menyiksa Ki Demang. Dengan cekatan, ia melompat dari batu ke batu menyeberangi sungai. Di tangannya, ia menggenggam tiga tangkai ranting daun pulus. Orang itu melempar daun pulus tersebut dan mendekati Mahesa Amping.

"Kenapa kamu memintaku untuk berhenti? Bukankah kamu sangat membenci orang ini?" tanya Mahesa Amping.

"Aku memang membencinya, tapi tidak bermaksud membunuhnya, hanya sekadar menyakiti hatinya," jawab orang itu.

"Bila aku yang membunuhnya, apa urusanmu?" tanya Mahesa Amping sambil hendak menyayat leher Ki Demang.

"Hentikan! Bila kamu melukainya, kamu akan kubunuh," ancam orang itu.

"Apa urusanmu melarangku?" Mahesa Amping menatap tajam.

"Tidak ada urusan," jawab orang itu sambil menjulurkan tangan hendak menarik Mahesa Amping menjauh dari Ki Demang.

Namun, Mahesa Amping tidak memberikan tangannya dengan mudah; ia bergeser ke samping. Karena tidak berhasil merenggut tangan Mahesa Amping, orang itu menyerang dengan tamparan. Kembali Mahesa Amping menghindar dengan merunduk.

Sebagai seorang ahli kanuragan, orang itu merasa penasaran karena dua serangannya luput. Ia kemudian meningkatkan serangan dengan tendangan tajam. Mahesa Amping kembali lolos dengan melompat ke samping.

"Anak ini bisa jadi telah kesambet hantu penunggu hutan ini," gumam orang itu heran, mengingat pagi tadi ia dengan mudah menghajar anak itu.

Orang itu meningkatkan ilmu dan kecepatan geraknya, menyerang dengan pukulan serta tendangan beruntun. Lagi-lagi, Mahesa Amping dengan mudah melesat ke sana kemari; tidak satu pun serangan mengenai tubuhnya.

"Ternyata dirimu telah disambar penunggu hutan ini," kata orang itu dengan wajah keheranan.

Mahesa Amping tidak menjawab. Dengan senyum geli, ia bersiap menghadapi serangan berikutnya. Orang itu kini menyerang dengan lebih matang, melancarkan tendangan dan pukulan penuh tipuan berbahaya. Mahesa Amping tidak lagi hanya menghindar, ia mulai membalas serangan.

Perkelahian pun terjadi dengan seru dan menegangkan. Lokasi pertarungan bergeser ke tengah sungai, melompat dari satu batu besar ke batu lainnya. Ki Demang yang menyaksikan dari ikatan pohon merasa takjub; ternyata kedua orang itu adalah ahli kanuragan. Begitu banyak gerak tipu yang membuatnya terpana.

Sementara itu, Empu Dangka yang mengamati dari atas pohon berkata, "Ternyata Mahesa Amping bukan cuma bisa menjadi hantu Leak, dalam kanuragan pun ia dapat diandalkan."

"Kamu benar-benar kesambet hutan alas ini," ucap orang itu sambil meningkatkan tataran ilmunya.

"Kamu benar, akulah hantu alas ini," jawab Mahesa Amping sekenanya sambil membalas serangan.

Pertempuran semakin seru hingga gerakan mereka tidak lagi mampu dilihat dengan mata telanjang. Mereka tampak seperti bayangan yang melenting dari satu bongkah batu ke batu lainnya.

"Aku jadi tidak sabaran," ujar Empu Dangka yang tiba-tiba turun dari pohon. Mahesa Amping sempat menoleh, merasa bahwa Empu Dangka telah keluar dari rencana sandiwara mereka.

"Tanganku sudah gatal untuk membunuh dua orang bersaudara yang mudah ditipu ini," kata Empu Dangka sambil mendekati arena pertempuran.

"Ternyata kalian pengecut! Bukalah ikatanku dan kita bertempur secara lelaki!" teriak Ki Demang.

Mahesa Amping yang mendengar teriakan Ki Demang terkejut dan dengan sekali hentakan, ia telah berdiri di hadapan Empu Dangka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment