Halo!

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari - Chapter 67

Memuat...
Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari

Chapter 67

Rumah-rumah besar milik para pembesar dan bangsawan yang berjajar di sepanjang jalan telah menyalakan oncor di depan pintu regolnya.

"Tidak biasanya Ki Mantul berkunjung ke istana di malam seperti ini," ujar seorang prajurit kepada dua kawannya yang sudah mengenal Ki Mantul yang terlihat tengah menuntun kudanya menghampiri mereka.

"Apakah di Istana Saunggaluh ini sudah kekurangan petugas hingga Ki Lurah Gembleh harus ikut berjaga?" tanya Ki Mantul kepada salah seorang prajurit yang ternyata telah dikenalnya.

Sahabat Ki Mantul yang disebut sebagai Ki Lurah Gembleh itu pun terlihat tersenyum mendengar seloroh Ki Mantul.

"Harusnya akulah yang bertanya, ada hal penting apa Ki Mantul datang ke istana di tengah malam seperti ini?" sahut Ki Lurah Gembleh.

"Apakah adat istiadat urang Pasundan sudah hilang di nagari ini, menyambut tamu dengan pertanyaan, bukan dengan wedang jahe hangat?" gurau Ki Mantul yang disambut tawa hangat oleh Ki Lurah Gembleh dan dua prajurit kawannya.

Akhirnya, Ki Lurah Gembleh mengajak Ki Mantul ke gardu jaga. Seorang prajurit menyiapkan minuman hangat serta beberapa jagung rebus untuk Ki Mantul.

"Jagung rebusnya sudah dingin," ujar Ki Lurah Gembleh kepada Ki Mantul.

Ki Mantul kemudian bercerita tentang kejadian di rumah singgah hutan perburuan. "Aku akan menyiapkan beberapa prajurit pengawal istana besok pagi," kata Ki Lurah Gembleh.

"Terima kasih," jawab Ki Mantul.

"Mudah-mudahan Tuan Patih Manohara mau menerima penghadapanku," ujar Ki Lurah Gembleh dengan keraguan apakah istana kepatihan dapat menerima penghadapannya di tengah malam itu.

"Aku menunggu kabar hasil penghadapanmu," kata Ki Mantul mengantar keberangkatan Ki Lurah Gembleh.

Ki Lurah Gembleh terlihat menyusuri lorong-lorong istana seorang diri. Ketika sampai di istana Kepatihan, ia menyampaikan maksud kedatangannya kepada seorang prajurit pengawal yang bertugas. "Aku akan membangunkan pelayan dalam," ujar prajurit itu, lalu masuk ke dalam untuk membangunkan seorang pelayan dalam.

Sementara itu, Ki Lurah Gembleh di pendapa menunggu dengan perasaan cemas, takut penghadapannya di tengah malam itu tidak diterima.

"Ampun, Tuanku Patih, hamba telah mengganggu istirahat Tuanku," ujar Ki Lurah Gembleh ketika dari balik pintu pendapa keluar seorang tua yang cukup berwibawa.

"Aku telah mendengar apa yang akan kamu sampaikan kepadaku. Urusan prajurit pengawal adalah menjaga istana, urusanmu malam ini telah selesai. Serahkan semua urusan kepadaku," kata Patih Manohara kepada Ki Lurah Gembleh.

"Terima kasih atas penerimaan penghadapan hamba," ucap Ki Lurah Gembleh sambil memohon diri.

Ketika sampai di gardu jaga, Ki Lurah Gembleh menceritakan semua yang dikatakan Patih Manohara kepada Ki Mantul. "Maafkan aku, Patih Manohara telah mengambil alih urusan ini," ujar Ki Lurah Gembleh dengan wajah penuh kecewa karena tidak dapat membawa prajurit pengawal istana untuk mengambil para tawanan.

"Ki Lurah telah melakukan tugas sesuai kewajiban. Dari kesatuan mana pun prajurit yang ditugaskan mengambil para tawanan bukan menjadi masalah," kata Ki Mantul yang dapat menyelami perasaan Ki Lurah Gembleh.

"Aku tidak menunggu pagi, saat ini juga aku akan kembali. Kasihan Baginda Raja di sana tidak ada yang melayani," ujar Ki Mantul.

"Ki Mantul tidak lelah?" tanya Ki Lurah Gembleh kepada sahabatnya itu.

Hari memang sudah di ujung malam, semburat warna merah sudah mulai mencuat di ujung timur. Tidak ada semilir angin dan bumi masih terlihat remang dalam kegelapannya. Terlihat kuda Ki Mantul telah keluar dari gerbang Kotaraja. Kuda itu sepertinya sudah mengenal setiap tapak yang dilalui, menyusuri jalan tanah yang panjang, kadang memotong arah jalan singkat di bulakan panjang dan padang ilalang. Barulah saat matahari sudah naik tinggi, kuda Ki Mantul hampir mendekati tepian hutan Ranggan, nama sebuah hutan tempat Raja dan para bangsawan Saunggaluh biasa berburu.

"Syukurlah Ki Mantul telah kembali tanpa halangan apa pun," kata Ragasuci setelah mendengar laporan dari Ki Mantul yang baru kembali dari Kotaraja.

"Semula Ki Lurah Gembleh akan mengirim para prajurit pengawal istana, tapi Patih Manohara telah mengambil alih urusan ini," tutur Ki Mantul menceritakan rencana semula dari Ki Lurah Gembleh.

"Mungkin Patih Manohara mempunyai perhitungan sendiri," sahut Ragasuci tanpa prasangka apa pun.

Namun, ketika hari sudah mendekati senja di hutan Ranggan, prajurit yang ditunggu tidak juga datang. "Harusnya mereka sudah sampai di hutan ini," ujar Ki Mantul merasa tidak enak hati, takut disangka tidak melakukan tugas dengan baik.

"Ada sesuatu yang aneh," kata Ragasuci sambil memberi tanda kepada semua yang ada di pendapa itu. Dan ketika hari telah melewati senja, para prajurit yang diharapkan datang tidak juga terlihat. Malam pun telah menyelimuti hutan Kranggan.

Ki Mantul telah menerangi panggung pendapa dengan lampu klenting yang menempel di sudut tiang. Dua buah oncor dari minyak jarak juga dipasang di dua sudut kolong panggung, di mana para tawanan terikat bersesakan di tiang-tiang penyangganya. Rumah singgah itu nampak begitu sepi, penghuninya sudah masuk semua ke biliknya masing-masing. Suara daun kering yang tertiup angin di halaman muka rumah panggung itu kadang mengisi kesepian malam, diselingi derik suara binatang malam yang menjadikan suasana di tepi hutan itu sangat mencekam.

Bunyi burung clepuk terdengar jelas dan sayup pergi menjauh, mungkin tengah mencari anak tikus yang tersasar dari induknya. Di sudut hutan lain terdengar pekik kodok buduk yang perlahan masuk ke mulut seekor ular dahan sebagai salah satu bunyi perangkap alam di kehidupan malam di hutan Kranggan.

Sesosok bayangan dari kegelapan hutan terlihat merayap mendekati kolong panggung. "Di mana Bango Samparan?!" ujar seseorang yang datang dari kegelapan hutan itu sambil mengguncang dan membangunkan salah satu tawanan.

"Carilah sendiri," sahut tawanan itu dengan perasaan kesal.

"Warangan keris ini sangat kuat, katakan atau kamu mati sia-sia," ancam orang itu sambil menempelkan sebilah keris di leher tawanan tersebut.

Keringat dingin terlihat keluar dari dahi tawanan itu membayangkan goresan keris melukai kulit lehernya. "Kakang Bango Samparan dibawa ke atas," jawab tawanan itu.

Orang itu pun meninggalkan tawanan itu dan berjalan menuju tangga panggung pendapa. Namun, baru saja kakinya melangkah pada anak tangga pertama, ada suara menegurnya dari belakang.

"Orang yang kau cari ada di atas, dijaga oleh dua orang kawanku," ujar orang di belakang yang tidak lain adalah Mahesa Amping.

Ternyata, setelah menunggu para prajurit yang akan datang untuk membawa para tawanan hingga lewat senja tidak juga muncul, semua telah sepakat bahwa ada sesuatu yang harus diwaspadai. Sementara itu, Mahesa Amping ditugaskan mengamati para tawanan dengan bersembunyi di kegelapan malam, hingga akhirnya orang yang ditunggu datang juga. Mahesa Amping melihat jelas mulai orang itu menyelinap di antara para tawanan, mengancam seorang tawanan, dan ketika akan naik ke atas rumah panggung.

Bukan main kagetnya orang itu, sedikit pun ia tidak mendengar langkah apa pun. Langsung dirinya menebak bahwa orang di belakangnya pasti mempunyai ilmu yang tinggi. Namun, ketika dirinya berbalik badan, keberaniannya kembali berkembang karena orang di belakangnya itu ternyata hanya seorang pemuda.

"Terpaksa aku harus membungkam dirimu, anak muda," ujar orang itu sambil menggenggam kerisnya lebih kuat lagi.

"Sebelum kamu membungkamku, dirimu akan kuringkus terlebih dahulu," sahut Mahesa Amping sambil menyunggingkan senyum.

"Besar sekali nyalimu, anak muda," ujar orang itu heran melihat tidak ada rasa takut sedikit pun di wajah Mahesa Amping, bahkan dapat dikatakan sangat penuh ketenangan dan percaya diri.

"Sayang umurmu cuma sampai di malam ini," ujar kembali orang itu sambil menerjang dengan kerisnya ke arah dada Mahesa Amping.

Tapi Mahesa Amping sudah siap sejak semula. Dengan cepat ia melenting ke samping. "Hanya Gusti Agung yang menentukan umurku," kata Mahesa Amping ketika dirinya terlepas dari serangan orang itu.

Cahaya lampu klenting dan oncor di bawah panggung sedikit menerangi halaman rumah singgah itu. Sekilas, Mahesa Amping dapat melihat jelas wajah orang itu yang ternyata sudah cukup berumur, namun sosok tubuhnya masih terlihat gagah sebagai tanda bahwa ia cukup banyak terlatih semasa mudanya.

"Kerisku lah yang akan mengambil nyawamu," kata orang itu sambil langsung mengayunkan kerisnya.

"Gusti Agung telah menyelamatkan diriku," ujar Mahesa Amping sambil mundur sedikit menghindari ayunan keris orang itu yang bergerak begitu cepat.

Bukan main penasarannya orang itu karena Mahesa Amping dapat kembali lolos dari serangannya yang menurutnya telah dilakukan dengan begitu cepat, dan Mahesa Amping dapat mengimbangi kecepatannya. Dengan penuh penasaran, orang itu kembali menyerang Mahesa Amping, kali ini dengan menghujamkannya langsung masuk agak miring ke bawah tertuju ke pinggang Mahesa Amping.

Kaget sekali Mahesa Amping melihat gerakan yang tidak terduga itu. Tapi bukan Mahesa Amping bila tidak dapat lolos dari serangan tersebut. Kali ini Mahesa Amping tidak menghindar lagi, tapi menangkis hunjaman keris orang itu yang meluncur cepat dengan sebuah tangkisan belati kecilnya.

Trang!

Terdengar suara dentingan keras. Bukan main kagetnya orang itu merasakan tangannya seperti panas, keris di tangannya hampir saja terlepas, ia pun langsung melompat mundur sambil melihat tangannya dengan wajah tidak percaya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment