Chapter 04
Para prajurit berpencar mencari Pangeran Kertanegara di setiap sudut Kotaraja. Pangeran Kertanegara seolah menghilang ditelan bumi. Hampir setiap orang menggeleng tidak tahu dan mengaku tidak melihat sang pangeran. Berita hilangnya Pangeran Kertanegara akhirnya sampai ke telinga Sri Maharaja.
"Pesankan kepada para petugas sandi, tugasnya hanya menemukan di mana Pangeran Kertanegara berada. Tidak ada kewajiban membawanya kembali ke istana," ucap Sri Maharaja kepada Arya Kuda Cemani yang sengaja dipanggil menghadap. Tidak ada sedikit pun kesan cemas pada wajah Sri Maharaja.
"Hamba mohon diri," kata Arya Kuda Cemani berpamitan kepada Sri Maharaja.
Ternyata Pangeran Kertanegara tidak menghilang ditelan bumi; ia hanya sudah begitu jauh meninggalkan Kotaraja. Seperti anak panah terlepas dari busurnya, seperti anak elang yang sudah bersayap penuh, Pangeran Kertanegara dengan gembira menyusuri padang alang-alang yang luas, mendaki hijaunya pegunungan, serta menyusuri lereng-lerengnya.
Begitu indahnya cinta. Panasnya matahari dan dinginnya malam di alam terbuka tidak menyurutkan hati Pangeran Kertanegara. Keinginannya cuma satu: menemui impian cintanya, Menik Kaswari. Ia ingin mengatakan dan membuktikan betapa kuat rasa cintanya yang tak terhalangi oleh tingginya gunung maupun luasnya belantara hutan. Pangeran Kertanegara seolah sedang berjalan sebagai prajurit cinta yang akan menerjang rintangan apa pun.
Sementara itu, mari kita mengikuti perjalanan Mahesa Murti dan Raden Wijaya menuju Padepokan Bajra Seta. Raden Wijaya begitu gembira duduk di punggung kuda diiringi Mahesa Murti menyusuri bulakan panjang, menembus padang ilalang, serta mendaki bukit hijau mengejar bayangan matahari di ujung cakrawala senja. Mahesa Murti kali ini sengaja tidak mengambil arah yang biasa menuju Padepokan Bajra Seta, melainkan sedikit melambung sekadar untuk melihat keadaan lingkungan sekitarnya. Diam-diam ia mengagumi Raden Wijaya yang tidak sedikit pun surut karena letih. Wajahnya selalu segar ceria memandang setiap jengkal pemandangan, mulai dari pohon besar di tengah padang ilalang, anak kijang yang berlari, hingga arah raja elang menukik menyambar tikus naas yang tidak sempat sembunyi.
"Kasihan tikus itu," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti.
"Kasihan juga kepada anak-anak elang yang menanti di puncak gunung tinggi dalam keadaan lapar," sahut Mahesa Murti memberi pengertian tentang hubungan keseimbangan alam.
"Aku baru mengerti. Seandainya tidak ada raja elang, mungkin bumi ini dikelilingi ribuan tikus karena tidak ada yang memangsanya," ujar Raden Wijaya menangkap sebatas penalarannya, yang dibalas anggukan kepala oleh Mahesa Murti.
"Seorang ksatria terlahir untuk menjaga kedamaian bumi ini," kata Mahesa Murti.
"Seperti raja elang menjaga bumi ini," sambung Raden Wijaya.
"Di ujung bukit itu, kita akan menemui beberapa padukuhan," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.
Matahari hampir tenggelam di balik bukit. Mahesa Murti dan Raden Wijaya mempercepat langkah kuda agar dapat tiba di padukuhan di balik bukit sebelum hari menjadi gelap. Mereka tiba di banjar sebuah padukuhan saat hari masih rembang petang. Sebagaimana para pengembara, mereka pun meminta izin penunggu banjar untuk bermalam.
"Nampaknya para warga desa di sini begitu ramah," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti ketika seorang penunggu banjar berlalu setelah meninggalkan setumpuk singkong rebus dan minuman hangat untuk mereka. Mahesa Murti hanya tersenyum dan mempersilakan Raden Wijaya menikmati hidangan yang disediakan.
Malam pun semakin menyelimuti bumi, mempersilakan segala yang hidup untuk tidur, kecuali para makhluk malam yang mencari penghidupan saat kegelapan menjelang.
"Tidurlah lebih dulu, aku akan segera menyusul," kata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya. Ketika Raden Wijaya nampak sudah tertidur pulas, Mahesa Murti tidak segera tidur. Ia hanya bersandar di dinding dengan mata terpejam, tetapi hati dan pikirannya selalu terjaga. Begitulah naluri para pengembara di mana pun mereka berada; selalu waspada.
Pagi pun tiba. Saat semburat warna merah muncul dari timur, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah keluar dari regol banjar desa. Langkah kuda mereka berjalan rancak menyusuri persawahan. Beberapa petani tengah bekerja mengolah tanah. Saat itu memang awal musim penghujan, waktu yang baik untuk mulai menanam bibit.
"Mereka terlahir sebagai petani," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti sambil memperlambat laju kudanya. Pikirannya takjub dengan semangat para petani yang begitu gembira bekerja menyambut datangnya musim tandur.
"Raden sendiri terlahir sebagai ksatria," sahut Mahesa Murti sambil menyamakan laju kudanya di samping kuda Raden Wijaya.
"Apa yang membedakan aku dengan mereka?" tanya Raden Wijaya.
"Mereka memegang cangkul, sementara Raden menggenggam pedang. Mereka menanam padi, sementara Raden menanam kedamaian," lanjut Mahesa Murti.
"Gusti Kang Akarya Jagad telah menentukan di mana mereka dilahirkan," kata Raden Wijaya menirukan ajaran pendeta istana yang mengajarkan ilmu kejiwaan.
"Betul Raden. Ada yang terlahir sebagai brahmana, ksatria, saudagar, dan petani," ujar Mahesa Murti.
"Betul, pendeta istana pernah berkata seperti itu."
"Masih ada yang belum aku sebutkan. Ada juga yang terlahir sebagai perusuh," tambah Mahesa Murti.
"Perusuh?" tanya Raden Wijaya.
"Ya, mereka yang terlahir sebagai perusuh juga telah ditentukan dan diciptakan oleh Gusti Kang Akarya Jagad."
"Apakah kita dapat mengubahnya?" tanya Raden Wijaya.
"Kita tidak dapat berbuat apa pun, kecuali atas kehendak Gusti Kang Maha Agung," jawab Mahesa Murti.
"Aku masih belum paham."
"Untuk dapat mengenal kehendak Gusti Kang Akarya Jagad, kita harus mengenal dan memahami alam wadag serta alam batin," jelas Mahesa Murti yang banyak mengenal ilmu kajiwan lewat Kiai Wijang.
"Aku semakin tidak mengerti," sahut Raden Wijaya.
"Mudah-mudahan dengan kehendak-Nya, Raden akan memahami," kata Mahesa Murti yang menyadari belum waktunya bicara masalah ilmu kajiwan lebih dalam kepada Raden Wijaya. "Sebentar lagi kita akan menjumpai persimpangan jalan. Sudah waktunya kita mengambil arah ke kanan," lanjut Mahesa Murti sambil menunjuk arah jauh di depan mereka.
"Pengembara melangkah," ucap Raden Wijaya menirukan sebuah syair.
"Menggandeng matahari sebagai teman, menyembah bintang sebagai guru, memberi cinta, senyum bintang kejora."
Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengucapkan syair tersebut bersama-sama, lalu mereka tertawa karena mengingat syair yang sama pada waktu yang bersamaan.
"Pasti kakekmu, Ratu Anggabhaya, yang mengajarkan syair itu kepadamu," kata Mahesa Murti.
"Betul," sahut Raden Wijaya.
"Artinya kita punya guru yang sama."
"Buyut Mahesa Agni yang Paman maksudkan?" tanya Raden Wijaya.
"Betul, betul, betul," sahut Mahesa Murti yang disambut tawa oleh Raden Wijaya. Dalam pikirannya, ternyata Mahesa Murti dapat juga berlaku jenaka.
Di persimpangan jalan, sebagaimana yang dikatakan Mahesa Murti, mereka pun mengambil arah ke kanan. Matahari dengan setia mengiringi langkah mereka sepanjang perjalanan yang masih panjang. Panas matahari memancar kuat dari puncak cakrawala, seolah membakar kulit. Untungnya, hembusan angin sedikit melunakkan panas di siang jentrik itu.
"Hutan Kondang sudah terlihat," kata Mahesa Murti menunjuk gerumbul warna hitam samar di depan mereka. Jaraknya masih jauh, tetapi menjadi hiburan tersendiri bagi Raden Wijaya yang wajahnya memerah terbakar matahari. Seperti dihentak perasaan yang sama, mereka memacu kuda lebih cepat menuju gerumbul hitam yang semakin jelas terlihat.
Akhirnya, mereka sampai di tepi Hutan Kondang. Hutan itu sangat lebat; sekumpulan pohon besar berdiri rapat di depan mereka seperti raksasa yang siap menelan siapa pun. Mahesa Murti dan Raden Wijaya masuk ke dalam hutan, merasakan segarnya angin dan bau tanah basah. Panas matahari yang menyengat tidak lagi dirasakan. Mereka mengikuti jalan setapak, pertanda hutan ini sering dilalui orang.
"Kita beristirahat di sini," kata Mahesa Murti sambil melompat dari kudanya. Raden Wijaya mengikutinya, lalu berjalan mendekati Mahesa Murti yang sudah duduk bersandar di bawah pohon kayu besar yang akarnya menonjol keluar dari tanah hitam yang basah.
"Aku pernah lewat hutan ini. Ada pohon kelapa liar di pojok belukar seberang sana," kata Mahesa Murti sambil menunjuk ke suatu arah. Sebagai orang yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh, Raden Wijaya hanya mengikuti Mahesa Murti dengan pandangannya saat pria itu menembus belukar dan menghilang di kerimbunan.
Tidak lama kemudian, Mahesa Murti muncul kembali sambil membawa tiga butir kelapa muda.
"Rezeki kita masih baik, tidak keduluan bajing hutan," kata Mahesa Murti sambil memberikan sebutir kelapa kepada Raden Wijaya. Mereka pun melepaskan dahaga dengan meminum air kelapa segar dan memakan daging buahnya untuk mengisi perut yang sudah saatnya diberi jatah.