Chapter 68
"Baru kali ini aku mendapat lawan setangguh dirimu, Anak Muda," kata orang itu dengan nada jujur tanpa menyembunyikan perasaannya.
"Kalau boleh tahu, siapakah gerangan Paman yang dengan susah payah datang kemari hanya untuk melenyapkan Bango Samparan?" tanya Mahesa Amping, berharap orang di hadapannya dapat berkata jujur.
"Namaku Kujang Gundul dari lereng Gunung Salak. Mengenai Bango Samparan, itu adalah urusanku," jawab orang yang mengaku bernama Kujang Gundul tersebut.
"Urusanmu dengan Bango Samparan adalah urusanku juga karena ia adalah tawananku," sahut Mahesa Amping.
"Kutinggalkan lereng Gunung Salak hanya untuk menjajaki ilmuku. Baru kali ini aku mendapat lawan setangguh dirimu," ujar Kujang Gundul sambil menatap tajam ke arah Mahesa Amping. Ia melanjutkan, "Lupakan urusan Bango Samparan, seleraku saat ini hanya ingin menjajaki ilmu kita."
Mahesa Amping berkerut keningnya mendengar ucapan itu; baru kali ini ada orang yang menjadikan kegiatan menjajaki ilmu sebagai sebuah kesenangan.
"Kalau itu yang Paman inginkan, mari kita bermain," kata Mahesa Amping sembari bersikap seperti seseorang yang tengah mempersiapkan diri memulai perkelahian.
Kujang Gundul pun tampak telah bersiap. Kali ini ia terlihat penuh kehati-hatian dan tidak lagi meremehkan pemuda yang menjadi lawannya. Maka, terjadilah pertempuran seru antara Mahesa Amping dan Kujang Gundul. Seperti biasa, Mahesa Amping tidak pernah meremehkan lawannya; ia penuh kehati-hatian dalam setiap langkahnya. Setingkat demi setingkat, Mahesa Amping terus mengimbangi lawannya.
Semakin lama bertempur, Kujang Gundul semakin mengagumi ilmu Mahesa Amping. Ia merasa seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, lalu setahap demi setahap meningkatkan ilmunya. Ratusan jurus telah dikeluarkan oleh Kujang Gundul untuk melumpuhkan lawannya, namun Mahesa Amping bukanlah lawan yang lemah.
Diam-diam, Kujang Gundul mengeluarkan ilmu andalannya yang bernama Ajian Panguncen, sejenis ilmu yang akan membuat lawan kaku tidak bergerak. Namun, Mahesa Amping adalah seorang pemuda yang waskita; dengan cepat ia menyadari adanya getaran tidak lumrah lewat angin sambaran tangan Kujang Gundul. Tanpa disadari, kepekaan dirinya telah melapisi tubuhnya dengan tameng penawar.
"Semuda dirimu sudah dapat menawarkan ilmuku," ujar Kujang Gundul dengan jujur ketika usahanya untuk mengunci gerakan Mahesa Amping tidak pernah berhasil.
"Gusti yang Maha Agung telah melindungiku, Paman," kata Mahesa Amping sambil tersenyum.
"Aku ingin melihat sampai di mana kekuatanmu," ucap Kujang Gundul sambil mengayunkan kerisnya.
Sungguh menegangkan, sebuah cahaya merah keluar dari keris itu menyambar ke arah Mahesa Amping. Untungnya, Mahesa Amping dengan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna dapat melenting ke sana kemari menghindari setiap kilatan yang keluar dari ujung keris itu. Hingga akhirnya, pada saat yang sangat terjepit, Mahesa Amping tidak mungkin lagi menghindar. Dengan sangat terpaksa, ia mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang jarang sekali digunakan.
Sebuah cahaya keluar dari kedua mata Mahesa Amping dan menghantam kilatan merah yang berasal dari ujung keris Kujang Gundul. Akibatnya sungguh luar biasa! Duarr! Terdengar sebuah ledakan dahsyat akibat bertemunya dua kekuatan ilmu tersebut.
Tubuh Kujang Gundul terlempar beberapa langkah ke belakang. Matanya tidak percaya dengan apa yang terjadi; kerisnya telah hancur berkeping-keping, dan dirinya seperti terhantam benda berat yang tidak berwujud hingga menyesakkan dadanya. Kujang Gundul berbaring di tanah tanpa mampu bangkit. Perlahan, Mahesa Amping mendekatinya.
"Katakan, Paman, siapakah yang menentukan umurmu? Belati ini atau Gusti yang Maha Agung?" tanya Mahesa Amping sambil meletakkan belatinya di leher Kujang Gundul.
Kujang Gundul masih berbaring, tidak mampu menggerakkan badannya karena merasa tubuhnya kaku. Sementara di lehernya, ia merasakan dinginnya mata belati yang sangat tajam. Tiba-tiba ia teringat puluhan orang yang mati di tangannya, dan kini dirinyalah yang akan mengalami kematian.
"Katakan, Paman, siapa yang menentukan umurmu?" tanya Mahesa Amping kembali.
"Engkaulah yang menentukan umurku," jawab Kujang Gundul pasrah, berdebar menunggu saat kematiannya.
"Aku tidak punya kuasa, Yang Maha Agung-lah yang memiliki kekuasaan itu," ujar Mahesa Amping.
"Bukankah dengan sedikit gerakan, belatimu dapat memutuskan urat leherku?" tanya Kujang Gundul perlahan dengan perasaan putus asa.
"Tanganku hanyalah bagian dari kekuasaan dan kekuatan Gusti yang Maha Agung," jawab Mahesa Amping.
"Gusti yang Maha Agung?" tanya Kujang Gundul sambil tersenyum memandang Mahesa Amping. "Hari ini aku melihat Gusti yang Maha Agung sepertinya tengah menungguku untuk menghukumku atas apa yang telah kuperbuat selama ini: membunuh, memperkosa, dan merampas harta orang-orang yang tidak berdaya," kata Kujang Gundul pelan.
"Jadi, hari ini kamu telah melihat kekuasaan-Nya?" tanya Mahesa Amping.
"Aku melihat-Nya sebagai wajah penghukum," jawab Kujang Gundul.
"Gusti yang Maha Agung adalah pengasih dan penerima tobat," tutur Mahesa Amping sembari tetap menempelkan belatinya di leher Kujang Gundul.
"Dosaku sudah menggunung. Apakah Gusti yang Maha Agung dapat menerima tobatku?" tanya Kujang Gundul.
"Gusti yang Maha Agung menerima setiap tobat selama hamba-Nya benar-benar menunjukkan rasa tobatnya," jawab Mahesa Amping.
"Aku menyadari semua yang telah kuperbuat. Aku melihat-Nya," kata Kujang Gundul.
"Apa yang kau lihat?" tanya Mahesa Amping.
"Gusti yang Maha Agung ternyata ada, dan aku melihat-Nya," jawab Kujang Gundul.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Aku tidak mampu mengungkapkan apa yang kurasakan. Sepertinya diriku dipenuhi kebahagiaan," kata Kujang Gundul.
"Katakan, Paman, siapa yang menentukan umurmu?" tanya Mahesa Amping lagi.
"Gusti yang Maha Agung, Gusti yang Maha Pengampun, Gusti yang penuh kasih," gumam Kujang Gundul seperti kepada dirinya sendiri.
"Gusti yang Maha Agung telah memperpanjang sisa hidupmu, Paman," kata Mahesa Amping sambil menjauhkan belatinya dari leher Kujang Gundul.
"Terima kasih, Anak Muda. Kamu telah membunuh masa laluku. Hari ini aku merasa terlahir sebagai orang baru," ujar Kujang Gundul sambil tersenyum menatap Mahesa Amping penuh rasa terima kasih.
"Gusti yang Maha Agung telah mempertemukan kita di sini," ucap Mahesa Amping sambil berdiri dan menarik napas dalam-dalam. Dilihatnya dari atas panggung pendapa, Ragasuci dan Ki Mantul tengah turun menghampirinya.
"Aku membawa obat pemulih tubuh. Mudah-mudahan Paman akan cepat pulih dan sehat kembali," kata Mahesa Amping sambil mengeluarkan beberapa butir obat seukuran telur cecak dan memberikannya langsung ke mulut Kujang Gundul. "Sebentar lagi Paman ini dapat berjalan sendiri," ucapnya kepada Ragasuci dan Ki Mantul yang telah mendekat.
Apa yang dikatakan Mahesa Amping ternyata benar. Tidak lama kemudian, Kujang Gundul dapat bangkit berdiri dan merasakan tubuhnya segar kembali. "Mari, Paman, kita bicara di atas panggung pendapa," ajak Mahesa Amping.
"Panggil Lawe dan Raden Wijaya untuk membawa Bango Samparan kemari," perintah Ragasuci kepada Ki Mantul setibanya mereka di atas panggung. Ki Mantul pun segera masuk ke dalam.
Bukan main kagetnya Bango Samparan ketika muncul dari ruang dalam dan melihat Kujang Gundul ada di pendapa.
"Aku yakin kalian sudah saling mengenal," kata Ragasuci yang diam-diam memperhatikan mereka berdua. "Bukankah begitu, Bango Samparan?"
"Ya, kami memang sudah saling mengenal," jawab Bango Samparan sambil mengangguk.
"Tahukah engkau bahwa saat ini ada orang yang menginginkan kematianmu?" tanya Ragasuci kepada Bango Samparan yang kini duduk bersama mereka.
"Sekarang giliran Kujang Gundul untuk menceritakan yang sebenarnya," lanjut Ragasuci.
Kujang Gundul menarik napas panjang. "Awalnya aku hanya ditugaskan membakar perasaan para orang Pasir Muncang. Sebuah pekerjaan yang kuanggap sangat ringan. Hingga akhirnya, aku kembali mendapatkan tugas dengan imbalan dua kali lipat," Kujang Gundul berhenti sejenak sambil menunduk. "Tugasku hanya mengambil nyawa Bango Samparan."
"Sekarang kamu sudah mendengar sendiri, ada yang menginginkan nyawamu," kata Ragasuci sambil meneliti tanggapan Bango Samparan.
"Teganya," hanya itu yang keluar dari bibir Bango Samparan sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku menawarkan pengampunan kepada kalian, namun ada syaratnya," ucap Ragasuci.
"Kelapangan Tuanku adalah budi yang tak terhingga. Syarat apakah yang dapat kami jalani?" tanya Bango Samparan.
"Hari ini mata hati hamba telah terbuka oleh Anak Muda ini. Hamba pasrah atas segala hukuman atas perbuatan hamba. Bila syarat itu sebagai ganti pengampunan, hamba siap menjunjung apa pun syarat yang Baginda Raja inginkan," tegas Kujang Gundul.