Chapter 165
Namun, Ki Jero Pitutur di atas panggung tampak termangu-mangu manakala suara sorak-sorai yang bergemuruh itu berubah menjadi jeritan dari para penonton di bawahnya. Mereka terlihat seperti sekumpulan semut yang diperciki air, bubar kucar-kacir ke segala arah.
Ki Demang bersama para tamu kehormatannya terlihat berdiri, ingin tahu apa yang terjadi di luar sana yang membuat para penonton berhamburan menyelamatkan diri, bahkan ada yang terdesak terhimpit hingga ke depan panggung. Ternyata, keingintahuan Ki Dalang atas apa yang telah terjadi akhirnya terjawab ketika kerumunan penonton sudah terkuak habis; jarak pandangnya menjadi lebih jauh dan tidak terhalang lagi.
Terperanjatlah Ki Demang di tajuknya dan Ki Jero Pitutur dari atas panggung melihat di luar pagar halaman rumah Ki Demang telah terjadi pertempuran sengit. Mereka melihat lima orang sudah terkepung oleh sekelompok pasukan berkuda. Tiba-tiba saja, dua orang dari lima orang yang sedang terkepung itu melenting jauh keluar dari kepungan, masuk ke halaman rumah Ki Demang tepat di bawah panggung. Kedua orang itu terlihat memakai cadar hitam di wajahnya.
"Gerombolan Barong Asu Ngelawang!" seru dua orang saudagar dari tajuk bersamaan karena merasa mengenali kedua orang bercadar hitam itu.
Sementara itu, melihat dua orang lolos dari kepungan, dua orang berkuda berusaha mengejar mereka dan ikut masuk ke halaman rumah Ki Demang, sementara yang lainnya masih terus mengepung tiga orang lainnya dengan semakin rapat hingga mereka tampak semakin terdesak.
"Menyerahlah, kami prajurit Singasari akan menangkapmu," ujar salah seorang prajurit sambil turun dari kudanya, yang ternyata adalah Mahesa Amping.
"Menyerahlah, semua anak buahmu sudah kami lumpuhkan," sahut prajurit lain yang terlihat sudah cukup umur, yang ternyata adalah Kebo Arema.
Terlihat kedua prajurit itu perlahan mendekati dua orang bercadar hitam yang sudah terpojok di tepi panggung.
"Mari kita bertanding secara adil, satu lawan satu, tidak main keroyokan," tantang salah seorang orang bercadar hitam itu. Tanpa berkata-kata lagi, terjadilah pertempuran seru satu lawan satu antara prajurit Singasari dan orang bercadar itu.
Sementara itu di luar pagar halaman Ki Demang, sepasukan prajurit Singasari terlihat sudah dapat menguasai tiga orang yang tersisa. Mereka yang telah terkepung dan tampak putus asa langsung menyerahkan diri, sehingga dengan segera para prajurit mengikat tubuh mereka. Masih di luar pagar halaman, telah berdatangan lagi beberapa prajurit Singasari sambil membawa kawanan Barong Asu Ngelawang yang sudah dalam keadaan terikat.
Beberapa warga yang tadi berhamburan menjauh mulai memberanikan diri untuk mendekat kembali. Mereka menyaksikan para tawanan prajurit Singasari yang terikat tidak berdaya. Akhirnya, keberanian mereka bertambah untuk menyaksikan pertempuran di dalam halaman rumah Ki Demang yang masih berlangsung dengan serunya.
Malam itu, diterangi banyak oncor di sudut panggung, tajuk besar, serta cahaya bulan purnama, pertempuran satu lawan satu antara prajurit Singasari melawan dua orang bercadar hitam tampak cukup terang. Ki Demang yang cukup paham dengan olah kanuragan melihat bahwa kedua orang bercadar hitam itu sudah semakin terdesak.
"Kedua orang bercadar itu sudah semakin terdesak, tataran ilmu kedua prajurit itu masih berada di atas tataran lawannya," ucap Ki Demang memperhatikan pertempuran itu.
Ternyata dugaan Ki Demang tidak meleset jauh. Terlihat lawan Mahesa Amping sudah semakin terdesak dan dalam sebuah benturan senjata tidak mampu lagi menguasai golok di tangannya.
"Trang!"
Terdengar suara dua senjata beradu dan sebuah golok panjang terlempar jauh.
"Menyerahlah," kata Mahesa Amping kepada lawannya yang terlihat memegang tangan karena kesakitan.
"Aku menyerah," jawab orang bercadar itu. Mahesa Amping kemudian memberi isyarat kepada prajurit terdekat untuk mengikat kedua tangan tawanan tersebut.
Sementara itu, Kebo Arema masih terlihat melayani lawannya. Ternyata, Kebo Arema dan lawannya merasa sayang untuk menyudahi pertempuran ketika melihat lingkaran penonton sudah semakin bertambah banyak.
"Paman Kebo Arema bukan cuma seorang dalang yang mumpuni, sekaligus pemain sandiwara yang hebat," batin Mahesa Amping melihat Kebo Arema seperti sungguh-sungguh melayani lawannya. Namun, karena sudah bosan bermain-main, dalam sebuah benturan senjata, Kebo Arema membuat golok panjang lawannya melayang tinggi.
Kebo Arema memanfaatkan kesempatan itu sebagai hiburan tambahan. Dengan gesit, ia melompat ke udara, menangkap golok yang melayang, dan melakukan dua kali putaran tubuh di udara.
"Deb!"
Kedua kaki Kebo Arema mendarat di bumi dengan mantap. Seluruh penonton yang menyaksikan adegan itu bertepuk tangan, kagum dan terkesima melihat cara Kebo Arema merebut golok lawannya di udara.
"Kamu memang bukan lawanku, aku menyerah," ucap lawannya sambil mengangkat kedua tangan. Kebo Arema pun memberi isyarat kepada prajurit untuk mengikatnya.
"Buka! Buka! Buka!" teriak penonton melihat dua orang bercadar itu sudah dalam keadaan terikat. Kebo Arema, dengan gaya pahlawan panggung, segera mendekati kedua orang bercadar hitam tersebut. Perlahan, satu per satu Kebo Arema membuka kain cadar penutup wajah kedua anggota gerombolan Barong Asu Ngelawang itu. Ketika kain cadar terlepas, terlihat kedua orang itu adalah Badrun dan salah seorang anak buahnya.
"Katakan, siapakah yang menyuruh kalian membuat keresahan di Balidwipa?" tanya Kebo Arema lantang, seolah ingin semua orang mendengarnya.
"Raja Adidewalancana yang memerintah kami," jawab Badrun.
"Katakan sekali lagi agar semua orang mendengar dan menjadi saksi!" bentak Kebo Arema.
"Raja Adidewalancana!" seru Badrun dengan suara lantang.
"Bagus, semua orang sudah dapat mendengarnya," kata Kebo Arema sambil bertolak pinggang.
Sementara itu, para prajurit membawa semua gerombolan yang tertawan ke halaman rumah Ki Demang.
"Terima kasih telah melumpuhkan gerombolan yang sangat meresahkan kami," ucap Ki Demang yang datang mendekati Kebo Arema, lalu memperkenalkan diri sebagai Demang di Padang Bulia.
"Kami mohon maaf telah merusak acara hiburan Ki Demang," sahut Kebo Arema dengan gaya seorang senapati.
"Bermalamlah di rumah kami, pasukanmu nampaknya perlu beristirahat," tawar Ki Demang.
"Pasukan kami sangat banyak," jawab Kebo Arema bergaya ragu-ragu.
"Lumbung kami tidak akan kekurangan, hitung-hitung sebagai rasa terima kasih kami," desak Ki Demang.
"Semoga tidak merepotkan Ki Demang," ujar Kebo Arema dengan gaya sedikit terpaksa.
Malam terasa sudah mulai larut, beberapa orang warga terlihat sudah pulang ke padukuhan masing-masing. Hanya tersisa mereka yang tinggal di padukuhan terdekat yang merasa punya kewajiban ikut mengawasi para tawanan.
Keesokan harinya, pasukan Singasari masih dijamu oleh Ki Demang. Dalam kesempatan perbincangan, Kebo Arema berhasil meyakinkan Ki Demang bahwa pasukan Singasari bermaksud untuk membersihkan kekuasaan perdagangan yang selama ini dikendalikan melalui penguasa Pura Besakih dan pelindungnya, para saudagar dari Tanah Hindu.
"Yakinlah, pasukan Singasari tidak akan mengganggu ketenteraman warga Balidwipa," tegas Kebo Arema.
Menjelang matahari semakin menanjak dan bumi terang benderang, Kebo Arema dan pasukannya mohon pamit. "Para tawanan akan kami amankan untuk sementara waktu," kata Kebo Arema kepada Ki Demang sebelum meninggalkan Kademangan Padang Bulia.
Demikianlah, pasukan Singasari terlihat semakin jauh, bermaksud kembali ke Tanah Melaya.
"Ada baiknya kamu membawa beberapa orang ke Pura Indrakila, mungkin mereka dapat banyak membantu," saran Kebo Arema kepada Mahesa Amping.
"Aku akan mengajak Kakang Mahesa Semu, Paman Wantilan, dan Paman Sembaga," jawab Mahesa Amping setuju.
Akhirnya, di sebuah persimpangan jalan mereka terpaksa berpisah. "Kebersamaan kami hanya sampai di sini," ujar Mahesa Amping.
"Jalur sandi kita tidak boleh terputus," ingat Kebo Arema.
"Aku akan memberi kabar dalam dua tiga hari ini," janji Mahesa Amping yang berhenti di persimpangan jalan bersama Mahesa Semu, Wantilan, dan Sembaga.
Sementara itu, matahari mulai bergeser turun, cakrawala langit biru begitu cerah dipenuhi gerumbul awan putih. Bunga-bunga liar dan tangkai ilalang menari tertiup angin sepoi-sepoi basah.
"Mari kita melanjutkan perjalanan," ajak Mahesa Amping kepada rekan-rekannya ketika melihat Kebo Arema dan pasukannya mulai menghilang di tikungan jalan. Perjalanan menuju Pura Indrakila tidak begitu panjang, apalagi dengan berkuda di atas tanah rata yang biasa digunakan saudagar menarik gerobak kuda. Menjelang sore hari, mereka sudah tiba di kaki gunung Pura Indrakila, sementara Kebo Arema dan pasukannya juga mengalami kelancaran dalam perjalanan.