Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 05

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 05

"Buatkan perapian," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang langsung mengerti apa yang harus dilakukannya.

Ketika Raden Wijaya membuat perapian, Mahesa Murti membuka bekalnya dan mengambil beras ketan secukupnya.

"Pinjam belati kecilmu," ujar Mahesa Murti yang mengetahui Raden Wijaya membawa sebilah belati.

Dengan belati itu, Mahesa Murti melubangi buah kelapa muda, lalu memindahkan airnya ke batok kelapa lain yang sudah kosong. Kemudian dengan sekali ayun, buah kelapa muda itu terbelah menjadi dua.

Diam-diam Raden Wijaya kagum melihat betapa ringan dan cekatannya tangan Mahesa Murti. Ia melihat Mahesa Murti memasukkan beras ke dalam batok kelapa yang sudah terbelah, lalu mengaduknya bersama daging muda dan air kelapa. Setelah itu, Mahesa Murti mengikat kembali batok kelapa tersebut menjadi satu dan memasukkannya ke dalam perapian yang apinya sudah menyala berkobar-kobar.

"Masakan sudah siap," kata Mahesa Murti seraya membongkar perapian dan mengeluarkan batok kelapa yang sudah hitam legam terbakar.

"Selamat menikmati, pengembara muda," ujar Mahesa Murti kepada Raden Wijaya sambil menyerahkan batok kelapa berisi beras ketan yang sudah masak.

"Masakan paling nikmat yang pernah kurasakan sepanjang hidupku," puji Raden Wijaya setelah tiga suap nasi masuk ke mulutnya.

"Masakan ala pengembara," balas Mahesa Murti sambil menghabiskan makanannya.

Lidah sinar matahari menembus sela-sela daun, menerangi tanah basah di hutan yang rindang. Segerombolan monyet jawa melintas, berayun dari dahan ke dahan, disambut suara burung-burung yang terkejut terbang menjauh.

"Kita lanjutkan perjalanan," kata Mahesa Murti bangkit dari duduknya, dan Raden Wijaya pun mengikutinya.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya semakin masuk ke dalam hutan. Tidak ada lagi jejak jalan setapak. Terpaksa mereka menuntun kuda-kuda karena jalan semakin bersemak. Juluran akar dan batang rotan liar sering menghadang perjalanan, namun mereka tidak merasakan kesulitan besar. Setapak demi setapak mereka terus memasuki Hutan Kondang semakin dalam.

Rimbunnya Hutan Kondang tidak membuat Mahesa Murti kehilangan arah. Lumut yang menghijau kekuningan menjadi petunjuk arah ke mana mereka harus melangkah. Mahesa Murti sepertinya menuju ke arah utara. Di belakangnya, Raden Wijaya mengiringi tanpa pernah mengeluh; ia seolah menikmati perjalanan itu.

Tiba-tiba saja langkah mereka terhenti. Mahesa Murti dan Raden Wijaya melihat seorang wanita terikat di sebuah batang pohon, sekitar sepuluh depa dari tempat mereka berdiri. Raden Wijaya turun dari kudanya dan segera menghampiri wanita itu. Jarak mereka tinggal empat depa lagi.

"Raden?!" teriak Mahesa Murti yang merasa ada kejanggalan.

Sayang, peringatan Mahesa Murti terlambat. Raden Wijaya sudah terjerumus ke dalam sebuah lubang besar. Dengan kecepatan penuh dan rasa tanggung jawab untuk menjaga keselamatan sang pangeran, Mahesa Murti seolah terbang menyambar tubuh Raden Wijaya. Ia berhasil menangkapnya, tetapi mereka berdua tetap terjun bersama ke dalam lubang tersebut.

Sambil merangkul Raden Wijaya, Mahesa Murti mencoba mengurangi daya luncur dengan menjejakkan kakinya pada dinding lubang yang keras dan bercadas. Mereka masih terus terjun ke bawah, tetapi tidak terhempas. Dengan ringan, kaki Mahesa Murti menapak di dasar lubang. Ia melepaskan Raden Wijaya yang masih dicekam rasa takut yang luar biasa. Berdesir dada Mahesa Murti membayangkan jika tubuh Raden Wijaya hancur terhempas di dasar lubang yang berbatu cadas itu.

Sementara itu, di atas lubang, beberapa orang berlari menghampiri wanita yang terikat. Dua-tiga orang menengok ke dalam lubang, sementara yang lain membuka ikatan wanita tersebut.

"Perangkap kita berhasil. Enam kali purnama lagi, kita terbebas dari kewajiban mencari tumbal," kata orang tertua di antara mereka, yang sepertinya adalah sang pemimpin.

Di dalam lubang, Raden Wijaya mulai menguasai perasaannya.

"Gusti Yang Maha Agung masih menyelamatkan kita," kata Mahesa Murti untuk menenangkan Raden Wijaya.

Raden Wijaya berusaha membiasakan penglihatannya di dalam lubang yang gelap. Perlahan, ia mulai bisa melihat meski masih samar. Sementara itu, Mahesa Murti yang memiliki penglihatan tajam sudah lebih dahulu mengamati keadaan sekitar. Ketika ia mendongak, ia melihat lubang di atas kepala mereka sangat tinggi, sekitar lima belas kali tinggi tubuhnya. Anehnya, lubang itu berbentuk bulat sempurna seolah sengaja dibuat. Saat meraba dinding lubang, ia merasakan cadas yang keras, licin, dan ditumbuhi lumut hijau.

"Mungkinkah kita dapat keluar dari lubang ini?" tanya Raden Wijaya.

"Semoga ada jalan keluar," jawab Mahesa Murti mencoba menenangkan Raden Wijaya, meski di dalam hati ia merasa sangsi. Namun, Mahesa Murti segera menenangkan dirinya sendiri. Sudah banyak peristiwa yang mengancam nyawanya.

"Kita beristirahat sejenak sambil mencoba mencari jalan keluar dari tempat ini," kata Mahesa Murti sambil duduk bersandar pada dinding cadas. Raden Wijaya pun ikut duduk, sementara matanya tetap memperhatikan setiap jengkal lubang yang mulai terlihat jelas.

"Lubang!" teriak Raden Wijaya saat melihat sebuah lubang sebesar kepala.

Belum habis teriakan itu, dari lubang tersebut keluar kepala ular dengan mata yang menyala, langsung merayap mendekati Raden Wijaya. Mahesa Murti dengan kecepatan yang sulit diikuti mata wadag segera menangkap leher ular itu. Cengkeramannya begitu kuat hingga meremukkan tulang leher sang ular. Dengan sekali ayun, ular itu dibenturkan ke dinding cadas yang keras.

Prak!

Suara tubuh ular yang remuk terdengar, dan makhluk itu tidak bergerak lagi. Mahesa Murti masih menggenggam leher ular tersebut untuk memperhatikan bentuk kepalanya dengan seksama. Ada jengger aneh yang menghiasi kepalanya. Kulit tubuhnya berwarna putih dengan dua jalur garis hitam membujur sampai ke ekor.

"Ular Petir!" kata Mahesa Murti. "Seekor harimau terkuat pun akan langsung mati jika dipatuk ular ini."

"Apakah Paman pernah menemuinya sebelumnya?" tanya Raden Wijaya.

"Belum, hanya mendengar cerita dari para orang tua. Konon, ular ini menetas saat terdengar petir. Tadinya aku menganggapnya dongeng, ternyata itu nyata," ujar Mahesa Murti sambil memperhatikan kepala ular aneh yang baru saja ia banting.

"Apa lagi yang diceritakan mengenai ular ini?" tanya Raden Wijaya yang tertarik mendengar cerita tentang ular berjengger itu.

Mahesa Murti memandang Raden Wijaya, kagum pada ketabahan anak itu yang seolah lupa pada kegelisahannya.

"Dagingnya berkhasiat sebagai obat," kata Mahesa Murti.

"Obat untuk penyakit apa?" tanya Raden Wijaya tidak sabar.

"Obat sakit lapar," jawab Mahesa Murti tersenyum. Raden Wijaya pun ikut tertawa menyadari bahwa ucapan Mahesa Murti hanyalah gurauan.

"Masakan ular berjengger bakar ala pengembara," balas Raden Wijaya yang disambut tawa oleh Mahesa Murti. Mereka tertawa bersama, sejenak melupakan nasib mereka di dalam lubang yang dalam itu.

"Sepertinya cuaca di atas mendung," kata Mahesa Murti.

"Hujan sudah turun," sahut Raden Wijaya saat merasakan rintik air.

Hujan memang turun dengan sangat deras. Sedikit demi sedikit air mulai naik di dalam lubang. Raden Wijaya membayangkan air akan terus naik dan mereka akan mati tenggelam.

"Kita bisa mati tenggelam!" seru Raden Wijaya gugup.

"Belum, Raden, kita belum mati," kata Mahesa Murti tenang.

"Tapi air hujan akan memenuhi lubang ini," ujar Raden Wijaya penuh kekhawatiran melihat air sudah setinggi mata kaki.

"Air sudah tidak naik lagi," kata Mahesa Murti. Raden Wijaya masih belum percaya, namun memang permukaan air tidak bertambah tinggi meski hujan tetap turun. "Perhatikan arah air, ia mengalir ke lubang tempat Ular Petir itu keluar."

Mahesa Murti dan Raden Wijaya mencari celah keluarnya air. Akhirnya mereka menemukan sebuah lubang yang tertutup lumut tebal.

"Lubangnya cukup lebar," kata Mahesa Murti setelah membersihkan lumut yang menyumbat. Ternyata lubang itu seukuran tubuh orang dewasa. "Kita tunggu sampai hujan reda. Mudah-mudahan di balik lubang ini ada jalan keluar untuk kita."

Hujan di atas lubang tempat mereka terperangkap memang sangat deras. Karena posisi lubang yang landai, bukan hanya air hujan dari langit yang masuk, melainkan juga aliran air dari tanah sekitar yang tumpah ke dalam lubang. Tidak ada celah untuk berlindung. Air menghantam kepala Mahesa Murti dan Raden Wijaya seperti lemparan batu yang datang bertubi-tubi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment